LynPF Two Minutes Drill ala Peter Lynch – #2

Menyambung tulisan serupa beberapa waktu yang lalu, di artikel ini penulis berusaha membuat analisa 2 menit ala Peter Lynch untuk beberapa emiten-emiten di bursa yang sudah pernah dibahas di blog ini. Bedanya, kali ini penulis tidak memberikan tanda bintang. Silakan pembaca memberikan kesimpulannya sendiri ๐Ÿ™‚

ICBP

Logo ICBP
Logo ICBP

Indofood CBP (ICBP) adalah anak usaha group Indofood, salah satu perusahaan konglomerasi di Indonesia yang dikendalikan oleh group Salim. Selain memproduksi dan mendistribusikan mi instan dengan merek Indomie, ICBP juga memiliki produk-produk makanan dan minuman lainnya seperti Pop Mie, Sarimi, Supermi, Indomilk, Cap Enaak, Milkuat, Promina, dan lain-lain. Kesemua merek ini dikelola melalui enam divisi bisnis ICBP yang meliputi Mi Instan, Dairy, Makanan Ringan, Penyedap Makanan, Nutrisi & Makanan Khusus, dan Minuman.

Dari keenam divisi tersebut, divisi Mi Instan adalah penyumbang pendapatan terbesar dengan rata-rata kontribusi sebesar 64.33%, sehingga divisi mi instan memiliki posisi yang sangat strategis pada kinerja ICBP secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, pendapatan dari divisi mi instan tumbuh dengan CAGR sebesar 6.83%, turun dari CAGR jangka panjang di angka 9.11%. Namun demikian pertumbuhan laba bersih naik dengan CAGR yang cukup baik yaitu 15.36%. Adanya kesenjangan pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan laba di mana pertumbuhan laba tumbuh dengan CAGR yang lebih baik, menjadi indikator positif pada efisiensi proses bisnis perusahaan. Hal lain yang menjadi catatan adalah divisi ini mampu menghasilkan profit margin yang baik, di mana secara rata-rata profit margin berada di angka 19.56%.

Di tahun 2020, ICBP mengakuisisi Pinehill Company Limited (PLC). Manajemen berpendapat bahwa akuisisi PLC akan berdampak positif bagi kinerja ICBP dengan terbukanya akses market secara langsung ke negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Eropa yang distribusinya dikuasai oleh PLC. Banyak analis berpendapat bahwa akusisi PLC oleh ICBP terlalu mahal dan bermasalah dalam hal transparansi sebab induk PLC adalah perusahaan yang sama-sama dikuasai oleh group Salim. Terdapat kecurigaan bahwa akusisi ini semata-mata hanya akan menguntungkan pengendali saja dan merugikan investor ICBP lainnya.

Efek akusisi PLC mulai terlihat di LK ICBP. Di tahun 2020, penjualan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika meningkat drastis yaitu sebesar 121.13%, sedangkan penjualan di dalam negeri hanya naik sebesar 1.49% saja. Selain itu, DAR ICBP naik drastis dari sebesar 31.10% menjadi sebesar 51.42%. Sedangkan DER meningkat dari sebesar 45.14% menjadi sebesar 105.87%.

Akuisisi PLC sempat mengerek turun harga saham ICBP. Menurut hitung-hitungan penulis, saat ini ICBP sedang berada di rentang bawah harga wajarnya. Sedangkan secara PER dan PBV, sudah masuk ke area undervalue.

Caveat

Dengan semakin jenuhnya pasar Indomie di dalam negeri (terbukti penjualan di Indonesia hanya naik sebesar 1.49% saja), maka kinerja ICBP di masa depan sangat ditentukan oleh kesuksesan ICBP melakukan ekspansi ke luar negeri. Sebagai investor retail yang tidak punya akses ke pasar-pasar luar negeri tersebut (kecuali Anda sering jalan-jalan ke luar negeri), tentunya cukup sulit mengamatinya.

Selain itu, tingkat utang yang membengkak pasca akuisisi masih akan membebani fundemental ICBP beberapa tahun ke depan.

Analisa lebih lengkap bisa dibaca di artikel ini.

KBLI

Logo KBLI
Logo KBLI

PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) adalah salah satu pemain utama industri kabel di Indonesia. Perusahaan ini berdiri tahun 1972 dan telah memasarkan produk kabel bertegangan rendah dengan merek Kabelmetal Indonesia sejak tahun 1970an.

Growth KBLI bisa dibilang cukup istimewa, sebab pertumbuhan aset dan ekuitasnya dalam jangka panjang dan jangka pendek berada di angka CAGR di atas 20%. Pun, pertumbuhan pendapatan berada di angka CAGR 18.53% (jangka panjang) dan CAGR 13.55% (jangka pendek) – masih cukup tinggi.

Sebagai perusahaan penyedia material konstruksi dan infrastruktur (berupa kabel), perusahaan cenderung bersifat capital intensive. Hal ini ditandai dengan rendahnya profit margin yang berada di angka rata-rata 5.82%. Selain itu, posisi utang terhadap aset dan ekuitas berada pada rasio yang cukup besar yaitu di rata-rata Debt to Aset Ratioย (DAR) dalam jangka pendek tercatat sebesar 34.87%, sedangkan rata-rataย Debt to Equity Ratioย (DER) berada di angka 54.10%. Dari segi cashflow, tercatat bahwa selama 10 tahun ke belakang perusahaan sempat mencatatkan Operating Cashflow dan Free Cashflow negatif.

Sejak tahun 2016, perusahaan mulai mengoperasikan segmen usaha baru yaitu segmen kabel bertegangan tinggi. Segmen baru ini mampu meningkatkan pendapatan perusahaan terutama dari PLN disebabkan oleh adanya program pengadaan pembangkit listrik 35,000 MW.

PLN dan anak-anak perusahaan bisa dibilang merupakan konsumen utama perusahaan terutama untuk segmen business to business (B2B). Sedangkan konsumen business to consumer (B2C) terutama dilayani oleh segmen kabel bertegangan rendah yang berkontribusi hampir separuh dari pendapatan perusahaan.

