Analisa Fundamental PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG)

PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) adalah salah satu produsen kaca terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1971 sebagai perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) bersama sama dengan PT. Rodamas yang didirikan oleh pedagang Mr. Tang Siong Kie. PT Rodamas sendiri adalah kelompok usaha yang cukup dikenal di Indonesia.

Logo PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG)
Logo PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG)

Analisa Fundamental

Balance Sheet

Dalam jangka panjang (tahun 2009 – 2019), aset AMFG tumbuh dengan CAGR sebesar 16.05%, di mana nilai aset AMFG tumbuh dari senilai IDR 1.97 triliun menjadi sebesar IDR 8.7 triliun. Dalam jangka pendek (tahun 2014 – 2019), CAGR aset tumbuh sedikit lebih tinggi yaitu di angka 17.4%.

Ekuitas jangka panjang bertumbuh dengan CAGR sebesar 8.35% yaitu dari senilai IDR 1.5 triliun di tahun 2009 menjadi senilai IDR 3.4 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek, laju pertumbuhan ekuitas justru berkurang, di mana CAGR ekuitas jangka pendek AMFG hanya berada di angka 1.37% saja.

Yang cukup menjadi perhatian adalah laju peningkatan liabilitas, di mana dalam periode jangka panjang, Total Liabilitas AMFG naik dengan CAGR sebesar 28.24%. Dalam jangka pendek, laju pertumbuhan Total Liabilitas AMFG bertumbuh dengan CAGR yang lebih signifikan yaitu di angka 48.65%.

Kenaikan liabilitas yang begitu pesat ternyata berkaitan dengan pemindahan lokasi pabrik perusahaan dari Jakarta ke Cikampek. Prosesnya pembangunan pabrik baru di Cikampek ini dimulai pada tahun awal 2015, dan telah beroperasi sejak tahun 2017. Setelah pembangunan tungku pertama, perusahaan kemudian melanjutkan pembangunan tungku kedua yang telah diresmikan pada tahun 2019.

Dari segi rasio tingkat utang, pada tahun 2020, rasio-rasio tingkat utang AMFG memang cukup tinggi. Debt to Asset Ratio (DAR) tercatat berada di angka 63.2%, sedangkan Debt to Equity Ratio (DER) berada di angka 171.74%.

Sekilas memang terlihat tinggi. Namun jika dilihat dari attitude manajemen, AMFG bisa dibilang cukup konservatif mengelola utangnya. Secara historis, dari tahun 2008 – 2015 (sebelum pembangunan pabrik di Cikampek), DER rata-rata berada di angka 27.79%.

Income Statement

Sebelum pandemi, dalam periode jangka panjang (2009 – 2019), AMFG mampu mencatatkan pertumbuhan dengan CAGR sebesar 8.41%. Dalam jangka pendek (2014 – 2019), penjualan tercatat tetap bertumbuh, namun dengan nilai CAGR yang lebih rendah, yaitu di angka 3.16%.

Dalam periode jangka panjang, laba kotor tercatat bertumbuh dengan CAGR sebesar 2.75%. Sedangkan dalam jangka pendek, CAGR laba kotor menunjukkan angka -14.75% alias terjadi laba kotor perusahaan menurun. Tercatat di tahun 2014, perusahaan memperoleh laba kotor sebesar IDR 906 miliar, sedangkan di tahun 2019 laba kotor perusahaan tercatat berada di angka IDR 408 miliar.

CAGR laba usaha dan laba bersih tidak dapat dihitung, sebab pada tahun 2019 angka laba usaha dan laba bersih tercatat negatif (alias rugi).

Dari segi profitabilitas, secara rata-rata jangka panjang, Gross Profit Margin (GPM) berada di angka 20.77%, sedangkan dalam jangka pendek tercatat lebih kecil dengan rata-rata sebesar 16.45%. Operating Profit Margin (OPM) rata-rata jangka panjang tercatat berada di angka 10.27%, sedangkan jangka pendek tercatat berada di angka rata-rata sebesar 4.82%. Net Profit Margin (NPM) secara rata-rata tercatat berada di angka 7.61% jangka panjang, sedangkan jangka pendek tercatat rata-rata berada di angka 2.87%.

Menyusutnya laba bersih bisa dipahami sebab AMFG menanggung beban keuanganan akibat pemindahan pabrik dari Jakarta ke Cikampek yang mana sebagian besar dibiayai melalui pembiayaan pihak ketiga (utang bank). Hal ini dapat dilihat setidaknya dari beban keuangan AMFG dari tahun 2016 – 2020, di mana nilai beban keuangan selalu tercatat meningkat. Khusus tahun 2018 – 2020, nilai beban keuangan perusahaan bahkan tercatat berada di atas IDR 100 miliar.

Cashflow

Dari sisi cashflow, perusahaan tercatat konsisten menghasilkan Operating Casflow positif kecuali pada tahun 2019. Free Cashflow sebelum tahun 2015 tercatat positif kecuali di tahun 2009. Dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019, Free Cashflow tercatat negatif disebabkan oleh adanya pemindahan pabrik ke Cikampek yang menyebabkan tingginya Capex perusahaan. di tahun 2016 – 2018, Capex konsisten tercatat berada di angka IDR 1 triliun, sedangkan Capex di tahun 2019 tercatat berada di angka IDR 963 miliar.

Di tahun 2020, dengan telah selesainya pembangunan pabrik di Cikampek, perusahaan mencatatkan nilai Capex jauh menurun yaitu sebesar IDR 157 miliar. Sebaliknya Free Cashflow meningkat pesat di angka IDR 408 miliar.

Semakin membaiknya cashflow perusahaan tentunya menjadi sinyal positif bagi perbaikan kinerja perusahaan.

Selain menurunnya Capex dan meningkatnya Free Cashflow, perbaikan kinerja juga dapat dilihat arus kas yang berasal dari penerimaan/pembayaran pembayaran pinjaman dari bank. Tahun 2016 – 2019, perusahaan tercatat konsisten menerima pinjaman ketimbang melakukan pembayaran. Di tahun 2020, tercatat kondisi sebaliknya, di mana total pembayaran lebih besar dari pada total pinjaman.

Arus Kas AMFG terkait utang bank. Sumber: stockbit.
Arus Kas AMFG terkait utang bank. Sumber: stockbit.

Jika diamati secara kuartalan dari balance sheet, utang jangka panjang AMFG tercatat konsisten menurun dari tahun 2020.

Grafik Trend Liabilitas Jangka Panjang AMFG Secara Kuartalan
Grafik Trend Liabilitas Jangka Panjang AMFG Secara Kuartalan. Sumber: stockbit.

Analisa Kualitatif

Segmen Usaha

Berdasarkan jenis kaca yang diproduksi, segmen usaha AMFG bisa dibagi menjadi segmen kaca lembaran dan segmen kaca otomotif.

Kaca lembaran adalah jenis kaca yang banyak dipakai untuk proyek-proyek properti seperti gedung dan perumahan. Produk kaca lembaran perusahaan telah banyak dipakai baik untuk proyek-proyek properti dalam negeri maupun luar negeri. Contoh penggunaan kaca lembaran perusahaan untuk proyek dalam negeri misalnya Pondok Indah Office dan Pondok Indah Mall 3, Dapenbi Office, Wisma Pertamina, Bandara Hasanuddin Extension, Universitas Islam Internasional Indonesia Depok, Bidex Office, 57 Promenade, Ruko Golf Island dan masih banyak lainnya. Sedangkan untuk proyek luar negeri antara lain: The Onyx (Dubai), Precis Project (Rumania), dan lain-lain.

Segmen kaca otomotif banyak digunakan untuk produsen-produsen mobil dan alat-alat berat. Di segmen ini, produk perusahaan telah dipakai oleh hampir semua produsen otomotif besar yang produknya dijual di Indonesia seperti Toyoya, Honda, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Hyundai, dan lain-lain.

Secara historis menggunakan data dari tahun 2013 – 2020, segmen kaca lembaran berkontribusi lebih besar terhadap penjualan di mana segmen ini secara rata-rata berkontribusi sebesar 71.12%. Di tahun 2020 sendiri, segmen ini berkontribusi sebesar hampir 77.78%, namun lebih disebabkan oleh menurunnya industri otomotif di dalam negeri secara signifikan akibat pandemi covid-19.

AMFG menjual produknya baik di dalam negeri maupun ekspor. Dilihat dari negara tujuan, segmen usaha AMFG bisa dibagi menjadi segmen dalam negeri (Indonesia), Asia Pasifik (Asia, Australia, dan Selandia Baru), serta segmen lain-lain (Timur Tengah, Amerika dan Afrika).

Secara historis dari tahun 2013 – 2020, penjualan di dalam negeri mendominasi kontribusi terhadap total penjualan yaitu dengan rata-rata sebesar 62.42% diikuti oleh Asia Pasifik (sebesar 35.83%), dan segmen lain-lain (1.75%).

Di tahun 2020 sendiri, kontribusi penjualan dalam negeri turun menjadi 57%. Hal ini disebabkan oleh melemahnya industri dalam negeri baik properti maupun otomotif akibat pandemi covid-19.

Manajemen

Menurut Annual Report (AR) AMFG tahun 2020, terdapat dua perusahaan yang tercatat sebagai pemegang saham mayoritas yaitu: AGC Inc (44.53%), dan PT Rodamas (41.63%). Sisanya sebanyak 13.84% dimiliki oleh masyarakat umum.

AGC Inc. atau lebih dikenal dengan nama Asahi Glass adalah perusahaan kaca global yang merupakan salah satu perusahaan kaca terbesar di dunia. Perusahaan ini memiliki anak-anak perusahaan ataupun perusahaan-perusahaan afiliasi hampir di seluruh dunia.

PT Rodamas sendiri adalah salah satu grup konglomerat di Indonesia. Perusahaan ini mungkin lebih dikenal sebagai produsen produk-produk bahan makanan dengan merek Sasa yang diproduksi dan dipasarkan oleh PT Sasa Inti – salah satu anak perusahaan. Selain Sasa, PT Rodamas juga bekerjasama dengan Kao Corporation (perusahaan kosmetik asal Jepang) untuk memproduksi dan memasarkan produk-produk Kao melalui PT Kao Indonesia. Produk-produk Kao yang cukup terkenal di Indonesia misalnya merek Biore (pembersih muka) dan Attack (deterjen).

Jajaran manajemen sendiri umumnya terdiri dari orang-orang Jepang dan Indonesia. Eksekutif-eksekutif yang berasal dari Jepang umumnya berasal dari AGC Inc. Dari pihak Rodamas sendiri, Tan Pei Ling (yang merupakan pemegang saham terbesar PT Rodamas) tercatat sebagai Komisaris Utama perusahaan.

Dilihat dari reputasi kedua grup usaha tersebut, agaknya untuk urusan GCG perusahaan tidak perlu diragukan lagi. Karakteristik manajerial khas Jepang sangat terlihat dari segi konservatifnya AMFG mengelola utang.

Potensi Turn-around

Adanya proyek pemindahan pabrik perusahaan dari Jakarta ke Cikampek, menyebabkan tertekannya laba perusahaan dari tahun 2016 – 2020. Bahkan pada tahun 2019 dan 2020, perusahaan melaporkan kerugian masing-masing sebesar IDR -132 miliar dan IDR -431 miliar. Untuk tahun 2020, tentunya kondisi diperparah dengan adanya pandemi Covid-19.

Namun demikian, tanda-tanda kinerja perusahaan akan berbalik arah mulai terlihat.

Berkurangnya Utang Jangka Panjang

Jika melihat laporan-laporan keuangan AMFG secara kuartalan, utang jangka panjang perusahaan konsisten berkurang. Sempat mencatatkan saldo utang jangka panjang sebesar IDR 2.9 triliun di tahun 2019, utang jangka panjang perusahaan terus turun sampai sejumlah IDR 1.6 triliun di kuarter ketiga 2021.

Untuk beban keuangan, di tahun 2020 perusahaan mencatatkan beban keuangan sebesar IDR -174 miliar. Jika dibandingkan dengan tahun 2020, sampai dengan Q3 2021, perusahaan melaporkan akumulasi beban keuangan sejumlah IDR -90 miliar. Tentunya cukup realistis untuk memprediksi bahwa beban keuangan tahun 2021 akan lebih kecil dari tahun 2020. Turunnya nilai beban keuangan akan meningkatkan laba bersih perusahaan.

Tingginya Harga Komoditas Saat Ini

Sebagai produsen kaca, kinerja AMFG cukup ditentukan oleh harga dua komoditas yaitu Soda Ash, dan Gas Alam. Soda Ash adalah bahan baku langsung yang menurut perusahaan berkontribusi terhadap 20% beban produksi. Selain itu, hampir 50% bahan baku ini berasal dari impor sehingga kenaikan harga komoditas Soda Ash akan cukup mempengaruhi kinerja perusahaan.

Mengacu pada data dari tradingeconomics.com, kita tahu bahwa harga Soda Ash saat ini sedang mengalami kenaikan.

Grafik Harga Komoditas Soda Ash. Sumber: tradingeconomics.com.
Grafik Harga Komoditas Soda Ash. Sumber: tradingeconomics.com.

Selain itu, kinerja perusahaan juga cukup dipengaruhi oleh harga gas alam. Menurut manajemen, jika harga gas turun sebesar $1 per mmbtu, maka akan terjadi penurunan biaya produksi sebesar 2.5% – 3%. Sekilas terlihat sedikit, namun jika dikonversi ke dalam angka, hal ini dalam kapasitas normal, perusahaan akan mampu menekan biaya produksi sebesar USD 1 juta per bulan.

Sama seperti harga komoditas lain yang cenderung naik karena pandemi, harga gas alam saat ini juga sedikit mengalami trend peningkatan.

Harga Komoditas Gas Alam. Sumber: tradingeconomics.com.
Harga Komoditas Gas Alam. Sumber: tradingeconomics.com.

Jadi turn-around nya di mana?

Well, jika perusahaan mampu beroperasi dengan kinerja yang baik (terbukti dengan utang bank yang terus berkurang) dalam kondisi di mana harga-harga komoditas sedang tinggi, maka tentunya kinerja perusahaan akan semakin baik (baca: semakin untung), jika harga kedua komoditas tersebut turun.

Apa yang naik, pada akhirnya akan turun bukan?

Pick and Shovel Strategy

Dikutip dari investopedia.com,

A pick-and-shovel play is an investment strategy that invests in the underlying technology needed to produce a good or service instead of in the final output. 

investopedia.com

Jadi adalah salah satu strategi investasi di mana ketimbang berinvestasi dalam sebuah bisnis secara langsung, kita berinvestasi di bisnis atau perusahaan yang memproduksi produk/servis yang digunakan oleh bisnis utama untuk memproduksi barang dan jasanya.

Kita tahu bahwa produk-produk AMFG digunakan oleh perusahaan-perusahaan di sektor properti dan otomatif. Dan kita juga tahu bahwa karena pandemi, kinerja perusahaan-perusahaan di sektor ini cukup tertekan.

Khusus di segmen otomotif, penjualan di tahun 2020 turun drastis dari angka 1,030,126 unit di tahun 2019, menjadi sebesar 532,027 di tahun 2020. Kabar baiknya, sektor ini mencatat kenaikan penjualan mencapai sebesar 887,200 unit di tahun 2021. Walaupun belum pulih seperti sebelum pandemi, kenaikan penjualan menjadi sinyal yang baik bagi kebangkitan industri otomotif.

Tentunya kita berharap pandemi Covid-19 akan cepat selesai dan krisis akibat pandemi segera berakhir. Biasanya setelah krisis, bisnis-bisnis yang tertekan karena pandemi akan kembali naik termasuk bisnis properti dan otomotif. Kenaikan kinerja di dua sektor ini tentunya akan menjadi angin yang baik bagi AMFG.

Asset Play

Dengan telah beroperasinya pabrik di Cikampek secara penuh, sejak tahun 2019 AMFG menutup operasional pabrik lama yang berada di kawasan Ancol, Jakarta. Perusahaan berniat menjual tanah bekas kawasan pabrik tersebut dan telah menggandeng PT Jakpro untuk melakukan hal-hal terkait penjualan tanah tersebut.

Ada pun luas tanah dimaksud adalah seluas 397,774 meter2 dan sampai saat ini belum terjual. AMFG memiliki Hak Guna Bangunan (HGB) atas tanah tersebut.

Iseng-iseng penulis browsing harga tanah dengan sertifikat HGB secara online, penulis mendapati harga tanah di daerah Ancol bervariasi dari sebesar IDR 17 juta per meter2 sampai dengan IDR 20 juta per meter2.

Anggaplah tanah tersebut laku dijual seharga 10 juta per meter2, maka dari hasil penjualan tanah ini perusahaan akan mendapatkan cash sebesar hampir IDR 4 triliun rupiah. Di harga saat ini, dengan market cap sebesar IDR 2.3 triliun, dengan nilai tanah di Ancol saja yang senilai hampir dua kali market cap, maka beli saham AMFG saat ini seakan-akan kita membeli perusahaan ini secara cuma-cuma.

Dividen

AMFG termasuk emiten yang rajin memberikan dividen kepada pemegang sahamnya namun dengan yield yang tidak terlalu tinggi. Namun pada tahun 2020 dan 2021 perusahaan tidak membagikan dividen kemungkinan karena perusahaan membukukan kerugian di samping karena pandemi.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Penulis tidak dapat melakukan perhitungan nilai intrinsik seperti yang biasa penulis lakukan di artikel sebelumnya tentang perhitungan nilai intrinsik. Hal ini karena CAGR laba bersih tidak dapat dihitung karena perusahaan rugi di tahun 2019 dan tahun 2020. Namun demikian, secara historis AMFG pernah dihargai di angka PBV 2x. Jika menggunakan angka historisnya, dengan nilai buku sebesar IDR 7,351 saat ini, maka harga saham AMFG memiliki potensi untuk dihargai sampai IDR 14,702.

PER

Saat ini PER AMFG berada di angka 5.36x. Angka ini jauh di bawah angka standar deviasi PER-nya yang berada di angka18.3x. Jika dilihat sekilas dari dua variabel ini saja, maka harga saham AMFG saat ini bisa dibilang murah.

Grafik PER AMFG 10 Tahun Terakhir.
Grafik PER AMFG 10 Tahun Terakhir.

PBV

Saat ini nilai PBV AMFG adalah sebesar 0.7x. Untuk periode 10 tahun terakhir, nilai PBV AMFG saat ini berada di bawah standar deviasinya sehingga bisa dibilang murah.

Grafik PBV AMFG 10 Tahun Terakhir.

Kesimpulan

Dari analisa di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Fundamental keuangan AMFG tergolong baik. Aset dan ekuitas menunjukkan pertumbuhan walaupun dalam jangka pendek pertumbuhannya tergolong lambat.
  2. Liabilitas terutama utang jangka panjang tercatat pada rasio yang besar pada periode setelah 2016 disebabkan oleh pemindahan pabrik perusahaan dari Ancol, Jakarta ke Cikampek.
  3. Perusahaan memiliki dua segmen usaha yaitu kaca lembaran dan kaca otomotif. Produk yang diproduksi kedua segmen ini dimanfaatkan oleh industri properti dan industri otomotif.
  4. Kinerja perusahaan cukup dipengaruhi oleh komoditas terutama Soda Ash dan Gas Alam yang merupakan beban produksi langsung.
  5. Perusahaan memiliki potensi turn-around sebab: jumlah utang jangka panjang yang tercatat rutin berkurang dari tahun ke tahun sehingga mengurangi beban keuangan; harga komoditas saat ini cukup tinggi namun perusahaan mampu menunjukkan kinerja yang baik di tahun 2021; naiknya kinerja industri properti dan otomotif berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan.
  6. Dengan dipindahkannya pabrik ke Cikampek, perusahaan berniat menjual tanah lokasi pabrik di Jakarta. Dengan hitung-hitungan kasar, harga tanah berpotensi lebih besar dari market cap perusahaan.
  7. Pemegang saham pengendali (PSP) adalah Asahi Glass dari Jepang dan PT Rodamas. Kedua perusahaan ini memiliki reputasi bisnis yang baik. Asahi Glass sendiri adalah perusahaan global yang berasal dari Jepang. Salah satu karakteristik manajemen Jepang tercermin dari konservatifnya perusahaan menjaga rasio utangnya sebelum pemindahan pabrik ke Cikampek.
  8. Perusahaan rutin membagikan dividen.
  9. Dilihat dari rasio PER dan PBV sederhana, harga saham AMFG saat ini bisa dibilang murah.

Apakah saham AMFG layak dimasukkan ke dalam portfolio? Tentu saja. Terlalu banyak hal-hal yang bagus dan menarik yang sayang untuk dilewatkan. Faktanya saat ini AMFG menyimpan harta karun terpendam (baca: tanah di Ancol) dengan potensi harga lebih besar dari market cap terlalu menarik untuk dilewatkan. Setelah krisis akibat pandemi berlalu, naiknya kinerja industri properti dan otomotif akan memberikan momentum yang baik bagi peningkatan kinerja perusahaan di masa depan.

Kira-kira begitu…

LynPF Two Minutes Drill ala Peter Lynch – #2

Menyambung tulisan serupa beberapa waktu yang lalu, di artikel ini penulis berusaha membuat analisa 2 menit ala Peter Lynch untuk beberapa emiten-emiten di bursa yang sudah pernah dibahas di blog ini. Bedanya, kali ini penulis tidak memberikan tanda bintang. Silakan pembaca memberikan kesimpulannya sendiri 🙂

ICBP

Logo ICBP
Logo ICBP

Indofood CBP (ICBP) adalah anak usaha group Indofood, salah satu perusahaan konglomerasi di Indonesia yang dikendalikan oleh group Salim. Selain memproduksi dan mendistribusikan mi instan dengan merek Indomie, ICBP juga memiliki produk-produk makanan dan minuman lainnya seperti Pop Mie, Sarimi, Supermi, Indomilk, Cap Enaak, Milkuat, Promina, dan lain-lain. Kesemua merek ini dikelola melalui enam divisi bisnis ICBP yang meliputi Mi Instan, Dairy, Makanan Ringan, Penyedap Makanan, Nutrisi & Makanan Khusus, dan Minuman.

Dari keenam divisi tersebut, divisi Mi Instan adalah penyumbang pendapatan terbesar dengan rata-rata kontribusi sebesar 64.33%, sehingga divisi mi instan memiliki posisi yang sangat strategis pada kinerja ICBP secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, pendapatan dari divisi mi instan tumbuh dengan CAGR sebesar 6.83%, turun dari CAGR jangka panjang di angka 9.11%. Namun demikian pertumbuhan laba bersih naik dengan CAGR yang cukup baik yaitu 15.36%. Adanya kesenjangan pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan laba di mana pertumbuhan laba tumbuh dengan CAGR yang lebih baik, menjadi indikator positif pada efisiensi proses bisnis perusahaan. Hal lain yang menjadi catatan adalah divisi ini mampu menghasilkan profit margin yang baik, di mana secara rata-rata profit margin berada di angka 19.56%.

Di tahun 2020, ICBP mengakuisisi Pinehill Company Limited (PLC). Manajemen berpendapat bahwa akuisisi PLC akan berdampak positif bagi kinerja ICBP dengan terbukanya akses market secara langsung ke negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Eropa yang distribusinya dikuasai oleh PLC. Banyak analis berpendapat bahwa akusisi PLC oleh ICBP terlalu mahal dan bermasalah dalam hal transparansi sebab induk PLC adalah perusahaan yang sama-sama dikuasai oleh group Salim. Terdapat kecurigaan bahwa akusisi ini semata-mata hanya akan menguntungkan pengendali saja dan merugikan investor ICBP lainnya.

Efek akusisi PLC mulai terlihat di LK ICBP. Di tahun 2020, penjualan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika meningkat drastis yaitu sebesar 121.13%, sedangkan penjualan di dalam negeri hanya naik sebesar 1.49% saja. Selain itu, DAR ICBP naik drastis dari sebesar 31.10% menjadi sebesar 51.42%. Sedangkan DER meningkat dari sebesar 45.14% menjadi sebesar 105.87%.

Akuisisi PLC sempat mengerek turun harga saham ICBP. Menurut hitung-hitungan penulis, saat ini ICBP sedang berada di rentang bawah harga wajarnya. Sedangkan secara PER dan PBV, sudah masuk ke area undervalue.

Caveat

Dengan semakin jenuhnya pasar Indomie di dalam negeri (terbukti penjualan di Indonesia hanya naik sebesar 1.49% saja), maka kinerja ICBP di masa depan sangat ditentukan oleh kesuksesan ICBP melakukan ekspansi ke luar negeri. Sebagai investor retail yang tidak punya akses ke pasar-pasar luar negeri tersebut (kecuali Anda sering jalan-jalan ke luar negeri), tentunya cukup sulit mengamatinya.

Selain itu, tingkat utang yang membengkak pasca akuisisi masih akan membebani fundemental ICBP beberapa tahun ke depan.

Analisa lebih lengkap bisa dibaca di artikel ini.

KBLI

Logo KBLI
Logo KBLI

PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) adalah salah satu pemain utama industri kabel di Indonesia. Perusahaan ini berdiri tahun 1972 dan telah memasarkan produk kabel bertegangan rendah dengan merek Kabelmetal Indonesia sejak tahun 1970an.

Growth KBLI bisa dibilang cukup istimewa, sebab pertumbuhan aset dan ekuitasnya dalam jangka panjang dan jangka pendek berada di angka CAGR di atas 20%. Pun, pertumbuhan pendapatan berada di angka CAGR 18.53% (jangka panjang) dan CAGR 13.55% (jangka pendek) – masih cukup tinggi.

Sebagai perusahaan penyedia material konstruksi dan infrastruktur (berupa kabel), perusahaan cenderung bersifat capital intensive. Hal ini ditandai dengan rendahnya profit margin yang berada di angka rata-rata 5.82%. Selain itu, posisi utang terhadap aset dan ekuitas berada pada rasio yang cukup besar yaitu di rata-rata Debt to Aset Ratio (DAR) dalam jangka pendek tercatat sebesar 34.87%, sedangkan rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) berada di angka 54.10%. Dari segi cashflow, tercatat bahwa selama 10 tahun ke belakang perusahaan sempat mencatatkan Operating Cashflow dan Free Cashflow negatif.

Sejak tahun 2016, perusahaan mulai mengoperasikan segmen usaha baru yaitu segmen kabel bertegangan tinggi. Segmen baru ini mampu meningkatkan pendapatan perusahaan terutama dari PLN disebabkan oleh adanya program pengadaan pembangkit listrik 35,000 MW.

PLN dan anak-anak perusahaan bisa dibilang merupakan konsumen utama perusahaan terutama untuk segmen business to business (B2B). Sedangkan konsumen business to consumer (B2C) terutama dilayani oleh segmen kabel bertegangan rendah yang berkontribusi hampir separuh dari pendapatan perusahaan.

Selain capital intensive, karakteristik lain dari perusahaan adalah sifat dari bahan baku berupa komoditas tembaga dan aluminium yang masuk ke dalam kategori siklikal. Di tahun 2020 sendiri, kinerja perusahaan cukup tertekan. Selain karena pandemi yang menyebabkan seretnya anggaran pemerintah ke PLN, juga karena tingginya harga komoditas.

Dari segi valuasi, saat ini KBLI dihargai di PBV 0.53x sehingga bisa dikatakan cukup undervalue sebab berada di area -1 standar deviasi PBV rata-ratanya. Investasi di KBLI bisa dipertimbangkan jika melihat harganya yang cenderung undervalue, namun tetap harus mempertimbangkan beberapa hal seperti, berakhirnya pandemi (sehingga anggaran pemerintah ke PLN bisa kembali “normal”), turunnya harga komoditas tembaga dan aluminium, serta visi pemerintah yang tetap mengedepankan pembangunan infrastruktur terutama sektor kelistrikan.

Caveat

Pengendali KBLI adalah Denham Pte Ltd. Perusahaan ini kerapkali dikaitkan dengan Sjamsul Nursalim, pengusaha Indonesia yang terkait dengan kasus dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kasus ini sendiri belakangan dihentikan oleh KPK dengan menerbitkan SP3.

Selain itu, NPM kecil dan cashflow negatif mungkin menjadi karakteristik yang kurang disukai.

Terakhir, analisa ini mungkin valid sampai tahun 2024 saja. Jika presiden ganti, mungkin visi pemerintahan baru tidak lagi ke infrastruktur.

Analisa yang lebih lengkap bisa dibaca di sini.

