LynPF Two Minutes Drill ala Peter Lynch

Untuk para fans Om Peter Lynch, mungkin tidak asing dengan metode two minutes drill.

Peter Lynch sit down
Om Peter Lynch. Source: Googling.

Singkatnya menurut Om Lynch, sebelum membeli suatu saham, kita harus bisa melakukan monolog selama dua menit yang dapat menceritakan bagaimana sebuah perusahaan yang kita akan beli sahamnya bisa sukses, serta apa saja yang dapat menghalangi perusahaan untuk mencapai kesuksesan itu. Kalau bisa menceritakannya pada orang lain seperti keluarga, teman, bahkan anak-anak; maka kita bisa yakin bahwa kita tahu apa yang kita beli,

Berikut ini adalah beberapa saham yang penulis coba untuk membuat ringkasannya. Lebih tepatnya sih, berupa rangkuman dari artikel aslinya.

Selain itu untuk semua saham, penulis coba untuk memberikan rating. Bukan berarti satu perusahaan lebih baik dari yang lainnya, tetapi lebih kepada penilaian subyektif penulis mengenai apakah saham tersebut cukup menarik untuk dikoleksi atau tidak.

Sekali lagi, penilaiannya bersifat subyektif. Jadi tidak ada metode tertentu untuk melakukan scoring. Karena subyektif, Anda tentu sangat boleh untuk tidak setuju! 🙂

Saham yang dibahas, tidak mencerminkan portfolio manapun, termasuk milik penulis.

Summary

Kode SahamRating
HMSP
ULTJ
SIDO
IFII
MLBI
PTBA
PWON
Summary Rating

HMSP

Logo HMSP
Logo HMSP

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) adalah salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. HMSP adalah pemegang merek Sampoerna, Dji Sam Soe, serta pemegang hak distribusi rokok Marlboro di Indonesia.

Dari segi fundamental, karakteristik HMSP sebagai pemimpin pasar jelas terlihat di mana perusahaan nyaris tidak memiliki utang.

Perusahaan juga bertipe cash-rich. Setidaknya di Q1 2021, nilai Cash per Share HMSP adalah sebesar IDR 120.54 yang meredengan nilai Book Value per Share sebesar IDR 282.40. Jadi sebesar 42.55% nilai sahamnya berupa uang cash.

Dari segi growth sayangnya tidak terlalu baik. CAGR Pendapatan dari tahun 2014 – 2019 hanya sebesar 5.06%. Hampir sama dengan CAGR Laba bersih yang berada di angka 5.92%.

Tahun 2020 agaknya menjadi tahun yang kurang baik bagi HMSP. Selain terjadinya penurunan pendapatan karena pandemi, perusahaan juga mengalami penurunan profit margin imbas dari kenaikan tarif cukai. Pendapatan perusahaan sebesar IDR 94.2 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar IDR 106 triliun. Pun demikian halnya dengan profit margin. Gross Profit Margin turun menjadi “hanya” sebesar 20.23%, anjlok dari rata-rata 5 tahun sebelumnya yang berada di angka 25%.

Harga HMSP konsisten turun dari tahun 2019. Hal ini agaknya disebabkan oleh sentimen sunset industry bagi industri rokok. Hal ini justru memberikan kesempatan bagi investor untuk membeli saham HMSP di harga murah.

Ketika artikel ini ditulis, harga sama ada di angka IDR 1,210. Jika dibeli sekarang, ketika pandemi berakhir, dan dengan asumsi pembagian dividen sama yang sama seperti tahun 2020, maka Dividend Yield yang ditawarkan cukup menarik, yaitu di angka 9.83%.

Untuk sentimen sunset industri sendiri, ada beberapa catatan mengapa hal ini tidak mudah terjadi di HMSP. Pertama, HMSP terlalu penting bagi Phillip Morris. Kedua, kontribusi cukai tembakau bagi pendapatan negara masih cukup besar. Belum lagi jumlah peningkatan jumlah pengangguran kalau perusahaan rokok pada tutup.