Selain capital intensive, karakteristik lain dari perusahaan adalah sifat dari bahan baku berupa komoditas tembaga dan aluminium yang masuk ke dalam kategori siklikal. Di tahun 2020 sendiri, kinerja perusahaan cukup tertekan. Selain karena pandemi yang menyebabkan seretnya anggaran pemerintah ke PLN, juga karena tingginya harga komoditas.

Dari segi valuasi, saat ini KBLI dihargai di PBV 0.53x sehingga bisa dikatakan cukup undervalue sebab berada di area -1 standar deviasi PBV rata-ratanya. Investasi di KBLI bisa dipertimbangkan jika melihat harganya yang cenderung undervalue, namun tetap harus mempertimbangkan beberapa hal seperti, berakhirnya pandemi (sehingga anggaran pemerintah ke PLN bisa kembali “normal”), turunnya harga komoditas tembaga dan aluminium, serta visi pemerintah yang tetap mengedepankan pembangunan infrastruktur terutama sektor kelistrikan.

Caveat

Pengendali KBLI adalah Denham Pte Ltd. Perusahaan ini kerapkali dikaitkan dengan Sjamsul Nursalim, pengusaha Indonesia yang terkait dengan kasus dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kasus ini sendiri belakangan dihentikan oleh KPK dengan menerbitkan SP3.

Selain itu, NPM kecil dan cashflow negatif mungkin menjadi karakteristik yang kurang disukai.

Terakhir, analisa ini mungkin valid sampai tahun 2024 saja. Jika presiden ganti, mungkin visi pemerintahan baru tidak lagi ke infrastruktur.

Analisa yang lebih lengkap bisa dibaca di sini.

LSIP

Logo LSIP
Logo LSIP

PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) berdiri pada tahun 1906 dan merupakan salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia. Pada tahun 2007, LSIP bergabung ke dalam kelompok usaha Indofood yang dikendalikan oleh grup Salim melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) – produsen minyak goreng Bimoli.

Pendapatan LSIP hampir 90% berasal dari perkebunan kelapa sawit dan turunannya. Oleh karena itu, LSIP tergolong bisnis siklikal sebab kinerjanya sangat ditentukan oleh harga komoditas kelapa sawit dunia.

Secara pertumbuhan, LSIP cenderung stagnan. Pada periode 2014 – 2019, aset tumbuh dengan CAGR hanya sebesar 3.39%, sedangkan ekuitas tumbuh dengan CAGR sebesar 3.32%. Pendapatan LSIP cenderung naik turun selayaknya perusahaan siklikal, namun cenderung di situ-situ saja. Sebagai contoh, tahun 2009 pendapatan LSIP adalah sebesar IDR 3.8 triliun; 10 tahun kemudian di tahun 2019, pendapatan LSIP bahkan sedikit turun menjadi IDR 3.7 triliun. Stagnan.

Pendapatan LSIP hampir sebagian besar berasal dari SIMP yang sekaligus merupakan induk perusahaan. Jika melihat dari segi growth perusahaan induk, trend stagnan juga terlihat. Untuk periode lima tahun (2014 โ€“ 2019), angka CAGR Pendapatan malah berada di posisi -1.82% โ€“ alias pendapatannya turun.

Secara fundamental, LSIP tergolong baik dengan tingkat liabilitas yang kecil, serta hampir tidak memiliki utang yang bersifat pendanaan dari pihak ketiga.

Selain segmen kelapa sawit, perusahaan juga memiliki perkebunan karet dan kakao. Namun keduanya juga memiliki trend pendapatan yang menurun.

Caveat

Bisnis kelapa sawit adalah bisnis yang cukup sulit dijalankan. Selain sangat ditentukan oleh faktor cuaca dan alam, sentimen negatif dari dunia internasional terhadap industri kelapa sawit Indonesia juga memberikan tekanan pada pemain di bisnis ini.

Analisa lebih panjang bisa dibaca di sini.

NISP

Logo NISP
Logo NISP

NISP adalah salah satu bank swasta tertua di Indonesia. Berdiri pada tahun 1941 dengan nama Belanda, NISP kemudian mengubah nama menjadi Nilai Inti Sari Penyimpan pada tahun 1958. Sejak tahun 1997, NISP bekerjasama dengan OCBC Bank Singapura untuk membentuk bank OCBC Indonesia. Di tahun 2004, OCBC Bank Singapura masuk menjadi pemegang saham dan akhirnya menjadi pemegang saham mayoritas di tahun 2005. OCBC Bank Singapura sendiri adalah salah satu bank terbesar dari segi nilai aset di Asia Tenggara, dan pernah dinobatkan sebagai bank teraman di dunia.

NISP adalah salah satu bank di Indonesia dengan growth yang cukup tinggi. Aset dan Ekuitas, keduanya tumbuh dengan nilai CAGR di atas 10% jangka pendek, dan di atas 15% jangka panjang (bahkan CAGR ekuitas jangka panjang berada di angka 20.93%). Dari segi pendapatan, segmen consumer banking dan treasury masih tumbuh dengan trend CAGR jangka pendek yang cukup tinggi yaitu di angka 18.72% (Consumer Banking) dan 17.34% (Treasury). Segmen Treasury sendiri adalah segmen dengan profitabilitas usaha sebesar 79.65%!

Dari segi rasio-rasio perbankan, NISP terbilang cukup baik. Beberapa rasio yang baik seperti nilai NPL yang bahkan lebih baik dari Bank BNI yang merupakan salah satu dari empat bank umum terbesar di Indonesia. Rasio-rasio lain terbilang cukup bersaing jika dibandingkan dengan bank-bank swasta lainnya, walaupun masih kalah dari empat besar bank umum lainnya.

Rasio yang paling buruk dan harus menjadi perhatian adalah CASA yang cukup rendah. NISP harus bekerja keras meyakinkan nasabah agar mau menyimpan dananya di bank ini.