LSIP

Logo LSIP
Logo LSIP

PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) berdiri pada tahun 1906 dan merupakan salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia. Pada tahun 2007, LSIP bergabung ke dalam kelompok usaha Indofood yang dikendalikan oleh grup Salim melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) – produsen minyak goreng Bimoli.

Pendapatan LSIP hampir 90% berasal dari perkebunan kelapa sawit dan turunannya. Oleh karena itu, LSIP tergolong bisnis siklikal sebab kinerjanya sangat ditentukan oleh harga komoditas kelapa sawit dunia.

Secara pertumbuhan, LSIP cenderung stagnan. Pada periode 2014 – 2019, aset tumbuh dengan CAGR hanya sebesar 3.39%, sedangkan ekuitas tumbuh dengan CAGR sebesar 3.32%. Pendapatan LSIP cenderung naik turun selayaknya perusahaan siklikal, namun cenderung di situ-situ saja. Sebagai contoh, tahun 2009 pendapatan LSIP adalah sebesar IDR 3.8 triliun; 10 tahun kemudian di tahun 2019, pendapatan LSIP bahkan sedikit turun menjadi IDR 3.7 triliun. Stagnan.

Pendapatan LSIP hampir sebagian besar berasal dari SIMP yang sekaligus merupakan induk perusahaan. Jika melihat dari segi growth perusahaan induk, trend stagnan juga terlihat. Untuk periode lima tahun (2014 – 2019), angka CAGR Pendapatan malah berada di posisi -1.82% – alias pendapatannya turun.

Secara fundamental, LSIP tergolong baik dengan tingkat liabilitas yang kecil, serta hampir tidak memiliki utang yang bersifat pendanaan dari pihak ketiga.

Selain segmen kelapa sawit, perusahaan juga memiliki perkebunan karet dan kakao. Namun keduanya juga memiliki trend pendapatan yang menurun.

Caveat

Bisnis kelapa sawit adalah bisnis yang cukup sulit dijalankan. Selain sangat ditentukan oleh faktor cuaca dan alam, sentimen negatif dari dunia internasional terhadap industri kelapa sawit Indonesia juga memberikan tekanan pada pemain di bisnis ini.

Analisa lebih panjang bisa dibaca di sini.

NISP

Logo NISP
Logo NISP

NISP adalah salah satu bank swasta tertua di Indonesia. Berdiri pada tahun 1941 dengan nama Belanda, NISP kemudian mengubah nama menjadi Nilai Inti Sari Penyimpan pada tahun 1958. Sejak tahun 1997, NISP bekerjasama dengan OCBC Bank Singapura untuk membentuk bank OCBC Indonesia. Di tahun 2004, OCBC Bank Singapura masuk menjadi pemegang saham dan akhirnya menjadi pemegang saham mayoritas di tahun 2005. OCBC Bank Singapura sendiri adalah salah satu bank terbesar dari segi nilai aset di Asia Tenggara, dan pernah dinobatkan sebagai bank teraman di dunia.

NISP adalah salah satu bank di Indonesia dengan growth yang cukup tinggi. Aset dan Ekuitas, keduanya tumbuh dengan nilai CAGR di atas 10% jangka pendek, dan di atas 15% jangka panjang (bahkan CAGR ekuitas jangka panjang berada di angka 20.93%). Dari segi pendapatan, segmen consumer banking dan treasury masih tumbuh dengan trend CAGR jangka pendek yang cukup tinggi yaitu di angka 18.72% (Consumer Banking) dan 17.34% (Treasury). Segmen Treasury sendiri adalah segmen dengan profitabilitas usaha sebesar 79.65%!

Dari segi rasio-rasio perbankan, NISP terbilang cukup baik. Beberapa rasio yang baik seperti nilai NPL yang bahkan lebih baik dari Bank BNI yang merupakan salah satu dari empat bank umum terbesar di Indonesia. Rasio-rasio lain terbilang cukup bersaing jika dibandingkan dengan bank-bank swasta lainnya, walaupun masih kalah dari empat besar bank umum lainnya.

Rasio yang paling buruk dan harus menjadi perhatian adalah CASA yang cukup rendah. NISP harus bekerja keras meyakinkan nasabah agar mau menyimpan dananya di bank ini.

Efisiensi menjadi salah satu ciri khas NISP. Di saat bank-bank umum lainnya berlomba-lomba menambah jumlah cabang fisik, NISP konsisten menguranginya. Hal ini juga berlaku dari segi jumlah karyawan dan jaringan ATM yang cenderung konsisten berkurang alih-alih bertambah.

Harga saham NISP konsisten dihargai murah oleh pasar karena konsisten tidak memberikan dividen (walaupun di tahun 2018 sempat membagikan saham bonus). Manajemen beralasan bahwa hal ini dilakukan untuk meningkatkan permodalan bank sehingga bisa tumbuh dan naik kelas secara anorganik.

Saat ini harga NISP termasuk undervalue baik dari segi nilai wajar, PER, dan PBV.

Caveat

Untuk tipe investor yang suka menanti-nantikan dividen masuk ke rekening RDN di musim bagi-bagi dividen, mungkin emiten ini bukan merupakan emiten yang cocok untuk Anda.

Analisa yang lebih lengkap tentang NISP ada di sini.

RALS

Logo RALS
Logo RALS

Membuka gerai pertamanya di Jalan Sabang Jakarta pada tahun 1978, RALS tumbuh menjadi salah satu perusahaan retail fashion dan swalayan terbesar dengan memiliki lebih dari 100 gerai di seluruh Indonesia pada tahun 2020. Namun demikian, pertumbuhan RALS dari banyak segi cenderung stagnan bahkan menurun, walaupun labanya meningkat karena efisiensi.

Dari segi pertumbuhan pendapatan, RALS hanya mencatatkan CAGR sebesar 2.65% jangka panjang. Jangka pendek, bahkan mencatatkan nilai CAGR -0.92%, alias pendapatannya cenderung turun. Walaupun pertumbuhan pendapatan cenderung menurun, namun bukan berarti RALS tidak jago dalam urusan mencetak laba. Pertumbuhan Laba Bersih bahkan mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik di mana dalam jangka pendek mencatatkan CAGR sebesar 12.79%. Artinya walaupun pendapatan stagnan, namun RALS mampu meningkatkan profit dengan meningkatkan efisiensi.

Masih dengan pendapatan yang cenderung stagnan (bahkan menurun), dari dua segmen usaha yaitu fashion dan supermarket, segmen terakhir mencatatkan kinerja yang buruk. Dalam jangka pendek, pertumbuhan pendapatan bahkan mencatatkan CAGR negatif yaitu di angka 9.52%. Dari segi kontribusi terhadap total pendapatan, segmen ini secara rata-rata menyumbang sebesar 33% (cukup signifikan). Segmen fashion menunjukkan kinerja lebih baik walaupun cenderung stagnan, dengan CAGR pendapatan jangka pendek di angka 3.37% saja.

RALS termasuk rajin membagikan dividen bahkan dengan yield yang cukup baik (terakhir yield yang diberikan berada di angka sekitar 6%).

Selain itu, RALS rajin melakukan buyback sahamnya sendiri. Di satu sisi, buyback adalah sinyal positif yang menunjukkan keyakinan manajemen akan masa depan perusahaan. Namun di sisi lain, juga bisa menjadi sinyal akan semakin susahnya langkah ekspansi di masa depan, mengingat pertumbuhan bisnis RALS yang cenderung stagnan.

Dari segi valuasi, RALS berada di rentang harga wajarnya, dan secara PBV telah cukup undervalue.

Caveat

RALS saat ini sedang berada di tahapan bisnis sebagai slow growers, di mana pendapatan cenderung stagnan bahkan berkurang. Segmen bisnis swalayan dengan kinerja yang kurang baik harus mendapatkan perhatian serius dari manajemen.

Analisa lebih lengkap ada di artikel ini.

TOTL

Logo TOTL
Logo TOTL

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) adalah salah satu perusahaan konstruksi swasta nasional yang cukup diperhitungkan di industri bangun membangun gedung bertingkat di tanah air.

Perusahaan ini mungkin fokus berbisnis di pembangunan premium-high-rise building alias gedung bertingkat bertipe premium. Pelanggan-pelanggan TOTL umumnya adalah grup-grup konglomerat di Indonesia. Setidaknya nama-nama grup besar seperti Trans Corp, Indofood, Astra, Lippo, dan lain-lain, pernah muncul di laporan-laporan keuangan TOTL sebagai pelanggan.

Secara fundamental, TOTL termasuk baik. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir, rasio DAR berada di angka rata-rata sebesar 66.11 %; sedangkan DER berada di rata-rata sebesar 196.62%. Angka-angka DER dan DAR ini jika sekilas memang terlihat tinggi, namun hampir sama dengan rata-rata perusahaan konstruksi lainnya yang bergerak di jasa konstruksi high-rise buildings. Catatan positif lainnya, kebanyakan utang yang tercatat adalah utang-utang yang bersifat operasional, bukan merupakan utang dari aktivitas pendanaan oleh pihak ketiga.

Dari segi growth, selama periode 2009 – 2019 aset tumbuh dengan CAGR sebesar 8.67%. Ekuitas pada periode yang sama juga bertumbuh dengan nilai CAGR sebesar 8.15%. Bisa dibilang TOTL adalah perusahaan dengan tipe slow-growth.

Pertumbuhan dengan akselerasi yang lambat agaknya berkaitan dengan prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh manajemen. Di dalam berbisnis, TOTL menempatkan kualitas (quality), keselamatan (safety), dan kehati-hatian (prudent) sebagai prinsip-prinsip utamanya. TOTL tidak hanya mengejar growth semata, namun memastikan bahwa proyek-proyek yang dikerjakan dapat diselesaikan dengan kualitas yang baik, dengan juga memastikan bahwa pelanggan mampu melakukan pembiayaan dengan baik sehingga proyek yang dikerjakan tidak terhenti di tengah jalan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis usaha jasa konstruksi, terutama untuk pelanggan-pelanggan swasta, kinerja bisnis TOTL cenderung bersifat siklikal. Di situasi pandemi saat ini, tentunya mempengaruhi permintaan di mana banyak pengusaha yang memilih situasi membaik sebelum melakukan ekspansi termasuk membuat gedung baru.

Dari segi valuasi saat ini TOTL berada di bawah rata-rata nilai PBV dan PER nya, namun masih belum terlalu undervalue.

Caveat

Karakteristik pertumbuhan TOTL yang cenderung anorganik mungkin tidak cocok untuk tipe investor yang menyukai gaya manajemen agresif (akusisi, akusisi, dan akusisi).

Analisa lebih lengkap ada di sini.

TOWR

Logo TOWR
Logo TOWR

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya Protelindo saat ini menguasai menara telekomunikasi dengan jumlah lebih dari 28,000 unit, yang menjadikannya salah satu perusahaan penyewaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Sejak didirikan tahun 2008, TOWR tumbuh sangat pesat. Dari tahun 2009 sampai dengan 2019, aset TOWR tumbuh dengan CAGR sebesar 14.94%. Dalam periode yang sama, ekuitas tumbuh lebih agresif dengan nilai CAGR sebesar 22.89%. Total pendapatan tumbuh dengan CAGR sebesar 19.55%, serta laba bersih tumbuh dengan CAGR sebesar 14.8%.

Dari segi profitabilitas, TOWR tercatat memiliki margin usaha yang tinggi. Secara rata-rata, dari tahun 2014 – 2019, TOWR mencatatkan nilai Net Profit Margin (NPM) sebesar 31.15%.

Pertumbuhan TOWR cenderung dilakukan dengan strategi anorganik yaitu melalui pembelian aset langsung dari perusahaan lain, atau melalui akuisisi. Tercatat TOWR pernah melakukan pembelian menara-menara telekomunikasi dari perusahaan-perusahaan operator seperti XL dan Indosat, serta mengakuisisi perusahaan-perusahaan seperti PT iForte Solusi Infotek (iForte), dan PT Komet Infra Nusantara (KIN). Paling anyar, TOWR mengakuisisi PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), di mana dari akusisi tersebut TOWR menguasai aset berupa 6,422 menara SUPR.

TOWR rajin membagikan dividen. Selain itu perusahaan juga beberapa kali telah melakukan buyback saham. Buyback saham adalah sinyal posifit. Namun tetap menyisakan tanda tanya, sebab saat ini nilai utang TOWR cukup besar di mana rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) TOWR dari tahun 2014 – 2019 rata-rata berada di angka 175.68%.

Dari segi valuasi, saat ini TOWR sedang berada di area undervalue, namun dengan perhitungan data-data historis yang cukup tinggi (CAGR EPS 14.8%, PER 49.38x, PBV 6.74x). Dari segi nilai PER dan PBV, harga saham TOWR sedang berada di rentang harga wajarnya.

Mengingat growth yang masih cukup tinggi, dan potensi bisnis telekomunikasi di masa depan, investasi di saham TOWR bisa dipertimbangkan untuk investor yang menyukai fast grower company.

Satu hal lagi, perusahaan ini dikendalikan oleh group Djarum. Jadi untuk urusan modal dan GCG, tidak diragukan lagi.

Caveat

Sebagai perusahaan penyedia infrastruktur, TOWR tergolong capital intensive. Selain itu, strategi pertumbuhan anorganik dengan pembiayaan eksternal membuat rasio utang TOWR cenderung tinggi (DER di atas 1x).

Analisa lebih lengkap ada di sini.

UNVR

Logo UNVR
Logo UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) adalah salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terbesar dan tertua di Indonesia. Perusahaan ini membawahi berbagai macam merek produk-produk consumer goods yang cukup melegenda di Indonesia seperti Pepsodent, Lifebuoy, Sunsilk, dan lain-lain.

Dilihat dari fundementalnya, beberapa tahun belakangan ini kinerja UNVR bisa dibilang stagnan, jika tidak bisa dibilang menurun. Pertumbuhan aset, ekuitas, pendapatan, dan laba bersih, kompak menunjukkan trend angka CAGR 5 tahun terakhir yang lebih rendah dari angka CAGR 10 tahunnya. Hal ini menandakan bahwa akhir-akhir ini, laju pertumbuhan UNVR cenderung melambat.

Dari segi utang, rasio-rasio DAR dan DER terlihat cukup besar. Dari periode 2014-2019, DAR secara rata-rata berada di angka 69.89%, sedangkan DER rata-rata di angka 239.18%. Jika ditelaah lebih lanjut, setidaknya hampir 85% liabilitas UNVR adalah liabilitas bersifat jangka pendek. Selain itu, hanya sekitar 22% saja yang berasal dari bank. Itupun tanpa jaminan. Jadi dari segi utang, UNVR tidak ada masalah.

UNVR termasuk emiten yang rajin membagikan dividen, bahkan dengan payout ratio yang sangat besar (mencapai 100% lebih). Hal ini semakin mengukuhkan ciri UNVR sebagai perusahaan yang telah mature, di mana keuntungan yang dihasilkan lebih baik ditransfer ke pemegang saham, sebab potensi untuk melakukan ekspansi sudah terbatas.

Caveat

Sejak 2019, harga saham UNVR terus menunjukkan trend penurunan. Agaknya kinerja UNVR yang melambat beberapa tahun terakhir menyebabkan market menghukum saham UNVR. Dari segi PER dan PBV, harga saham UNVR saat ini telah berada di area undervalue secara historis. Namun hal ini lebih disebabkan oleh tingginya nilai PER dan PBV UNVR di masa lalu. Dengan CAGR laba bersih sedikit di atas 5%, PER 25x pun mungkin masih terlalu tinggi.

Mengingat sifatnya yang slow growth, pertimbangan untuk melakukan investasi di saham UNVR barangkali dari potensi dividennya.

Analisa lebih panjangnya ada di sini.

Analisa Fundamental PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI)

Perusahaan ini berdiri pada tahun 1972 dengan nama PT Kabelmetal Indonesia, dan awalnya didirikan oleh Kabel-und Metalwerke Guetehoffnungshuette AG sebuah perusahaan dari Jerman. Pada tahun 1992, melantai di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya dengan kode saham KBLI. Sejak tahun 2008, perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi PT KMI Wire and Cable Tbk.

KBLI adalah salah satu pemain lama (dan utama?) dalam industri kabel di Indonesia. Perusahaan menjual produk kabel dengan merek “Kabelmetal Indonesia” untuk pasar domestik, dan merek “KMI Wire and Cable” untuk produk yang dipasarkan di luar negeri.

Logo PT KMI Wire and Cable Tbk

Analisa Fundamental

Balance Sheet

Dari segi Aset dan Ekuitas, pertumbuhan KBLI bisa dibilang cukup pesat, di mana pertumbuhan kedua akun ini sama-sama bertumbuh dengan CAGR di atas 20% baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

Aset KBLI dalam jangka panjang tumbuh dengan CAGR sebesar 21.9% dari sebesar IDR 491 miliar di tahun 2009 menjadi sebesar IDR 3.5 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek, pertumbuhan tumbuh dengan CAGR yang hampir sama yaitu sebesar 21.6%, di mana di tahun 2014 nilai aset KBLI adalah sebesar IDR 1,3 triliun.

Dari segi ekuitas, KBLI mampu menumbuhkan ekuitas dari sebesar IDR 230 miliar di tahun 2009 sehingga menjadi sebesar hampir IDR 2.4 triliun di tahun 2019 (CAGR jangka panjang sebesar 26.33%). Dalam jangka pendek, CAGR ekuitas adalah sebesar 20.41% (dari IDR 941 miliar di tahun 2014).

Sekilas CAGR jangka pendek dan jangka panjang untuk kedua akun ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang sangat luar biasa. Namun yang harus dicatat adalah di tahun 2017 KBLI melakukan akuisisi terhadap PT Langgeng Bajapratama. Dari akusisi ini, KBLI mencatatkan nilai tambahan aset bersih senilai hampir IDR 447 miliar. Jadi, seandainya akusisi tidak terjadi tahun 2017, maka CAGR pertumbuhan aset dan ekuitas KBLI akan menjadi lebih rendah.

Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas KBLI
Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas KBLI

Dari segi utang, KBLI memiliki rata-rata Debt to Aset Ratio (DAR) dalam jangka pendek tercatat sebesar 34.87%. Pada periode yang sama, rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) berada di angka 54.10%. Dilihat secara sekilas, nilai DAR dan DER KBLI memang terlihat besar. Namun mengingat KBLI merupakan perusahaan manufaktur barang industri yang merupakan tipe usaha capital intensive, nilai DAR dan DER tersebut masih bisa dipahami.

Lebih lanjut, dari Total Liabilitas yang dicatatkan oleh KBLI, secara rata-rata jangka pendek, hanya sebesar 29.36% merupakan utang jangka panjang, dan sisanya adalah utang jangka pendek.

Income Statement

Sebagai sebuah perusahaan yang bahan bakunya utamanya berupa tembaga dan aluminium, bisa dibilang KBLI adalah perusahaan yang bertipe siklikal. Harga komoditas tembaga dan aluminium, sebagaimana harga barang-barang komoditas lainnya, sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran di pasar.

Layaknya perusahaan siklikal, profit margin KBLI sangat ditentukan oleh naik turunnya harga kedua komoditas yang menjadi bahan baku utamanya tersebut.

Dari segi Pendapatan, kinerja KBLI sangat baik dan konsisten. CAGR pendapatan jangka panjang tercatat berada di angka 18.53%, sedangkan dalam jangka pendek berada di angka 13.55%. Perusahaan dengan growth di atas 10% tentunya masih memiliki potensi growth yang baik di masa depan.

Dengan melakukan analisa lebih lanjut pada naik turunnya Laba Bersih dan profit margin, barulah terlihat jelas pengaruh siklikal dari harga bahan baku yang digunakan.

Dengan membandingkan grafik harga tembaga di dunia, terlihat bahwa naik turunnya laba bersih dan profit margin KBLI cukup konsisten mengikuti trend harga komoditas tembaga. Laba Bersih KBLI mencatat penurunan di tahun 2013 dan 2018, di mana pada tahun-tahun tersebut, harga tembaga cukup tinggi. Sedangkan di tahun 2016, ketika trend harga tembaga berada di harga yang rendah, KBLI mampu mencatatkan kenaikan Laba Bersih yang cukup signifikan.

Naik Turun Laba Bersih KBLI 2010 - 2020
Naik Turun Laba Bersih KBLI 2010 – 2020
Harga Tembaga 2008 - 2020. Sumber: tradingeconomics.com
Harga Tembaga 2008 – 2020. Sumber: tradingeconomics.com

Dari segi profit margin, walaupun konsisten mencatatkan keuntungan, namun secara relatif KBLI akan mencatatkan profit margin yang lebih rendah ketika harga komoditas tembaga sedang berada di angka yang tinggi.

Profit Margin KBLI 2009 - 2020
Profit Margin KBLI 2009 – 2020

Lebih lanjut tentang profit margin, karakteristik KBLI sebagai perusahaan capital intensive terutama untuk operasional, tercermin pada tipisnya profit margin. Secara rata-rata jangka panjang, Gross Profit Margin (GPM) berada di angka 12.54%, Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 7.96%, dan Net Profit Margin (NPM) berada di angka 5.82%.

Cashflow

Dari segi cashflow, dalam 10 tahun terakhir, perusahaan tercatat memiliki Operating Cashflow negatif di tahun 2013, 2017, dan 2019. Free Cashflow negatif bahkan tercatat lebih banyak yaitu di tahun 2012, 2013, 2015, 2017, dan 2019.

Jika dicari perbandingannya dari tahun 2008 – 2020, rata-rata Operating Cashflow dari Kas Dari Pelanggan adalah sebesar 4.78%, sedangkan rata-rata Free Cashflow adalah sebesar 3.32%.

Sisi baiknya, besaran uang kas yang digunakan untuk beban bunga dan keuangan cukup kecil, yaitu rata-rata sebesar 0.56% saja.

Analisa Cashflow KBLI 2008 - 2020
Analisa Cashflow KBLI 2008 – 2020

Analisa Kualitatif

Segmen Usaha

Berdasarkan jenis produk yang diproduksi dan dijual, KBLI membagi segmen usahanya ke dalam empat segmen yaitu Kabel Listrik Tegangan Rendah, Kabel Listrik Tegangan Menengah, Kabel Listrik Tegangan Tinggi, dan Kabel Listrik Lain-lain.

Kabel listrik tegangan rendah adalah kabel dengan tegangan kerja sampai dengan 1 kV. Kabel jenis ini banyak digunakan pada jaringan pemasok listrik tegangan rendah serta instalasi listrik di industri dan gedung – gedung.

Kabel listrik tegangan menengah adalah kabel dengan tegangan kerja diatas 1 kV sampai dengan 36 kV. Kabel jenis ini banyak digunakan pada jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah bawah tanah dan bawah laut yang menghubungkan gardu listrik dengan konsumen industri atau komplek perumahan.

Kabel listrik tegangan tinggi adalah kabel dengan tegangan kerja di atas 36kv sampai dengan 150kv. Kabel tegangan tinggi ini digunakan untuk jaringan transmisi bawah tanah yang menghubungkan antara gardu induk. Segmen ini adalah segmen paling baru yang mulai beroperasi sekitar tahun 2015. Perusahaan sendiri baru memisahkan segmen ini pada laporan keuangan tahun 2016.

Selain ketiga jenis kabel di atas, perusahaan juga memproduksi kabel-kabel jenis lain, seperti kabel instrumen, kabek fleksibel, kabel tahan api, dan sebagainya.

Kinerja Segmen

Dari segi growth, pendapatan dari segmen Tegangan Rendah cenderung menurun, di mana CAGR Pendapatan di segmen ini dalam jangka pendek tercatat sebesar -4.59%. Segmen Tegangan Menengah mencatatkan CAGR Pendapatan jangka pendek yang sangat baik yaitu sebesar 22.94%. Sedangkan segmen teranyar yaitu segmen Tegangan Tinggi, tumbuh dengan growth yang fantastis yaitu sebsar 206.04% dari tahun 2016 sampai 2019 (exclude 2020).

Dugaan penulis, segmen Tegangan Rendah adalah segmen yang paling dekat dengan bisnis B2C alias business to consumer. Mengingat KBLI adalah pemain lama di industri kabel, sangat wajar growth di segmen ini melambat.

Sebaliknya, segmen tegangan menengah dan tegangan tinggi cenderung bersifat B2B (business to business), di mana pelanggannya adalah pelanggan-pelanggan korporasi. Pelanggan utama di kedua segmen ini tentunya adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan anak-anak usahanya (tidak tertutup kemungkinan juga perusahaan-perusahaan lain seperti properti, pertambangan, industri manufaktur, dan lain-lain). Khusus untuk segmen tegangan tinggi, karena kegunaannya untuk transmisi listrik dari satu gardu ke gardu yang lain, pelanggan segmen ini bisa dibilang dimonopoli oleh PLN.

Dari segi kontribusinya terhadap total pendapatan, sebelum 2015 (di mana segmen tegangan tinggi belum beroperasi), segmen tegangan rendah adalah segmen dengan kontribusi pendapatan tertinggi dibandingkan dengan segmen-segmen lainnya. Secara rata-rata dari tahun 2010, segmen ini berkontribusi terhadap 80.43% dari total pendapatan. Bisa dipahami bahwa konsumen kabel terbanyak tentunya adalah masyarakat umum ketimbang korporasi.

Ketika segmen tegangan tinggi mulai beroperasi, segmen ini kemudian menjadi segmen dengan kontribusi pendapatan terbanyak kedua setelah segmen tegangan rendah. Bahkan di tahun 2019, segmen ini adalah segmen dengan kontribusi tertinggi dengan persentase sebesar 43.93% terhadap pendapatan. Secara rata-rata, dari tahun 2015, segmen ini berkontribusi sebesar 20.09% dari total pendapatan.

Kinerja Segmen KBLI Sebelum vs Sesudah Segmen Tegangan Tinggi Beroperasi
Kinerja Segmen KBLI Sebelum vs Sesudah Segmen Tegangan Tinggi Beroperasi

Pelanggan

Setelah KBLI memasuki segmen tegangan tinggi, otomatis kontribusi bisnis B2B bertambah signifikan sebab setidaknya ada dua segmen yang menyediakan produk B2B yaitu tegangan tinggi dan menengah. PLN sebagai perusahaan (hampir) monopoli di sektor kelistrikan tentunya memiliki peran besar sebagai pengguna utama produk perusahaan di kedua segmen ini.

Sebagai perbandingan, sebelum segmen tegangan tinggi beroperasi, penjualan ke PLN secara rata-rata berkontribusi sebesar 20.49% terhadap pendapatan dari tahun 2010 – 2015. Setelah itu, dari tahun 2016 – 2020, penjualan ke PLN secara rata-rata berkontribusi sebesar 43.33%. Bahkan di tahun 2018, penjualan ke PLN berkontribusi sebesar 57.42%.

Sampai di sini, bisa disimpulkan bahwa saat ini, posisi PLN sebagai konsumen utama produk-produk KBLI sangatlah strategis.

Pendapatan KBLI dari PLN
Pendapatan KBLI dari PLN

Di tahun 2020 sendiri, penjualan ke PLN turun dan berkontribusi hanya sebesar 29.38%. Agaknya hal ini diakibatkan oleh dialihkannya anggaran pemerintah dari sebelumnya untuk pembangunan infrastruktur kemudian digunakan untuk penanganan pandemi.

Industri kabel sendiri mengalami pelemahan mendalam pada tahun 2020. Asosiasi Pabrik Kabel (Apkabel) memproyeksikan industri kabel di tahun 2020 terkontraksi 50 persen akibat melambatnya permintaan kabel domestik sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar turut berkontribusi pada menurunnya volume produksi. Di tahun 2020, serapan kabel oleh PLN hanya berada di bawah level 10 persen, menurun jauh dari serapan di kondisi normal yang biasanya mencapai 70-80 persen.

KBLI, AR 2020

Selain PLN, terdapat beberapa perusahaan yang tercatat sebagai pelanggan-pelanggan KBLI dengan kontribusi di atas 10% seperti: PT Hartaperindo Sejahtera, PT Anugrah Megateratai, dan PT Sentratek Metalindo.