Cukai boleh naik terus. Tapi membunuh industri rokok akan sama dengan menghilangkan sumber pendapatan negara. Mungkin itu pula sebabnya sehingga Indonesia belum menandatangani FCTC.

Phillip Morris sendiri telah mengubah visinya untuk menjadi yang terdepan di dalam mentransformasi industri rokok menjadi industri bebas asap rokok. Terdengar absurd kan? Namun faktanya, PMI habis-habisan melakukan R&D untuk produk IQOS – rokok elektronik bebas asap pembakaran miliknya.

Ke depannya, agaknya kesuksesan PMI melakukan transformasi industri akan menjadi penentu apakah industri tembakau benar-benar sunset atau tidak.

Caveat

Turunnya harga saham HMSP, menawarkan Dividend Yield yang menarik di harga saat ini. Kekuatan modal investor untuk mengoleksi di harga bawah menjadi kunci. Tentunya dibarengi risiko menangkap pisau jatuh. Tidak ada yang tahu seberapa dalam harga akan jatuh.

Transformasi industri tembakau oleh PMI agaknya masih akan menemui jalan panjang dan penuh tantangan. PMI sendiri mengakui bahwa tidak ada yang bisa menjamin mereka akan sukses melakukannya.

Satu lagi.

Saat ini, dengan tidak ditandatanganinya FCTC oleh pemerintah Indonesia, maka industri rokok dalam negeri bisa dikatakan “aman” dari sunset. Namun jika pemerintah berganti di tahun 2024, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi kemudian.

Analisa saham HMSP, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

ULTJ

Logo ULTJ

ULTJ adalah pemimpin pasar produk susu UHT.

Perusahaan ini adalah salah satu cash-rich company. Sampai dengan tahun 2019, perusahaan nyaris tidak memiliki utang.

Perusahaan ini memiliki growth yang baik. Selama 10 tahun sampai tahun 2019, perusahaan mampu mencapai pertumbuhan pendapatan sebesar 14.48%.

CAGR Laba Bersih bahkan sangat baik, yaitu sebesar 32.59% dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu meningkatkan pendapatannya, tapi juga mampu meningkatkan efisiensinya secara bersamaan.

Profitabilitas perusahaan juga cukup baik. Selama 10 tahun hingga tahun 2019, rata-rata GPM berada di angka 31.08%; OPM sebesar 20.26; NPM sebesar 10.38%.

Perusahaan ini dikelola oleh keluarga pendiri dan saat ini dikelola oleh generasi kedua dan ketiga. Sang CEO sekaligus PSP – Sabana Prawirawidjaja – rajin membeli saham perusahaan yang mencerminkan keyakinan pemilik akan masa depan perusahaan.

Perusahaan melakukan strategi fokus dalam menjalankan usaha, di mana produk yang dikembangkan umumnya bertipe UHT dan olahan susu.

Secara supply chain, perusahaan mengendalikan sebagian dari bahan baku (susu sapi) melalui peternakan-peternakan yang dikelola perusahaan, atau melalui kerjasama dengan para peternak. Selain itu, perusahaan juga mengelola rantai distribusi sendiri. Kendali yang kuat terhadap supply chain, bisa jadi merupakan kunci peningkatan efisiensi perusahaan setiap tahunnya.

Di tahun 2020, perusahaan mengeluarkan surat utang jangka menengah sebesar 3 triliun. Menurut perusahaan hal ini dilakukan untuk menjaga likuiditas perusahaan dan ekspansi seperti penambahan fasilitas produksi termasuk peternakan. Kemungkinan perusahaan sengaja mencari dana murah di tengah turunnya tingkat suku bunga akibat resesi.

Secara valuasi nilai intrinsik, perusahaan berada di harga wajarnya dengan nilai PER 15x. Namun untuk perusahaan consumer goods, nilai PER termasuk rendah. PER ULTJ, sangat mungkin naik jika perusahaan konsisten menjaga pertumbuhan, melakukan efisiensi, dan meningkatkan nilai dividen.

