Analisa Saham Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)

Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII) yang didirikan tahun 2007 ini adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang industri Medium Density Fibreboard (papan serat berkerapatan sedang — MDF) dan produk kayu olahan lainnya.

IFII melantai di BEI pada akhir tahun 2019 — fresh from the oven.

Sebagai perusahaan yang belum lama beroperasi (di bawah 20 tahun relatif masih belum lama lah ya) — IFII ternyata menyimpan sejumlah catatan-catatan yang menarik.

Logo IFII — screenshot diambil dari Annual Report IFII tahun 2019

Analisa Fundamental

Balance Sheet

Dilihat dari total aset nya, IFII mengalami penurunan nilai aset dari IDR 1,1091 miliar di akhir tahun 2019, menjadi sebesar IDR 1,082 miliar di Q3 2020. Tampaknya faktor yang berpengaruh paling besar dari penurunan nilai aset ini adalah biaya penyusutan yang mana pada tahun 2019 dan 2018 masing-masing adalah sebesar IDR 82,4 miliar dan IDR 79,3 miliar.

Utang jangka panjang sangat kecil yaitu hanya sebesar IDR 15 miliar. Dengan menggunakan kas perusahaan saja yang pada Q3 2020 sebesar 27 miliar, utang ini bisa langsung dilunasi. VERY GOOD.

Secara lebih lengkap, rasio-rasio balance sheet dapat dilihat di bawah ini. Screenshot ini penulis ambil dari stockbit.

Rasio-rasio balance sheet IFII

Jika dilihat angka Current Ratio yang berada di angka 3.04 dan Quick Ratio di angka 1.5 menunjukkan likuiditas yang dimiliki perusahaan cukup baik. Dalam jangka pendek, perusahaan akan mampu melunasi hutang-hutang jangka pendeknya. LT Debt juga tergolong sangat kecil yaitu hanya sebesar 0.02.

Bisa disimpulkan posisi keuangan IFII berada dalam posisi yang sangat sehat.

Income Statement

Di tahun 2019, IFII mencatatkan pertumbuhan penjualan yaitu dari angka IDR 609 miliar di tahun 2018, menjadi sebesar IDR 670 miliar (+10%).

Di tahun 2020, IFII sempat mencatatkan kenaikan penjualan di Q1 dan Q2 2020. Adanya pandemi Covid-19 tentunya berpengaruh pada pendapatan perusahaan di mana di Q3 2020 perusahaan hanya mencatatkan nilai penjualan sebesar IDR 182 miliar. Hasil ini lebih rendah dari angka penjualan Q2 2019 yang sebesar IDR 211 miliar.

Menurut LK 2019, bahan baku menjadi penyumbang terbesar Beban Pokok Penjualan yaitu sebesar 58.44%, disusul biaya penyusutan dan pemeliharaan sebesar 22.62%, dan upah langsung sebesar 17.21%.

Beban Pokok Penjualan — IFII

Rasio-rasio yang berhubungan dengan income statement, dapat dilihat di screenshot di bawah ini (diambil dari stockbit).

Rasio-rasio income statement IFII

Dari segi analisa ROA sebesar 5.38%, termasuk angka yang cukup baik (di atas 5%). 

Namun dari segi ROE yang hanya berada di angka 6.10%, nampaknya tidak terlalu baik karena di bawah 10%. Angka ini pun turun dari tahun sebelumnya yaitu dari angka 7.84%. Penurunan ini tampaknya disebabkan oleh meningkatnya ekuitas karena adanya tambahan modal dari IPO.

Rasio-rasio profitibilitas lainnya juga masih tergolong baik. Pada Q3 2020, Gross Profit Margin adalah sebesar 30.4%, dan Net Profit Margin sebesar 11.9%. Ini menunjukkan produk-produk IFII memiliki economic moat sehingga bisa dijual di harga dengan margin yang cukup tinggi.

Rasio-rasio profitabilitas IFII

Cash Flow

Pada akhir tahun 2019, IFII mencatatkan operating cashflow positif sebesar IDR 122 miliar. Di tahun 2020 juga IFII tidak pernah absen mencatatkan operating cashflow positif setiap quarter-nya, yaitu sebesar IDR 20 miliar, IDR 30 miliar, dan IDR 68 miliar; untuk masing-masing Q1, Q2, dan Q3 2020.

IFII mencatatkan operating cashflow positif sampai Q3 2020.