Manajemen

Menurut AR 2020, pemegang saham mayoritas KBLI adalah Denham Pte Ltd Singapore. Perusahaan ini kerapkali dikaitkan dengan Sjamsul Nursalim, salah satu orang konglomerat terkaya di Indonesia. Selain KBLI, Sjamsul Nursalim santer dikabarkan juga merupakan pemegang saham pengedali dari emiten-emiten lain seperti Gajah Tunggal (GJTL), Mitra Adiperkasa (MAPI), Polychem (ADMG), Bank Ganesha (BGTG), dan lain-lain. Gurita bisnis Sjamsul Nursalim kabarnya tidak hanya di Indonesia bahkan sampai ke negara-negara lain seperti Singapura dan Australia.

Sjamsul Nursalim sendiri sempat terseret kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang kemudian kasusnya dihentikan oleh KPK dengan menerbitkan SP3.

Di KLBI sendiri, tercatat nama Herman Nursalim sebagai Presiden Komisaris. Tidak jelas apakah Herman Nursalim dan Sjamsul Nursalim memiliki hubungan kekerabatan, atau terafiliasi dengan Denham Pte Ltd. Setidaknya dalam AR 2020, KLBI menyebutkan bahwa Herman Nursalim tidak terafiliasi dengan PSP.

Hingga Desember 2020, Herman Nursalim tidak memiliki rangkap jabatan di Perusahaan lain. Beliau tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris lainnya, anggota Direksi, maupun dengan Pemegang Saham Utama dan Pengendali, serta tidak memiliki saham di PT KMI Wire and Cable Tbk.

KLBI, AR 2020

Dividen

Dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2019, KBLI rajin membagikan dividen, namun Dividend Yield yang diberikan bisa dibilang kecil (sekitar 2% kurang lebih). Untuk keuntungan tahun 2019 sendiri, perusahaan menggunakannya sebagai dana cadangan dan laba ditahan (alias tidak bagi dividen). Sedangkan di tahun 2020, perusahaan mencatatkan kerugian.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Asumsi berikut digunakan untuk perhitungan nilai wajar:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 15%
  • BVPS = IDR 556.62 (Tahun 2020, sumber: stockbit)
  • EPS = IDR 50 (asumsi 50% dari EPS tahun 2019, karena tahun 2020 EPS negatif)
  • DPR = 10%
  • PER = 8.62
  • PBV = 0.92

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik berada di rentang harga IDR 300 – IDR 709 (sudah dengan memperhitungkan Margin of Safety sebesar 25%). Jika dilihat sekilas dengan asumsi perhitungan di atas, KBLI saat ini sudah undervalue. Cara menghitungnya, bisa dibaca di sini.

Yang harus menjadi catatan adalah:

  1. Perhitungan di atas berdasarkan asumsi pertumbuhan perusahaan yang stabil. Faktanya, KBLI berada pada industri siklikal.
  2. CAGR 15% itu cukup tinggi dan berdasarkan data historis (backward looking).

PER

Saat ini, PER KBLI berada di angka 21.70x alias sangat mahal. Hal ini karena kinerja perusahaan yang terpukul oleh pandemi Covid-19 di tahun 2020 yang menyebabkan perusahaan merugi. Kalau dilihat dari PER saat ini, tentunya harga saham KBLI termasuk mahal.

PER KBLI 10 Tahun. Sumber: stockbit.
PER KBLI 10 Tahun. Sumber: stockbit.

PBV

Saat artikel ini dibuat, PBV KBLI berada di angka 0.53x. Angka ini berada di bawah -1 Standar Deviasi baik 5 tahun terakhir maupun 10 tahun terakhir. Jadi secara PBV, harga saham KBLI bisa dibilang murah.

PBV KBLI 10 Tahun. Sumber: stockbit.

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari hasil analisa di atas:

  1. KBLI termasuk ke dalam kategori perusahaan dengan growth yang tinggi (CAGR 15%). Bahkan dari segi pertumbuhan pendapatan, perusahaan masih mencatat growth di atas 10%.
  2. Walaupun memiliki growth yang tinggi, sayangnya profit margin perusahaan ini termasuk tipis. NPM rata-rata “hanya” berada di angka 5.82%. Perusahaan ini juga tergolong perusahaan siklikal, yang tercermin dari semakin rendahnya profit margin ketika harga komoditas aluminium dan tembaga sedang tinggi.
  3. Perusahaan ini termasuk capital intensive, tercermin dari rendahnya profit margin dan free cashflow.
  4. Dengan diproduksinya kabel tegangan tinggi oleh perusahaan, kontribusi penjualan B2B menjadi semakin signifikan di mana pelanggan utamanya adalah PLN (dan anak-anak usahanya).
  5. Perusahaan sering dikaitkan dengan Sjamsul Nursalim melalui Denham Pte Ltd. Sjamsul Nursalim sendiri pernah dikaitkan dengan kasus BLBI, namun akhirnya kasusnya dihentikan oleh KPK.
  6. Perusahaan cukup rajin membagikan dividen, namun dengan nilai dividend yield yang kecil.
  7. Saat ini, harga saham termasuk undervalue, setidaknya dari segi PBV.

Secara umum, fundamental perusahaan ini baik. Growth perusahaan yang masih kencang bisa menjadi daya tarik bagi Anda yang menyukai perusahaan dengan growth yang tinggi. Namun demikian, semakin tingginya kontribusi penjualan ke PLN terhadap pendapatan perusahaan menjadi catatan tersendiri sebab hal ini berarti perusahaan akan sangat tergantung dari arah pembangunan infrastruktur kelistrikan yang dilakukan pemerintah. Menurut analisa awam penulis, selama Presiden Jokowi masih berkuasa, sepertinya pertumbuhan perusahaan akan aman-aman saja. Nah, kalau presidennya ganti dan tidak lagi menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai visi utamanya, potensi pertumbuhan perusahaan mungkin harus dievaluasi kembali.

Selain growth yang tinggi, profit margin yang biasa saja dan karakteristik perusahaan yang cenderung capital intensive, mungkin menjadi hal kurang disukai. Namun demikian, kekurangan-kekurangan ini mungkin bisa dikompensasi dengan harga sahamnya yang cenderung sudah berada di area undervalue.

Satu hal lagi, saat ini harga komoditas tembaga dan alumunium lagi tinggi-tingginya dan cukup menekan kinerja perusahaan (dan agaknya juga harga sahamnya). Hal ini mungkin bisa menjadi pertimbangan lain untuk para investor yang ingin masuk ke KBLI.

Kira-kira begitu.

Analisa Saham HM Sampoerna (HMSP) – Update 2021

Sebelumnya penulis pernah membahas HMSP di artikel ini. Di artikel tersebut, penulis lebih banyak membahas apakah benar bisnis HMSP adalah sunset industry atau tidak.

Bahasan kali ini, penulis menganalisa secara singkat bagaimana dampak kenaikan tarif cukai selama 2020 dan 2021 terhadap fundamental HMSP. Selain itu, penulis sedikit membahas tentang kinerja Risk Reduced Products (RRP) – dengan merk IQOS dan HEETS – yang dikembangkan oleh Philip Morris International (PMI).

Kinerja HMSP 2020

Tahun 2020 bukan merupakan tahun yang baik untuk HMSP. Pendapatan turun dari tahun sebelumnya sebesar -12.85%, yaitu dari IDR 106 triliun menjadi sebesar hampir IDR 92.5 triliun. Laba bersih turun cukup dalam yaitu sebesar -37.47%, dari sebesar IDR 13.7 triliun tahun 2019 turun menjadi sebesar IDR 8.5 triliun di tahun 2020.

HMSP 2020 vs 2019 (Penjualan vs Laba)
HMSP 2020 vs 2019 (Penjualan vs Laba)

Di banyak forum-forum investing, para pelaku pasar (retail) cenderung menuding kenaikan kenaikan tarif cukai sebagai biang keladinya, di mana di tahun 2020 pemerintah menaikkan tarif cukai tembakau dengan angka yang cukup signifikan, yaitu dengan tarif rata-rata sebesar 23%.

Benarkah demikian?

Jika melihat data Laporan Keuangan (LK) HMSP 2020, di tahun 2019, biaya pita cukai HMSP tercatat sebesar IDR 60.2 triliun. Angka ini berkontribusi sebesar 67.64% dari total Beban HSMP yang senilai hampir IDR 89 triliun. Di tahun 2020 sendiri, biaya pita cukai HMSP tercatat berada di angka IDR 56.7 triliun, yang berkontribusi sebesar 69.16% dari Beban yang berada di angka IDR 88.9 triliun.

Dengan perhitungan sederhana, jika diasumsikan biaya yang lain sama, maka biaya pita cukai HMSP berdasarkan nilai Beban di tahun 2020 adalah sebesar IDR 55.5 triliun, alias terjadi kenaikan sebesar IDR 1.2 triliun. Dengan kata lain, kenaikan beban pita cukai hanya sebesar 1.52% saja terhadap total beban di tahun 2020.

Bisa disimpulkan bahwa kenaikan tarif cukai tidak terlalu membebani fundamental HMSP secara langsung. Kenaikan beban untuk satu komponen sebesar 1.52% relatif kecil untuk perusahaan sebesar HMSP.

HMSP 2020 vs 2019 (Beban vs Pita Cukai)
HMSP 2020 vs 2019 (Beban vs Pita Cukai)

Namun demikian, kenaikan tarif cukai tetap memiliki akibat tidak langsung terhadap kinerja HMSP.

Mindaugas Trumpaitis – Presiden Direktur HMSP – dalam Annual Report (AR) HSMP tahun 2020, menyatakan bahwa setidaknya ada dua hal utama yang menyebabkan menurunnya pendapatan perusahaan yaitu kesenjangan harga dan turunnya daya beli masyarakat akibat pandemi.

Untuk faktor pertama, kenaikan tarif cukai memaksa semua pemain di bisnis ini menaikkan harga produknya. HMSP sendiri menilai bahwa terjadi keterlambatan dalam penerapan harga retail minimum sehingga kesenjangan harga menjadi semakin melebar. Hal ini menyebabkan terjadinya downtrading, di mana konsumen beralih ke produk rokok yang lebih murah. Faktor kedua memperburuk situasi bagi HMSP sebab pandemi menyebabkan melemahnya perekonomian masyarakat dan menurunnya daya beli secara umum.

Dari segi volume, penjualan HSMP di tahun 2020 juga mengalami penurunan yaitu dari sejumlah 98.4 miliar batang menjadi 79,4 miliar batang, yang menunjukkan penurunan sebesar -19.29%. Angka ini anjlok sangat jauh dibandingkan dari tahun sebelumnya yang turun hanya sebesar -2.89%. Turunnya volume penjualan HMSP bahkan lebih buruk dari turunnya volume penjualan industri yang turun sebesar -9.6% (Sumber: AR HMSP 2020 halaman 30).

Dari segi pangsa pasar, HMSP mencatat penurunan pangsa pasar keseluruhan dari angka 32.2% di tahun 2019, menjadi sebesar 28.8% di tahun 2020. Penurunan pangsa pasar terjadi hampir di semua segmen kecuali di pasar Sigaret Kretek Tangan (dengan merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek), di mana segmen ini justru mengalami kenaikan sebesar 1% dari sebelumnya sebesar 36.3% di tahun 2019, menjadi sebesar 37.3% di tahun 2020.

Volume dan Pangsa Pasar Per Segmen HMSP. Sumber: AR HMSP 2020.
Volume dan Pangsa Pasar Per Segmen HMSP. Sumber: AR HMSP 2020.

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa kenaikan tarif cukai walaupun tidak membawa dampak langsung yang signifikan terhadap fundamental keuangan HMSP, ternyata memberikan pengaruh tidak langsung terhadap penjualan akibat adanya downtrading.

Pandemi Covid-19, selain menyebabkan terjadinya pelemahan daya beli, juga memiliki dampak lain terhadap pemasaran. Berbagai larangan yang dikeluarkan pemerintah menyebabkan event-event promosi tidak dapat dilaksanakan, sehingga semakin mempersulit langkah perusahaan di dalam mempertahankan konsumennya.

Kinerja HMSP 2021

Sampai dengan Q3 2021, HMSP berhasil meningkatkan pendapatan yaitu dari IDR 67.8 triliun di Q3 2020 menjadi IDR 72.5 triliun di Q3 2021 (naik sebesar 6.99%). Walaupun terjadi peningkatan pendapatan, namun tidak demikian halnya dengan laba. Laba bersih di Q3 2021 ternyata turun sebesar 19.63%, dari sebesar IDR 6.9 triliun di tahun 2020 menjadi sebesar IDR 5.5 triliun di Q3 2021.

HMSP Q3 2021 vs Q3 2020 (Penjualan vs Laba)
HMSP Q3 2021 vs Q3 2020 (Penjualan vs Laba)

Dari segi komposisi beban, secara rupiah, Beban Pita Cukai mengalami kenaikan sebesar 14.28% menjadi IDR 47.4 trilliun. Sedangkan kontribusi Pita Cukai terhadap total beban juga meningkat menjadi sebesar 71.97% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 69.82%.

HMSP Q3 2021 vs Q3 2020 (Beban vs Pita Cukai)
HMSP Q3 2021 vs Q3 2020 (Beban vs Pita Cukai)

Sama seperti di tahun 2020, kenaikan tarif cukai memberikan dampak langsung terhadap kenaikan beban Pita Cukai sebanyak 2.15% saja.

Penetrasi Risk Reduced Products a.k.a IQOS dan HEETS

Reduced Risk Products (RRP) adalah masa depan Philip Morris International (PMI) dan anak-anak usahanya, termasuk HMSP. Bagi PMI, keberhasilan perusahaan untuk mengubah kebiasaan konsumennya untuk mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi produk RRP merupakan kunci eksistensi perusahaan di masa depan, di tengah gencarnya larangan bagi produk-produk rokok di seluruh dunia.

Anyway, RRP adalah produk tembakau yang dipanaskan yang dijual oleh PMI dengan merek IQOS dan HEETS. Penulis banyak membahas hal ini di tulisan sebelumnya mengenai Analisa Fundamental Saham HSMP.

Kinerja Tahun 2020

Kinerja RRP PMI di tahun 2020 cukup menggembirakan, terlepas dari adanya pandemi Covid-19. Di tahun 2020, pendapatan PMI dari RRP meningkat sebesar 22.19%, dari sebelumnya sebesar USD 5,587 juta di tahun 2019 menjadi sebesar USD 6,827 juta di tahun 2020. Angka ini sekaligus meningkatkan kontribusi segmen RRP terhadap total pendapatan PMI, dari sebelumnya hanya berkontribusi sebesar 18.7% di tahun 2019, meningkat menjadi sebesar 23.8% di tahun 2020.

Kontribusi Pendapatan RRP Terhadap Total Pendapatan PMI. Sumber: Annual Report PMI 2020.
Kontribusi Pendapatan RRP Terhadap Total Pendapatan PMI. Sumber: Annual Report PMI 2020.

Peningkatan pendapatan terjadi secara merata di hampir semua region di seluruh dunia, kecuali Middle East & Africa. Di tahun 2020, wilayah South & Southeast Asia mulai mencatatkan pendapatan dari produk RRP.

Pendapatan PMI Berdasarkan Segmen. Sumber: AR PMI 2020.
Pendapatan PMI Berdasarkan Segmen. Sumber: AR PMI 2020.

Trend peningkatan juga ditunjukkan oleh volume unit yang dijual. Di tahun 2020, PMI berhasil menjual unit Heated Tobacco sebanyak 76,111 juta unit, meningkat sebesar 27.59% dari tahun 2019 sebanyak 59,652 juta unit.

Penjualan Berdasarkan Unit PMI 2020. Sumber: AR PMI 2020.
Penjualan Berdasarkan Unit PMI 2020. Sumber: AR PMI 2020.

Kinerja Tahun 2021

Kinerja RRP PMI di tahun 2021 bisa dibilang sama baiknya dengan tahun 2020. Sampai dengan Q3 2021, PMI berhasil mengungguli raihan kinerja di tahun 2020 untuk kuarter yang sama. Sampai dengan Q3 2021, PMI berhasil menjual produk Heated Tobacco sebanyak 69.6 miliar unit, yang merupakan peningkatan sebesar 27.9% dari tahun 2020.

Total Penjualan Berdasarkan Volume / Unit PMI. Sumber: 2021 Third-Quarter Results PMI.
Total Penjualan Berdasarkan Volume / Unit PMI. Sumber: 2021 Third-Quarter Results PMI.

Kontribusi produk Heated Tobacco juga konsisten menunjukkan peningkatan terhadap total unit produk tembakau (termasuk rokok) yang dijual PMI. Di Q3 2021, produk Heated Tobacco berkontribusi sebesar 13% dari total unit tembakau yang dijual PMI.

Kontribusi RRP Terhadap Unit Tembakau PMI. Sumber: 2021 Third-Quarter Results PMI.
Kontribusi RRP Terhadap Unit Tembakau PMI. Sumber: 2021 Third-Quarter Results PMI.

Secara umum, kinerja RRP PMI masih sangat on-track. Masih banyak lagi beberapa fakta yang menarik dan sangat encouraging untuk dibaca di slide presentasi Q3 PMI 2021 mengenai kesuksesan PMI (sampai saat ini) dengan RRP.

Penetrasi RRP di Indonesia

Di Indonesia sendiri, penetrasi RRP belum terlalu terasa. Dari bulan maret 2019, HMSP mulai memperkenalkan produk IQOS melalui uji pasar terbatas dan sampai dengan tahun 2020 telah melibatkan sekitar 12,000 konsumen.

Di Indonesia, IQOS diperkenalkan melalui uji pasar terbatas sejak Maret 2019 untuk mempelajari potensi pasar dan perilaku perokok dewasa terhadap IQOS di Indonesia. Perokok dewasa dapat mengakses produk IQOS maupun batang tembakau HEETS melalui situs resmi http://www.iqos. com atau langsung berkunjung ke sepuluh IQOS booth dan enam IQOS Kiosk yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan Bali (per Januari 2021).

Perseroan menyadari proses transisi dari rokok ke produk bebas asap seperti IQOS tidak akan mudah, sehingga membutuhkan proses sosialisasi produk secara efektif dan efisien. Hingga 2020, Perseroan telah melibatkan 12.000 konsumen dewasa melalui perkenalan secara langsung maupun 8 gerai IQOS Booth di The Breeze, Sampoerna Strategic, Pullman Central Park, Pasaraya Blok M, Pacific Place, MidPlaza, Mall of Indonesia, Kota Kasablanka, Gandaria City, yang menjadi platform kami dalam melakukan kajian pasar.

HMSP, AR 2020

Yang cukup menggembirakan, akhir November 2021, HMSP mengumumkan realisasi investasi sebesar USD 166.1 juta untuk fasilitas produksi batang tembakau untuk IQOS (alias HEETS). Menurut manajemen, fasilitas produksi yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat ini merupakan fasilitas ketujuh di dunia dan kedua di Asia, dan dijadwalkan beroperasi pada kuartal 4 tahun 2022 dengan fokus utama memasok pasar ekspor di kawasan Asia Pasifik.

Belum dijelaskan berapakah kontribusi pendapatan dari investasi ini terhadap pendapatan HMSP. Namun demikian, hal ini menegaskan posisi HMSP sebagai salah satu key player bagi transformasi bisnis yang dilakukan PMI. Melihat positifnya pertumbuhan RRP PMI secara global, investasi ini tentunya menjadi hal yang cukup menjanjikan bagi kinerja HMSP di masa depan.

Kenaikan Cukai Tembakau 2022

Pemerintah kembali menaikkan cukai tembakau yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 2022. Rata-rata kenaikan kali ini adalah sebesar 12%. Berbeda dengan kenaikan tarif cukai tahun sebelumnya, kali ini kenaikan cukai tembakau juga terjadi untuk kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan kenaikan sebesar 4.5%.

Kenaikan cukai tembakau kali ini tentunya akan semakin memukul kinerja HMSP, apalagi kenaikan cukai kali ini menyasar seluruh segmen termasuk SKT. Namun demikian, dengan semakin tingginya capaian vaksinasi, kita berharap di tahun 2022 tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19 sehingga kegiatan-kegiatan ekonomi bisa berjalan dengan normal, termasuk diadakannya event-event promosi baik olahraga maupun musik. Kegiatan-kegiatan pemasaran yang bersentuhan langsung dengan konsumen tentunya akan berpengaruh positif untuk menjaga loyalitas konsumen HMSP termasuk untuk perkenalan produk baru.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Asumsi berikut digunakan untuk perhitungan nilai wajar:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 5.78%
  • BVPS = IDR 259.99 (Tahun 2020, sumber: stockbit)
  • EPS = IDR 73.78 (Tahun 2020, sumber: stockbit)
  • DPR = 90%
  • PER = 29.25
  • PBV = 18.18

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik berada di rentang harga IDR 768 – IDR 2,670 (sudah dengan memperhitungkan Margin of Safety sebesar 25%). Jika dilihat sekilas dengan asumsi perhitungan di atas, HMSP saat ini sedang berada di rentang bawah nilai intrinsiknya. Cara menghitungnya, bisa dibaca di sini.

Yang perlu dicatat dari perhitungan nilai intrinsik di atas, bahwa asumsi growth yang digunakan adalah sebesar 5.78% yang merupakan growth di masa lalu.

PER

Ketika artikel ini ditulis, PER HMSP berada di angka 15.54x. Angka ini lebih rendah dari -1 Standar Deviasi PER HMSP baik jangka waktu 5 tahun maupun 10 tahun, sehingga bisa bilang secara PER, harga saham HMSP sedang berada di area undervalue.

PER HMSP 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
PER HMSP 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

PBV

Ketika artikel ini ditulis, PBV HMSP berada di angka 4.1x. Angka ini lebih rendah dari -1 Standar Deviasi PBV HMSP baik jangka waktu 5 tahun maupun 10 tahun, sehingga bisa bilang secara PBV, harga saham HMSP sedang berada di area undervalue.

PBV HMSP 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
PBV HMSP 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan bisa diambil dari analisa di atas:

  1. Secara langsung kenaikan tarif cukai mengakibatkan naiknya Beban Pita Cukai dari Total Beban HMSP sebesar lebih kurang 2%.
  2. Secara tidak langsung kenaikan tarif cukai mengakibatkan terjadinya downtrading, di mana kenaikan harga rokok mengakibatkan perpindahan konsumen untuk mengkonsumsi rokok dengan harga yang lebih murah.
  3. Pandemi menyebabkan turunnya daya beli masyarakat merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada turunnya pendapatan HMSP.
  4. Progress penjualan produk RRP oleh PMI yang merupakan induk usaha HMSP menunjukkan hasil yang cukup baik, bahkan di tahun pandemi.
  5. Di Indonesia sendiri, penetrasi RRP belum terlalu terasa. HMSP telah melakukan uji pasar sejak tahun 2019, dan sampai dengan tahun 2020 telah melibatkan sekitar 12,000 konsumen yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Namun demikian, realisasi investasi untuk pengembangan fasilitas produksi HEETS menjadi babak baru bagi keseriusan PMI dan HMSP bagi penetrasi produk RRP terutama di Indonesia.
  6. Secara valuasi, HMSP berada di area bawah harga wajarnya. Secara trend PBV dan PER, harga saham HMSP saat ini masuk dalam area undervalue.

Tarif cukai tentunya mempengaruhi fundamental HMSP. Tapi menurut penulis, pandemi covid-19 justru menjadi faktor yang lebih berpengaruh. Oleh karena itu, berakhirnya pandemi menjadi salah satu faktor penentu bagi HMSP untuk turn-around.

Secara jangka panjang, prospek RRP di masa depan masih cukup menjanjikan. Setidaknya data-data dari PMI menunjukkan progress yang sangat baik. Everything is still on-track, despite the pandemic.

Harga saham HMSP yang masih tertekan akibat penurunan kinerja dan sentimen negatif dari kenaikan tarif cukai, memberikan peluang bagi para investor yang tertarik mengoleksi saham ini. Tentunya jika anda yakin HMSP akan turn-around di kemudian hari.

Kira-kira begitu.

Analisa Fundamental PT Sarana Menara Nusantara, Tbk (TOWR)

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan seluruh umat manusia menyesuaikan perilaku dengan menjaga jarak sosial (social distancing) untuk menghindari penyebaran virus corona, mengakselerasi penggunaan layanan-layanan Over The Top (OTT) di seluruh dunia. Mudahnya, kita jadi lebih dipaksa untuk terbiasa menggunakan internet.

Menyediakan internet di seluruh Indonesia, bukan perkara mudah. Perlu modal besar tidak hanya untuk menyiapkan teknologinya, namun juga perangkat pendukungnya. Salah satunya adalah menara telekomunikasi.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang didirikan pada tahun 2008, telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, di mana hari ini TOWR adalah salah satu perusahaan penyewaan menara dengan jumlah aset menara terbanyak di Indonesia.

Logo TOWR. Diupload ulang dari website perusahaan.
Logo TOWR. Diupload ulang dari website perusahaan.

Analisa Fundamental

Sama seperti pada analisa sebelumnya, penulis menggunakan data dari tahun 2009 – 2019 untuk melakukan analisa terutama ketika menganalisa laju pertumbuhan (CAGR). Data tahun 2020 tidak penulis pakai karena tahun 2020 adalah tahun pandemi. Walaupun secara relatif, fundemental TOWR tidak terlalu terpukul oleh pandemi, namun sedikit banyak usaha TOWR tetap terpengaruh.

Penulis juga menggunakan istilah jangka panjang untuk menyebut periode 10 tahun terakhir (2009 – 2019) dan jangka pendek untuk periode 5 tahun terakhir (2014 – 2019). Khususnya dalam membandingkan CAGR, CAGR jangka pendek yang lebih rendah dari jangka panjang menunjukkan perlambatan pertumbuhan sehingga kita tidak terjebak dengan data historis yang terlalu jauh di masa lalu.

Balance Sheet

Dalam jangka panjang, TOWR mampu meningkatkan nilai Total Aset dengan CAGR sebesar 14.94%. Angka CAGR ini cukup tinggi, di mana TOWR mampu meningkatkan nilai asetnya dari sebesar IDR 6.8 triliun tahun 2009, menjadi sebesar IDR 27.6 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek, CAGR mengalami penurunan menjadi sebesar 9.93%. Di tahun 2020 sendiri, Total Aset TOWR sendiri berada di angka IDR 34 triliun.

Total Ekuitas tumbuh dengan CAGR yang lebih agresif daripada pertumbuhan aset. Dalam jangka panjang, TOWR berhasil menaikkan ekuitasnya dari sebesar IDR 1.1 triliun di tahun 2009, menjadi sebesar IDR 8.7 triliun di tahun 2019 (CAGR sebesar 22.89%). Dalam jangka pendek, CAGR pertumbuhan ekuitas cenderung menurun namun masih berada di angka yang cukup agresif 13.41%.

Yang menarik, ternyata pertumbuhan Total Liabilitas yang walaupun cenderung mengikuti CAGR pertumbuhan aset, memiliki angka yang relatif lebih rendah dari CAGR ekuitasnya. Artinya, walaupun kewajiban perusahaan bertumbuh, namun laju pertumbuhannya lebih rendah dari laju peningkatan kekayaan pemegang sahamnya (ekuitas perusahaan). Total Liabilitas TOWR dalam jangka panjang tumbuh dengan CAGR sebesar 12.62%, sedangkan dalam jangka pendek CAGR-nya adalah sebesar 8.51%.

Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas TOWR 2009 - 2019
Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas TOWR 2009 – 2019

Secara rata-rata jangka panjang, Debt to Equity Ratio (DER) berada di angka 274.02%, sedangkan Debt to Aset Ratio (DAR) berada di angka 70.69%. Angka DER dan DAR yang tinggi harus dimaklumi sebab TOWR bergerak di sektor infrastruktur yang tergolong capital intensive. Sebagai perbandingan, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) memiliki rata-rata DAR dan DER jangka panjang sebesar masing-masing 78.87% dan 584.45%.

Kabar baiknya, dalam jangka pendek, nilai rata-rata DER dan DAR cenderung menurun. Rata-rata DER jangka pendek turun menjadi 175.68%, sedangkan rata-rata DAR turun menjadi 63.37%. Artinya, lima tahun terakhir, liabilitas perusahaan lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun 2020 sendiri, DER TOWR berada di angka 236.3%, sedangkan DAR berada di angka 70.26%.

Income Statement

Total Pendapatan jangka panjang tercatat memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat baik di mana TOWR mampu mencatatkan nilai CAGR sebesar 19.55%, di mana TOWR mampu meningkatkan nilai pendapatannya dari sebesar IDR 1,1 triliun di tahun 2009 menjadi sebesar IDR 6.5 triliun di tahun 2019. Namun, dalam periode jangka pendek, laju pertumbuhan pendapatan tercatat menurun dengan CAGR sebesar 9.47%. Walaupun turun, namun laju pertumbuhan mendekati 10% dalam jangka pendek, tetap menjanjikan pertumbuhan yang cukup signifikan beberapa tahun ke depan.