Caveat

ULTJ termasuk emiten pelit dividen. Tahun 2020, DPR ULTJ hanya sebesar 13%, dengan Dividend Yield hanya sebesar 0.8%. Sebagai perusahaan dengan aset kas yang besar, dividend yield yang kecil seringkali menimbulkan pertanyaan apakah PSP “bermain” dan menyalurkan kas perusahaan yang besar ke kantong sendiri.

Analisa saham ULTJ, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

SIDO

Logo SIDO
Logo SIDO

Sidomuncul (SIDO) adalah salah satu contoh usaha keluarga yang sukses. Dengan produk andalan berupa jamu tradisional dengan merek Tolak Angin, SIDO sukses menjadi salah satu produsen produk jamu herbal terkemuka di Indonesia.

Secara umum, SIDO adalah perusahaan dengan fundamental baik. Perusahaan ini nyaris tidak memiliki utang jangka panjang yang berasal dari pendanaan eksternal dan bank.

Aset dan ekuitas setiap tahun bertumbuh namun dengan growth yang cukup lambat (CAGR 3.87% dan 2.97% masing-masing).

CAGR pendapatan dalam periode 2012 – 2020 termasuk biasa-biasa saja yaitu hanya sebesar 4.47%. Namun demikian, tiga tahun terakhir yaitu tahun 2018-2020, pendapatan SIDO tumbuh sebesar 7.34%, 11%, dan 8.74% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari segi profitabilitas, SIDO termasuk sangat baik dan menunjukkan peningkatan. Di tahun 2020, Gross Profit Margin berada di angka 55.14% (naik dari 38.50% di tahun 2012), dan Net Profit Margin berada di angka 28.01% (naik dari 17.12% di tahun 2012).

Beberapa tahun belakangan, SIDO mulai melakukan ekspansi ke luar negeri, yaitu ke Filipina dan Nigeria. Untuk memuluskan agenda ekspansi di luar negeri, SIDO menggandeng Affinity Equity Partners yang pada tahun 2020 mengakuisisi saham SIDO sebanyak 21%. Strategi ekspansi ini tentunya menjadi sinyal positif untuk pertumbuhan SIDO di masa depan.

SIDO termasuk emiten yang rajin membagikan dividen dan dengan yield yang cukup menarik. Dividend Yield SIDO berada di rentang 3% – 6%, bahkan sempat mencapai 8%.

Caveat

SIDO termasuk barang MAHAL. PER dan PBV SIDO konsisten berada di atas standar deviasinya untuk periode 3, 5, dan 10 tahun terakhir. Dengan growth “hanya” sebesar 9% (rata-rata tiga tahun terakhir), PER 22x dan PBV 7.3x sepertinya harga yang cukup premium. Penganut aliran Quality Investing bisa jadi tidak setuju.

Analisa saham SIDO, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

IFII

Logo IFII
Logo IFII

IFII berdiri tahun 2007 adalah perusahaan produsen produk-produk olahan kayu yaitu Medium Density Board (MDF) dan Plywood.

Perusahaan ini adalah anak usaha group Adrindo yang merupakan PSP emiten SMSM, perusahaan produsen filter merk Sakura (suku cadang mobil / otomotif).

Tingkat utang IFII sangat kecil, terutama utang jangka panjang. Menurut LK Q1 2021, perusahaan tidak memiliki utang jangka panjang yang berasal dari pendanaan pihak ketiga, atau bank.

Profit margin termasuk baik, di mana rasio Gross Margin berada di angka 28.2%, Net Profit Margin berada di angka 10.7% (per akhir tahun 2020). Sebagai perusahaan yang sedang bertumbuh, angka ini termasuk baik.

Produk MDF merupakan penyumbang pendapatan terbesar saat ini terutama dari hasil ekspor ke Jepang. Selain itu perusahaan juga mengekspor produk-produknya ke negara-negara Timur Tengah. Ekspor MDF berkontribusi sebesar hampir 56% dari total pendapatan.