Kualitatif

Produk

Produk utama perusahaan adalah Medium Density Fiberboard (MDF). Berdasarkan LK Q3 2020, MDF berkontribusi terhadap penjualan sebesar hampir 90%.

Mengapa MDF? Menurut management, hal ini lantaran bahan baku MDF yang relatif lebih mudah didapat — yang mana untuk memproduksi MDF tidak diperlukan jenis kayu khusus. 

Selain itu perusahaan juga memproduksi produk-produk olahan kayu lainnya yaitu Plywood, High Moisture Resistant (HMR), Finger Joint dan Veneer. 

Ke depannya perusahaan berencana untuk lebih menggencarkan produksi dan penjualan produk Plywood. Kalau dilihat data penjualan sampai dengan Q3 2020, sepertinya Plywood belum berkontribusi signifikan pada pandapatan perusahaan yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri. Semakin banyak revenue sources baru, maka akan semakin cepat growth dari perusahaan.

Market

Berdasarkan LK Q3 2020, diketahui bahwa IFII lebih banyak bermain di pasar ekspor yang mana pasar ekspor berkontribusi sebesar hampir 80% dari total penjualan perusahaan.

Dilihat dari tujuan ekspor nya, penjualan produk MDF ke Jepang dan Timur Tengah menjadi pasar terbesar dengan nilai penjualan masing-masing sebesar IDR 171.905 miliar, dan IDR 167.301 miliar.

Dilihat dari laporan tahunan IFII tahun 2019, terlihat bahwa perusahaan memiliki perhatian khusus pada pasar Jepang. Dari tahun 2017, penjualan ke Jepang melonjak tajam dari IDR 78.349 miliar menjadi IDR 282.700 miliar pada akhir tahun 2019.

Penjualan Produk Utama IFII Berdasarkan Target Market

Menurut management, harga jual produk MDF ke Jepang memiliki margin laba yang lebih besar dibandingkan dengan harga jual produk MDF lainnya. Hal ini bahkan menyebabkan perusahaan mengalihkan sebagian sumber daya produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar Jepang yang mana produk pasar Jepang membutuhkan waktu pengolahan yang lebih lama.

Bahan Baku

Sebagai perusahaan manufaktur, ketersediaan dan harga bahan baku menjadi hal yang sangat krusial. 

Dalam kasus IFII, bahan baku berkontribusi sebesar 58.44% lebih terhadap Harga Pokok Penjualan, sehingga dalam jangka panjang sangat penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku untuk menjaga agar harga harga tetap stabil. Dalam jangka panjang hal ini akan menambah efisiensi perusahaan.

Dalam laporan tahunannya sendiri, management menjadikan ketersediaan bahan baku sebagai risiko pertama dalam analisis risiko usaha.

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, perusahaan mengandalkan sumber eksternal dan dari pihak ketiga. Melalui program CSR, perusahaan melakukan bekerja sama dengan masyarakat untuk mengembangkan hutan sosial ketimbang mengusahakan sendiri dengan membuat Hutan Tanaman Industri. 

Menurut management sendiri dalam wawancara di video di atas, management berkeyakinan bahwa pasokan kayu dari sekitar lokasi pabrik di Sumatera Selatan sana, masih cukup untuk menunjang ketersediaan bahan baku bahkan sampai 50 tahun ke depan.

Management

Ada beberapa hal yang menarik dari segi management.

Yang pertama, IFII adalah anak perusahaan group Adrindo. 

Adrindo adalah PSP emiten SMSM (PT Selamat Sempurna Tbk) — yang merupakan perusahaan manufaktur produsen komponen otomotif terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1976, dan sepanjang usianya telah melakukan ekspor produk ke lebih dari 120 negara di dunia. Jadi soal kualitas produk seharusnya tidak diragukan.

Keunggulan Adrindo adalah kelompok usaha ini cukup konservatif dalam menjaga rasio-rasio keuangannya. 

SMSM konsisten menjaga tingkat hutangnya pada level yang sangat rendah. Silakan simak screenshot berikut — almost 0 all the time.

Dari segi profitabilitas pun sangat baik. SMSM mampu meningkatkan ROE dari 10.67% di tahun 2007 menjadi 18.59% di tahun 2019. Well, naik turun tentunya, tapi trend-nya meningkat.

Yang kedua, target pasar Jepang.