Laba Bersih bahkan mencatatkan kinerja yang lebih baik. CAGR Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar 14.8% (jangka panjang), dan 17.97% (jangka pendek).

Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih TOWR 2009 - 2019
Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih TOWR 2009 – 2019

Margin usaha juga menunjukkan kinerja yang baik. Dalam jangka pendek, Gross Profit Margin (GPM) rata-rata berada di angka 74.57%, Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 62.42%, dan Net Profit Margin (NPM) berada di angka 31.15%. Sebuah bisnis dengan margin keuntungan di atas 30% tentunya adalah bisnis yang cukup menggiurkan.

Cashflow

TOWR selalu mencatatkan Operating Cashflow positif baik dalam jangka panjang maupun pendek. Namun dari segi Free Cashflow jangka pendek, TOWR mencatatkan angka negatif di tahun 2019 dan 2016. Hal ini bisa dipahami sebab sebagai perusahaan infrastruktur, TOWR memerlukan Capital Expenditure yang besar untuk pengembangan usahanya.

Analisa Kualitatif

Segmen Usaha

TOWR membagi usahanya ke dalam dua segmen yaitu Segmen Penyewaan Menara dan Segmen Jasa VSAT dan Wireline.

Bisa ditebak, Segmen Penyewaan Menara adalah penyumbang pendapatan terbesar perusahaan, di mana secara rata-rata jangka panjang, segmen ini menyumbang pendapatan sebesar 97.41% dari Total Pendapatan, namun dalam jangka pendek, porsinya menurun dengan rata-rata sebesar 95.11%. Hal ini lebih dikarenakan oleh meningkatnya Segmen VSAT dan Wireless, dan bukan karena menurunnya pendapatan sewa menara.

Dalam jangka panjang, Segmen Penyewaan Menara mencatatkan pertumbuhan yang baik, di mana segmen ini berhasil menumbuhkan pendapatan dengan CAGR sebesar 17.92%. Namun demikian, CAGR jangka pendek justru menurun signifikan menjadi sebesar 6.34% saja. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan pendapatan di segmen ini mulai berkurang dalam lima tahun terakhir.

Sebaliknya, Segmen Jasa VSAT dan Wireless masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang stabil. Dari angka CAGR, pertumbuhan tercatat tetap tinggi baik jangka panjang (CAGR=14.5%) dan jangka pendek (CAGR 15.58%). Selain itu, porsi pendapatan dari segmen ini konsisten meningkat. Mencatatkan pendapatan hanya sebesar IDR 8.3 miliar di tahun 2009, segmen ini mampu bertumbuh dengan pesat sehingga mencatatkan pendapatan sebesar IDR 637 miliar di tahun 2020. Artinya segmen ini mampu meningkatkan porsi terhadap total pendapatan dari hanya sebesar 0.77% di tahun 2009, menjadi sebesar 9.15% di tahun 2020.

TOWR mampu meningkatkan jumlah menara dari sebanyak 4,410 menara di tahun 2009 menjadi sebanyak 11,595 menara di tahun 2014, dan sebanyak 19,319 menara di tahun 2019. Angka ini menunjukkan CAGR jangka panjang sebesar 15.92%. Namun demikian, dalam jangka pendek, pertumbuhan jumlah menara menunjukkan penurunan dengan CAGR sebesar 10.75% saja.

Sejalan dengan itu, Jumlah Lokasi Sewa juga tumbuh dengan laju pertumbuhan yang hampir sama. Jumlah Lokasi Sewa tumbuh dari sebanyak 7,282 titik di tahun 2009, menjadi 20,138 titik di tahun 2014, dan sebanyak 33,346 titik di tahun 2019. Hal ini menunjukkan CAGR sebesar 16.43% jangka panjang (2009 – 2019), dan CAGR sebesar 10.61% jangka pendek (2014 – 2019).

Di tahun 2020 sendiri, TOWR tercatat memiliki jumlah menara sebanyak 21,381 menara dan jumlah sewa lokasi sebanyak 39,127 titik. Di tahun 2020, TOWR menyelesaikan pembelian sebanyak 1,642 menara dari PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Pertumbuhan Jumlah Menara dan Jumlah Sewa Lokasi TOWR 2009 - 2020
Pertumbuhan Jumlah Menara dan Jumlah Sewa Lokasi TOWR 2009 – 2020

Akuisisi

Sejak berdirinya, TOWR cenderung melakukan aksi-aksi pertumbuhan anorganik, baik berupa pembelian aset berupa menara, fiber optik, dan lain-lain secara langsung, atau dengan melakukan akuisisi perusahaan.

TOWR sendiri dibentuk untuk mengakuisisi PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) pada tahun 2008. Pada tahun 2010 Protelindo (melalui TOWR) resmi melantai di BEI.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMN atau Perseroan) didirikan pada tahun 2008 di Kudus, Jawa Tengah. Fokus utama bisnis SMN adalah berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam pengoperasian lokasi-lokasi menara telekomunikasi untuk disewakan kepada perusahaan komunikasi nirkabel. Sejak tahun 2008, investasi utama SMN adalah kepemilikan 99,99% saham di PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

TOWR, AR 2020

Pada tahun 2015, Protelindo mengakuisisi PT iForte Solusi Infotek (iForte), di mana dari hasil akusisi ini perusahaan memperoleh kendali tidak langsung terhadap anak usaha iForte yaitu iForte Global Internet. Melihat profil usahanya, agaknya sebagian besar usaha segmen bisnis selain sewa menara TOWR berasal dari iForte.

Di tahun 2016, Protelindo melakukan akusisi terhadap 2,500 unit menara dari PT XL Axiata Tbk (XCEL) dengan nilai akusisi kurang lebih sebesar IDR 3.5 triliun.

Di tahun 2018, Protelindo mengakusisi PT Komet Infra Nusantara (KIN). Dari akusisi KIN, Protelindo menambah koleksi unit menara sebesar 1,400 unit. Selain itu, Protelindo juga memperoleh kendali atas anak usaha KIN yaitu PT Quattro International yang kemudian direstrukturisasi menjadi anak usaha iForte.

KIN dan iForte menandatangani akta pembelian saham sehubungan dengan pengalihan atas 924.999 saham Quattro dari KIN ke iForte. Saham yang dialihkan tersebut mewakili 99,9999% modal ditempatkan dan disetor dalam Quattro. Baik Quattro maupun Iforte menjalankan kegiatan usaha yang terfokus pada bidang yang sama, yaitu bidang fiber optic.

TOWR, AR 2020

Di tahun 2019, Protelindo membeli 1,000 unit menara dari PT Indosat Tbk (ISAT) senilai 1.95 IDR triliun. Sedangkan di tahun 2020, Protelindo kembali mengakuisisi sebanyak 1,646 menara dari PT XL Axiata.

Yang cukup menarik, di akhir tahun 2019 Protelindo mengakusisi sebanyak 51% saham PT Istana Kohinoor (Kohinoor) setelah sebelumnya mendirikan PT Protelindo Menara Permata (PMP) di tahun yang sama. Kepemilikan saham PMP kemudian dialihkan sebesar 100% ke Kohinoor. Menurut perusahaan, Kohinoor telah mendapatkan hak menggunakan non-fuel retail (NFR Bisnis) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Jadi apa hubungan antara TOWR, Kohinoor, dan NFR business Pertamina? Menurut Laporan Tahunan TOWR 2019 dan 2020, tercantum nama Amir Hamzah selaku pemegang 49% saham Kohinoor.

Penulis berusaha mencari-cari profile yang bersangkutan di internet. Hasilnya, penulis menemukan nama yang sama tercatat sebagai chairman salah satu toko retail smartphone terbesar di Bali. Googling menggunakan keyword Kohinoor, penulis mendapati nama sebuah toko emas di Bali dengan nama yang sama yang sepertinya memiliki afiliasi dengan toko retail smartphone tersebutnya. PT Istana Kohinoor sendiri jika di-googling, tercatat memiliki kantor di Denpasar, Bali.

Kesimpulan awam penulis, Amir Hamzah yang terafiliasi dengan TOWR melalui PT Istana Kohinoor adalah orang yang sama dan terafiliasi dengan usaha-usaha yang penulis sebutkan.

Apakah TOWR akan melakukan usaha baru dengan memanfaatkan hak NFR bisnis SPBU? Ataukah sekedar memanfaatkan areal SPBU untuk melakukan pemasangan menara baru melalui PMP? Tidak disebutkan dengan jelas apakah NFR yang dimiliki hanya berada di Bali saja, atau juga di provinsi lain di Indonesia.

Mengingat proses ini baru berjalan selama dua tahun, kelanjutan dari aksi korporasi TOWR melalui Kohinoor cukup menarik untuk dinantikan.

Yang teranyar, di tahun 2021, TOWR mengakusisi saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Melalui SUPR, TOWR akan memperoleh kendali atas 6,422 menara SUPR sehingga mengukuhkan TOWR sebagai “Raja” korporasi menara di Indonesia.

Komposisi Pemegang Saham

TOWR adalah salah satu perusahaan yang berada di bawah kendali Grup Djarum. Mengutip AR TOWR tahun 2020, melalui PT Caturguwiratna Sumapala (CGS) dan PT Tricipta Mandhala Gumilang (TMG), grup Djarum menguasai sekitar 50.02% saham PT Sapta Adhikari Investama (PT SAI) yang merupakan pemilik dari 99.99% saham TOWR.

Kepemilikan di CGS dan TMG sendiri diisi oleh generasi ketiga (dan keempat?) dari keluarga Djarum. Di kedua perusahaan ini tercantum nama keluarga Hartono di masing-masing individu yang tercantum sebagai pemegang saham.

Melihat rekam jejak grup Djarum di dalam mengelola perusahaan, agaknya GCG nya tidak perlu diragukan lagi. Setidaknya bercermin dari BCA. Kalau GCG-nya buruk mungkin tidak akan menjadi bank swasta terbesar di Indonesia saat ini. Untuk di TOWR sendiri, tidak ada anggota keluarga Hartono yang duduk sebagai anggota dewan direksi maupun komisaris.

Dividen

TOWR adalah salah satu emiten yang rajin membagikan dividen, bahkan dua kali dalam setahun. Dari tahun 2017, TOWR tidak pernah absen membagikan dividen dengan Dividend Payout Ratio (DPR) dari tahun 2017 – 2020 secara rata-rata berada di angka 48.59%.

Buyback

Dari tahun 2018, perusahaan mulai melakukan pembelian kembali saham perusahaan (buyback). Pada bulan Agustus 2018, perusahaan memperoleh persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham perusahaan sebanyak maksimal 5% dalam jangka waktu 18 bulan sampai bulan Februari 2020. Dari program buyback ini, perusahaan membeli kembali saham perusahaan sebanyak 1.047% .

Perusahaan kembali memperoleh persetujuan untuk melakukan buyback di tahun 2020 yang akan berakhir sampai bulan November 2021. Sampai dengan akhir tahun 2020, perusahaan telah melakukan buyback sebanyak 0.537%.

Menurut AR 2020, jumlah saham treasury TOWR tercatat sebanyak 1.076.490.000 atau sebanyak 2.1102%.

Buyback saham oleh perusahaan tentunya adalah sinyal positif dari keyakinan manajemen akan masa depan perusahaan. Meskipun demikian, penulis sedikit bertanya-tanya mengapa program buyback dilakukan dalam kondisi perusahaan masih terus melakukan ekspansi anorganik. Barangkali perusahaan ini memang banyak uang (cash rich)?

Valuasi

Nilai Intrinsik

Asumsi berikut digunakan untuk perhitungan nilai wajar:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 14.80%
  • BVPS = IDR 199.04
  • EPS = IDR 55.59
  • DPR = 30%
  • PER = 49.38
  • PBV = 6.74

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik TOWR berada di rentang harga IDR 1.501 – IDR 4.431 (sudah dengan memperhitungkan Margin of Safety sebesar 25%). Jika dilihat sekilas dengan asumsi perhitungan di atas, memang TOWR sudah berada di area undervalue.

Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa nilai rata-rata PER yang digunakan sebesar 49x dan PBV sebesar 6.74x adalah nilai yang cukup tinggi untuk sebagian besar value investor. Untuk hasil yang lebih konservatif, sangat disarankan untuk menggunakan asumsi PER dan PBV yang lebih rendah.

PER

Saat ini nilai PER TOWR berada di angka di angka 16.87x. Jika dilihat dari nilai historis PER dalam jangka panjang, PER TOWR saat ini relatif sangat rendah (undervalue). Namun, hal ini disebabkan lebih karena di masa lalu, nilai PER TOWR berada di angka yang sangat tinggi.

Rata-rata PER TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PER TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Untuk jangka yang lebih pendek (5 tahun), nilai PER sebesar 16.87x berada di rentang standar deviasinya, sehingga bisa dikatakan saat ini dari segi PER, harga saham TOWR sedang berada di harga wajarnya – belum undervalue.

Rata-rata PER TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PER TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

PBV

Hampir sama seperti trend PER-nya, nilai PBV TOWR jika dilihat dalam jangka panjang, saat ini sedang berada di angka yang rendah (undervalue) yaitu berada di angka 5.77x.

Rata-rata PBV TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PBV TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Namun demikian, dalam jangka pendek, nilai PBV TOWR saat ini relatif lebih mahal sebab berada di area di atas standar deviasinya.

Rata-rata PBV TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PBV TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang bisa diambil setelah analisa di atas adalah sebagai berikut:

  1. TOWR adalah perusahaan yang cukup agresif dalam melakukan ekspansi. Ekspansi yang dilakukan cenderung anorganik yaitu dengan melakukan pembelian aset (berupa menara dan lain-lain) atau dengan melakukan akuisisi perusahaan.
  2. Tidak heran jika TOWR mampu mencatatkan CAGR pertumbuhan yang tinggi. Dalam jangka panjang CAGR pertumbuhan aset dan ekuitasnya masing-masing berada di angka 14.94% dan 22.89%. Walaupun melambat dalam 5 tahun terakhir, CAGR pertumbuhan aset dan ekuitas tercatat masih cukup tinggi yaitu masing-masing di angka 9.93% dan 13.41%.
  3. Pertumbuhan laba juga tumbuh agresif. Dalam jangka pendek, pendapatan masih tumbuh dengan CAGR sebesar 9.47%, sedangkan laba bersih tumbuh dengan CAGR sebesar 17.97%.
  4. Segmen Penyewaan Menara saat ini menyumbang pendapatan terbesar perusahaan. Namun demikian, segmen lainnya menyusul kontribusi raihan pendapatan dengan CAGR yang sangat agresif. Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan dari segmen ini tumbuh dengan CAGR sebesar 187.95% dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar 9.15% di tahun 2020.
  5. Rasio DAR dan DER TOWR cukup tinggi, namun bisa dibilang wajar melihat karakteristik perusahaan sebagai perusahaan infrastruktur yang perlu modal besar (capital intensive).
  6. Saat ini, TOWR adalah perusahaan menara dengan jumlah aset menara terbanyak di Indonesia.
  7. Perusahaan ini dimiliki oleh grup Djarum. Subyektivitas penulis, CGC grup ini tidak perlu diragukan, jika melihat keberhasilan grup Djarum mengendalikan BCA dan mentransformasi bank ini menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.
  8. Perusahaan rajin membagikan dividen (bahkan 2 kali dalam setahun). Dan dari tahun 2018, perusahaan rajin melakukan buyback.
  9. Nilai intrinsik, PER, dan PBV saat ini bisa dibilang murah berdasarkan nilai historis jangka panjang. Artinya, di masa lalu pasar menghargai TOWR di harga premium. Untuk jangka pendek (5 tahun), dari segi PER dan PBV, saham TOWR bisa dibilang agak mahal atau sedang berada di rentang harga wajarnya.

Jika Anda menyukai perusahaan dengan growth yang agresif, maka TOWR bisa menjadi salah satu saham pilihan Anda. Namun demikian, sebagai perusahaan capital intensive dengan strategi pertumbuhan anorganik, Anda harus nyaman dengan nilai DAR dan DER yang tinggi.

Keberadaan grup Djarum di belakang TOWR bisa menjadi jaminan kebutuhan modal TOWR, selain tentunya kita bisa berharap terjaganya kualitas GCG perusahaan.

Menurut penulis, grup Djarum ingin mengulangi kesuksesannya di BCA melalui TOWR. BCA besar salah satunya karena jumlah ATM dan nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia (OK, mungkin masih kalah dengan BRI kalau untuk di pedesaan). Dengan aset menara yang tersebar di seluruh Indonesia (bahkan sampai ke pelosok-pelosok kalau bisa), akan “memaksa” para operator industri ICT untuk menggunakan jasa mereka. Akan sangat mahal bagi operator jika harus mengeluarkan modal untuk investasi teknologi, sekaligus aset pendukungnya. Dengan jumlah menara yang banyak, daya tawar perusahaan untuk memberikan harga sewa yang lebih kompetitif, tentunya lebih tinggi (sewa 1 menara tentunya lebih mahal ketimbang sewa 100 sekaligus).

Dengan semakin tingginya penetrasi teknologi ICT dalam seluruh sektor kehidupan, bisnis sewa menara tampaknya masih memiliki prospek yang sangat cerah di masa depan. Selain itu, pandemi akibat virus Covid-19 menyebabkan tingginya kebutuhan akan internet dan aplikasi pendukungnya semakin menciptakan peluang bagi TOWR mendiversifikasi usahanya di masa depan. Tingginya pertumbuhan dari segmen selain penyewaan menara, menunjukkan perusahaan memiliki minat yang sangat tinggi untuk mendiversifikasi bisnisnya di masa depan. Bukan hal yang mustahil 10 tahun ke depan TOWR masuk ke bisnis data center misalnya. Mungkin saja…

Jadi apakah saat ini saat yang tepat untuk masuk ke TOWR?

Di harga saat artikel ini ditulis (IDR 1,160), TOWR mungkin sudah bisa dilirik. Atau jika gatal ingin mengeksekusi, mungkin bisa mulai masuk pelan-pelan dan memastikan kita punya modal untuk serok di harga lebih murah. Dengan prospeknya yang sangat cerah dan pertumbuhan yang agresif, penulis tidak akan ragu-ragu untuk secara disiplin serok di harga bawah ketika porto sedang floating lost.

Kira-kira begitu.

Analisa Fundamental PT Bank OCBC NISP (NISP)

PT Bank OCBC NISP Tbk awalnya didirikan pada tahun 1941 oleh keluarga Karmaka Surjaudaja dan Lelarati Lukman dengan nama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (NISP). Pada tahun 1958, singkatan NISP diubah menjadi Nilai Inti Sari Penyimpan.

Sejak 1997, Bank NISP menjalin kerjasama dengan OCBC Bank Singapura dengan membentuk bank campuran bernama Bank OCBC Indonesia. Kerjasama terus berlanjut hingga OCBC Bank Singapura resmi menjadi pemegang saham di tahun 2004, dan menjadi pemegang saham mayoritas di tahun berikutnya.

NISP dikenal sebagai salah satu emiten yang pelit dividen. Di tengah tumbuhnya bank-bank digital di Indonesia, apakah bank yang pelit dividen ini layak dijadikan sebagai salah satu portfolio investasi?

Logo Bank OCBC NISP

Analisa Fundamental

Sama seperti sebelumnya, penulis menggunakan periode 10 tahun sebagai periode jangka panjang, dan 5 tahun sebagai jangka pendek. Tahun 2020 tidak disertakan, sebab pandemi mengakibatkan banyak perusahaan mengalami penurunan kinerja.

Balance Sheet

Dari segi aset, NISP menunjukkan pertumbuhan yang baik. Dalam jangka panjang, NISP mampu menumbuhkan nilai asetnya dari sebesar IDR 37 triliun di tahun 2009 menjadi sebesar hampir mencapai IDR 181 triliun di tahun 2019. Kenaikan nilai aset dalam 10 tahun ini memiliki nilai CAGR sebesar 17.17%, sedangkan dalam jangka pendek, nilai CAGR turun menjadi 11.87%. Walaupun mengalami penurunan, namun CAGR di atas 10% masih merupakan angka yang cukup tinggi.

Dari segi ekuitas, pertumbuhan NISP sedikit lebih baik. Ekuitas NISP bertumbuh dengan CAGR sebesar 20.93% dalam jangka panjang di mana ekuitas NISP tumbuh dari sebesar 4.1 triliun di tahun 2009, menjadi sebesar 27.6 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek, CAGR NISP masih menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu di angka 13.16%.

Total Aset dan Total Ekuitas NISP 2009 - 2019
Total Aset dan Total Ekuitas NISP 2009 – 2019

Income Statement

Dari segi pendapatan, kinerja NISP cukup stabil walaupun laju pertumbuhan jangka pendeknya memiliki nilai CAGR yang lebih rendah. Dalam jangka panjang CAGR NISP memiliki nilai sebesar 14.89%, di mana NISP mampu menumbuhkan pendapatannya dari sebesar IDR 3.3 trilun di tahun 2009, menjadi sebesar IDR 13.5 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek nilai CAGR pendapatan turun menjadi sebesar 11.28% (masih bisa dibilang tinggi, sebab masih berada di atas 10%).

Kinerja dari segi laba menunjukkan angka-angka yang lebih baik. Laba Usaha dan Laba Bersih sama-sama memiliki nilai CAGR yang tinggi baik jangka panjang maupun jangka pendek – walaupun CAGR jangka pendek lebih rendah dari jangka panjangnya.

Sebagai contoh, Laba Usaha memiliki nilai CAGR jangka panjang sebesar 20.37%, dan CAGR jangka pendek sebesar 16.95%. Konsisten dengan itu, Laba Bersih juga memiliki nilai CAGR yang hampir-hampir mirip, di mana CAGR Laba Bersih jangka panjang berada di angka 21.02%, sedangkan CAGR jangka pendek berada di angka 17.15%.

Angka CAGR laba yang lebih tinggi dari CAGR pendapatan menjadi salah satu indikasi meningkatnya efisiensi dalam operasional perusahaan.

Pertumbuhan Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha, dan Laba Bersih NISP 2009 - 2019
Pertumbuhan Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha, dan Laba Bersih NISP 2009 – 2019

Dari segi margin, rasio-rasio NISP cukup baik. Dalam periode 10 tahun, Gross Profit Margin (GPM) berada di angka 51.39%, Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 23.66%, dan Net Proft Margin (NPM) berada di angka 17.41%.

Dalam jangka pendek, rasio-rasio ini kurang lebih sama. GPM berada di angka 51.40%, OPM di angka 24.17%, dan NPM di angka 17.81%.

GPM, OPM, dan NPM NISP 2009 - 2019
GPM, OPM, dan NPM NISP 2009 – 2019

Cashflow

Tidak banyak yang penulis bahas selain bahwa selama tiga tahun terakhir NISP selalu mencatatkan Operating Cashflow dan Free Cashflow positif.

Rasio-rasio Perbankan

Penulis membandingkan beberapa rasio-rasio perbankan penting seperti Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), Net Interest Margin (NIM), Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Current Account and Saving Account (CASA).

Sebagai perbandingan, penulis menggunakan rasio-rasio dari beberapa bank umum lainnya seperti Bank BCA (BBCA), Bank BNI (BBNI), dan Bank Niaga (BNGA).

Bank BCA dipilih karena bank ini adalah bank terbaik di Indonesia saat ini sehingga sangat layak dijadikan sebagai benchmark. BNI dipilih sebab di antara empat bank dengan aset terbesar di Indonesia (BRI, BCA, Mandiri, dan BNI), BNI relatif memiliki kinerja di bawah tiga bank lainnya. Sedangkan Bank Niaga penulis gunakan sebagai bank yang berada di luar 4 besar bank umum tadi sebab bank ini juga memiliki kinerja yang baik, namun harga sahamnya masih dihargai cukup murah oleh pasar.

Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal minimum adalah rasio permodalan minimum yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank. Rasio ini penting untuk memastikan bahwa bank memiliki bantalan yang cukup untuk menyerap sejumlah kerugian yang wajar sebelum mereka bangkrut dan akibatnya kehilangan dana deposan. Menurut ketentuan Bank Indonesia, CAR minimum bank-bank umum di Indonesia adalah sebesar 8%.

Secara umum, NISP memiliki rasio CAR yang baik dan jauh di atas ketentuan regulator. Secara rata-rata baik 5 tahun maupun 10 tahun, CAR NISP berada di atas 17% (17.95% rata-rata 5 tahun, dan 17.58% untuk rata-rata CAR 10 tahun).

Dibandingkan dengan bank-bank lain, kinerja CAR NISP bisa dibilang biasa-biasa saja. Secara rata-rata jangka pendek dan jangka panjang, CAR NISP berada di bawah tiga bank lainnya yang digunakan sebagai perbandingan. Hanya dalam jangka pendek, CAR NISP sedikit lebih baik dari BNGA, di mana rata-rata CAR NISP lima tahun terakhir berada di angka 17.58% sedangkan BNGA berada di angka 16.67%.

Untuk tahun 2020 sendiri, CAR NISP berada di angka 22.04% di mana angka ini lebih baik dari CAR BBNI (16.80%) dan BNGA (21.92%).

Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan (NPL) alias kredit bermasalah adalah rasio pinjaman-pinjaman yang tidak mampu dibayar peminjam berdasarkan jangka waktu yang ditentukan. Ada dua kategori NPL yaitu NPL net dan NPL gross. NPL net, dihitung berdasarkan kredit yang berstatus macet, sedangkan NPL gross membandingkan kredit bermasalah dengan status lainnya termasuk yang berstatus kurang lancar dan diragukan.

Rasio NPL NISP termasuk cukup baik. Rata-rata NPL jangka pendek berada di angka 1.68% (gross) dan 0.77% (net). Sedangkan NPL net berada di rata-rata jangka panjang berada di angka 1.47% (gross) dan 0.69% (net).

Dibandingkan dengan tiga bank lainnya, kinerja NPL NISP hanya kalah dari BBCA. Kinerja NPL NISP bahkan di atas BBNI di mana rata-rata jangka pendek (5 tahun) NPL BBNI berada di angka 2.44% dan 0.8%.

Di tahun 2020 kinerja NPL NISP bisa dibilang sangat baik, di mana NISP bisa menjaga nilai NPL nya tidak jauh dari rata-rata kinerja tahun-tahun sebelumnya. Di tahun pandemi, NISP mencatatkan NPL gross sebesar 1.93% dan NPL net sebesar 0.79%. Angka ini jauh lebih baik dari BBNI (NPL gross = 4.30%, NPL net = 2.90%) dan BNGA (NPL gross = 3.62%, NPL net = 1.40%).

Return on Asset (ROA)

Penulis menggunakan data ROA yang dilaporkan perusahaan di laporan tahunannya (Annual Report / AR) masing-masing. Ketika membandingkan dengan data-data dari aplikasi semisal stockbit, terdapat perbedaan nilai ROA yang tercantum di AR masing-masing bank dengan data dari aplikasi. Sepertinya, stockbit menggunakan perhitungan dengan membandingkan “Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk” dengan Total Aset, sedangkan di AR masing-masing bank menggunakan perhitungan dengan cara yang lain.

Secara rata-rata, ROA NISP berada di angka 1.96% (jangka pendek) dan 1.84% (jangka panjang). Bisa disimpulkan bahwa terjadi perbaikan kinerja walaupun tidak bisa dibilang signifikan.

Jika dibandingkan dengan bank lain, rata-rata ROA NISP masih berada di bawah BBNI dan BBCA baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan jika dibandingkan dengan BNGA, nilai rata-rata ROA NISP dalam jangka pendek relatif lebih baik sebab BNGA hanya mencatatkan rata-rata ROA sebesar 1.37% (dibandingkan NISP di angka 1.96%).

Di tahun 2020, ROA NISP berada di angka 1.47%. Angka ini masih tetap di bawah BBCA, namun lebih baik dari BBNI (0.5%) dan BNGA (1.06%).

Return on Equity (ROE)

Sama seperti ROA, penulis menggunakan data ROE yang dilaporkan di masing-masing AR dengan alasan yang sama seperti di atas.

Secara rata-rata, ROE NISP berada di angka 10.82% (jangka panjang) dan 10.69% (jangka pendek). Bisa dibilang stagnan, walaupun secara historis menunjukkan peningkatan setidaknya dari tahun 2014 – 2019.