Efisiensi menjadi salah satu ciri khas NISP. Di saat bank-bank umum lainnya berlomba-lomba menambah jumlah cabang fisik, NISP konsisten menguranginya. Hal ini juga berlaku dari segi jumlah karyawan dan jaringan ATM yang cenderung konsisten berkurang alih-alih bertambah.

Harga saham NISP konsisten dihargai murah oleh pasar karena konsisten tidak memberikan dividen (walaupun di tahun 2018 sempat membagikan saham bonus). Manajemen beralasan bahwa hal ini dilakukan untuk meningkatkan permodalan bank sehingga bisa tumbuh dan naik kelas secara anorganik.

Saat ini harga NISP termasuk undervalue baik dari segi nilai wajar, PER, dan PBV.

Caveat

Untuk tipe investor yang suka menanti-nantikan dividen masuk ke rekening RDN di musim bagi-bagi dividen, mungkin emiten ini bukan merupakan emiten yang cocok untuk Anda.

Analisa yang lebih lengkap tentang NISP ada di sini.

RALS

Logo RALS
Logo RALS

Membuka gerai pertamanya di Jalan Sabang Jakarta pada tahun 1978, RALS tumbuh menjadi salah satu perusahaan retail fashion dan swalayan terbesar dengan memiliki lebih dari 100 gerai di seluruh Indonesia pada tahun 2020. Namun demikian, pertumbuhan RALS dari banyak segi cenderung stagnan bahkan menurun, walaupun labanya meningkat karena efisiensi.

Dari segi pertumbuhan pendapatan, RALS hanya mencatatkan CAGR sebesar 2.65% jangka panjang. Jangka pendek, bahkan mencatatkan nilai CAGR -0.92%, alias pendapatannya cenderung turun. Walaupun pertumbuhan pendapatan cenderung menurun, namun bukan berarti RALS tidak jago dalam urusan mencetak laba. Pertumbuhan Laba Bersih bahkan mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik di mana dalam jangka pendek mencatatkan CAGR sebesar 12.79%. Artinya walaupun pendapatan stagnan, namun RALS mampu meningkatkan profit dengan meningkatkan efisiensi.

Masih dengan pendapatan yang cenderung stagnan (bahkan menurun), dari dua segmen usaha yaitu fashion dan supermarket, segmen terakhir mencatatkan kinerja yang buruk. Dalam jangka pendek, pertumbuhan pendapatan bahkan mencatatkan CAGR negatif yaitu di angka 9.52%. Dari segi kontribusi terhadap total pendapatan, segmen ini secara rata-rata menyumbang sebesar 33% (cukup signifikan). Segmen fashion menunjukkan kinerja lebih baik walaupun cenderung stagnan, dengan CAGR pendapatan jangka pendek di angka 3.37% saja.

RALS termasuk rajin membagikan dividen bahkan dengan yield yang cukup baik (terakhir yield yang diberikan berada di angka sekitar 6%).

Selain itu, RALS rajin melakukan buyback sahamnya sendiri. Di satu sisi, buyback adalah sinyal positif yang menunjukkan keyakinan manajemen akan masa depan perusahaan. Namun di sisi lain, juga bisa menjadi sinyal akan semakin susahnya langkah ekspansi di masa depan, mengingat pertumbuhan bisnis RALS yang cenderung stagnan.

Dari segi valuasi, RALS berada di rentang harga wajarnya, dan secara PBV telah cukup undervalue.

Caveat

RALS saat ini sedang berada di tahapan bisnis sebagai slow growers, di mana pendapatan cenderung stagnan bahkan berkurang. Segmen bisnis swalayan dengan kinerja yang kurang baik harus mendapatkan perhatian serius dari manajemen.

Analisa lebih lengkap ada di artikel ini.

TOTL

Logo TOTL
Logo TOTL

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) adalah salah satu perusahaan konstruksi swasta nasional yang cukup diperhitungkan di industri bangun membangun gedung bertingkat di tanah air.

Perusahaan ini mungkin fokus berbisnis di pembangunan premium-high-rise building alias gedung bertingkat bertipe premium. Pelanggan-pelanggan TOTL umumnya adalah grup-grup konglomerat di Indonesia. Setidaknya nama-nama grup besar seperti Trans Corp, Indofood, Astra, Lippo, dan lain-lain, pernah muncul di laporan-laporan keuangan TOTL sebagai pelanggan.

Secara fundamental, TOTL termasuk baik. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir, rasio DAR berada di angka rata-rata sebesar 66.11 %; sedangkan DER berada di rata-rata sebesar 196.62%. Angka-angka DER dan DAR ini jika sekilas memang terlihat tinggi, namun hampir sama dengan rata-rata perusahaan konstruksi lainnya yang bergerak di jasa konstruksi high-rise buildings. Catatan positif lainnya, kebanyakan utang yang tercatat adalah utang-utang yang bersifat operasional, bukan merupakan utang dari aktivitas pendanaan oleh pihak ketiga.

Dari segi growth, selama periode 2009 – 2019 aset tumbuh dengan CAGR sebesar 8.67%. Ekuitas pada periode yang sama juga bertumbuh dengan nilai CAGR sebesar 8.15%. Bisa dibilang TOTL adalah perusahaan dengan tipe slow-growth.

Pertumbuhan dengan akselerasi yang lambat agaknya berkaitan dengan prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh manajemen. Di dalam berbisnis, TOTL menempatkan kualitas (quality), keselamatan (safety), dan kehati-hatian (prudent) sebagai prinsip-prinsip utamanya. TOTL tidak hanya mengejar growth semata, namun memastikan bahwa proyek-proyek yang dikerjakan dapat diselesaikan dengan kualitas yang baik, dengan juga memastikan bahwa pelanggan mampu melakukan pembiayaan dengan baik sehingga proyek yang dikerjakan tidak terhenti di tengah jalan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis usaha jasa konstruksi, terutama untuk pelanggan-pelanggan swasta, kinerja bisnis TOTL cenderung bersifat siklikal. Di situasi pandemi saat ini, tentunya mempengaruhi permintaan di mana banyak pengusaha yang memilih situasi membaik sebelum melakukan ekspansi termasuk membuat gedung baru.