Pada tahun 2020, tiga perusahaan Jepang ikut bergabung sebagai pemegang saham. Mereka adalah SMB Kenzai Co Ltd, Noda Corporation dan Ishinomaki Plywood Mfg Ltd dengan total kepemilikan gabungan sebesar 32.44%. Kehadiran ketiga pemegang saham asal Jepang ini tentunya mempermudah akses ke pasar Jepang.

Pada tahun 2021, perusahaan berencana menambah fasilitas produksi MDF serta fasilitas pendukungnya. Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI, aksi korporasi ini akan menghabiskan dana investasi sebesar sebanyak-banyaknya IDR 650 miliar, di mana sekitar IDR 450 miliar pendanaan berasal dari bank.

Valuasi IFII saat ini berada di angka PER 18x dan PBV sebesar 1.31x. Sebagai perbandingan, SMSM dihargai investor sebesar 3x.

Saat ini, IFII termasuk saham yang tidak likuid dengan nilai transaksi per hari rata-rata hanya sekitar IDR 100 jutaan. Sepinya jumlah transaksi harian, berarti IFII rawan digoreng bandar. Namun di sisi lain, belum banyaknya big fund yang melirik berarti IFII berpotensi multi-bagger di masa depan.

Caveat

IFII baru beroperasi selama kurang lebih 14 tahun, jadi ibarat manusia, masih “belum cukup umur”. Selain itu, peminatnya masih sedikit, sehingga rentan digoreng bandar.

Rencana ekspansi dengan sumber pendanaan pihak ketiga akan membebani keuangan perusahaan setidaknya selama lima tahun ke depan.

Analisa saham SIDO, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

MLBI

Logo MLBI
Logo MLBI

MLBI adalah pemimpin pasar produk bir di Indonesia. Bir Bintang dan Bir Guiness adalah dua merek yang sangat dikenal dan merupakan pemimpin pasar di segmennya masing-masing. Merek Bir Bintang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan untuk Bir Hitam Guiness, perusahaan memiliki hak eksklusif untuk memasarkannya di Indonesia.

PSP MLBI adalah Heineken B.V, sebuah perusahaan multinasional pemilik merek Bir Heineken. Manajemen perusahaan ini tentu tidak perlu diragukan lagi, sebab sepenuhnya dikelola oleh profesional.

Layaknya perusahaan pemimpin pasar, MLBI profit margin yang baik. Gross Profit Margin (GPM) di tahun 2019 berada di angka 61.75%; sedangkan Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 32.50%. Tingginya kedua margin tersebut merupakan bukti kesuksesan manajemen melakukan efisiensi, sebab 15 tahun sebelumnya di tahun 2004, angka GPM dan OPM masing-masing ada di angka 43.22% dan 12.24%.

Pendapatan MLBI terus naik dari tahun ke tahun. Namun, pertumbuhan dalam 5 tahun (CAGR=2.19%) lebih kecil ketimbang periode 10 tahun (CAGR=8.67%) – alias pertumbuhannya melambat. Trend yang sama juga terjadi pada pertumbuhan aset perusahaan.

Dari sisi utang, perusahaan ini bebas utang jangka panjang terutama yang berasal dari bank. Jadi bisa dikatakan fundamental sangat solid.

Produk minuman beralkohol masih merupakan penyumbang pendapatan terbesar perusahaan, di mana segmen ini menyumbang sebesar 91.17% pendapatan di tahun 2019. Selain Bir Bintang, penjualan Bir Hitam Guiness ternyata juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pendapatan perusahaan – yaitu sebesar rata-rata 13.82%.

Secara geografis, Bali menyumbang hampir 25.51% pendapatan di tahun 2019 melalui distribusi yang dilakukan oleh PT Bintang Bali Indah (anak perusahaan). Adanya pandemi Covid-19 yang memukul pariwisata di Bali tentunya berdampak sangat signifikan, di mana pendapatan turun dari sebesar IDR 3.7 triliun di tahun 2019, menjadi IDR 1.9 triliun di tahun 2020 (-46.51%).