Secara rata-rata, ROE NISP berada di bawah BBCA dan BBNI baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun dibandingkan dengan BNGA, kinerja rata-rata jangka pendek ROE NISP (10.69%) lebih baik dari ROE BNGA (6.82%). Walaupun lebih baik, namun hal ini lebih disebabkan karena kinerja BNGA yang menurun sebab rata-rata ROE BNGA dalam jangka panjang berada di angka 12.12%.

Di tahun 2020, NISP melaporkan ROE sebesar 7.47%. Angka ini jauh lebih baik dari BBNI yang hanya mencatatkan ROE sebesar 2.90% dan BNGA dengan ROE sebesar 4.88%.

Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin (NIM) secara matematis didapatkan dengan menghitung Pendapatan Bunga Bersih dibandingkan dengan rata-rata aktiva produktif. Secara umum, NIM digunakan untuk mengukur profitabilitas sebuah bank untuk melihat seberapa baik sebuah bank mengelola aset-aset produktifnya untuk menghasilkan bunga.

NIM adalah salah satu indikator dengan kinerja terburuk jika dibandingkan dengan tiga bank lainnya dalam semua kategori. Rata-rata NIM NISP jangka pendek adalah sebesar 4.25%, sebelas dua belas dengan rata-rata jangka panjangnya di angka 4.35%. Tiga bank lainnya yang kita perbandingkan, rata-rata mencatatkan NIM di atas 5% setiap tahunnya.

Di tahun 2020 sendiri NIM NISP tidak lebih baik. NISP hanya mencatatkan NIM sebesar 3.8%. Angka ini lebih kecil dari NIM BBCA (5.0%), BBNI (4.5%), dan BNGA (4.5%).

Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Rasio BOPO adalah salah satu rasio efisiensi operasional sebuah bank. Secara matematis, BOPO dihitung dengan membandingkan Beban Operasional dengan Pendapatan Operasional. Secara sederhana, semakin tinggi BOPO maka kinerja bank itu bisa dikatakan semakin tidak efisien, sebab beban operasional yang dibutuhkan untuk menghasilkan pendapatan semakin besar.

Secara rata-rata, NISP mencatatkan BOPO sebesar 77.19% (jangka pendek) dan 78.55% (jangka panjang). Boleh dibilang terjadi kenaikan efisiensi, walaupun relatif tidak signifikan.

Jika dibandingkan dengan tiga bank lainnya, rasio BOPO hanya lebih baik dari BNGA, di mana rata-rata BOPO BNGA berada di angka 86.87% (jangka pendek) dan (82.06%) jangka panjang. Yang paling baik tentunya BBCA, dengan rata-rata BOPO jangka pendek di angka 59.90% (luar biasa!).

Di tahun 2020, NISP melaporkan BOPO sebesar 81.13%, lebih baik dari BBNI dengan BOPO sebesar 87.3%, dan BNGA dengan BOPO sebesar 82.91%.

Loan to Deposit Ratio (LDR)

Bank Indonesia (BI) dalam peraturan BI nomor 15/7/PBI/2013 mendefinisikan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga dalam Rupiah dan valuta asing, tidak termasuk kredit kepada Bank lain, terhadap dana pihak ketiga yang mencakup giro, tabungan, dan deposito dalam Rupiah dan valuta asing, tidak termasuk dana antar Bank.

Secara umum, LDR digunakan untuk mengukur kemampuan likuiditas sebuah bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. LDR bisa diasosikan juga dengan pertumbuhan potensi pendapatan. Semakin tinggi LDR, maka potensi pendapatan akan semakin besar sebab semakin banyak dana dari pihak ketiga yang bisa disalurkan dalam bentuk kredit. Namun sebaliknya, semakin besar LDR juga berarti semakin sedikit dana yang tersedia bagi bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau dengan kata lain semakin tidak likuid bank tersebut.

BI sendiri menggunakan rentang LDR di angka 78% – 92% dalam menentukan aturan Giro Wajib Minimum bank umum.

Secara rata-rata, NISP mencatatkan rata-rata LDR jangka pendek sebesar 93.78% dan jangka panjang sebesar 90.88%. Kalau melihat aturan Bank Indonesia, bisa dibilang rata-rata LDR NISP berada di angka yang cukup tinggi – sehingga secara relatif memiliki tingkat risiko likuiditas yang lebih tinggi. Angka rata-rata LDR NISP berada di bawah BBNI dan BBCA, dan masih lebih rendah daripada BNGA.

Di tahun 2020, NISP melaporkan LDR sebesar 72.03%. Angka ini lebih tinggi dari BBCA (63.50%) dan lebih rendah dari BBNI (65.80%) dan BNGA (82.91%).

Current Account and Saving Account (CASA)

CASA atau yang lebih dikenal dengan istilah dana murah, adalah rasio yang membandingkan antara jumlah giro dan tabungan berbanding total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dikelola oleh bank. Tabungan dan giro adalah produk perbankan dengan bunga yang relatif rendah dibandingkan dengan produk simpanan lain seperti deposito. Sehingga semakin besar CASA, semakin banyak dana yang bisa disalurkan bank dalam bentuk kredit dengan bunga yang lebih kompetitif.

Secara rata-rata, rasio CASA NISP bisa dibilang rendah bahkan terburuk di antara tiga bank lainnya. CASA NISP secara rata-rata berada di angka 30.25% (jangka pendek) dan 43.59% (jangka panjang). Rasio CASA yang paling mendekati dari tiga bank lainnya adalah BNGA di mana dalam jangka pendek CASA BNGA berada di angka 51.63% dan dalam jangka panjang di angka 47.85%.

Di tahun 2020 sendiri, NISP hanya mencatatkan CASA sebesar 42.19%, terburuk dibandingkan dengan BBCA (77%), BBNI (69.2%), dan BNGA (59.62%).

Kesimpulan Sementara

Secara umum, rasio-rasio perbankan NISP cukup baik. NISP mampu mencatatkan rasio yang bagus dari segi NPM, yang menandakan kemampuan bank untuk menjaga kualitas kreditnya. Walaupun begitu, NIM dan CASA yang rendah harus menjadi perhatian serius manajemen untuk lebih meningkatkan potensi pendapatan di masa depan.

Rasio-rasio Perbankan NISP. AVG 5Y = 2019 - 2015. AVG 10Y = 2019 - 2010.
Rasio-rasio Perbankan NISP. AVG 5Y = 2019 – 2015. AVG 10Y = 2019 – 2010.
Rasio-rasio Perbankan: NISP vs BBNI vs BBCA vs BNGA.
Rasio-rasio Perbankan: NISP vs BBNI vs BBCA vs BNGA.
Rasio-rasio Perbankan: NISP vs BNGA

Analisa Kualitatif

Segmen Operasi

Berdasarkan produknya, NISP mengkategorikan operasinya ke dalam empat segmen yaitu Business Banking, Consumer Banking, Treasury, dan Lain-lain. Business Banking adalah servis untuk konsumen korporasi, sedangkan Consumer Banking adalah servis yang berkaitan dengan konsumen individu. Treasury adalah usaha-usaha yang berkaitan dengan produk-produk treasuri, advisory, dan manajemen neraca. Lain-lain adalah usaha-usaha di luar ketiga segmen sebelumnya.

Business Banking

Business Banking memiliki laju pertumbuhan yang paling lambat dibandingkan dengan segmen-segmennya lainnya. Dari laporan keuangan perusahaan, Total Pendapatan dari segmen ini tercatat hanya tumbuh dengan CAGR 1.31% dalam jangka pendek, di mana pendapatan di segmen ini tumbuh dari angka sebesar IDR 2,7 triliun di tahun 2014 tumbuh menjadi sebesar IDR 3,35 triliun di tahun 2019. Namun demikian, dari segi profitabilitas, segmen ini termasuk segmen dengan profit yang tinggi. Rata-rata Laba Sebelum Pajak dari Total Pendapatan di segmen ini dalam periode yang sama berada di angka 59.48%.

Consumer Banking

Consumer Banking memiliki karakteristik sebaliknya. Laju pertumbuhan di segmen ini tumbuh dengan CAGR sebesar 18.72% dalam jangka pendek, di mana Total Pendapatan tumbuh dari sebesar IDR 1,2 triliun di tahun 2014 menjadi sebesar IDR 2.87 triliun di tahun 2019. Laba Usaha sebelum pajak bahkan tumbuh dengan CAGR yang lebih tinggi yaitu sebesar 24.82%. Fakta bahwa CAGR laba lebih besar dari pendapatan menunjukkan bahwa segmen ini tidak hanya tumbuh, tapi juga tumbuh dengan efisiensi yang meningkat.

Namun demikian, profit dari segmen ini jauh lebih kecil dari segmen bisnis dan treasuri, di mana Laba Usaha sebelum pajak secara rata-rata berada di angka 20.83%.

Treasury

Segmen ini juga memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik. Dalam jangka pendek angka CAGR Total Pendapatan berada di angka 16.73%, bertumbuh dari sebesar IDR 648 miliar menjadi sebesar IDR 1.4 triliun. Dari segi Laba Usaha, segmen ini juga memiliki CAGR yang baik di mana angka CAGR jangka pendek berada di angka 17.34%.

Dari segi profitabilitas, segmen ini memiliki kinerja paling baik di segmen-segmen yang lain. Segmen ini memiliki rasio Laba Usaha sebelum pajak secara rata-rata berada di angka 79.65%.

Lain-lain

Segmen ini adalah segmen dengan laju pertumbuhan pendapatan yang paling tinggi. CAGR jangka pendek segmen ini berada di angka 63.11% di mana Total Pendapatan tumbuh dari angka sebesar IDR 131 miliar di tahun 2014, menjadi sebesar IDR 1.15 triliun. Namun demikian, dari segi profitabilitas, dari 2014 – 2019 segmen ini konsisten mencatatkan kerugian. Segmen ini mencatatkan profit hanya di tahun 2018 dan 2019. Di tahun 2020, segmen ini kembali mencatatkan kerugian.

Kinerja Segmen Operasi NISP 2014 - 2019
Kinerja Segmen Operasi NISP 2014 – 2019

Karyawan, Jaringan Kantor, dan ATM

Untuk urusan ekspansi, agaknya NISP termasuk bank yang cukup berhati-hati jika tidak bisa dibilang konservatif. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan jumlah karyawan, jaringan kantor, dan ATM. Berubahnya perilaku konsumen yang semakin ketergantungan dengan smartphone dan internet tampaknya ikut mengakselerasi proses ini. Alih-alih menambah jumlah kantor cabang atau karyawan, NISP justru menguranginya.

Dari AR perusahaan, diketahui bahwa jumlah karyawan NISP terbanyak berjumlah sekitar 6,922 di tahun 2015. Di tahun 2020 jumlah karyawan adalah sebesar 5,985. Demikian pula dengan kantor cabang, dari sebanyak 412 di tahun 2011, di tahun 2020 jumlah kantor NISP berkurang menjadi hanya sebanyak 236 di tahun 2020.

Jaringan ATM juga berkurang, di mana tahun 2016, bank ini memiliki ATM sebanyak 763 buah. Tahun 2020, jumlah ini turun menjadi sebanyak 592 buah.

Digitalisasi

Pada tahun 2018, NISP meluncurkan aplikasi One Mobile. Hampir sama seperti aplikasi dari bank-bank lainnya, nasabah NISP bisa membuka rekening tabungan secara digital tanpa harus ke kantor cabang. Selain itu, nasabah juga dapat melakukan berbagai transaksi seperti transfer uang ke rekening lain (sesama NISP atau antar bank), top-up dompet e-wallet, pembayaran tagihan, termasuk investasi. Sampai dengan saat artikel ini ditulis, aplikasi ini sudah diunduh oleh lebih dari 1 juta pengguna di Google Playstore.

Ilustrasi Aplikasi One Mobile NISP
Ilustrasi Aplikasi One Mobile NISP

Untuk nasabah korporasi, NISP menyediakan layanan internet banking yang disebut Velocity. Melalui aplikasi ini, nasabah dapat melakukan transaksi-transaksi finansial (antara lain transfer, pembayaran gaji atau ke pihak ketiga, pembayaran tagihan, pengelolaan likuiditas, pembuatan billing dan pembayaran pajak, serta pembukaan rekening deposito) maupun non-finansial (antara lain informasi saldo dan mutasi rekening).

Selain produk-produk perbankan digital di atas, NISP meluncurkan konsep kantor cabang dengan tema Premium Guest House untuk mendukung transformasi business perusahaan. Dari segi design layout, kantor cabang ditata sedemikian rupa sehingga nasabah tidak sedang merasa sedang berada di bank dengan jajaran customer service dan teller desks yang membosankan. Selain memberikan servis, Premium Guest House ini juga dimaksudkan untuk mengedepankan knowledge sharing tentang produk-produk NISP sebagai solusi keuangan nasabah-nasabahnya.

Ilustrasi Premium Guest House OCBC NISP
Ilustrasi Premium Guest House OCBC NISP

Bergerak maju, melewati batas perbankan tradisional, merupakan upaya Bank OCBC NISP untuk merespon era baru bisnis perbankan, yang menempatkan teknologi informasi, digitalisasi, dan pengalaman pelanggan sebagai faktor utama memperoleh keunggulan kompetitif di sektor industri jasa keuangan. Untuk itu, dibutuhkan tidak hanya transformasi tata kelola, proses bisnis dan kapabilitas sumber daya manusia, tetapi juga perubahan besar pada strategi bisnis dalam mengelola risiko dan peluang. ONe Mobile, Velocity dan Premium Guest House merupakan beberapa produk dan layanan yang menandai transformasi bisnis dalam menghadirkan solusi perbankan masa depan bagi pelanggan.

NISP, AR 2018

Selain layanan-layanan di atas, NISP juga meluncurkan produk tabungan Nyala by OCBC NISP yang menyasar nasabah individu maupun bisnis. Berbagai campaign diluncurkan setidaknya dalam dua tahun belakangan terutama menyasar nasabah-nasabah milenial seperti gerakan #NyalakanIndonesia, #NyalakanHati, #taytb (tidak ada yang tidak bisa), dan lain-lain. Hasilnya cukup lumayan. Setidaknya di Youtube, beberapa video terkait kampanye-kampanye tersebut ditonton oleh ratusan ribu hingga jutaan pengguna.

OCBC Bank

OCBC Bank Singapura mulai masuk menjadi pemegang saham NISP di tahun 2004 dengan mengempit 22.5% kepemilikan. Di tahun 2005, OCBC Bank Singapura resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan total kepemilikan sebesar 72% saham. Sampai dengan tahun 2020, OCBC Bank memegang saham NISP sebesar 19,521,231,224 atau sekitar 85.08%.

Melansir wikipedia, OCBC Bank didirikan pada tahun 1932 sebagai hasil merger dari tiga buah bank yaitu Chinese Commercial Bank Limited, Ho Hong Bank Limited, dan Oversea-Chinese Bank Limited. Sampai hari ini, OCBC Bank adalah bank kedua terbesar di Asia Tenggara menurut total aset. Selain itu, OCBC Bank konsisten meraih peringkat baik di berbagai badan pemeringkat dunia.

OCBC Bank adalah salah satu bank dengan peringkat tertinggi di dunia, dengan peringkat Aa1 dari Moody’s. Diakui karena kekuatan dan stabilitas finansialnya, OCBC Bank secara konsisten termasuk di peringkat 50 Bank Teraman di Dunia oleh Global Finance dan dinobatkan sebagai Bank yang dikelola terbaik (Best Managed Bank) di Singapura oleh The Asian Banker.

NISP, AR 2020

Dividen

NISP adalah salah satu emiten pelit dividen di BEI. Setidaknya sejak tahun 2004 sampai sekarang, NISP tidak pernah membagikan dividen pada pemegang sahamnya (kecuali di tahun 2018 di mana NISP membagikan saham bonus). Namun di masa lalu, NISP pernah membagikan dividen baik berupa cash ataupun saham.

Menurut manajemen, kebijakan puasa dividen ini dilakukan untuk menjaga permodalan. Setidaknya di tahun 2019, rata-rata CAR industry adalah sebesar 20%, dan rata-rata CAR BUKU III adalah sebesar 25%, sedangkan CAR NISP masih berada di bawah itu. Selain itu, diharapkan dengan tidak membagikan dividen, NISP bisa naik kelas di tahun 2021 menjadi bank BUKU IV.

Hanya saja, dengan berubahnya klasifikasi bank di Indonesia dari Bank Umum berdasarkan Kelompok Usaha (BUKU) ke Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI), tantangan NISP untuk naik kelas ke kasta tertinggi KBMI 4 menjadi semakin tinggi sebab KBMI 4 mensyaratkan modal inti berjumlah 70 triliun.

Menarik untuk melihat apakah manajemen akan mempertahankan kebijakan puasa dividen setelah perubahan klasifikasi bank tersebut. OCBC Bank Singapura sendiri sebagai pemegang saham mayoritas setiap tahun selalu membagikan dividen baik dalam bentuk cash ataupun saham. Jadi, sepertinya memang NISP diagendakan tumbuh dan besar sendiri secara organik tanpa perlu suntikan modal dari pemegang sahamnya.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Asumsi berikut digunakan untuk perhitungan nilai wajar saham NISP:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 15%
  • BVPS = IDR 1300.01
  • EPS = IDR 91.59
  • DPR = 0%
  • PER = 10.23
  • PBV = 0.98

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik RALS berada di rentang harga IDR 684 – IDR 1,538 (sudah dengan memperhitungkan Margin of Safety sebesar 25%). Dengan harga saat ini di angka IDR 690, bisa dikatakan NISP telah berada di rentang bawah harga wajarnya (sedikit lagi menuju ke undervalue).

PER

Mengutip stockbit, PER NISP saat ini berada di kisaran 7.28X dan berada di bawah -1 Standar Deviasinya. Artinya secara analisa PER sederhana saat ini, harga saham NISP bisa dikatakan cukup murah.

PER NISP 10 tahun terakhir

PBV

Dari segi PBV, saham NISP juga bisa dibilang undervalue. Saat artikel ini ditulis, NISP memiliki PBV sebesar 0.5X. Angka ini berada di bawah -1 standar deviasinya.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan setelah analisa di atas:

  1. Dari segi growth, NISP termasuk perusahaan dengan growth rate yang cukup tinggi. Aset, Ekuitas, dan Profit konsisten mencatatkan CAGR di atas 15% untuk periode jangka panjang, dan 10% untuk periode jangka pendek.
  2. Segmen Consumer Banking dan Treasury masih menjanjikan potensi growth yang menarik sebab saat ini CAGR nya masih di atas 15%.
  3. Dari segi rasio-rasio perbankan, bank ini cukup sehat. Artinya semua ketentuan-ketentuan regulator telah terpenuhi, bahkan dengan rasio di atas yang disarankan. Walaupun tidak bisa dibilang istimewa, namun beberapa rasio NISP sebenarnya cukup bersaing. Setidaknya dibandingkan dengan BNI, rasio NPL NISP masih lebih baik.
  4. Rasio CASA NISP cukup rendah sehingga harus menjadi perhatian manajemen. Dengan rasio CASA yang lebih baik, akan terjadi peningkatan rasio NIM yang juga cukup rendah.
  5. NISP memiliki inisiatif transformasi bisnis yang baik. Produk-produk digital seperti One Mobile dan Velocity, serta perubahan konsep cabang dengan tema Premium Guest House yang sejalan dengan transformasi bisnis NISP menjadi bank dengan konsep beyond traditional banking layak diapresiasi. Berbagai marketing campaign juga diluncurkan seperti #NyalakanIndonesia dan #taytb untuk mendukung usaha ini.
  6. OCBC Bank Singapura sebagai pemegang saham mayoritas adalah bank terbesar kedua di Asia Tenggara dilihat dari total aset. Selain itu, bank ini konsisten memperoleh rating yang baik dari organisasi pemeringkat dunia, dan diakui sebagai salah satu bank teraman di dunia.
  7. Dari tahun 2004 sampai dengan saat artikel ini ditulis, NISP konsisten dengan kebijakan untuk tidak membagikan dividen. Alasan manajemen adalah untuk menjaga rasio permodalan dan diharapkan bank dapat naik kelas ke kasta lebih tinggi secara anorganik.
  8. Dari segi nilai intrinsik, saat ini NISP telah berada di rentang bawah harga wajarnya menuju undervalue. Dari segi PER dan PBV, saham NISP sudah termasuk undervalue.

Jadi layak koleksi ke portfolio atau tidak?

Tergantung.

Yang jelas, jika Anda adalah tipe investor yang sakit hati bahkan sampai tidak bisa tidur jika emiten kesayangan Anda tidak membagikan dividen, maka jelas NISP bukan untuk Anda.

Jika dividen bukan yang utama, maka faktor yang paling menarik adalah growth yang cukup tinggi, bahkan dengan CAGR di atas 10% dalam 5 tahun terakhir. Segmen yang berhubungan dengan mass market seperti Consumer Banking dan Treasury masih menjanjikan pertumbuhan yang tinggi. Hanya saja, karena tidak membagikan dividen, harga saham NISP dihargai murah oleh pelaku pasar, yang tercermin dari nilai PER dan PBV yang rendah. But, hey… isn’t that good? 🙂

Selain itu, rasio-rasio perbankan NISP cukup baik dan sangat mungkin untuk ditingkatkan di masa depan. Dalam jangka pendek, rasio CASA dan NIM harus menjadi perhatian manajemen (dan agaknya memang menjadi perhatian dengan berbagai inisiatif produk digital dan marketing campaign untuk menyasar nasabah milenial). Rasio NPL yang rendah adalah salah satu catatan positif dan menjadi cerminan sikap prudent dari manajemen.

Terakhir, jangan lupa, ada nama besar OCBC Bank di belakang NISP. Tentunya kita berharap bahwa dengan dukungan dari parent group, GCG yang baik akan selalu menyertai perjalanan bisnis NISP di masa depan.

Sekian dan terima kasih, semoga bermanfaat!

Analisa Fundamental PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)

Gerai Ramayana pertama kali dibangun oleh Paulus Tumewu di Jalan Sabang Jakarta pada tahun 1978. Sebagai salah satu pionir bisnis Department Store di Indonesia, Ramayana sukses mengembangkan usahanya ke seluruh Indonesia dengan total gerai mencapai lebih dari 100 gerai di tahun 2020.

Masifnya perkembangan e-commerce dalam 10 tahun terakhir menyebabkan perubahan perilaku konsumen. Ramayana yang menyasar konsumen kelas menengah ke bawah saat ini harus bersaing dengan ratusan ribu pelaku fashion UMKM di seluruh Indonesia yang menawarkan produk mereka di berbagai platform e-commerce dengan harga yang sangat kompetitif. Selain itu, pandemi Covid-19 cukup memukul kinerja perusahaan di tahun 2020 dan 2021.

Apakah RALS cukup menarik untuk dijadikan portfolio investasi?

Logo Ramayana
Logo Ramayana

Analisa Fundamental

Pandemi Covid-19 sangat memukul industri ritel. Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di awal-awal masa pandemi di tahun 2020, serta diberlakukannya pembatasan-pembatasan sosial oleh pemerintah termasuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sangat memukul industri ritel. Mau tidak mau para pelaku industri di sektor ini harus menutup gerai guna menekan penyebaran virus Covid-19, yang berimbas pada turunnya jumlah kunjungan dan berakibat langsung pada turunnya pendapatan secara signifikan.

Oleh karena itu, penulis menggunakan data sampai tahun 2019 (data sebelum pandemi) dalam analisa ini. Sama seperti analisa sebelumnya, penulis menggunakan data dari tahun 2009 – 2019 sebagai periode jangka panjang (10 tahun), dan data dari tahun 2014 – 2019 sebagai periode jangka pendek (5 tahun).

Balance Sheet

Secara umum, nilai Total Aset RALS bertumbuh baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, dengan trend pertumbuhan jangka pendek sedikit mengalami penurunan dari jangka panjangnya. Dalam jangka panjang, aset RALS tumbuh dengan CAGR sebesar 5.82%. Sedangkan dalam jangka pendek, angka CAGR aset sedikit mengalami penurunan yaitu sebesar 4.40%.

Pertumbuhan Ekuitas juga menunjukkan angka-angka CAGR yang hampir mirip. CAGR Ekuitas jangka panjang adalah sebesar 5.36%, sedikit lebih baik dari CAGR jangka pendek yang berada di angka 4.42%.

Pertumbuhan Total Liabilitas juga menunjukkan trend yang sama seperti trend pertumbuhan aset dan ekuitas. Hanya saja, CAGR jangka panjang Total Liabilitas berada sedikit di atas yaitu di angka 7.24%. Dalam jangka pendek, CAGR Liabilitas RALS cenderung melambat yaitu di angka 4.37%.

Dari segi struktur Liabilitas, dalam jangka panjang, Liabilitas Jangka Pendek lebih mendominasi dengan kontribusi sebesar 80.14% dari Total Liabilitas. Untuk Liabilitas Jangka Panjang pun hanya terdiri dari liabilitas imbalan kerja karyawan yang relatif aman.

RALS termasuk emiten yang cukup konservatif dalam hal pendanaan. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir, emiten ini tercatat tidak pernah menggunakan sumber pembiayaan pihak ketiga seperti utang bank, obligasi, dan lain-lain.

Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas RALS 2008 - 2020
Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas RALS 2008 – 2020

Income Statement

Dari segi pendapatan, CAGR RALS cenderung stagnan dalam jangka panjang, bahkan menurun dalam jangka pendek. CAGR Total Pendapatan jangka panjang tercatat berada di angka 2.65%. Sedangkan dalam jangka pendek, CAGR Total Pendapatan berada di angka -0.92% (alias pendapatannya cenderung turun).

Jika dilihat dari segi nilai, RALS mencatatkan Total Pendapatan tertinggi di tahun 2013 yaitu sebesar IDR 6 triliun. Sampai dengan tahun 2019, pendapatan RALS naik-turun dengan trend sideways, namun tidak pernah lagi melewati angka IDR 6 triliun.

Yang menarik adalah walaupun trend pendapatan cenderung stagnan bahkan sedikit menurun, tetapi kemampuan RALS mencetak laba bisa dikatakan meningkat.

Laba Kotor dalam jangka pendek tumbuh lebih lambat dibandingkan jangka panjangnya, di mana CAGR jangka pendek adalah sebesar 4.02%, sedikit turun dari CAGR jangka panjangnya yang sebesar 5.42%.

Namun demikian, pertumbuhan laba bersih jangka pendek justru lebih baik dari jangka panjang. Dalam jangka pendek, Laba Bersih yang dicatatkan oleh RALS tumbuh dengan CAGR sebesar 12.79%. Angka ini jauh lebih baik dari CAGR jangka panjangnya yang berada di angka 6.82%.

Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih RALS 2009 - 2019
Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih RALS 2009 – 2019

Dari segi margin, rata-rata Gross Profit Margin (GPM) mengalami peningkatan. Dalam jangka pendek, rata-rata GPM RALS berada di angka 40.25%, sedikit di atas rata-rata jangka panjangnya yang berada di angka 37.61%. Trend yang sama juga terjadi pada rata-rata Net Profit Margin (NPM), di mana rata-rata NPM jangka pendek (8.42%) berada di angka yang lebih baik di angka jangka panjangnya (7.70%).

GPM, OPM, dan NPM RALS 2009 - 2019
GPM, OPM, dan NPM RALS 2009 – 2019

Jika trend Pendapatan cenderung stagnan bahkan menurun, sedangkan laba meningkat, maka itu adalah sinyal bahwa manajemen melakukan tugasnya dengan baik dari segi efisiensi.

Cashflow

RALS selalu mencatatkan Operating Cashflow positif baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, walaupun secara trend pertumbuhannya melambat. CAGR Operating Cashflow jangka panjang berada di angka 8.32%, turun menjadi 3.12% untuk periode jangka pendeknya.

Perbandingan Free Cashflow juga sangat baik. Secara rata-rata, dalam jangka pendek, hampir sebesar 83.88% Operating Cashflow yang dihasilkan merupakan Free Cashflow.

Operating Cashflow vs Free Cashflow RALS 2009 – 2019

Analisa Kualitatif

Informasi Segmen

RALS mengevaluasi kinerja bisnisnya berdasarkan dua kategori segmen yaitu berdasarkan lokasi dan produk yang dijual.