Dari segi valuasi saat ini TOTL berada di bawah rata-rata nilai PBV dan PER nya, namun masih belum terlalu undervalue.

Caveat

Karakteristik pertumbuhan TOTL yang cenderung anorganik mungkin tidak cocok untuk tipe investor yang menyukai gaya manajemen agresif (akusisi, akusisi, dan akusisi).

Analisa lebih lengkap ada di sini.

TOWR

Logo TOWR
Logo TOWR

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya Protelindo saat ini menguasai menara telekomunikasi dengan jumlah lebih dari 28,000 unit, yang menjadikannya salah satu perusahaan penyewaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Sejak didirikan tahun 2008, TOWR tumbuh sangat pesat. Dari tahun 2009 sampai dengan 2019, aset TOWR tumbuh dengan CAGR sebesar 14.94%. Dalam periode yang sama, ekuitas tumbuh lebih agresif dengan nilai CAGR sebesar 22.89%. Total pendapatan tumbuh dengan CAGR sebesar 19.55%, serta laba bersih tumbuh dengan CAGR sebesar 14.8%.

Dari segi profitabilitas, TOWR tercatat memiliki margin usaha yang tinggi. Secara rata-rata, dari tahun 2014 – 2019, TOWR mencatatkan nilai Net Profit Margin (NPM) sebesar 31.15%.

Pertumbuhan TOWR cenderung dilakukan dengan strategi anorganik yaitu melalui pembelian aset langsung dari perusahaan lain, atau melalui akuisisi. Tercatat TOWR pernah melakukan pembelian menara-menara telekomunikasi dari perusahaan-perusahaan operator seperti XL dan Indosat, serta mengakuisisi perusahaan-perusahaan seperti PT iForte Solusi Infotek (iForte), dan PT Komet Infra Nusantara (KIN). Paling anyar, TOWR mengakuisisi PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), di mana dari akusisi tersebut TOWR menguasai aset berupa 6,422 menara SUPR.

TOWR rajin membagikan dividen. Selain itu perusahaan juga beberapa kali telah melakukan buyback saham. Buyback saham adalah sinyal posifit. Namun tetap menyisakan tanda tanya, sebab saat ini nilai utang TOWR cukup besar di mana rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) TOWR dari tahun 2014 – 2019 rata-rata berada di angka 175.68%.

Dari segi valuasi, saat ini TOWR sedang berada di area undervalue, namun dengan perhitungan data-data historis yang cukup tinggi (CAGR EPS 14.8%, PER 49.38x, PBV 6.74x). Dari segi nilai PER dan PBV, harga saham TOWR sedang berada di rentang harga wajarnya.

Mengingat growth yang masih cukup tinggi, dan potensi bisnis telekomunikasi di masa depan, investasi di saham TOWR bisa dipertimbangkan untuk investor yang menyukai fast grower company.

Satu hal lagi, perusahaan ini dikendalikan oleh group Djarum. Jadi untuk urusan modal dan GCG, tidak diragukan lagi.

Caveat

Sebagai perusahaan penyedia infrastruktur, TOWR tergolong capital intensive. Selain itu, strategi pertumbuhan anorganik dengan pembiayaan eksternal membuat rasio utang TOWR cenderung tinggi (DER di atas 1x).

Analisa lebih lengkap ada di sini.

UNVR

Logo UNVR
Logo UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) adalah salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terbesar dan tertua di Indonesia. Perusahaan ini membawahi berbagai macam merek produk-produk consumer goods yang cukup melegenda di Indonesia seperti Pepsodent, Lifebuoy, Sunsilk, dan lain-lain.

Dilihat dari fundementalnya, beberapa tahun belakangan ini kinerja UNVR bisa dibilang stagnan, jika tidak bisa dibilang menurun. Pertumbuhan aset, ekuitas, pendapatan, dan laba bersih, kompak menunjukkan trend angka CAGR 5 tahun terakhir yang lebih rendah dari angka CAGR 10 tahunnya. Hal ini menandakan bahwa akhir-akhir ini, laju pertumbuhan UNVR cenderung melambat.

Dari segi utang, rasio-rasio DAR dan DER terlihat cukup besar. Dari periode 2014-2019, DAR secara rata-rata berada di angka 69.89%, sedangkan DER rata-rata di angka 239.18%. Jika ditelaah lebih lanjut, setidaknya hampir 85% liabilitas UNVR adalah liabilitas bersifat jangka pendek. Selain itu, hanya sekitar 22% saja yang berasal dari bank. Itupun tanpa jaminan. Jadi dari segi utang, UNVR tidak ada masalah.

UNVR termasuk emiten yang rajin membagikan dividen, bahkan dengan payout ratio yang sangat besar (mencapai 100% lebih). Hal ini semakin mengukuhkan ciri UNVR sebagai perusahaan yang telah mature, di mana keuntungan yang dihasilkan lebih baik ditransfer ke pemegang saham, sebab potensi untuk melakukan ekspansi sudah terbatas.

Caveat

Sejak 2019, harga saham UNVR terus menunjukkan trend penurunan. Agaknya kinerja UNVR yang melambat beberapa tahun terakhir menyebabkan market menghukum saham UNVR. Dari segi PER dan PBV, harga saham UNVR saat ini telah berada di area undervalue secara historis. Namun hal ini lebih disebabkan oleh tingginya nilai PER dan PBV UNVR di masa lalu. Dengan CAGR laba bersih sedikit di atas 5%, PER 25x pun mungkin masih terlalu tinggi.

Mengingat sifatnya yang slow growth, pertimbangan untuk melakukan investasi di saham UNVR barangkali dari potensi dividennya.