Adrindo telah menjalin kerjasama dengan the Japanese since day one. Walaupun otomatif dan kayu tidak berhubungan, tetapi market nya tetap sama: Jepang. I believe they know how to deal with the Japanese, how to do business in the country, and understand how’s the market inside the country.

Pengalaman penulis di dunia profesional, untuk memahami sebuah pasar di negara orang, kita harus mengerti kultur budaya di negara itu. Dengan pengalaman Adrindo selama puluhan tahun berbisnis dengan orang Jepang, sangat masuk akal jika mereka menjadikan negara ini sebagai target market utama — sebelum tentunya merambah ke negara-negara lainnya.

Tidak heran jika terjadi perubahan hasil penjualan dari yang lebih banyak dari pasar Timur Tengah di tahun 2018, menjadi lebih dominan di pasar Jepang di tahun 2019. Menurut keyakinan penulis, hal ini tentunya didasari atas pengetahuan management perusahaan yang baik akan prospek dari pasar Jepang itu sendiri.

The Japs are also shareholders — significant one.

Terdapat setidaknya tiga perusahaan asal Jepang yang menjadi pemegang saham perusahaan: Noda Corporation, Ishinomaki Plywood Manufacturing Co.Ltd dan SMB Kenzai Co.,Ltd. Yang terakhir memiliki porsi saham yang cukup signifikan yaitu sebesar 25% yang mana porsi saham ini hanya diungguli oleh PSP yang memegang porsi kepemilikan sebesar 51%.

Ada beberapa jejak digital menarik yang bisa diketahui dari shareholders asal Jepang ini.

SMB Kenzai Co.Ltd merupakan perusahaan yang bergerak dalam perdagangan material bangunan. Menurut website perusahaan: Sumitomo, Mitsui, dan Marubeni adalah pemegang saham perusahaan. Penulis menyarankan anda googling saja nama-nama tadi untuk mengetahui sepak terjangnya 🙂

Noda Corporation, menurut situs resmi perusahaan, ternyata memiliki perusahaan di Indonesia yang juga bergerak di bisnis hasil olahan kayu yaitu di PT. Sura Indah Wood Industries. Perusahaan ini berdiri tahun 1990. Jadi bisa dibilang salah satu pemain lama industri kayu di Indonesia. 

Selain itu, Noda Corporation juga memiliki saham di perusahaan lain di Malaysia — Sanyan Wood Industries Sdn. Bhd. Masih menurut situs perusahaan, bisnis utama dari perusahaan ini adalah “Manufacturing of plywood”.

Ishinomaki sendiri adalah anak usaha dari Noda Corporation.

Jadi to summarize, IFII saat ini didukung oleh shareholders yang sangat berpengalaman di industri ini di Jepang sana. SMB Kenzai definitely bukan perusahaan kemarin sore. Sedangkan Noda Corporation sudah memiliki pengalaman mendirikan sendiri perusahaan produsen Plywood di Indonesia. 

Valuasi

Intrinsik

Karena IFII baru melantai di bursa tahun 2019, penulis agak kesulitan mendapatkan data historis perusahaan.

Namun demikian, dengan asumsi BVPS sebesar IDR 107, CAGR 15%, dan PER 15x, dalam jangka waktu 10 tahun, IFII saat ini pantas dihargai di harga IDR 120.45. Sedangkan dengan asumsi CAGR 15%, dan PER 15x; didapat harga IDR 165.20. Cara perhitungan nilai intrinsik dapat dilihat di contoh artikel perhitungan nilai intrinsik saham EKAD.

Di harga saat ini (IDR 145), secara sekilas IFII memang terlihat mahal di mana MOS yang ditawarkan adalah sebesar -13.97% dan 18%.

Kalau hanya menggunakan kriteria ini saja, tentu membeli IFII di harga sekarang tidak dianjurkan. Well, penulis memiliki keyakinan lain, tapi silakan lanjutkan membaca dulu.

PER dan PVB

Ketika artikel ini ditulis, nilai PER IFII berada di angka 19.65x (TTM), dan angka 18.52x (annualized). Sedangkan nilai PBV nya adalah sebesar 1.36x.

Secara sekilas di harga saat ini, IFII bisa dikatakan masih tergolong mahal.

Lain-lain

Saat ini IFII termasuk saham yang cukup sepi alias tidak banyak dilirik. Valuasi perdagangan di bursa mungkin sekitar kurang lebih IDR 100 juta per hari. Jadi saat ini IFII termasuk saham yang tidak likuid dan cukup rawan digoreng.