Pandemi menciptakan kesempatan bagi investor retail untuk serok bawah di angka PBV 10.82x, yang mana merupakan angka yang bahkan lebih rendah dari mean PBV perusahaan ini dalam 10 tahun terakhir. Jika pandemi berakhir, MLBI sangat berpotensi turn-around dan menawarkan profit yang menarik – terutama untuk para dividend hunter.

Caveat

MLBI adalah tipe perusahaan yang sudah mature – artinya pertumbuhannya telah mengalami perlambatan. Untuk tipe growth investor, berinvestasi di perusahaan ini dalam jangka panjang mungkin bukan pilihan yang menarik.

Analisa saham MLBI, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

PTBA

Logo PTBA
Logo PTBA

PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) adalah salah satu perusahaan pertambangan batubara tertua di Indonesia. PTBA memiliki peran penting dalam penyediaan energi di Indonesia, hampir setengah dari produksi batubaranya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama penyediaan batubara bagi PLN dan Indonesia Power.

Fundamental keuangan termasuk baik. Aset dan Ekuitas tumbuh dengan CAGR sebesar 14.12% dan 14.69% dari tahun 2008 – 2019.

Perusahaan nyaris tidak memiliki utang jangka panjang yang bersumber dari pendanaan pihak ketiga. Hanya saja Imbalan Pasca Kerja jangka panjang yang mencapai 11.08% dari total aset perlu tetap diperhatikan pengelolaannya.

Sebagai perusahaan siklikal, pendapatan PTBA dipengaruhi oleh naik-turunnya harga batubara. Dalam rentang tahun 2008 – 2019, PTBA “hanya” mengalami penurunan pendapatan di tahun 2010, 2013, dan 2020. Tahun 2020, tentunya secara umum disebabkan oleh pandemi.

Selain itu, pengaruh siklus harga batubara juga dapat dilihat dari besar-kecilnya margin profitabilitas. Untuk tahun-tahun yang baik, PTBA secara umum mencatatkan margin profit yang lebih besar dari rata-rata.

CAGR pendapatan dari 2008 – 2019 adalah sebesar 10.57%. Margin profitabilitas pun cukup baik. Nilai GPM, OPM, dan NPM rata-rata di periode yang sama masing-masing berada di angka 39.34%, 26.07%, dan 21.06%. Sebagai perusahaan price taker, margin profitabilitas perusahaan termasuk sangat baik.

Dari segi segmen, PTBA membagi pendapatannya dari sumber domestik dan ekspor. Pendapatan domestik berkontribusi sebesar 59.15% dari total pendapatan. Selain itu, pendapatan PTBA juga dipengaruhi oleh kebijakan DMO di mana produsen batubara wajib menjual sebanyak 25% dari total produksinya guna pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Trend pemanfaatan green energy, secara umum memberikan sentimen negatif bagi industri batubara. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah menetapkan bauran energi batubara menjadi hanya sebesar 30% di tahun 2030, dan lebih turun lagi ke angka 25% di tahun 2050. Namun agaknya implementasi di Indonesia seperti masih jauh panggang dari api. Sampai akhir tahun 2020, batubara masih berkontribusi sebesar 65% dari total bauran energi Indonesia.

Salah satu strategi perusahaan saat ini adalah hilirisasi batubara. Dengan adanya hilirisasi, diharapkan di masa depan perusahaan tidak terlalu tergantung pada penjualan batubara saja, dan dapat bertransformasi menjadi perusahaan penyedia energi – sesuai dengan semangat BeyondCoal yang menjadi tagline PTBA.

Kenaikan harga batubara dari awal tahun 2021, menjadikan emiten batubara terutama dengan fundemantal kuat seperti PTBA menjadi menarik untuk dikoleksi. Ketika artikel ini dibuat, harga batubara sempat menyentuh $125 per ton.