Analisa lebih panjangnya ada di sini.

LynPF Two Minutes Drill ala Peter Lynch

Untuk para fans Om Peter Lynch, mungkin tidak asing dengan metode two minutes drill.

Peter Lynch sit down
Om Peter Lynch. Source: Googling.

Singkatnya menurut Om Lynch, sebelum membeli suatu saham, kita harus bisa melakukan monolog selama dua menit yang dapat menceritakan bagaimana sebuah perusahaan yang kita akan beli sahamnya bisa sukses, serta apa saja yang dapat menghalangi perusahaan untuk mencapai kesuksesan itu. Kalau bisa menceritakannya pada orang lain seperti keluarga, teman, bahkan anak-anak; maka kita bisa yakin bahwa kita tahu apa yang kita beli,

Berikut ini adalah beberapa saham yang penulis coba untuk membuat ringkasannya. Lebih tepatnya sih, berupa rangkuman dari artikel aslinya.

Selain itu untuk semua saham, penulis coba untuk memberikan rating. Bukan berarti satu perusahaan lebih baik dari yang lainnya, tetapi lebih kepada penilaian subyektif penulis mengenai apakah saham tersebut cukup menarik untuk dikoleksi atau tidak.

Sekali lagi, penilaiannya bersifat subyektif. Jadi tidak ada metode tertentu untuk melakukan scoring. Karena subyektif, Anda tentu sangat boleh untuk tidak setuju! ๐Ÿ™‚

Saham yang dibahas, tidak mencerminkan portfolio manapun, termasuk milik penulis.

Summary

Kode SahamRating
HMSP
ULTJ
SIDO
IFII
MLBI
PTBA
PWON
Summary Rating

HMSP

Logo HMSP
Logo HMSP

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) adalah salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. HMSP adalah pemegang merek Sampoerna, Dji Sam Soe, serta pemegang hak distribusi rokok Marlboro di Indonesia.

Dari segi fundamental, karakteristik HMSP sebagai pemimpin pasar jelas terlihat di mana perusahaan nyaris tidak memiliki utang.

Perusahaan juga bertipe cash-rich. Setidaknya di Q1 2021, nilai Cash per Share HMSP adalah sebesar IDR 120.54 yang meredengan nilai Book Value per Share sebesar IDR 282.40. Jadi sebesar 42.55% nilai sahamnya berupa uang cash.

Dari segi growth sayangnya tidak terlalu baik. CAGR Pendapatan dari tahun 2014 – 2019 hanya sebesar 5.06%. Hampir sama dengan CAGR Laba bersih yang berada di angka 5.92%.

Tahun 2020 agaknya menjadi tahun yang kurang baik bagi HMSP. Selain terjadinya penurunan pendapatan karena pandemi, perusahaan juga mengalami penurunan profit margin imbas dari kenaikan tarif cukai. Pendapatan perusahaan sebesar IDR 94.2 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar IDR 106 triliun. Pun demikian halnya dengan profit margin. Gross Profit Margin turun menjadi “hanya” sebesar 20.23%, anjlok dari rata-rata 5 tahun sebelumnya yang berada di angka 25%.

Harga HMSP konsisten turun dari tahun 2019. Hal ini agaknya disebabkan oleh sentimen sunset industry bagi industri rokok. Hal ini justru memberikan kesempatan bagi investor untuk membeli saham HMSP di harga murah.

Ketika artikel ini ditulis, harga sama ada di angka IDR 1,210. Jika dibeli sekarang, ketika pandemi berakhir, dan dengan asumsi pembagian dividen sama yang sama seperti tahun 2020, maka Dividend Yield yang ditawarkan cukup menarik, yaitu di angka 9.83%.

Untuk sentimen sunset industri sendiri, ada beberapa catatan mengapa hal ini tidak mudah terjadi di HMSP. Pertama, HMSP terlalu penting bagi Phillip Morris. Kedua, kontribusi cukai tembakau bagi pendapatan negara masih cukup besar. Belum lagi jumlah peningkatan jumlah pengangguran kalau perusahaan rokok pada tutup.

Cukai boleh naik terus. Tapi membunuh industri rokok akan sama dengan menghilangkan sumber pendapatan negara. Mungkin itu pula sebabnya sehingga Indonesia belum menandatangani FCTC.

Phillip Morris sendiri telah mengubah visinya untuk menjadi yang terdepan di dalam mentransformasi industri rokok menjadi industri bebas asap rokok. Terdengar absurd kan? Namun faktanya, PMI habis-habisan melakukan R&D untuk produk IQOS – rokok elektronik bebas asap pembakaran miliknya.

Ke depannya, agaknya kesuksesan PMI melakukan transformasi industri akan menjadi penentu apakah industri tembakau benar-benar sunset atau tidak.

Caveat

Turunnya harga saham HMSP, menawarkan Dividend Yield yang menarik di harga saat ini. Kekuatan modal investor untuk mengoleksi di harga bawah menjadi kunci. Tentunya dibarengi risiko menangkap pisau jatuh. Tidak ada yang tahu seberapa dalam harga akan jatuh.

Transformasi industri tembakau oleh PMI agaknya masih akan menemui jalan panjang dan penuh tantangan. PMI sendiri mengakui bahwa tidak ada yang bisa menjamin mereka akan sukses melakukannya.

Satu lagi.

Saat ini, dengan tidak ditandatanganinya FCTC oleh pemerintah Indonesia, maka industri rokok dalam negeri bisa dikatakan “aman” dari sunset. Namun jika pemerintah berganti di tahun 2024, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi kemudian.

Analisa saham HMSP, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

ULTJ

Logo ULTJ

ULTJ adalah pemimpin pasar produk susu UHT.

Perusahaan ini adalah salah satu cash-rich company. Sampai dengan tahun 2019, perusahaan nyaris tidak memiliki utang.

Perusahaan ini memiliki growth yang baik. Selama 10 tahun sampai tahun 2019, perusahaan mampu mencapai pertumbuhan pendapatan sebesar 14.48%.