Namun justru ini hal yang membuat IFII menjadi cukup menarik. Seandainya IFII di masa depan sukses melakukan ekspansinya dan mulai dilirik bandar-bandar besar, maka porsi kepemilikan publik sebesar 18.02% seharusnya bisa menjadikan saham ini menjadi cukup likuid dan bukan tidak mungkin akan ikut mengerek harganya.

Find a company that no analyst has ever visited, or that no analyst would admit to knowing about, and you’ve got a double winner.

Peter Lynch, One Up On Wall Street

Khusus untuk masalah goreng-menggoreng, sepertinya penulis cukup yakin hal ini tidak terjadi kalau melihat rekam jejak PSP. Well, memang tidak menutup kemungkinan kalau pihak-pihak tertentu ingin melakukan aksi goreng-menggoreng mengingat volume perdagangan yang kecil.

Kesimpulan

  1. Berdiri sejak tahun 2007, dan memulai ekspor pertama di tahun 2012, sebagai sebuah perusahaan IFII is just getting started. Dengan track record management yang baik (Adrindo/SMSM), dan dukungan korporasi asing yang kuat, IFII memiliki potensi masa depan yang cukup menjanjikan.
  2. Masih soal management, dengan karakteristik Adrindo yang cukup konservatif menjaga rasio keuangan perusahaan, penulis yakin IFII tidak akan ceroboh atau tergoda untuk melakukan ekspansi secara berlebihan dengan aksi korporasi macam-macam. Produce efficiently, penetrate the market (with the help of home players), widen the profit margin, REPEAT!
  3. Komposisi shareholder yang didukung korporasi besar Jepang, menurut penulis akan sangat membantu IFII menaklukkan pasar tersebut. Dan jika sukses dengan pasar Jepang, hanya masalah waktu saja sebelum IFII merambah ke pasar-pasar lainnya.
  4. Again, they are just getting started. Saat ini produksi terbesar perusahaan adalah MDF. Namun dengan dukungan pemegang saham Jepang yang sepertinya cukup berpengalaman di industri Plywood, source of revenue IFII di masa depan nampaknya akan semakin bertambah.
  5. Jangan lupa, bahwa pasar Middle East juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi penjualan. Ini tentunya memberikan keyakinan bahwa IFII tidak hanya menargetkan satu pasar saja. Penulis yakin, setelah “selesai” dengan Jepang, perusahaan akan membidik pasar-pasar di belahan dunia lainnya.
  6. Kalau melihat hanya dari MOS, PER, dan PBV saja, maka IFII saat ini mungkin terlihat kurang menarik. Namun dengan semua penjelasan di point 1 – 5, bukan tidak mungkin IFII akan dapat meraih growth CAGR di atas 15% dengan semua kondisi di atas, sehingga valuasi PER dan PBV nya pun bisa jadi lebih tinggi.
  7. ROE sebesar 6.10% saat ini harus tetap menjadi catatan. Namun, catatan tambahannya adalah IFII baru berdiri tahun 2007 — still very young. Jika management mampu mereplikasi kesuksesan SMSM di IFII dalam hal menggenjot ROE, di masa yang akan datang nilai perusahaan ini akan sangat menjanjikan.
  8. Timeframe investasi IFII adalah jangka panjang. Setidaknya 10 tahun. Usia yang masih muda selain menyimpan potensi yang menjanjikan, harus tetap menjadi perhatian. Evaluasi secara berkala menjadi kunci untuk memastikan apakah IFII akan tetap on-the-track menjalankan ekspansinya.

Other Notes

Penulis kesulitan mendapatkan seberapa besar pasar MDF or Plywood di Jepang dan siapakah player-player utama di industri ini. Walaupun ada nama-nama korporasi raksasa Jepang di belakang IFII, tetap tidak menjadi fakta apakah mereka merupakan pemain utama atau tidak.

Selain itu, akan lebih meyakinkan lagi jika penulis mendapatkan informasi tentang seberapa besar potensi pasar MDF dan Plywood di Jepang — jadi bisa diketahui apakah nilai ekspor IFII saat ini termasuk besar atau kecil, sehingga bisa diketahui seberapa besar ruang untuk bertumbuh di pasar ini.

Demikian semoga bermanfaat.

One thought on “Analisa Saham Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s