Berdasarkan lokasi, RALS mengkategorikan bisnisnya menjadi 4 segmen yaitu Sumatera; Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara; Kalimantan; Sulawesi dan Papua. Sedangkan berdasarkan produk yang dijual, RALS memiliki dua segmen yaitu segmen Pakaian dan Aksesoris, serta segmen Barang Swalayan.

Kinerja Segmen Berdasarkan Lokasi

Dari segi lokasi, tentunya bisa ditebak bahwa daerah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara merupakan segmen penyumbang pendapatan terbanyak. Dalam 5 tahun terakhir, secara rata-rata segmen ini berkontribusi sebesar 64.44% dari total pendapatan. Segmen penyumbang pendapatan terbanyak kedua adalah Sumatera (19.12%). Sedangkan dua segmen terakhir menyumbang sisanya.

Secara umum, semua segmen mengalami pertumbuhan stagnan bahkan menurun.

Segmen Sumatera adalah segmen dengan kinerja terburuk. Dalam jangka panjang, segmen ini cenderung stagnan (CAGR -0.27%); sedangkan dalam jangka pendek malah menunjukkan penurunan kinerja (dengan CAGR -5.04%). Segmen Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menunjukkan kinerja yang lebih baik di mana dalam jangka panjang masih menunjukkan pertumbuhan walaupun dengan CAGR mini (sebesar 3.14%), namun dalam jangka pendek menunjukkan pertumbuhan yang stagnan (CAGR 0.35%).

Kalimantan dalam jangka panjang masih menunjukkan pertumbuhan (CAGR 2.59%), namun jangka pendek kinerjanya menurun (CAGR – 2.10%). Segmen yang masih menjanjikan pertumbuhan dengan angka yang cukup baik adalah Sulawesi dan Papua, di mana dalam jangka panjang CAGR segmen ini berada di angka 7.32%, walaupun dalam jangka pendek kinerjanya juga stagnan (CAGR 0.96%).

Kinerja Segmen Berdasarkan Produk yang Dijual

Berdasarkan produk yang dijual RALS memiliki dua segmen yaitu segmen Pakaian dan Aksesoris, serta segmen Barang Swalayan.

Segmen Pakaian dan Aksesoris dalam jangka panjang masih menunjukkan peningkatan dengan CAGR sebesar 5.87%, namun dalam jangka pendek pendapatan dari segmen ini cenderung melambat dengan nilai CAGR yang lebih kecil yaitu sebesar 3.37% saja. Pendapatan di segmen ini dibedakan menjadi dua sumber pendapatan yaitu dari penjualan barang beli putus dan dari komisi penjualan konsinyasi. Pendapatan dari penjualan barang beli putus menyumbang sebagian besar pendapatan di segmen ini rata-rata sebanyak 77.85% dalam lima tahun terakhir.

Kinerja yang kurang baik ditunjukkan oleh segmen Barang Swalayan. Pendapatan dari segmen ini cenderung menurun di mana dalam periode jangka panjangnya memiliki nilai CAGR sebesar -2.91%. Dalam jangka pendeknya, penurunan CAGR bahkan lebih parah dengan nilai CAGR sebesar -9.52%. Berbeda dengan segmen Pakaian dan Aksesoris di mana komisi penjualan konsinyasi mampu berkontribusi sebesar 22%, di segmen Barang Swalayan hampir 99% penjualan dihasilkan dari penjualan beli putus.

Bisa ditebak, secara agregat, Segmen Pakaian dan Aksesoris menjadi penyumbang pendapatan yang lebih baik ketimbang Barang Swalayan. Secara rata-rata, dalam lima tahun terakhir, segmen Pakaian dan Aksesoris menyumbang pendapatan sebesar 67.42%.

Agaknya manajemen harus bekerja ekstra untuk meningkatkan kinerja di segmen Barang Swalayan. Penurunan kinerja di segmen ini mungkin disebabkan oleh persepsi konsumen yang cenderung mengasosiasikan brand Ramayana dengan belanja pakaian ketimbang berbelanja barang kebutuhan sehari-hari (pasar swalayan).

Pendapatan Pakaian dan Aksesoris vs Barang Swalayan RALS
Pendapatan Pakaian dan Aksesoris vs Barang Swalayan RALS

Gerai

Sampai dengan akhir tahun 2020, RALS mengelola 106 gerai yang tersebar di 54 kota besar di seluruh Indonesia. Bisa ditebak bahwa hampir sebagian besar berada di wilayah Jawa dan Bali yang berjumlah 74 gerai. Sisanya paling banyak tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya termasuk Papua.

Sebaran gerai RALS. Sumber: AR RALS 2020.
Sebaran gerai RALS. Sumber: AR RALS 2020.

Dari sisi jumlah gerai yang dioperasikan, pertumbuhan RALS bisa dibilang stagnan. Jumlah gerai yang dioperasikan RALS setidaknya dari tahun 2010 cenderung naik-turun. Barangkali hal ini bisa menjadi indikasi sudah mature-nya bisnis RALS. Situasi pandemi ikut berpengaruh buruk bagi RALS, di mana di tahun 2020, RALS menutup 11 buah gerainya di tahun ini.

Jumlah Gerai RALS 2010 - 2020
Jumlah Gerai RALS 2010 – 2020

Transformasi

Perubahan perilaku masyarakat oleh teknologi informasi agaknya berpengaruh pada kinerja RALS. Dengan maraknya e-commerce dan semakin terbiasanya orang-orang berbelanja online, agaknya mempengaruhi kinerja RALS. Dengan menargetkan konsumen kalangan menengah ke bawah, RALS harus bersaing dengan penjual fashion UMKM yang membuka toko online di Tokopedia, atau Bukalapak. Mengakses fashion murah saat ini bisa dilakukan di kamar lewat HP.

Di lain pihak, untuk menyasar konsumen dengan kelas yang lebih di atasnya, RALS harus bersaing dengan brand-brand fashion hits dan kekinian seperti H&M, Uniqlo, dan lain-lain. Brand image dan positioning tentunya menjadi tantangan di sini. Agak sulit mengasosikan brand Ramayana dengan brand-brand hits dan kekinian tadi.

RALS sendiri menyadari hal ini. Salah satu usaha yang dilakukan misalnya dengan memperkenalkan konsep Ramayana Prime yang menyasar kelas menengah. Namun demikian agaknya proses transformasi bisnis RALS masih perlu waktu untuk menunjukkan kinerjanya.

Tantangan bisnis dalam 10 tahun terakhir dan perubahan gaya hidup karena meningkatnya kesejahteraan keluarga pelanggan telah mendorong manajemen melakukan transformasi di semua aspek bisnis sejak tahun 2016. Perusahaan telah memperluas segmen pelanggan ke kelompok B di beberapa gerai, dengan tetap mempertahankan base customer pada kelompok C dan D. Inovasi ini bernama City Plaza, sebuah konsep solusi belanja lengkap yang menyediakan tempat belanja, kuliner dan hiburan.

RALS, AR 2020

Dividen

RALS adalah salah satu emiten di BEI yang rajin membagikan dividen kapada pemegang sahamnya. Dividend yield yang diberikan pun cukup menarik, walaupun tidak bisa dibilang tinggi. Setidaknya untuk tahun 2020, dividend yield RALS berada di atas 6% – lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya karena harga saham RALS cukup tertekan karena pandemi.

Dividend Yield RALS. Sumber: stockbit.
Dividend Yield RALS. Sumber: stockbit.

Insider

RALS adalah salah satu emiten yang rajin melakukan buyback. Setidaknya RALS pernah melakukan buyback saham di tahun 2015, 2016, 2020, termasuk di tahun 2021. Untuk tahun 2021 sendiri, RALS menganggarkan dana maksimal sebesar IDR 350 miliar untuk membeli kembali saham perusahaan maksimal sebesar 5% dari modal disetor dan ditempatkan penuh pada perseroan.

Buyback secara umum bisa menjadi indikator yang baik dari keyakinan manajemen terhadap masa depan perusahaan. Di sisi lain, buyback sendiri bisa juga menjadi sinyal negatif dari growth perusahaan itu sendiri.

Ketika perusahaan memutuskan melakukan buyback sahamnya sendiri, bisa jadi saham perusahaan itu dihargai terlalu murah oleh pasar. Jadi untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham, ketimbang capek-capek ekspansi, tentunya lebih mudah membeli kembali saham di publik dengan harga murah. Sebaliknya, bisa jadi pula manajemen memutuskan menggunakan uang perusahaan untuk buyback sebab potensi untuk ekspansi sudah sangat terbatas.

Dalam kasus RALS, sinyal buyback harus diwaspadai sebab setidaknya untuk bisnis supermarket, kinerja RALS bisa dibilang buruk alih-alih harus melakukan ekspansi di segmen ini.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Untuk menghitung nilai intrinsik RALS, penulis menggunakan asumsi sebagai berikut:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 6.82%
  • BVPS = IDR 524.06
  • EPS = IDR 91.3
  • DPR = 50%
  • PER = 24.59
  • PBV = 4.81

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik RALS berada di rentang harga IDR 570 – IDR 1,355 (sudah dengan memperhitungankan Margin of Safety sebesar 25%). Dengan harga saat ini di angka IDR 755, bisa dikatakan RALS telah berada di rentang harga wajarnya.

PER

Ketika artikel ini ditulis, nilai PER RALS berada di angka -835.8X. Hal ini karena tahun 2020, RALS mencatatkan rugi bersih. Menggunakan chart dari stockbit, nilai PER RALS berada jauh di bawah standar deviasinya karena angkanya minus. Oleh karena itu, menggunakan PER sebagai ukuran murah tidaknya saham RALS saat ini, menurut penulis agak kurang tepat.

PER RALS 10 Tahun Terakhir. Sumber: stockbit.
PER RALS 10 Tahun Terakhir. Sumber: stockbit.

PBV

Nilai PBV RALS saat ini berada di angka 1.48X. Angka ini berada sedikit di area di bawah -1 standar deviasi 10 tahun terakhir, sehingga bisa dikatakan saat ini harga saham RALS cukup murah secara PBV.

PBV RALS 10 Tahun Terakhir. Sumber: stockbit.
PBV RALS 10 Tahun Terakhir. Sumber: stockbit.

Kesimpulan

Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari analisa di atas:

  1. Secara fundamental, RALS adalah perusahaan yang baik. Perusahaan cenderung melakukan aktivitas bisnis secara konservatif dan bertumbuh secara organik. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir, ekspansi dilakukan tanpa sumber pendanaan dari luar seperti utang bank, obligasi, dan lain-lain.
  2. Secara agregat, pertumbuhan pendapatan RALS cenderung stagnan. Dari segi lokasi, setidaknya dalam jangka pendek, hampir seluruh segmen menunjukkan pertumbuhan yang lambat atau stagnan, bahkan menurun (seperti di daerah Sumatera).
  3. Berdasarkan jenis barang yang dijual, segmen supermarket menunjukkan kinerja yang kurang baik, di mana pendapatan dari segmen ini cenderung menurun dari tahun ke tahun.
  4. Jumlah gerai RALS cenderung naik turun. Di tahun 2020, akibat pandemi, penutupan gerai dilakukan lebih banyak dari tahun sebelum-sebelumnya.
  5. Walaupun pertumbuhan pendapatan perusahaan cenderung stagnan, RALS memiliki kinerja yang baik dari segi laba. Laba bersih perusahaan konsisten mengalami pertumbuhan, bahkan dengan nilai CAGR jangka panjang yang cukup baik (di atas 12%).
  6. Efisiensi yang baik terlihat jelas dari tebalnya free cashflow yang dihasilkan perusahaan, di mana lebih dari 80% operating cashflow yang dihasilkan adalah free cashflow.
  7. Beberapa tahun terakhir, RALS berupaya melakukan transformasi bisnis di antaranya dengan menyasar konsumen kelas menengah kelas B (di samping kelas C dan D). Transformasi dilakukan dengan memperkenalkan konsep City Plaza yang menggabungkan pengalaman berbelanja konsumen dengan kuliner dan entertainment.

RALS adalah perusahaan yang baik. Manajemen yang cenderung konservatif dalam mengelola keuangan (alias tidak suka berutang), adalah salah satu karakteristik manajemen yang penulis sukai. Selain itu efisiensi yang baik juga menjadi keunggulan. Manajemen dapat membuktikan bahwa walupun growth perusahaan cenderung stagnan, namun laba tetap bisa bertumbuh dengan baik.

Meminjam istilah dari Om Peter Lynch, maka saat ini RALS masuk dalam kategori Slow Growers. Perusahaan dalam kategori ini cenderung sudah mature dan sulit melakukan ekspansi – sama seperti RALS yang rata-rata CAGR di banyak kategori cenderung berada di angka 0% – 5%, bahkan cenderung minus untuk kategori-kategori tertentu. Untuk para investor yang cenderung agresif, tentu RALS terlihat kurang menarik.

Sebagai emiten slow growers, menurut penulis RALS bisa jadi menawarkan peluang investasi dengan beberapa catatan:

  1. Pembelian dilakukan di harga yang lebih baik sehingga potensi dividend yield yang ditawarkan lebih tinggi.
  2. Transformasi bisnis yang dilakukan masih harus dibuktikan keberhasilannya. Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi manajemen. Pertama: turunnya pertumbuhan pendapatan setidaknya di segmen Supermarket; kedua: semakin kuatnya penetrasi e-commerce yang menyebabkan perubahan perilaku konsumen dari belanja offline ke online terutama untuk produk-produk fashion murah.

Sekian dan semoga bermanfaat.

Analisa Fundamental PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) awalnya didirikan dengan nama PT Tjahja Rimba Kentjana pada tahun 1970. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan jasa konstruksi swasta nasional terbesar di Indonesia yang berkonsentrasi di bidang konstruksi premium high-rise building.

Akibat pandemi, bisnis konstruksi di tanah air cenderung lesu, terutama di pembangunan di sektor swasta. TOTL sebagai salah satu pemain di bisnis ini tentu terkena imbasnya.

Logo PT Total Bangun Persada Tbk – di-download dari website perusahaan

Analisa Fundamental

Sama seperti analisa di artikel sebelumnya (analisa fundamental ICBP), penulis juga menggunakan rentang 2009 – 2019, di mana tahun 2020 tidak disertakan karena terjadi pandemi yang berakibat buruk bagi hampir semua sektor bisnis.

Balance Sheet

Secara umum, CAGR jangka panjang (10 tahun) lebih baik daripada CAGR jangka pendek (5 tahun). Artinya secara umum, growth TOTL melambat.

Total Aset tumbuh dengan CAGR sebesar 8.67% dari tahun 2009 – 2019. Rentang jangka pendek (2014 – 2019), akselerasi pertumbuhan (CAGR) TOTL menurun menjadi sebesar 3.59% saja. Sejak tahun 2018 sampai 2020, nilai aset TOTL bahkan mengalami trend menurun, dari sebesar IDR 3,243 miliar menjadi masing-masing sebesar IDR 3,229 miliar, IDR 2,963 miliar, dan IDR 2,889 miliar di 2020.

Pertumbuhan Total Ekuitas menunjukkan kinerja yang lebih baik, walaupun sama-sama mengalami perlambatan. CAGR jangka panjang adalah sebesar 8.15%, sedangkan CAGR jangka pendek menurun menjadi sebesar 6.15%. Dari rentang tahun 2018 – 2020, TOTL tetap mengalami kenaikan ekuitas walaupun trend pertumbuhan asetnya menurun (berkurang).

Dari segi Liabilitas, Total Liabilitas (jangka pendek dan jangka panjang), cenderung menurun. CAGR Liabilitas jangka panjang adalah sebesar 9%, sedangkan CAGR jangka pendek adalah sebesar 2.28%. Artinya, dalam 5 tahun belakangan tidak terjadi kenaikan tingkat liabilitas yang terlalu drastis.

Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas TOTL

Secara rata-rata Debt to Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity Ratio (DER) baik jangka panjang maupun jangka pendek mengalami sedikit peningkatan. Rata-rata DAR jangka panjang adalah sebesar 66.11%, dan dalam jangka pendek meningkat menjadi 67.51% (+1.4%). Sedangkan rata-rata DER sedikit meningkat, di mana rata-rata DER jangka pendek berada di angka 196.62%, naik menjadi sebesar 208.94% (+12.32%).

Sekilas memang terlihat bahwa rasio liabilitas TOTL cukup besar, namun hal ini normal untuk perusahaan konstruksi. Sebagai perbandingan, beberapa bisnins konstruksi gedung di bursa juga memiliki rasio DAR dan DER yang hampir sama. Tabel berikut ini penulis olah dari data yang diambil dari Laporan Keuangan perusahaan masing-masing tahun 2019.

Perbandingan DAR dan DER emiten lain selain TOTL (tahun 2019)

Jika dilihat dalam LK tahun 2020, walaupun terlihat besar, namun tidak ada utang yang berasal dari bank atau sumber-sumber pendanaan lain seperti penerbitan obligasi. Liabilitas jangka pendek, umumnya timbul dari liabilitas-liabilitas yang bersifat operasional seperti liabilitas kontrak, utang kepada supplier dan sub-kontraktor.

Income Statement

CAGR Total Pendapatan menunjukkan angka yang sama, hampir sama baiknya antara jangka panjang maupun jangka pendek. CAGR Pendapatan dalam jangka panjang adalah sebesar 3.64%, sedangkan dalam jangka pendek adalah sebesar 3.28%. Alias pertumbuhannya cenderung stagnan.

Dari segi laba bersih, trend CAGR mengalami penurunan yang cukup tajam. CAGR jangka panjang Laba Bersih berada di angka 12.97%, sedangkan CAGR jangka pendek berada di angka 1.42%. Artinya, dalam jangka pendek Laba Bersih TOTL cenderung tidak ke mana-mana, walaupun dalam jangka panjang mengalami pertumbuhan yang baik.

Pendapatan and Laba Bersih TOTL 2009 – 2019

Dari segi rasio, Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM), dan Net Profit Margin (NPM), cenderung menunjukkan angka rata-rata yang baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Rata-rata GPM jangka panjang adalah sebesar 15.90% berbanding 15.65% dalam jangka pendek. Rata-rata OPM jangka panjang adalah sebesar 11.25%, berbanding 11.16% dalam jangka pendek. Sedangkan rata-rata, NPM jangka panjang adalah sebesar 7.99% berbanding 8.15% dalam jangka pendek.

Jika pendapatan sama, dan profit margin rata-rata juga sama, lalu kenapa CAGR net profit cenderung menurun? Rupanya hal ini disebabkan oleh rendahnya NPM pada tahun 2009 (awal periode analisa). Di tahun 2009, nilai NPM hanya sebesar 3.0%. Dengan nilai NPM sebesar 7.51% (alias naik dua kali lipat dalam 10 tahun), hal ini tentunya merupakan sebuah prestasi, di mana manajemen berhasil meningkatkan (dan menjaga) efisiensi proses bisnis sehingga nilai NPM menjadi naik.

Bisnis Siklikal

Dengan menganalisa naik turunnya pendapatan dan laba, maka kita dapat mengamati pengaruh siklus industri jasa konstruksi terutama konstruksi high-rise building terhadap TOTL.

Pertumbuhan Pendapatan dan Laba TOTL

Jika kita lihat, pendapatan dan laba TOTL mengalami penurunan di tahun 2014, 2018, dan 2019.

Menurut analisa awam penulis, kemungkinan hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu situasi makro enonomi, dan pemilu.

Di tahun 2013, terjadi kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah dari sejak pertengahan 2013 sampai awal 2014. Hal yang sama juga terjadi di 2018, di mana nilai tukar rupiah terhadap USD mencapai angka lebih dari IDR 15,000 di kisaran bulan Oktober 2018. Sedangkan di tahun 2019, sentimen perang dagang US dan China mewarnai berita-berita bisnis dan ekonomi sepanjang tahun.

Entah kebetulan atau tidak, negara kita melakukan hajatan pemilu justru di dekat-dekat tahun tersebut yaitu di 2014 dan 2019. Biasanya menjelang pemilu, para pelaku usaha (terutama swasta) cenderung memilih wait and see dan menunggu siapa yang menang sebelum melakukan ekspansi bisnis. Mungkin…

Kedua hal di atas agaknya mempengaruhi kinerja TOTL di mana pendapatan dan laba TOTL cenderung menurun di tahun-tahun tersebut.

Cashflow

Secara umum TOTL selalu mencatatkan Operating Cashflow positif. Bagusnya lagi, rasio Free Cashflow pun cukup besar, di mana rata-rata dalam 10 tahun terakhir, rata-rata rasio Free Cashflow dari Operating Cashflow adalah sebesar 88.01%. Pun untuk jangka pendek rasionya masih sangat baik, di mana rata-ratanya berada di angka 79.02%.

Sedangkan untuk kas untuk pembayaran bunga bank nyaris tidak ada. Pembayaran bunga yang cukup signifikan terjadi di tahun 2013 saja.

Operating Cashflow vs Free Cashflow TOTL 2009 - 2019
Operating Cashflow vs Free Cashflow TOTL 2009 – 2019

Analisa Kualitatif

Informasi Segmen

TOTL membagi usahanya ke dalam dua segmen, yaitu segmen Konstruksi dan segmen Sewa dan Lain-lain. Secara pendapatan, segmen Sewa dan Lain-lain tidak memberikan kontribusi yang signifikan di mana pendapatan dari segmen ini hanya berkontribusi sebesar 0.77% saja. Jadi bisa dibilang TOTL hampir 100% adalah perusahaan jasa konstruksi.

Dari segi jenis pelanggan, dari tahun 2016 pelanggan TOTL hampir 100% berasal dari swasta. Sekretaris Perusahaan dalam sebuah artikel di Kontan mengatakan bahwa memang merupakan kebijakan manajemen untuk tidak menangani proyek pemerintah.

Dari video TOTL Stock Meet yang diposting di channel Youtube Glimpse Stock, ketika ditanyai akan hal ini, Ibu Janti Komadjaja (CEO) mengatakan (dengan sedikit ngeles mungkin ya), “kalau mulai mengutamakan quality, baru kita masuk lagi deh”. Untuk pembaca yang mengerti seluk beluk dunia konstruksi apalagi di pemerintahan mungkin paham maksudnya 🙂

TOTL Stock Meet dari Youtube Channel Glimpse Stock

Quality, Safety, Prudent, Prudent, Prudent

Masih di video yang sama, setidaknya ada tiga keywords yang nyaris diulang di banyak kesempatan oleh sang CEO. Dua keywords pertama adalah quality and safety – yang merupakan nilai-nilai perusahaan yang diwariskan oleh para founders perusahaan. Berikutnya adalah kata prudent yang diulang berkali-kali oleh sang CEO ketika ditanyai mengenai kemungkinan ekspansi, alternatif revenue baru, atau bikin anak perusahaan baru.

Keywords ini menurut penulis justru menjadi karakteristik TOTL.

Quality dan safety, menjadi penentu diferensiasi TOTL dibanding perusahaan-perusahaan sejenis. Fokus TOTL pada quality dan safety, mau tidak mau memaksa perusahaan untuk menjadi penyedia jasa premium. TOTL tidak hanya fokus membangun sumber daya internal saja, tapi juga menjaga rantai pasokan (supplier – sub kontraktors).

Kesuksesan TOTL membangun diferensiasi tercermin dari banyaknya pekerjaan yang justru didapatkan dari pelanggan lama. Setidaknya dari 2015, pendapatan usaha yang didapat dari pelanggan lama selalu berada di atas 60%.

Penekanan prinsip kehati-hatian juga sangat tercermin dari langkah-langkah bisnis TOTL. Selain menyeleksi calon supplier, TOTL juga menyeleksi calon konsumennya. Ya betul, calon konsumennya pun diseleksi oleh tim marketing TOTL sebelum mereka maju dan ikut tender, dengan tujuan untuk memastikan bahwa si calon konsumen ini didukung oleh kondisi finansial yang baik – alias mampu bayar lah.

Prinsip prudent ini tentunya sangat penting untuk bisnis capital intensive seperti yang dilakukan TOTL. Bukan tidak sering proyek-proyek konstruksi mangkrak di tengah jalan karena berbagai hal. Tagihan proyek yang macet, tentunya akan sangat berpengaruh pada likuiditas dan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Hal ini tidak terlihat di fundamental TOTL. TOTL tidak terlalu bergantung pada sumber pendanaan eksternal dalam jangka panjang (seperti bank), menjadi salah satu indikasi sehatnya likuiditas.

Kinerja Segmen

Karena segmen konstruksi merupakan segmen penyumbang hampir seluruh pendapatan TOTL, maka kinerja segmen ini secara langsung adalah kinerja perusahaan.

Dari segi raihan kontrak, kinerja TOTL bisa dibilang naik turun. Hal ini bisa dimaklumi sebab industri jasa konstruksi adalah industri siklikal yang sangat tergantung pada kondisi perekonomian. Raihan kontrak TOTL sempat naik bahkan menyentuh angka di atas IDR 6 triliun di tahun 2014, sebelum akhirnya turun naik sampai tahun 2017. Sejak tahun 2018 sampai tahun 2020, raihan kontrak baru selalu menunjukkan trend menurun.

Nilai Kontrak Baru TOTL 2008 – 2020

Pesaing

Sifat usaha jasa konstruksi berskala besar yang umumnya adalah bisnis B2B membuat informasi mengenai pesaing TOTL agak sulit diketahui. Setidaknya untuk di bursa, emiten-emiten lain yang memiliki usaha sejenis mungkin adalah PT Acset Indonusa Tbk (ACST) – anak usaha grup Astra, dan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE). Namun strategi fokus TOTL pada pembangunan high-rise building premium hanya untuk sektor swasta, tidak secara langsung menjadikan dua emiten tersebut sebagai direct competitor.

Dari daftar nama pelanggan TOTL, strategi perusahaan untuk mendiferensiasi bisnisnya bisa dibilang cukup berhasil. Nama-nama grup besar seperti Trans Corp, Indofood, Astra, Lippo, dan lain-lain, pernah tercantum di LK perusahaan sebagai costumer mereka.

Dividen

TOTL termasuk emiten yang rajin membagikan dividen. Tercatat dari tahun 2009, perusahaan tidak pernah putus setiap tahunnya untuk membagi dividen. Yield-nya pun cukup besar. Di tahun 2018 sampai 2020, dividend yield TOTL konsisten berada di atas 5%, bahkan mencapai angka di atas 10%.

Dividend Yield TOTL diambil dari stockbit

Insider Buying

Djadjang Tanuwidjaja adalah satu satu pendiri perusahaan dan sempat menjadi komisaris perusahaan sampai tahun 2010. Dalam AR TOTL tahun 2020, tercatat Pak Djajang memiliki saham sebanyak 8.80% perusahaan.

Yang menarik, Pak Djajang tetap konsisten mengakumulasi saham TOTL. Data insider Stockbit menunjukkan Pak Djajang terus melakukan pembelian saham TOTL, setidaknya dari tahun 2017.

Akumulasi Saham Pak Djajang – diambil dari Stockbit

Sebagai pendiri dan mantan komisaris tentunya beliau memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai seluk beluk perusahaan. Keyakinan beliau terhadap prospek masa depan perusahaan yang tercermin dari konsistensi mengakumulasi saham perusahaan.

Insider buying is a positive sign, especially when several individuals are buying at once.

Peter Lynch, One Up on Wallstreet

Valuasi

Nilai Intrinsik

Penulis menggunakan asumsi-asumsi berikut untuk melakukan perhitungan nilai intrinsik.

  1. Risk Premium = 6.33%
  2. CAGR EPS 10 tahun = 12.97%
  3. BVPS = IDR 334.84
  4. EPS = IDR 31.93
  5. DPR = 61%
  6. PER = 12.59
  7. PBV = 2.81

Dengan asumsi di atas, penulis mendapati rentang harga wajar dengan margin of safety sebesar 25% berada di angka IDR 276 – IDR 676. Dengan harga ketika artikel ini ditulis (di harga IDR 320), maka harga saat ini telah berada dalam rentang tersebut.

Untuk cara menghitungnya, silakan dibaca di sini.

Disclaimer: TOTL adalah perusahaan yang bergerak di industri siklikal, jadi perhitungan dengan cara seperti ini mungkin kurang tepat, sebab pendapatan / laba bersifat naik turun tergantung kondisi usahanya. Selain itu, penulis menggunakan data historis, bukan forward looking.

PER

Jika dilihat dari nilai PER saat ini, TOTL berada di bahwa rata-rata PE 10 tahun terakhir, walaupun tidak bisa dikatakan murah-murah banget, karena belum berada di bawah -1 standar deviasinya.