CAGR Laba Bersih bahkan sangat baik, yaitu sebesar 32.59% dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu meningkatkan pendapatannya, tapi juga mampu meningkatkan efisiensinya secara bersamaan.

Profitabilitas perusahaan juga cukup baik. Selama 10 tahun hingga tahun 2019, rata-rata GPM berada di angka 31.08%; OPM sebesar 20.26; NPM sebesar 10.38%.

Perusahaan ini dikelola oleh keluarga pendiri dan saat ini dikelola oleh generasi kedua dan ketiga. Sang CEO sekaligus PSP – Sabana Prawirawidjaja – rajin membeli saham perusahaan yang mencerminkan keyakinan pemilik akan masa depan perusahaan.

Perusahaan melakukan strategi fokus dalam menjalankan usaha, di mana produk yang dikembangkan umumnya bertipe UHT dan olahan susu.

Secara supply chain, perusahaan mengendalikan sebagian dari bahan baku (susu sapi) melalui peternakan-peternakan yang dikelola perusahaan, atau melalui kerjasama dengan para peternak. Selain itu, perusahaan juga mengelola rantai distribusi sendiri. Kendali yang kuat terhadap supply chain, bisa jadi merupakan kunci peningkatan efisiensi perusahaan setiap tahunnya.

Di tahun 2020, perusahaan mengeluarkan surat utang jangka menengah sebesar 3 triliun. Menurut perusahaan hal ini dilakukan untuk menjaga likuiditas perusahaan dan ekspansi seperti penambahan fasilitas produksi termasuk peternakan. Kemungkinan perusahaan sengaja mencari dana murah di tengah turunnya tingkat suku bunga akibat resesi.

Secara valuasi nilai intrinsik, perusahaan berada di harga wajarnya dengan nilai PER 15x. Namun untuk perusahaan consumer goods, nilai PER termasuk rendah. PER ULTJ, sangat mungkin naik jika perusahaan konsisten menjaga pertumbuhan, melakukan efisiensi, dan meningkatkan nilai dividen.

Caveat

ULTJ termasuk emiten pelit dividen. Tahun 2020, DPR ULTJ hanya sebesar 13%, dengan Dividend Yield hanya sebesar 0.8%. Sebagai perusahaan dengan aset kas yang besar, dividend yield yang kecil seringkali menimbulkan pertanyaan apakah PSP “bermain” dan menyalurkan kas perusahaan yang besar ke kantong sendiri.

Analisa saham ULTJ, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

SIDO

Logo SIDO
Logo SIDO

Sidomuncul (SIDO) adalah salah satu contoh usaha keluarga yang sukses. Dengan produk andalan berupa jamu tradisional dengan merek Tolak Angin, SIDO sukses menjadi salah satu produsen produk jamu herbal terkemuka di Indonesia.

Secara umum, SIDO adalah perusahaan dengan fundamental baik. Perusahaan ini nyaris tidak memiliki utang jangka panjang yang berasal dari pendanaan eksternal dan bank.

Aset dan ekuitas setiap tahun bertumbuh namun dengan growth yang cukup lambat (CAGR 3.87% dan 2.97% masing-masing).

CAGR pendapatan dalam periode 2012 – 2020 termasuk biasa-biasa saja yaitu hanya sebesar 4.47%. Namun demikian, tiga tahun terakhir yaitu tahun 2018-2020, pendapatan SIDO tumbuh sebesar 7.34%, 11%, dan 8.74% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari segi profitabilitas, SIDO termasuk sangat baik dan menunjukkan peningkatan. Di tahun 2020, Gross Profit Margin berada di angka 55.14% (naik dari 38.50% di tahun 2012), dan Net Profit Margin berada di angka 28.01% (naik dari 17.12% di tahun 2012).

Beberapa tahun belakangan, SIDO mulai melakukan ekspansi ke luar negeri, yaitu ke Filipina dan Nigeria. Untuk memuluskan agenda ekspansi di luar negeri, SIDO menggandeng Affinity Equity Partners yang pada tahun 2020 mengakuisisi saham SIDO sebanyak 21%. Strategi ekspansi ini tentunya menjadi sinyal positif untuk pertumbuhan SIDO di masa depan.

SIDO termasuk emiten yang rajin membagikan dividen dan dengan yield yang cukup menarik. Dividend Yield SIDO berada di rentang 3% – 6%, bahkan sempat mencapai 8%.

Caveat

SIDO termasuk barang MAHAL. PER dan PBV SIDO konsisten berada di atas standar deviasinya untuk periode 3, 5, dan 10 tahun terakhir. Dengan growth “hanya” sebesar 9% (rata-rata tiga tahun terakhir), PER 22x dan PBV 7.3x sepertinya harga yang cukup premium. Penganut aliran Quality Investing bisa jadi tidak setuju.

Analisa saham SIDO, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

IFII

Logo IFII
Logo IFII

IFII berdiri tahun 2007 adalah perusahaan produsen produk-produk olahan kayu yaitu Medium Density Board (MDF) dan Plywood.

Perusahaan ini adalah anak usaha group Adrindo yang merupakan PSP emiten SMSM, perusahaan produsen filter merk Sakura (suku cadang mobil / otomotif).

Tingkat utang IFII sangat kecil, terutama utang jangka panjang. Menurut LK Q1 2021, perusahaan tidak memiliki utang jangka panjang yang berasal dari pendanaan pihak ketiga, atau bank.

Profit margin termasuk baik, di mana rasio Gross Margin berada di angka 28.2%, Net Profit Margin berada di angka 10.7% (per akhir tahun 2020). Sebagai perusahaan yang sedang bertumbuh, angka ini termasuk baik.

Produk MDF merupakan penyumbang pendapatan terbesar saat ini terutama dari hasil ekspor ke Jepang. Selain itu perusahaan juga mengekspor produk-produknya ke negara-negara Timur Tengah. Ekspor MDF berkontribusi sebesar hampir 56% dari total pendapatan.