Caveat

Selain DMO, kebijakan lain yang kurang menguntungkan bagi PTBA adalah harga batubara untuk listrik yang dipatok di harga $70 per ton. Karena hasil produksi PTBA sebagian besar dijual ke PLN dan Indonesia Power, hal ini tentu menjadi sentimen negatif, sebab PTBA jadi tidak dapat menikmati sepenuhnya potensi kenaikan pendapatan ketika harga batubara naik tinggi.

Analisa saham PTBA, pernah penulis ulas di sini.

Verdict (4 stars)

PWON

Logo PWON
Logo PWON

Selama 30 tahun beroperasi, Pakuwon Jati (PWON) mantap mengukuhkan diri sebagai perusahaan properti terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini membagi bisnisnya ke dalam tiga segmen: pengusahaan pusat perkantoran dan perbelanjaan, real estat, dan perhotelan.

Perkantoran dan Mall serta real estat adalah penyumbang pendapatan terbesar dengan hampir 90% pendapatan berasal dari dua sektor ini. Sedangkan perhotelan, walaupun kontribusinya tidak signifikan, namun tumbuh sangat pesat dengan CAGR sebesar 24.57% dalam waktu 10 tahun terakhir.

PWON adalah tipe high-growth company. Aset dan ekuitas 10 terakhir sampai dengan tahun 2019 tumbuh dengan CAGR masing-masing sebesar 22.33% dan 30.68%.

DER terus menurun dari angka 179.05% di tahun 2009, menjadi sebesar 21.49% saja di tahun 2019. Menandakan bahwa perusahaan cukup konservatif dalam mengelola utangnya.

Layaknya perusahaan properti yang dipengaruhi naik-turunnya permintaan, kinerja PWON juga dipengaruhi oleh siklus bisnisnya. Hanya saja, pengaruhnya lebih kepada tebal tipis margin usaha. Secara umum, dari tahun ke tahun, pendapatan perusahaan tetap tumbuh.

Salah satu keunggulan PWON adalah besarnya recurring income – alias pendapatan berulang. Recurring income PWON berkontribusi terhadap 51.4% pendapatan di tahun 2019. Besarnya recurring income, tentunya memberikan likuiditas yang baik, sehingga perusahaan tidak selalu ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal untuk ekspansi.

Saat ini perusahaan memiliki Land Bank yang cukup untuk melakukan development selama 10 tahun ke depan. Ditambah lagi, spesialisasi perusahaan adalah kawasan superblock, alias properti vertikal yang relatif lebih irit lahan.

Tahun 2020, terjadi penurunan pendapatan yang sangat signifikan akibat pandemi Covid-19, yaitu dari sebesar IDR 7.2 triliun, menjadi IDR 3.9 triliun.

Namun demikian, situasi pandemi tidak menghalangi perusahaan untuk melakukan ekspansi, di mana di tahun ini perusahaan melakukan akuisisi dua buah mall dan satu hotel di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Akuisisi ini bisa menjadi sinyal positif. Pertama, perusahaan sepertinya masih memiliki likuiditas yang cukup untuk bertahan di tengah kondisi pandemi yang tidak kunjung selesai. Kedua, lokasi akusisi di luar Jakarta dan Surabaya, menjadi sinyal positif di mana perusahaan mulai melirik growth ke daerah lainnya.

PWON bisa dipertimbangkan untuk dikoleksi dalam masa pandemi, dengan harapan jika terjadi economic book pasca pandemi, sektor properti (dan PWON) akan ikut menikmati hasilnya.

Caveat

Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Jika berkepanjangan, tentu PWON akan sangat terpukul dengan rendahnya angka kunjungan ke mall, dan sentimen Working From Home (which means people no longer need an office).

Dari segi valuasi, tidak ada cara yang mudah untuk memastikan berapa harga yang pantas untuk PWON. Yang paling mendekati mungkin menggunakan PBV, di mana saat artikel ini ditulis (Juni 2019), PBV PWON sedang berada di area di bawah standar deviasinya.

Analisa saham PTBA, pernah penulis ulas di sini.

Verdict:

Demikian, semoga bermanfaat!

One thought on “LynPF Two Minutes Drill ala Peter Lynch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s