PER TOTL 10 tahun terakhir diambil dari Stockbit

PBV

Ketika artikel ini ditulis, PBV TOTL berada di angka 0.94x. Angka ini berada di bawah -1 standar deviasinya dalam 10 tahun terakhir. Jadi bisa dikatakan sudah mulai murah.

PBV TOTL 10 tahun terakhir

Kesimpulan

Dari analisa di atas, bisa diambil beberapa kesimpulan:

  1. TOTL secara keuangan memiliki fundamental perusahaan yang baik. Ekuitas TOTL secara stabil menunjukkan trend yang meningkat.
  2. Dari segi pendapatan dan profit, secara jangka panjang TOTL menunjukkan trend pertumbuhan yang baik. Namun dalam jangka pendek, setidaknya dalam tiga tahun terakhir menunjukkan trend menurun. Hal ini bisa dipahami sebagai akibat dari karakteristik bisnis jasa konstruksi yang naik turun mengikuti pertumbuhan ekonomi yang dalam tiga tahun terakhir relatif lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnnya.
  3. Secara cashflow, TOTL secara konsisten mampu menghasilkan operating cashflow yang positif dengan rasio free cashflow yang besar.
  4. TOTL menerapkan prinsip kehati-hatian dalam berbisnis. Kinerja keuangan dan fundamental perusahaan yang baik, tentunya menjadi indikasi kesuksesan manajemen menerapkan prinsip ini. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bisnis capital intensive, karakteristik ini menjadi kekuatan bagi TOTL untuk senantiasa menempatkan perusahaan dalam posisi keuangan yang aman.
  5. TOTL mengutamakan quality dan safety sebagai value utama bagi konsumennya. Selain itu, fokus perusahaan untuk menggarap proyek-proyek premium high-rise building juga menjadi kekuatan diferensiasi sehingga TOTL memiliki positioning yang unik di bisnis ini. Kuatnya permintaan dari costumer existing adalah salah satu indikasi yang kuat keberhasilan strategi fokus dan diferensiasi bisnis TOTL.
  6. Saat ini TOTL sudah berada di rentang harga wajarnya jika dihitung dengan menggunakan data-data historis.

Jadi, menarikkah TOTL untuk dikoleksi ke dalam portfolio?

Secara umum, TOTL adalah salah satu perusahaan jasa konstruksi swasta nasional dengan strategi bisnis yang jelas dan memiliki positioning yang kuat. Fundamental yang baik dan prinsip kehati-hatian menjadi fondasi perusahaan untuk tetap bertumbuh di masa depan.

Untuk Anda yang menyukai perusahaan-perusahaan yang agresif dan cenderung ekspansif, TOTL mungkin adalah perusahaan yang membosankan. Prinsip prudent yang dilakukan manajemen, menyebabkan strategi bisnis TOTL cenderung konservatif dan memilih bertumbuh secara organik.

Valuasi saat ini bisa dipertimbangkan untuk mulai mengoleksi saham TOTL. Pasca krisis karena pandemi, tentunya kita bisa berharap bahwa usaha jasa konstruksi mampu bangkit dan bertumbuh. Penulis yakin di saat itu, perusahaan-perusahaan berfundamental baik seperti TOTL akan menjadi pemain utama yang secara otomatis akan menggenjot kinerja mereka.

Demikian semoga bermanfaat!

Analisa Fundamental Indofood CBP (ICBP)

Siapa yang tak kenal dengan Indomie?

Ya! Agaknya hampir semua orang Indonesia tau merek ini – terutama mungkin produk Indomie Goreng atau Indomie rasa Soto Ayam.

Indomie – terutama di Indonesia, diproduksi oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). ICBP sendiri adalah anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang dikendalikan oleh Salim Group. Salim Group sendiri adalah group konglomerat Indonesia yang memiliki berbagai bisnis di seluruh tanah air.

Logo Indomie
Logo Indomie

Indomie, ternyata tidak hanya laku di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Selain kawasan Asia Tenggara, termasuk di Australia, Indomie juga dijual di negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Eropa bagian Tenggara. Belakangan, ICBP melakukan aksi korporasi dengan melakukan akuisisi Pinehill Company Limited yang bertujuan untuk memperluas target market perusahaan.

Analisa Fundamental

Analisa fundamental yang penulis lakukan menggunakan data laporan keuangan ICBP dari periode 2010 sampai dengan 2019. Daripada menggunakan data 10 tahun terakhir, penulis hanya menggunakan data 9 tahun terakhir.

Sebagai starting point, penulis menggunakan data tahun 2010 sebab di tahun ini ICBP mengalami kenaikan ekuitas karena IPO.

Sedangkan untuk end point, penulis menggunakan tahun 2019 daripada 2020. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, tahun 2020 adalah tahun pandemi di mana banyak industri mengalami penurunan kinerja yang drastis (atau kenaikan yang drastis untuk beberapa industri yang diuntungkan). Alasan kedua adalah pada tahun ini ICBP melakukan aksi korporasi berupa akuisisi Pinehill Company Limited (PLC) yang menyebabkan lonjakan aset, ekuitas, dan liabilitas di LK tahun 2020.

Jadi jika penulis menyebut 9 tahun terakhir atau 5 tahun terakhir, maka itu artinya 9 tahun atau 5 tahun terakhir sampai dengan 2019. Hal ini juga berlaku untuk analisa kinerja segmen dan perhitungan nilai intrinsik yang menggunakan data historis sampai dengan tahun 2019.

Balance Sheet

Dari segi Aset, ICBP mengalami kenaikan nilai aset dalam 9 tahun terakhir dengan CAGR sebesar 12.55%. Angka ini adalah angka yang cukup baik. Dalam periode yang lebih pendek yaitu 5 tahun, angka CAGR ini sedikit menurun menjadi 9.22%.

Dari segi Ekuitas, CAGR periode 9 tahun dan 5 tahun berada di angka yang hampir sama. CAGR 9 tahun berada di angka 12.34%, sedangkan CAGR 5 tahun berada di angka 12.14%.

Liabilitas menunjukkan kinerja yang baik, sebab CAGR Liabilitas 5 tahun terakhir lebih rendah daripada CAGR 9 tahun terakhir, yaitu 4.05% berbanding 13.03%. Artinya bahwa dalam jangka pendek Liabilitas ICBP tumbuh melambat.

Total Aset, Total Ekuitas and Total Liabilitas ICBP 2010 – 2019

Debt to Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity Ratio (DER) secara rata-rata berada di angka yang sama baik dalam jangka panjang maupun pendek. DAR 9 tahun berada di angka rata-rata 34.43%, sedangkan DAR 5 tahun berada di angka 35.01%. Untuk DER, rata-rata 9 tahun berada di angka 52.93%, berbanding 54.07% dalam jangka waktu 5 tahun.

Rasio DER berada di atas 50% secara sekilas mungkin terlihat tinggi. Namun jika ditelaah lagi, secara rata-rata dalam 5 tahun terakhir, utang jangka pendek relatif lebih banyak daripada utang jangka panjang. Utang jangka pendek secara rata-rata berkontribusi sebesar 59.63% dari total utang.

Untuk utang jangka panjang sendiri, walaupun sebagian besarnya adalah utang bank, namun rata-rata adalah utang tanpa jaminan. Hal ini tentunya menjadi indikator yang baik sebab kepercayaan bank pada perusahaan cukup tinggi.

Kas secara rata-rata berada di level yang aman baik jangka panjang maupun jangka pendek. Rata-rata perbandingan Kas / Aset dalam 9 tahun terakhir berada di angka 26.19%, sedangkan dalam 5 tahun terakhir berada di angka rata-rata 24.19%.

Kinerja Balance Sheet ICBP 2010 – 2019

Income Statement

Dari segi Pendapatan, ICBP mencatatkan sedikit penurunan CAGR antara periode 9 tahun terakhir dengan 5 tahun terakhir. Angka CAGR Pendapatan 9 tahun terakhir berada di angka 9.99%, sedangkan CAGR 5 tahun terakhir berada di angka 7.10%. Namun demikian, tingkat pertumbuhan laba bersih meningkat tipis, dari angka 12.80% untuk CAGR 9 tahun, menjadi sebesar 14.11%.

Dari segi profitabilitas, rasio Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM), dan Net Profit Margin (NPM), secara umum mengalami sedikit peningkatan.

Rata-rata rasio GPM 9 tahun terakhir berada di angka 29.34% mengalami sedikit peningkatan untuk periode 5 tahun terakhir di angka 31.77%. Rasio OPM juga naik tipis dari angka rata-rata periode 9 tahun sebesar 29.34%, menjadi sebesar 31.77% untuk rata-rata 5 tahun terakhir. Sayangnya rasio NPM hanya naik tipis yaitu dari rata-rata 9 tahun sebesar 10.25% menjadi 10.88%.

Walaupun angka CAGR Pendapatan dalam jangka pendek cenderung turun, namun naiknya angka pertumbuhan laba bersih bisa menjadi salah satu indikator efisiensi dalam tubuh perusahaan. Selain itu, angka NPM rata-rata di atas 10% juga termasuk angka margin yang baik.

Pertumbuhan Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha, dan Laba Bersih ICBP 2010 - 2019
Pertumbuhan Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha, dan Laba Bersih ICBP 2010 – 2019
Analisa Income Statement ICBP 2010 – 2019

Cashflow

Operating Cashflow menunjukkan penurunan CAGR yang sangat tipis, di mana CAGR 9 tahun berada di angka 14.15%, sedangkan CAGR 5 tahun berada di angka 13.89%. CAGR Free Cashflow menunjukkan peningkatan CAGR, yaitu dari angka 12.26% untuk periode 9 tahun, menjadi sebesar 17.10% untuk periode 5 tahun.

Secara rata-rata, Free Cashflow yang dihasilkan cukup besar. Rata-rata rasio Free Cashflow terhadap Operating Cashflow berada di atas 60% baik periode 9 tahun (di angka 62.32%) maupun 5 tahun (di angka 63.79%). Angka di atas 60% ini bisa dikatakan sangat baik. Artinya, setiap IDR 100 rupiah uang kas yang dihasilkan dari operasional, sebanyak IDR 60 bisa digunakan untuk keperluan lain seperti ekspansi, investasi, atau diberikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen.

Untuk Beban Keuangan bisa dikatakan cukup rendah, di mana rasio Beban Keuangan berbanding Operating Cashflow adalah sebesar 3.78% untuk periode 5 tahun terakhir.

Operating Cashflow vs Free Cashflow ICBP 2010 - 2020
Operating Cashflow vs Free Cashflow ICBP 2010 – 2020

Analisa Kualitatif

Informasi Segmen

ICBP memiliki enam divisi yaitu Mi Instan, Dairy, Makanan Ringan, Penyedap Makanan, Nutrisi & Makanan Khusus, dan Minuman.

Divisi Mi Instan

Divisi Mi Instan ICBP diklaim sebagai salah satu produsen mi instan terbesar di dunia. Divisi ini membawahi merek flagship Indomie yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di luar negeri.

Divisi Mi Instan ICBP merupakan salah satu produsen mi instan terbesar di dunia. Melalui akuisisi PCL di bulan Agustus 2020, Divisi ini kini mengoperasikan 30 pabrik mi instan di Indonesia, Malaysia, Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara, dengan total kapasitas produksi sekitar 29 miliar bungkus setiap tahunnya.

Mi instan kami dikenal luas di seluruh dunia karena kualitas dan cita rasanya yang tinggi. Kami memiliki portofolio merek yang beragam dan dikenal baik oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh segmen. Kami merupakan pemimpin pasar di Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Turki, Nigeria, dan Uni Emirat Arab.

ICBP, AR 2020

Selain Indomie, divisi ini juga membawahi beberapa merek lainnya seperti Supermi (merek mi instan pertama di Indonesia), Sarimi, Sakura (untuk kategori bag noddles), Pop Mie (kategori cup noodles), serta Mie Telur Cap 3 Ayam. Kesemuanya adalah produk-produk dengan brand awareness yang kuat.

Di tahun 2020, ICBP mengakuisisi Pinehill Company Limited (PLC). Akusisi ini diklaim perusahaan dapat meningkatkan penjualan di pasar luar negeri terutama untuk produk Indomie, di mana PLC memiliki akses ke pasar-pasar Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Tenggara.

PCL berhasil membangun posisi merek yang kuat dengan basis konsumen yang luas mencapai 550 juta penduduk di delapan pasar utama yang tumbuh pesat, dan memiliki akses ke negara-negara sekitarnya dengan jumlah penduduk mencapai 335 juta sehingga PCL memiliki total basis konsumen lebih dari 3 kali lipat Indonesia.

ICBP. AR 2020

Akusisi PCL akan penulis bahas lebih panjang di bagian lain dalam tulisan ini.

Divisi Dairy

Divisi Dairy memproduksi berbagai varian produk susu dan olahannya seperti susu UHT, susu steril dalam botol, SCC, evaporated milk, susu pasteurisasi, susu multi-cereal, minuman mengandung susu, susu bubuk, es krim dan mentega. Dua buah merek dengan brand awareness yang tinggi di antaranya adalah Indomilk, Cap Enaak, dan Milkuat.

Divisi ini dikelola oleh PT Indolakto yang merupakan anak perusahaan ICBP dengan kepemilikan saham sebesar 68.8%.

Divisi Makanan Ringan

Merek andalan di divisi ini adalah Chitato dan Qtela. Merek-merek lainnya seperti Chiki, Jetz, Lay’s, Doritos,dan Cheetos. Tiga merek yang disebutkan terakhir dimiliki oleh PepsiCo yang dilisensikan kepada anak perusahaan ICBP yaitu PT Indofood Fritolay Makmur (IFL) melalui Fritolay Netherland Hld BV (Fritolay).

Pada bulan Februari 2021, perusahaan mengumumkan akan membeli seluruh kepemilikan saham Fritolay di IFL. Sebagai bagian dari transaksi ini, Fritolay, PepsiCo, dan perusahaan afiliasi lainnya dilarang untuk memasarkan produk-produk yang dapat bersaing dengan IFL. Pada bulan Agustus 2021, produk-produk seperti Lay’s, Doritos, dan Cheetos tidak dapat lagi dipasarkan di Indonesia.

Beberapa analis berpendapat bahwa dihentikannya penjualan merek-merek tersebut tidak akan berpengaruh secara signifikan pada pendapatan ICBP.

Divisi Penyedap Makanan

Divisi ini memproduksi produk-produk kuliner seperti recipe mixes, kecap manis, saus sambal, saus tomat dan stock soup dengan menggunakan merek Indofood dan Indofood Racik, serta produk sirup dengan merek Indofood Freiss.

Secara pribadi penulis cukup familiar dengan kecap dan saos Indofood. Sedangkan untuk tipe produk lainnya, penulis masih cukup awam. Bahkan penulis baru tahu ternyata Indofood juga punya produk sirup.

Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus

Divisi ini memproduksi produk-produk bubur bayi, makanan ringan seperti rice puffs, crunchies, biskuit dan puding serta sup mi untuk bayi dan balita berusia antara 6-24 bulan; cereal snack untuk anak-anak berusia 6-12 tahun: susu bagi ibu hamil dan menyusui, serta cereal powdered drinks. Merek yang dinaungi divisi ini adalah Promina dan SUN.

Divisi Minuman

Divisi ini dikelola oleh anak perusahaan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM). Produk-produk yang diproduksi di antaranya minuman teh siap minum, AMDK dan minuman rasa buah dengan merek Ichi Ocha, Club dan Fruitamin.

Kinerja

ICBP membagi segmen bisnisnya menjadi enam segmen dengan memasukkan Divisi Minuman sejak Laporan Keuangan tahun 2013. Dalam rentang waktu ini, Divisi Mi Instan adalah penyumbang pendapatan terbesar dengan kontribusi rata-rata sebesar 64.33%. Posisi kedua ditempati oleh Divisi Dairy dengan kontribusi rata-rata 18.46%. Posisi berikutnya secara berurutan ditempati oleh Divisi Makanan Ringan (6.48%), Divisi Minuman (4.44%), Divisi Penyedap Makanan (4.27%), dan Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus (2.02%).

Pendapatan Neto Per Segmen ICBP 2013 - 2020
Pendapatan Neto Per Segmen ICBP 2013 – 2020

Berdasarkan margin usaha, Divisi Mi Instan memiliki margin tertinggi. Rata-rata margin usaha 9 tahun terakhir adalah sebesar 17.51%. Angka ini sedikit meningkat menjadi sebesar 19.56% untuk rata-rata 5 tahun terakhir. Posisi kedua ditempati oleh Divisi Dairy dengan rata-rata margin 9 tahun sebesar 10.09% dan rata-rata margin 5 tahun sebesar 12.33% (juga menunjukkan peningkatan). Divisi Penyedap Makanan berada di tempat ketiga, dengan margin rata-rata 9 tahun terakhir sebesar 7.18% %, dan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 8.05%.

Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus walaupun memiliki margin yang positif namun hanya berada di rata-rata 3.91% dalam 5 tahun terakhir. Kinerja yang lebih buruk dialami oleh Divisi Makanan Ringan dan Divisi Minuman. Divisi Makanan Ringan mencatatkan rata-rata margin sebesar 0.3% dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan Divisi Minuman bahkan mencatatkan margin rata-rata negatif sebesar -13.03% (alias rugi) dalam 5 tahun terakhir.

Dari segi pertumbuhan pendapatan, Divisi Penyedap Makanan justru memiliki pertumbuhan yang paling baik. CAGR pendapatan divisi ini dalam 9 tahun terakhir berada di angka 12.96%, sedangkan CAGR 5 tahun terakhir meningkat menjadi 15.49%. Trend angka CAGR meningkat juga ditunjukkan oleh Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus, di mana angka CAGR pendapatan 9 tahun terakhir sebesar 7.64%, sedikit meningkat menjadi sebesar 11.16% dalam 5 tahun terakhir.

Sebaliknya, Divisi Mi Instan dan Divisi Dairy memiliki CAGR dengan trend sedikit menurun. Divisi Mi Instan, walaupun mencatatkan margin paling besar, menunjukkan penurunan CAGR yaitu dari angka 9.11% untuk periode 9 tahun, turun menjadi 6.83% untuk periode 5 tahun. Divisi Dairy menunjukkan trend penurunan yang sedikit lebih baik di mana untuk dua periode yang sama, CAGR divisi ini turun dari angka 9.73% menjadi 8.93%.

Kinerja Antar Segmen ICBP 2010 - 2020
Kinerja Antar Segmen ICBP 2010 – 2020

Jadi secara umum:

  1. Divisi Mi Instan merupakan divisi penyumbang pendapatan tertinggi dengan rata-rata margin tertinggi pula. Namun rata-rata pertumbuhannya dalam 5 tahun terakhir lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya.
  2. Divisi Dairy menempati posisi kedua sebagai penyumbang pendapatan tertinggi, juga dengan margin usaha menempati urutan kedua setelah Mi Instan. Divisi ini juga memiliki trend rata-rata pertumbuhan menurun.
  3. Kinerja Divisi Penyedap Makanan terlihat cukup menjanjikan di masa depan. Divisi ini memiliki trend pertumbuhan pendapatan yang cukup tinggi dan bertumbuh, dengan margin yang baik.
  4. Tiga divisi lainnya memiliki kinerja yang biasa-biasa saja. Divisi Minuman bahkan memerlukan perhatian khusus karena secara rata-rata mencatatkan kerugian dalam 5 tahun terakhir.

Pemasaran

Secara umum, kekuatan merek-merek ICBP cukup baik terutama jika dikaitkan dengan customer awareness di Indonesia. Merek-merek seperti Indomie, Sarimi, Supermi, Pop Mie, Chitato, Qtela, Biskuat, dan Promina, semuanya memiliki kekuatan merek yang baik.

Khusus merek Indomie, kita tahu bahwa produk ini telah dipasarkan tidak hanya di Indonesia, tapi di berbagai negara di seluruh dunia. Menurut Wikipedia, produk Indomie telah dieskpor ke lebih dari 90 negara di dunia. Arab Saudi, Nigeria, Mesir, Australia, dan Malaysia merupakan lima negara penyumbang Pendapatan Neto tertinggi ICBP menurut LK tahun 2019. Penulis meyakini bahwa sebagian besarnya dihasilkan oleh Indomie.

Selain dari segi banyaknya jumlah negara yang menjadi tujuan ekspor, kekuatan merek Indomie juga tercermin dari posisinya sebagai pemimpin pasar di beberapa negara. Di Nigeria, Indomie adalah merek mi instan dengan market share terbesar. Begitu pula di Arab Saudi, di mana Indomie diklaim menguasai 95% pasar mi instan tahun 2018. Di Australia sendiri, selain menjadi makanan favorit para tahanan, secara pribadi penulis mengalami sendiri bagaimana mudahnya menemukan produk Indomie di toko kelontong 24 jam seperti 7-Eleven, Coles, dan lain-lain.

Jika kita ketik Indomie di Youtube, akan bermunculan banyaknya video dari para youtuber dari berbagai negara mencicipi Indomie dengan berbagai cara. Hal ini menunjukkan kuatnya penetrasi merek Indomie di berbagai channel termasuk media sosial.

Pesaing

Penulis hanya akan membahas pesaing-pesaing di divisi Mi Instan dan Dairy, sebab kedua divisi ini adalah dua divisi penyumbang pendapatan terbesar bagi perusahaan.

Untuk produk mi instan, Indomie masih merupakan pemimpin pasar. Selain itu, perusahaan menguasai merek Sarimi dan Supermi yang juga cukup populer di pasar dalam negeri. Jadi posisi Indomie di pasar dalam negeri masih sangat kokoh. Namun demikian, setidaknya ada dua merek yang saat ini sedang gencar merebut pangsa pasar Mi Instan. Yang pertama adalah Mie Sedaap dari Wings Food. Yang kedua Mi Lemonilo.

Untuk Mie Sedaap, banyak artikel yang sudah membahas kesuksesan produk ini menantang Indomie sebagai penguasa pasar. Swa pernah mengangkat hal ini dengan pembahasan yang cukup lengkap. Walaupun belum berhasil menggantikan Indomie sebagai raja mi instan dalam negeri, namun Mie Sedaap sukses menggerogoti pangsa pasar Indomie.

Sedangkan untuk Lemonilo, menurut penulis berhasil menawarkan diferensiasi dari dua merek tadi, yaitu produk mi sehat. Memang masih terlalu dini untuk bisa menilai apakah produk mi dari Lemonilo akan cukup kuat untuk menantang para pemimpin pasar saat ini. Walaupun sukses memberikan diferensiasi, target market Lemonilo masih bisa dibilang kecil untuk kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih memilih murah ketimbang sehat. Namun demikian, ICBP harusnya melakukan sesuatu untuk tidak memberi kesempatan Lemonilo menggaet konsumen mereka.

Bagaimana dengan Divisi Dairy?

Pesaing terdekat tentunya Ultrajaya dengan merek Ultramilk yang merupakan direct competitor Indomilk untuk susu UHT dalam kemasan. Jika ICBP melakukan diversifikasi lebar di mana satu merek memiliki berbagai lini produk, Ultrajaya justru memilih strategi fokus pada bisnis susu (dan minuman) UHT saja. Penulis pernah membahas Ultrajaya di artikel lain.

Selain Ultrajaya, pesaing lain mungkin beberapa merek susu seperti Susu Bendera dari Frisian Flag. Kemudian ada juga Dancow dan Susu Cap Nona dari Nestle.

Dividen

ICBP termasuk emiten yang rajin membagikan dividen. Setiap tahunnya, perusahaan selalu membagikan dividen, bahkan dua kali dalam setahun di tahun 2018. Hanya saja dividend yield yang diberikan termasuk kecil di mana rata-rata berada di bawah 3%. Jadi mungkin kurang cocok bagi tipe investor pemburu dividen.

Akuisisi Pinehill

Pada bulan Agustus 2020, ICBP menyelesaikan proses akuisisi Pinehill Company Limited (PLC). Transaksi ini sudah banyak dibahas media dan para analis. Pada umumnya, analisa dari akuisisi ini difokuskan pada tiga hal: alasan dilakukannya akuisisi, valuasi, dan konflik kepentingan.

Menurut ICBP, akuisisi PLC akan berdampak positif bagi pertumbuhan perusahaan di masa depan. PLC dan ICBP kurang lebih melakukan bisnis yang sama yaitu sama-sama memproduksi mi instan dengan merek Indomie yang dimiliki oleh Indofood. Perbedaannya adalah, jika ICBP menguasai pasar Indonesia, Asia Tenggara, dan Australia; PLC lebih menyasar area Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Dilakukannya akusisi PLC oleh ICBP akan membuka akses langsung bagi ICBP untuk menyasar pasar luar negeri di mana PLC beroperasi. Dikutip dari CNBC Indonesia, PLC memiliki fasilitas produksi yang tersebar di 8 negara, dengan total populasi mencapai 550 juta jiwa. PLC juga memiliki jaringan distribusi di 33 negara.

Akuisisi Pinehill awalnya disambut negatif oleh pasar. Jakarta Post mencatat haga saham ICBP mengalami penurunan sebesar 7.3% dari awal diumumkannya rencana akuisisi sampai awal Juni 2020. Secara umum, kekhawatiran para pelaku pasar diakibatkan oleh beberapa hal seperti valuasi yang kemahalan, sumber pembiayaan yang sebagian besarnya bersumber dari utang, serta transparansi akuisisi sebab akusisi melibatkan pihak-pihak yang terafiliasi.

Blackrock Inc, sebagai salah satu pemegang saham di ICBP dan First Pacific (PSP Indofood yang dikendalikan oleh Salim Group), memilih untuk menolak rencana akusisi tersebut. Blackrock mempublikasikannya dalam dua buletin di bulan Juni untuk First Pacific, dan di bulan Agustus 2020 untuk ICBP.

Nevertheless, BlackRock believes it is in our clients’ economic interests to vote against the proposed
acquisition due to the following concerns:
• The valuation and terms of the transaction; and
• The board’s oversight in relation to the inherent conflict of interest

Blackrock, Voting Bulletin: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

Untuk urusan valuasi, sudah cukup banyak analisa yang bisa di-browsing online. Selain buletin dari Blackrock tadi, artikel ini juga bisa menjadi referensi. Secara umum, banyak analis berpendapat bahwa valuasi PLC kemahalan.

Transaksi Afiliasi

Menggunakan diagram dari buletin yang diterbitkan Blackrock Inc, PLC awalnya dimiliki oleh dua pihak yaitu Pinehill Corpora dan Steele Lake Ltd. Pinehill Corpora dikendalikan oleh Salim Group sebanyak 57.3%. Salim Group adalah entitas pengendali ICBP melalui First Pacific dan Indofood, sehingga dikatakan transaksi ini adalah transaksi afiliasi.

Struktur Kepemilikan ICBP dan Pinehill. Sumber: Buletin Backrock Inc.

Pertanyaannya adalah, jika cuan yang dihasilkan oleh PLC dan ICBP sama-sama masuk ke Salim Group, mengapa harus susah-susah mengubah struktur bisnis yang sudah ada dengan biaya yang tidak sedikit (sekitar $US 3 miliar)?

Ada berbagai motif yang mendasari sebuah perusahaan merekstrukturisasi perusahaannya, namun pada akhirnya bermuara pada satu hal – memaksimalkan keuntungan perusahaan. Keuntungan perusahaan bisa dimaksimalkan dengan dua cara: membuat proses bisnis menjadi lebih efisien (less costly), dan memperbesar pendapatan. Perusahaan yang baik akan berusaha melakukan keduanya.

Alasan resmi tentunya seperti yang diungkapkan manajemen, yaitu untuk memperkuat potensi revenue ICBP di masa depan dengan menguasai langsung akses ke berbagai pasar di luar negeri melalui PLC. Dalam hal ini motifnya adalah untuk memperbanyak sumber pendapatan di masa depan.

Tetapi apakah biaya akusisi yang dilakukan sepadan dengan revenue / return yang dihasilkan? Kalau biaya akuisisi ini kemahalan, tidakkah ada motif lain dilakukannya akusisi ini?

Untuk menjawab ada atau tidaknya motif lain, kita perlu menjawab dua pertanyaan berikut:

  1. Siapakah pemilik (atau pemilik-pemilik) lain dari Pihehill Corpora (sebesar 43.7%)?
  2. Siapakah pemilik Steele Lake Ltd?