Pada tahun 2020, tiga perusahaan Jepang ikut bergabung sebagai pemegang saham. Mereka adalah SMB Kenzai Co Ltd, Noda Corporation dan Ishinomaki Plywood Mfg Ltd dengan total kepemilikan gabungan sebesar 32.44%. Kehadiran ketiga pemegang saham asal Jepang ini tentunya mempermudah akses ke pasar Jepang.

Pada tahun 2021, perusahaan berencana menambah fasilitas produksi MDF serta fasilitas pendukungnya. Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI, aksi korporasi ini akan menghabiskan dana investasi sebesar sebanyak-banyaknya IDR 650 miliar, di mana sekitar IDR 450 miliar pendanaan berasal dari bank.

Valuasi IFII saat ini berada di angka PER 18x dan PBV sebesar 1.31x. Sebagai perbandingan, SMSM dihargai investor sebesar 3x.

Saat ini, IFII termasuk saham yang tidak likuid dengan nilai transaksi per hari rata-rata hanya sekitar IDR 100 jutaan. Sepinya jumlah transaksi harian, berarti IFII rawan digoreng bandar. Namun di sisi lain, belum banyaknya big fund yang melirik berarti IFII berpotensi multi-bagger di masa depan.

Caveat

IFII baru beroperasi selama kurang lebih 14 tahun, jadi ibarat manusia, masih “belum cukup umur”. Selain itu, peminatnya masih sedikit, sehingga rentan digoreng bandar.

Rencana ekspansi dengan sumber pendanaan pihak ketiga akan membebani keuangan perusahaan setidaknya selama lima tahun ke depan.

Analisa saham SIDO, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

MLBI

Logo MLBI
Logo MLBI

MLBI adalah pemimpin pasar produk bir di Indonesia. Bir Bintang dan Bir Guiness adalah dua merek yang sangat dikenal dan merupakan pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Merek Bir Bintang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan untuk Bir Hitam Guiness, perusahaan memiliki hak eksklusif untuk memasarkannya di Indonesia.

PSP MLBI adalah Heineken B.V, sebuah perusahaan multinasional pemilik merek Bir Heineken. Manajemen perusahaan ini tentu tidak perlu diragukan lagi, sebab sepenuhnya dikelola oleh profesional.

Layaknya perusahaan pemimpin pasar, MLBI profit margin yang baik. Gross Profit Margin (GPM) di tahun 2019 berada di angka 61.75%; sedangkan Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 32.50%. Tingginya kedua margin tersebut merupakan bukti kesuksesan manajemen melakukan efisiensi, sebab 15 tahun sebelumnya di tahun 2004, angka GPM dan OPM masing-masing ada di angka 43.22% dan 12.24%.

Pendapatan MLBI terus naik dari tahun ke tahun. Namun, pertumbuhan dalam 5 tahun (CAGR=2.19%) lebih kecil ketimbang periode 10 tahun (CAGR=8.67%) – alias pertumbuhannya melambat. Trend yang sama juga terjadi pada pertumbuhan aset perusahaan.

Dari sisi utang, perusahaan ini bebas utang jangka panjang terutama yang berasal dari bank. Jadi bisa dikatakan fundamental sangat solid.

Produk minuman beralkohol masih merupakan penyumbang pendapatan terbesar perusahaan, di mana segmen ini menyumbang sebesar 91.17% pendapatan di tahun 2019. Selain Bir Bintang, penjualan Bir Hitam Guiness ternyata juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pendapatan perusahaan – yaitu sebesar rata-rata 13.82%.

Secara geografis, Bali menyumbang hampir 25.51% pendapatan di tahun 2019 melalui distribusi yang dilakukan oleh PT Bintang Bali Indah (anak perusahaan). Adanya pandemi Covid-19 yang memukul pariwisata di Bali tentunya berdampak sangat signifikan, di mana pendapatan turun dari sebesar IDR 3.7 triliun di tahun 2019, menjadi IDR 1.9 triliun di tahun 2020 (-46.51%).

Pandemi menciptakan kesempatan bagi investor retail untuk serok bawah di angka PBV 10.82x, yang mana merupakan angka yang bahkan lebih rendah dari mean PBV perusahaan ini dalam 10 tahun terakhir. Jika pandemi berakhir, MLBI sangat berpotensi turn-around dan menawarkan profit yang menarik – terutama untuk para dividend hunter.

Caveat

MLBI adalah tipe perusahaan yang sudah mature – artinya pertumbuhannya telah mengalami perlambatan. Untuk tipe growth investor, berinvestasi di perusahaan ini dalam jangka panjang mungkin bukan pilihan yang menarik.

Analisa saham MLBI, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

PTBA

Logo PTBA
Logo PTBA

PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) adalah salah satu perusahaan pertambangan batubara tertua di Indonesia. PTBA memiliki peran penting dalam penyediaan energi di Indonesia, hampir setengah dari produksi batubaranya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama penyediaan batubara bagi PLN dan Indonesia Power.

Fundamental keuangan termasuk baik. Aset dan Ekuitas tumbuh dengan CAGR sebesar 14.12% dan 14.69% dari tahun 2008 – 2019.

Perusahaan nyaris tidak memiliki utang jangka panjang yang bersumber dari pendanaan pihak ketiga. Hanya saja Imbalan Pasca Kerja jangka panjang yang mencapai 11.08% dari total aset perlu tetap diperhatikan pengelolaannya.

Sebagai perusahaan siklikal, pendapatan PTBA dipengaruhi oleh naik-turunnya harga batubara. Dalam rentang tahun 2008 – 2019, PTBA “hanya” mengalami penurunan pendapatan di tahun 2010, 2013, dan 2020. Tahun 2020, tentunya secara umum disebabkan oleh pandemi.

Selain itu, pengaruh siklus harga batubara juga dapat dilihat dari besar-kecilnya margin profitabilitas. Untuk tahun-tahun yang baik, PTBA secara umum mencatatkan margin profit yang lebih besar dari rata-rata.

CAGR pendapatan dari 2008 – 2019 adalah sebesar 10.57%. Margin profitabilitas pun cukup baik. Nilai GPM, OPM, dan NPM rata-rata di periode yang sama masing-masing berada di angka 39.34%, 26.07%, dan 21.06%. Sebagai perusahaan price taker, margin profitabilitas perusahaan termasuk sangat baik.

Dari segi segmen, PTBA membagi pendapatannya dari sumber domestik dan ekspor. Pendapatan domestik berkontribusi sebesar 59.15% dari total pendapatan. Selain itu, pendapatan PTBA juga dipengaruhi oleh kebijakan DMO di mana produsen batubara wajib menjual sebanyak 25% dari total produksinya guna pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Trend pemanfaatan green energy, secara umum memberikan sentimen negatif bagi industri batubara. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah menetapkan bauran energi batubara menjadi hanya sebesar 30% di tahun 2030, dan lebih turun lagi ke angka 25% di tahun 2050. Namun agaknya implementasi di Indonesia seperti masih jauh panggang dari api. Sampai akhir tahun 2020, batubara masih berkontribusi sebesar 65% dari total bauran energi Indonesia.

Salah satu strategi perusahaan saat ini adalah hilirisasi batubara. Dengan adanya hilirisasi, diharapkan di masa depan perusahaan tidak terlalu tergantung pada penjualan batubara saja, dan dapat bertransformasi menjadi perusahaan penyedia energi – sesuai dengan semangat BeyondCoal yang menjadi tagline PTBA.

Kenaikan harga batubara dari awal tahun 2021, menjadikan emiten batubara terutama dengan fundemantal kuat seperti PTBA menjadi menarik untuk dikoleksi. Ketika artikel ini dibuat, harga batubara sempat menyentuh $125 per ton.

Caveat

Selain DMO, kebijakan lain yang kurang menguntungkan bagi PTBA adalah harga batubara untuk listrik yang dipatok di harga $70 per ton. Karena hasil produksi PTBA sebagian besar dijual ke PLN dan Indonesia Power, hal ini tentu menjadi sentimen negatif, sebab PTBA jadi tidak dapat menikmati sepenuhnya potensi kenaikan pendapatan ketika harga batubara naik tinggi.

Analisa saham PTBA, pernah penulis ulas di sini.

Verdict (4 stars)

PWON

Logo PWON
Logo PWON

Selama 30 tahun beroperasi, Pakuwon Jati (PWON) mantap mengukuhkan diri sebagai perusahaan properti terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini membagi bisnisnya ke dalam tiga segmen: pengusahaan pusat perkantoran dan perbelanjaan, real estat, dan perhotelan.

Perkantoran dan Mall serta real estat adalah penyumbang pendapatan terbesar dengan hampir 90% pendapatan berasal dari dua sektor ini. Sedangkan perhotelan, walaupun kontribusinya tidak signifikan, namun tumbuh sangat pesat dengan CAGR sebesar 24.57% dalam waktu 10 tahun terakhir.

PWON adalah tipe high-growth company. Aset dan ekuitas 10 terakhir sampai dengan tahun 2019 tumbuh dengan CAGR masing-masing sebesar 22.33% dan 30.68%.

DER terus menurun dari angka 179.05% di tahun 2009, menjadi sebesar 21.49% saja di tahun 2019. Menandakan bahwa perusahaan cukup konservatif dalam mengelola utangnya.

Layaknya perusahaan properti yang dipengaruhi naik-turunnya permintaan, kinerja PWON juga dipengaruhi oleh siklus bisnisnya. Hanya saja, pengaruhnya lebih kepada tebal tipis margin usaha. Secara umum, dari tahun ke tahun, pendapatan perusahaan tetap tumbuh.

Salah satu keunggulan PWON adalah besarnya recurring income – alias pendapatan berulang. Recurring income PWON berkontribusi terhadap 51.4% pendapatan di tahun 2019. Besarnya recurring income, tentunya memberikan likuiditas yang baik, sehingga perusahaan tidak selalu ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal untuk ekspansi.

Saat ini perusahaan memiliki Land Bank yang cukup untuk melakukan development selama 10 tahun ke depan. Ditambah lagi, spesialisasi perusahaan adalah kawasan superblock, alias properti vertikal yang relatif lebih irit lahan.

Tahun 2020, terjadi penurunan pendapatan yang sangat signifikan akibat pandemi Covid-19, yaitu dari sebesar IDR 7.2 triliun, menjadi IDR 3.9 triliun.

Namun demikian, situasi pandemi tidak menghalangi perusahaan untuk melakukan ekspansi, di mana di tahun ini perusahaan melakukan akuisisi dua buah mall dan satu hotel di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Akuisisi ini bisa menjadi sinyal positif. Pertama, perusahaan sepertinya masih memiliki likuiditas yang cukup untuk bertahan di tengah kondisi pandemi yang tidak kunjung selesai. Kedua, lokasi akusisi di luar Jakarta dan Surabaya, menjadi sinyal positif di mana perusahaan mulai melirik growth ke daerah lainnya.

PWON bisa dipertimbangkan untuk dikoleksi dalam masa pandemi, dengan harapan jika terjadi economic book pasca pandemi, sektor properti (dan PWON) akan ikut menikmati hasilnya.

Caveat

Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Jika berkepanjangan, tentu PWON akan sangat terpukul dengan rendahnya angka kunjungan ke mall, dan sentimen Working From Home (which means people no longer need an office).

Dari segi valuasi, tidak ada cara yang mudah untuk memastikan berapa harga yang pantas untuk PWON. Yang paling mendekati mungkin menggunakan PBV, di mana saat artikel ini ditulis (Juni 2019), PBV PWON sedang berada di area di bawah standar deviasinya.

Analisa saham PTBA, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

Demikian, semoga bermanfaat!