Untuk pertanyaan pertama, penulis kesulitan menemukan jawabannya karena Pinehill Corpora adalah perusahaan private. Sedangkan untuk yang kedua, menurut press release yang diterbitkan First Pacific, Steele Lake is dimiliki secara tidak langsung oleh ASM Telok Ayer Fund – adalah discretionary investment fund yang dikelola oleh Argyle Street Management Limited. Direksi ICBP sendiri melalui keterbukaan informasi yang dikirimkan ke BEI meyakini bahwa Steele Lake dan pemilik manfaatnya bukan pihak terafiliasi Perseroan dan bukan pihak terafiliasi dari PSP.

Jadi kesimpulannya apa? Penulis hanya bisa berpendapat bahwa informasi-informasi yang ada tidak secara lengkap bisa digunakan untuk menyimpulkan ada atau tidaknya motif lain dari akuisisi tersebut.

Laporan Keuangan Pasca Akusisi

Untuk melihat secara utuh efek dari akusisi PLC terhadap kinerja keseluruhan ICBP, tentunya perlu waktu yang lebih panjang untuk melihat. Hanya saja, beberapa perubahan pada fundamental ICBP bisa dilihat seperti pendapatan meningkat, DAR dan DER meningkat, serta beban keuangan meningkat.

Pendapatan Meningkat, Laba Bersih yang Diatribusikan ke Pengendali Turun

Menurut LK ICBP tahun 2020, Penjualan meningkat sebesar 10.27% dibandingkan tahun sebelumnya. Hanya saja angka pertumbuhan ini hampir sama di tahun sebelumnya (sebelum akuisisi dilakukan). Pertumbuhan tahun 2019 meningkat sebesar 10.11%.

Jika dilihat secara geografis, memang terjadi peningkatan penjualan dari Timur Tengah dan Afrika yaitu dari sebesar IDR 2.778 menjadi sebesar IDR 6.143 yang mencerminkan kenaikan sebesar 121.13%. Sedangkan penjualan dalam negeri cenderung stagnan yaitu naik hanya sebesar 1.49% saja, dari sebesar IDR 37.714 triliun menjadi sebesar 38.275.

Namun demikian, Laba Usaha dan Laba Bersih mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu masing-masing sebesar 24.34% dan 30.72%. Di tahun 2019, Laba Usaha hanya meningkat sebesar 14.76%, sedangkan Laba Bersih meningkat sebesar 10.12% saja. Walaupun menunjukkan kenaikan, namun agaknya hal ini lebih disebabkan oleh Penghasilan keuangan atas selisih nilai tukar, alih-alih disebabkan oleh akusisi.

Dengan kata lain, peningkatan Penjualan di tahun 2020, lebih karena disebabkan oleh dicatatkannya Penjualan dari PLC pada LK ICBP karena akusisi. Kenaikan laba bersih pun karena selisih nilai tukar, bukan karena efisiensi.

Di LK Q2 2021, angka Penjualan juga menunjukkan peningkatan sebesar 22.35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sama seperti LK 2020, kenaikan angka penjualan ini juga dikarenakan oleh kenaikan angka penjualan dari Timur Tengah dan Afrika yang berasal dari angka penjualan PLC.

Walaupun mencatatkan kenaikan penjualan, namun Laba Bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru turun sebesar -4.65%, yaitu dari angka IDR 3.378 triliun menjadi sebesar IDR 3.221 triliun. Hal ini disebabkan oleh turunnya porsi Laba Bersih ke Pemilik Entitas Induk yaitu dari sebesar 94.31% menjadi sebesar 81.96%. Hal yang sama juga terjadi pada LK Q1, di mana Laba Bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk porsinya menjadi turun dari 94.54% menjadi sebesar 83.89%.

Porsi Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan ke Pengendali Q1 dan Q2 2021 vs 2020
Porsi Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan ke Pengendali Q1 dan Q2 2021 vs 2020
DAR dan DER Meningkat

Kalau ini, tidak usah ditanya. Dengan menggunakan sumber pembiayaan dari utang, otomatis DAR dan DER ICBP meningkat. Di LK 2020, DAR ICBP naik drastis dari sebesar 31.10% menjadi sebesar 51.42%. Sedangkan DER meningkat dari sebesar 45.14% menjadi sebesar 105.87%.

Beban Keuangan Meningkat

Sumber pembiayaan yang bersifat utang tentunya membuat Beban Keuangan ICBP meningkat. Trend ini bisa dilihat dari LK Q1 2021, di mana Beban Keuangan ICBP meningkat dari hanya sebesar IDR 45 miliar menjadi sebesar IDR 233 miliar (naik lebih dari 5 kali lipat).

Pada Q2 2021, Beban Keuangan ICBP adalah sebesar IDR 703 miliar. Angka ini naik hampir sebesar 10 kali lipat dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya sebesar IDR 78 miliar.

Kesimpulan Sementara

Masih terlalu dini untuk melihat efek dari akuisisi PLC bagi kinerja ICBP secara keseluruhan – terutama bagi peningkatan Penjualan dan efisiensi (peningkatan margin), apalagi kinerja produk-produk konsumer juga terpengaruh oleh pandemi. Namun demikian, implikasi bagi pembiayaan akusisi yang bersifat utang telah mulai mempengaruhi fundamental perusahaan di mana liabilitas perusahaan meningkat termasuk beban keuangannya.

Valuasi

Nilai Intrinsik

Penulis menggunakan cara perhitungan nilai wajar seperti artikel sebelumnya. Adapun asumsi yang dipakai adalah sebagai berikut:

  1. Risk Premium = 6.33%
  2. CAGR EPS 10 tahun = 12.8%
  3. BVPS = IDR 2,169.53
  4. EPS = IDR 432.07
  5. DPR = 43.94%
  6. PER = 24.59
  7. PBV = 4.81

Penulis mendapati bahwa harga wajar ICBP berada pada rentang IDR 7,194 – IDR 14,388 – sudah dengan margin of safety (MoS) sebesar 25%. Dengan harga saat ini, ICBP ditawarkan dengan harga yang cukup menarik sebab telah masuk ke rentang harga dengan MoS.

PER

Saat artikel ini ditulis, PER ICBP berada di angka 15.28x. Angka ini merupakan angka PER yang cukup rendah baik 5 tahun maupun 10 tahun terakhir.

PER ICBP 10 tahun terakhir

PBV

Sama seperti PER-nya, PBV ICBP saat ini juga berada di posisi yang cukup rendah yaitu sebesar 2.99x. Nilai ini merupakan nilai PBV yang cukup rendah dalam 5 tahun dan 10 tahun terakhir.

PBV ICBP 10 tahun terakhir

Kesimpulan

Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil setelah analisa di atas:

  1. Secara umum, ICBP memiliki fundamental yang baik. Aset dan Ekuitas bertumbuh dengan CAGR yang cukup baik. Sebelum akuisisi PLC, angka liabilitas juga secara rata-rata berada pada rasio yang cukup aman.
  2. Margin usaha cukup baik. Rata-rata margin usaha dalam 5 tahun terakhir menunjukkan trend yang sedikit meningkat.
  3. Divisi Mi Instan dan Divisi Dairy adalah dua divisi penyumbang pendapatan terbesar sekaligus divisi dengan margin usaha tertinggi.
  4. ICBP tidak hanya menyasar konsumen dalam negeri. Produk Indomie telah menjangkau pasar di luar negeri bahkan menjadi pemimpin pasar di beberapa negara.
  5. ICBP termasuk emiten yang rajin membagikan dividen, namun dividend yield yang diberikan rata-rata berada di bawah 3%.
  6. Akusisi PLC belum menunjukkan kinerja yang signifikan bagi Penjualan dan margin usaha secara keseluruhan. Walaupun terjadi peningkatan penjualan di negara Timur Tengah dan Afrika, namun hal ini lebih disebabkan oleh mulai dicatatkannya angka penjualan PLC ke ICBP akibat akuisisi.
  7. Akuisisi PLC mempengaruhi fundamental ICBP di mana tercatat terjadinya kenaikan rasio DAR, DER, dan kenaikan Beban Keuangan. Selain itu, porsi Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas pengendali menjadi berkurang.
  8. Evaluasi terhadap transparansi dari sifat transaksi afiliasi dalam akuisisi PLC tidak sepenuhnya bisa dilakukan sebab tidak tersedia informasi yang lengkap mengenai kepemilikan Pinehil Corpora dan Steele Lake Ltd (pemilik PLC sebelumnya).
  9. Secara valuasi, saat ini ICBP berada pada angka valuasi yang cukup menarik di mana ICBP berada dalam rentang harga wajarnya (termasuk MoS). Selain itu, dari segi PER dan PBV juga telah berada di angka terendah baik 5 tahun dan 10 tahun terakhir.

Jadi apakah ICBP cukup menarik untuk dikoleksi ke dalam portfolio? Menurut penulis:

  1. Sentimen negatif dari akuisisi telah menyebabkan harga saham ICBP terkerek turun dan berada di bawah harga wajarnya. Hal ini memberikan kesempatan bagi investor retail untuk mengoleksi ICBP di harga murah.
  2. Namun, pengaruh terjadinya akuisisi yang dibiayai utang juga memberi implikasi negatif bagi fundamental ICBP. Masih diperlukan waktu beberapa tahun untuk membuktikan bahwa PLC akan mampu meningkatkan kinerja penjualan ICBP. Jadi untuk investor yang mau masuk, mungkin bisa mulai akumulasi namun jangan all-in. Selain itu, diperlukan horizon investasi jangka panjang untuk memberikan kesempatan bagi PLC membuktikan kinerjanya.

Demikian, semoga bermanfaat!

Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham (ala LynPF)

Di artikel Analisa Saham UNVR, penulis menyampaikan bahwa penulis menggunakan perhitungan nilai wajar saham yang agak berbeda dengan yang biasanya penulis lakukan. Sebelum-sebelumnya, penulis menggunakan perhitungan seperti yang penulis jelaskan di artikel Perhitungan (Sederhana) Nilai Wajar Saham EKAD.

Kelemahan Perhitungan Sebelumnya

Setelah penulis timbang-timbang, di metode sebelumnya ada dua kelemahan utama sebagai berikut:

  1. Risk Premium yang digunakan terlalu tinggi, di mana pada perhitungan sebelumnya, penulis menjumlahkan Suku Bunga BI dengan nilai yield dari Obligasi Pemerintah 10 Tahun. Seharusnya, risk premium yang digunakan cukup menggunakan nilai yield obligasi pemerintah saja, sebab yield obligasi pemerintah sudah memperhitungkan suku bunga BI, di mana yield-nya berubah-ubah tergantung pada Suku Bunga acuan dari BI.
  2. Total Dividen dimasukkan kembali ke perhitungan harga wajar. Penulis menilai ini adalah sebuah kesalahan, sebab EPS yang diakumulasi sudah termasuk dividen yang dibagikan. Jika, dividen dimasukkan kembali untuk mencari nilai buku tahun ke-x, maka nilai dividen itu terakumulasi dua kali, yang menyebabkan nilai bukunya menjadi terlalu tinggi.

Dalam tulisan kali ini, penulis mengubah perhitungan dengan mempertimbangkan dua kelemahan perhitungan di atas. Untuk menjaga konsistensi dengan perhitungan sebelumnya, penulis juga menggunakan periode waktu 10 tahun.

Asumsi Data UNVR

Sebagai contoh, penulis akan menggunakan data-data UNVR untuk melakukan perhitungan. Data-data di bawah ini penulis ambil dari stockbit, sebagai berikut:

  1. Risk Premium = 6.33%. Penulis menggunakan angka 6.33% yang merupakan suku bunga obligasi AAA periode 10 tahun yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Seperti yang telah penulis sampaikan sebelumnya, kita tidak perlu menambahkan komponen suku bunga BI, sebab suku bunga obligasi akan naik turun menyesuaikan suku bunga BI.
  2. Asumsi CAGR EPS = 5%. Penulis menggunakan angka 5%, sebab angka ini sesuai dengan angka pertumbuhan CAGR laba bersih UNVR 5 tahun terakhir. Kita bisa saja menggunakan angka yang lebih konservatif, semisal 3%; jika kita merasa bahwa pertumbuhan UNVR selama 10 tahun ke depan akan lebih rendah dari angka CAGR 5 tahun terakhir. Atau, bisa jadi lebih tinggi, jika kita menilai bahwa UNVR akan mampu meningkatkan pertumbuhan yang lebih baik 10 tahun kedepan.
  3. Book Value Per Share (BVPS), alias Nilai Buku = IDR 129.42. Angka yang penulis gunakan adalah angka tahun 2020 yang bersumber dari Stockbit.
  4. Earning Per Share (EPS) saat ini = IDR 187.77. Angka yang penulis gunakan adalah angka tahun 2020 yang bersumber dari Stockbit.
  5. Dividend Payout Ratio (DPR) = 96.89%. Penulis menggunakan rata-rata DPR 10 tahun terakhir termasuk tahun 2020.
  6. Asumsi nilai Price Earning Ratio (PER) = 43.9x. Penulis menggunakan rata-rata PER UNVR 10 tahun terakhir. Sama seperti asumsi CAGR EPS, kita bisa menggunakan angka yang lebih konservatif (lebih rendah), jika kita percaya bahwa apresiasi pasar akan lebih buruk 10 tahun ke depan. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa apresiasi pasar akan lebih baik, maka kita bisa menggunakan asumsi PER yang lebih tinggi.
  7. Asumsi nilai Price to Book Value (PBV) = 48.74. Penulis menggunakan rata-rata PBV UNVR 10 tahun terakhir. Sama seperti PER, kita bisa menyesuaikan lebih rendah atau lebih tinggi tergantung keyakinan kita di masa depan.

Menghitung Nilai Intrinsik

Setelah mengumpulkan data-data dasar yang diperlukan, kita siap untuk melakukan perhitungan nilai intrinsik. Ada tiga pendekatan yang penulis pakai:

  1. Pendekatan Akumulasi EPS Sederhana
  2. Pendekatan dengan Memperhitungkan PER
  3. Pendekatan dengan Memperhitungkan PBV

Perhitungan Nilai Intrinsik dengan Akumulasi EPS Sederhana

Secara singkat, perhitungan dengan pendekatan akumulasi EPS dilakukan dengan memperhitungkan akumulasi EPS selama 10 tahun. Kemudian, nilai akumulasi tersebut ditambahkan dengan nilai BVPS saat ini. Hasil yang didapat, kemudian dikonversi ke nilai sekarang (Net Present Value).

Langkah #1: melakukan akumulasi EPS 10 tahun yang akan datang.

Kita ketahui bahwa nilai EPS saat ini (tahun ke-0) adalah sebesar IDR 187.77.

Maka, EPS tahun ke-1:

= (100% + Asumsi CAGR EPS) x EPS tahun ke-0
= (100% + 5%) x IDR 187.77
= IDR 197.16

Dari perhitungan di atas, kita mendapati bahwa EPS di tahun ke-1 adalah sebesar IDR 197.16. Dengan cara yang sama, kita dapati bahwa EPS tahun ke-2 adalah sebesar IDR 207.02. Demikian seterusnya.

Setelah didapat nilai EPS sampai tahun ke-10, semua nilai EPS itu kemudian dijumlahkan, sehingga total akumulasi EPS menjadi sebesar IDR 2,479.84.

Langkah #2: menghitung nilai BVPS di tahun ke-10

Setelah didapat total akumulasi EPS di tahun ke 10, maka kita dapat menghitung nilai BVPS di tahun ke 10 yaitu sebesar:

= BVPS tahun ke-0 + Akumulasi EPS s/d tahun ke-10
= IDR 129.42 + IDR 2,479.84
= IDR 2,609.26

Langkah #3: menghitung nilai sekarang dari BVPS di tahun ke-10

Dari nilai BVPS di tahun ke-10, kita dapat melakukan perhitungan nilai sekarang dari nilai tersebut dengan cara menghitung konversi nilai sekarang dari tahun ke-9 sampai tahun ke-0.

Di tahun ke-9, nilai BVPS tahun ke-10 akan menjadi sebesar:

= BVPS tahun ke-10 / (1 + Risk Premium)
= IDR 2,609.26 / (1 + 6.33%)
= IDR 2,453.92

Dengan cara yang sama, kita dapat menghitung nilai BVPS di tahun ke-8 yaitu sebesar IDR 2,307. Demikian seterusnya sampai dengan di tahun ke-0 (tahun sekarang), kita akan mendapatkan nilai BVPS sebesar IDR 1,412.40.

Nilai BVPS tahun ke-0 sebesar IDR 1,412.40 ini adalah nilai intrinsik dengan pendekatan akumulasi EPS sederhana. Dengan memperhitungkan Margin of Safety (MoS) sebesar 25%, maka menurut kaidah value investing, kita tidak akan membeli sampai harga sahamnya berada di angka IDR 1,059.30.

Sebagai catatan, perhitungan dengan pendekatan akumulasi EPS sederhana, tidak mempertimbangkan apresiasi pasar. Secara sederhana, pasar mengapresiasi harga saham melalui PER atau PBV. Semakin besar PER atau PBV, umumnya disepakati bahwa harga saham itu relatif lebih mahal dari saham yang PER dan PBV yang lebih kecil.

Dengan mengambil nilai BVPS saja, maka kita menghargai saham UNVR di angka PBV 1x. Secara historis, nilai PBV 1x untuk UNVR cukup sulit diterima. Oleh karena itu, untuk perhitungan berikutnya, kita bisa memasukkan nilai PER dan PBV ke dalam perhitungan.

Perhitungan Nilai Intrinsik dengan Memperhitungkan PER

Secara sederhana, perhitungan nilai intrinsik dengan memperhitungkan PER dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung EPS di masa depan misal di tahun ke-10. Setelah itu, kita menghitung harga saham di tahun tersebut dengan menggunakan EPS. Terakhir, kita mencari nilai sekarang (NPV) dari harga di masa depan.

Langkah #1: menghitung EPS di tahun ke-10

Untuk menghitung EPS sampai tahun ke-10, kita lakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Dengan mengikuti langkah-langkah di perhitungan sebelumnya, kita mendapatkan angka EPS di tahun ke-10 adalah sebesar IDR 305.86.

Langkah #2: mencari harga di tahun ke-10 menggunakan PER

Dengan menggunakan pendekatan PER (Price Earning Ratio), maka kita dapat menghitung harga saham di tahun ke-10 sebesar:

= PER x EPS di tahun ke-10
= 43.9 x IDR 305.86
= IDR 13.427.15

Langkah #3: mencari nilai sekarang dari harga di tahun ke-10

Sama seperti pada perhitungan sebelumnya, maka kita dapat menghitung nilai sekarang dari harga di tahun ke-10. Dengan mengikuti langkah-langkah di perhitungan sebelumnya untuk tahun ke-9, ke-8, dan seterusnya sampai tahun ke-0, kita dapati harga saham di tahun ke-0 menjadi sebesar IDR 7,268.18.

Dengan mempertimbangkan MoS 25%, maka kita dapat mulai memperhitungkan untuk membeli UNVR di harga IDR 5,451.13.

Pendekatan PER memiliki kelemahan di mana nilai wajar sangat ditentukan oleh asumsi nilai PER yang kita gunakan. PER sangat tergantung dari apresiasi saham dan merupakan sesuatu yang sangat susah (bahkan bisa jadi tidak mungkin) untuk diprediksi.

Untuk menghilangkan komponen emosi dalam melakukan prediksi, penulis lebih suka menggunakan angka historis sebagai acuan awal. Misal dengan mengambil nilai rata-rata PER lima tahun terakhir atau 10 tahun terakhir. Kemudian agar lebih konservatif, bisa juga dengan menggunakan angka yang lebih kecil (misal 75% atau 50% dari nilai rata-rata), tergantung dari seberapa percaya kita bahwa pasar akan menghargai lebih rendah atau lebih tinggi di masa depan.

Perhitungan Nilai Intrinsik dengan Memperhitungkan PBV

PBV (Price to Book Value) dibentuk berdasarkan nilai buku per lembar saham alias Book Value Per Share (BVPS). BVPS sendiri dibentuk dari retained earning alias laba ditahan, alias sisa EPS yang tidak dibagikan sebagai dividen.

Untuk menghitung nilai wajar saham dengan memperhitungkan PBV, maka langkah pertama adalah mencari nilai buku (BVPS) di tahun ke-10. Kemudian, kita mencari harga saham tersebut dengan mengalikan nilai BVPS tersebut dengan PBV. Langkah terakhir adalah mencari nilai sekarang (NPV) dari harga di tahun ke-10 tersebut.

Langkah #1: menghitung akumulasi retained earning sampai tahun ke-10

Untuk mencari akumulasi retained earning, pertama-tama kita harus mencari EPS di tahun tersebut.

Dari perhitungan sebelumnya, kita ketahui bahwa EPS di tahun ke-1 adalah sebesar IDR 197.16. Maka dengan asumsi DPR sebesar 96.89%, maka retained earning tahun ke-1 adalah:

= (100% - 96.89%) x EPS tahun ke-1
= 3.11% x IDR 197.16
= IDR 6.13

Jadi retained earning tahun ke-1 adalah sebesar IDR 6.13.

Dengan cara yang sama, retained earning tahun ke-2 adalah sebesar IDR 6.43, retained earning tahun ke-3 adalah sebesar IDR 6.75, dan seterusnya.

Setelah dilakukan perhitungan sampai tahun ke-10, kita akan mendapatkan nilai akumulasi retained earning selama 10 tahun adalah sebesar IDR 67.55.

Langkah #2: menghitung nilai BVPS di tahun ke-10

Untuk menghitung nilai BVPS di tahun ke-10 cukup mudah. Kita tinggal menambahkan akumulasi retained earning ke nilai BVPS saat ini.

Nilai BVPS di tahun ke-10 adalah:

= Akumulasi retained earning sampai dengan tahun ke-10 + Nilai BPVS saat ini
= IDR 67.55 + IDR 129.42
= IDR 206.47

Langkah #3: mencari harga di tahun ke-10 menggunakan PBV

Setelah kita mendapatkan nilai BVPS di tahun ke-10, maka kita tinggal mengalikan nilai tersebut dengan nilai PBV untuk mendapatkan harga di tahun ke-10.

Maka, harga saham di tahun ke-10:

= BVPS tahun ke-10 x PBV
= IDR 206.47 x 48.74
= IDR 10,063.47

Langkah #4: mencari nilai sekarang dari harga di tahun ke-10

Terakhir, kita tinggal mencari nilai sekarang di tahun ke-10 tersebut, dimulai dari tahun ke-9 sampai tahun ke-0.

Dengan mengikuti cara perhitungan NPV sebelumnya, kita akan mendapati bahwa NPV di tahun ke-9 adalah sebesar IDR 9,464.38, NPV di tahun ke-8 adalah sebesar IDR 8,900.95, dan seterusnya. Sampai kita mendapati bahwa harga saham di tahun ke-0 adalah sebesar IDR 5.447.41.

Dengan mengaplikasikan MoS sebesar 25%, maka saham UNVR bisa mulai diakumulasi di harga IDR 4085.55.

Beli atau Tidak? Analisa dengan Rentang Harga

Sampai saat ini, kita mendapati 3 nilai intrinsik sebagai berikut:

  1. Berdasarkan Akumulasi EPS, dengan nilai intrinsik sebesar IDR 1,059.30.
  2. Berdasarkan pendekatan PER, dengan nilai intrinsik sebesar IDR 5,451.13.
  3. Berdasarkan pendekatan PBV, dengan nilai intrinsik sebesar IDR 4,085.55.

Untuk harga pertama, kemungkinan harga tersebut sudah sangat konservatif. Dengan nilai ROE di atas 100%, mungkin agak susah kita membayangkan harga saham UNVR dijual di harga bukunya, alias dengan PBV 1x.

Mungkin saja terjadi! Namun secara historis kemungkinannya sangat kecil.

Untuk pendekatan PER dan PBV, kita mungkin memiliki keraguan, apakah benar apresiasi di masa depan akan sama dengan nilai historisnya? Untuk lebih mereduksi risiko kesalahan perhitungan, kita dapat membuat perhitungan kedua dengan menggunakan asumsi PER dan PBV yang lebih rendah. Katakanlah 50% dari nilai historis PER atau PBV-nya.

Dengan menggunakan langkah-langkah yang sama dengan yang sudah dijelaskan di atas, dengan asumsi PER dan PBV 50% dari asumsi sebelumnya, maka harga wajar setelah MoS adalah sebesar IDR 2,725.57 dengan pendekatan PER, dan sebesar IDR 2,042.78 dengan pendekatan PBV.

Jika disajikan kembali, maka list harga yang didapat adalah:

  1. Berdasarkan Akumulasi EPS, dengan nilai intrinsik sebesar IDR 1,059.30.
  2. Berdasarkan pendekatan PER, dengan nilai intrinsik berada di rentang harga IDR 5,451.13 – IDR 2,725.57. Mean keduanya berada di harga IDR 4,088.35.
  3. Berdasarkan pendekatan PBV, dengan nilai intrinsik berada di rentang harga IDR 4,085.55 – IDR 2,042.78. Mean keduanya berada di harga IDR 3,064.17.

OK, dengan sekian banyaknya perhitungan, lalu kapan kita mulai membeli saham ini?

Well, menurut penulis kembali kepada style masing-masing investor. Namun penulis bisa menyarankan beberapa tips:

  1. Jika amunisi (alias uang dingin) masih banyak dan perut tidak mual-mual jika saham kita sedang floating loss, maka kita bisa mulai masuk di rentang harga yang paling tinggi – yaitu di harga IDR 5,451.13. Dibarengi dengan money management yang baik, mungkin kita bisa melakukan average down setiap terjadi penurunan misalnya 10%.
  2. Kita juga bisa menunggu di harga yang lebih konservatif, misal menunggu sampai harga mencapai harga wajar terendah baik secara PBV maupun PER. Dengan rentang harga di atas, maka kita bisa saja mulai melakukan pembelian di harga IDR 4,085.55.
  3. Variasi lainnya misalnya dengan menggunakan mean dari rentang harga PER atau PBV, yaitu mulai masuk di harga IDR 4,088.35 atau IDR 3,064.17. Semakin rendah, risiko semakin kecil.
  4. Yang paling aman, tentunya masuk di harga terendah. Tapi, mungkin kita harus sedikit waspada, sebab dengan kecenderungan PER dan PBV yang tinggi, masuk di harga IDR 1,059.30 tentunya bisa jadi disebabkan oleh memang ada something wrong dengan perusahaannya.

Yang Harus Diperhatikan

Beberapa hal yang harus diperhatikan setelah penjelasan panjang lebar di atas:

  1. Sekali lagi perhitungan yang dilakukan di atas adalah perhitungan sederhana. Tentunya untuk para fundamentalis, satu perhitungan saja tidak bisa dijadikan sebagai penentu keputusan untuk membeli atau menjual. Menyelami karateristik perusahaan yang diincar dengan menelaah informasi dari Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan adalah sebuah keharusan sebelum membuat keputusan investasi.
  2. Nilai PER dan PBV yang penulis gunakan, adalah berdasarkan nilai historis. Tujuannya adalah untuk menghilangkan faktor emosi, sebab kita tidak pernah tahu apakah pasar akan mengapresiasi saham kita dengan PER dan PBV yang lebih tinggi di masa depan atau tidak. Apakah kita bisa menggunakan asumsi yang berbeda? Tentu saja bisa! Untuk para investor yang memiliki pengetahuan yang sangat baik dengan industri di mana perusahaan tersebut berusaha, mungkin akan bisa memberikan forward looking assessment yang lebih baik, sehingga bisa digunakan sebagai acuan untuk menghitung PER dan PBV yang berbeda dengan nilai historisnya.
  3. Kelemahan dari perhitungan ini adalah tidak dapat digunakan untuk industri yang bersifat siklikal. Jadi untuk emiten-emiten batu bara atau kelapa sawit, kita tidak dapat menghitung nilai wajarnya dengan cara di atas sebab laju pertumbuhannya tidak konstan dan tergantung dari harga komoditasnya.
  4. Walaupun sederhana, namun menurut hemat penulis masih lebih baik daripada tidak ada acuan sama sekali. Melakukan keputusan investasi tanpa mengetahui harga wajar saham yang mau kita pakai sebagai instrumen investasi, sama saja dengan berjudi.
  5. Last but not least, perhitungan di atas adalah perhitungan ala LynPF – alias perhitungan yang penulis buat sendiri. Sangat-sangat mungkin apa yang penulis jabarkan di atas SALAH SEMUA. Penulis menyarankan pembaca untuk menjadikannya sebagai referensi saja, dan tidak menjadikan sebagai satu-satunya bahan evaluasi.

Demikian, semoga bermanfaat!