Analisa Saham Astra International (ASII)

Astra International Tbk. (ASII) adalah salah satu perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1957 dan merupakan one of the most respected company in Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2019, perusahaan ini beroperasi di tujuh segmen usaha yang terdiri dari 1) Otomotif, 2) Jasa Keuangan, 3) Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi, 4) Agribisnis, 5) Infrastruktur dan Logistik, 6) Teknologi Informasi dan 7) Properti.

Logo ASII

Nama Astra (ASII) identik dengan sang founder: Bapak William Soeryadjaya. Selain Soeryadjaya banyak nama-nama beken tanah air terafiliasi dengan perusahaan ini. Entah pernah manjadi karayawan, komisaris, direktur, partner bisnis, dal lain-lain. Kalau anda googling William Soeryadjaya atau Astra International, anda akan mendapatkan nama-nama beken tanah air seperti T.P. Rachmat, Thohir (Boy Thohir & Eric Thohir), Sandiaga Uno (Saratoga), Rini Seomarno (eks Presiden Direktur / mantan Menteri BUMN), Chatib Basri (komisaris dan mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani (eks Komisari dan Menteri Keuangan saat ini).

Dengan nama besarnya, apakah ASII layak untuk dikoleksi ke dalam portfolio?

Fundamental

ASII adalah salah satu saham blue chip di BEI. Jadi sepertinya kalau dari segi fundamental penulis hanya akan membahasnya sekilas saja.

Per hari ini, ASII sepertinya tidak akan declining anytime soon.

Balance Sheet

Sebagai sebuah perusahaan blue chip, a strong balance sheet is a must. And that is what ASII has.

Dari segi hutang, ASII konsisten menjaga tingkat hutang perusahaan di angka yang baik. Rata-rata Long Term Debt / Equity 5 tahun terakhir konsisten berada di kisaran 30%; Long Term Debt / Total Asset konsisten berada di kisaran 10% – 15%.

Tingkat Hutang ASII berada dalam kondisi yang baik 5 tahun terakhir

Income Statement

Secara rata-rata, profitabilitas ASII dalam lima tahun terakhir terhitung cukup baik. ROA konsisten berada di atas 4%. ROE selalu di atas angka 10% bahkan sempat melebihi 15% di tahun 2017 dan 2018. Bahkan dalam kondisi pandemi, ASII masih bisa mencatatkan ROE di atas 10%.

Jika horizon masa lalu kita panjangkan, ASII bahkan mencatat kinerja yang cukup superior, di mana ROE ASII di medio 2008 – 2010 berada di atas 30%. Sungguh angka yang fantastis.

Sayangnya, jika menggunakan horizon yang sama pula, diketahui perkembangan ROE ASII memiliki trend yang menurun.

Trend ROA dan ROE ASII cenderung menurun

Apakah arti dari ROE ASII yang menurun ini?

ROE bisa diartikan secara singkat sebagai seberapa efektif sebuah perusahaan mampu memutar modal nya untuk menghasilkan profit. Semakin besar modal, dengan return yang sama, maka semakin kecil nilai ROE nya. Menurut analisa penulis, ASII mampu mengakselerasi growth nya sedemikian rupa sehingga menjadi mesin pencetak keuntungan yang begitu luar biasa di masa lalu. Namun seiring dengan semakin besarnya perusahaan, kemampuannya untuk mencetak profit semakin menurun. Artinya growth-nya melambat.

Kita akan analisa lebih lanjut mengenai growth yang melambat ini belakangan.

Cashflow

Dari segi cashflow, tidak diragukan lagi bahwa ASII adalah mesin pencetak uang. Bisa dilihat bahwa dalam lima tahun terakhir, ASII selalu mampu membukukan operating cashflow dan free cashflow positif.

ASII membukukan cahsflow positif lima tahun terakhir

Kualitatif

Ada beberapa catatan kualitatif penulis terhadap perusahaan ini.

Manajemen yang Baik

Bagian ini tidak usah diragukan lagi. ASII menurut penulis bisa dikatakan salah satu living legend perusahaan di Indonesia. Banyak nama-nama tersohor negeri ini setidaknya sekali dalam waktu dalam karir profesionalnya pernah bersentuhan dengan perusahaan ini: mulai dari pengusaha, birokrat, akademisi, politikus, bankir, dan lain-lain. Network anak dan cucu perusahaan ASII mulai dari otomotif, pertambangan, infrastruktur, dan lain-lain; membuat banyak pihak berkepentingan dengan perusahaan ini.

Pengaruh Bisnis Otomatif

Mendengar nama Astra, kebanyakan orang akan mengasosiasikannya dengan merk motor Honda, atau barangkali merek mobil Toyota. Ya, Astra/ASII adalah distributor utama kedua merek tersebut di Indonesia.

Namun seberapa signifikan kah pengaruh bisnis otomotif ASII terhadap keseluruhan bisnis ASII?

Dengan melakukan analisa laporan tahunan sepuluh tahun terakhir, ternyata pengaruh bisnis otomotif terhadap pendapatan ASII secara keseluruhan cenderung berkurang dari tahun ke tahun. Namun demikian, bisnis otomotif masih merupakan segmen usaha terbesar dari bisnis ASII.

Kontribusi pendapatan ASII dari bisnis otomotif adalah sebesar 53.68% dari total pendapatan ASII pada tahun 2010. Jumlah ini secara konsisten menurun hingga akhirnya di tahun 2019, kontribusi segmen ini hanya sebesar 44.21%.

Lebih jauh ke belakang, angka-angka ini menurun secara sigifikan dibandingkan tahun 2000 dan 2001, di mana pada tahun-tahun tersebut, kontribusi segmen otomotif adalah sebesar 86.92% dan 84.88%.

Data pendapatan dari segmen otomotif ASII dari tahun 2010 sampai tahun 2019, dapat dilihat di tabel di bawah ini.

Kontribusi Segmen Otomotif ASII Terhadap Total Pendapatan

Dengan line chart view, akan terlihat dengan lebih jelas bahwa kontribusi pendapatan dari segmen otomotif dari tahun ke tahun semakin berkurang.

Apakah hal ini merupakan hal yang tidak baik? Tidak juga. Hanya saja, untuk melakukan analisa bisnis ASII, kita tidak bisa melihat trend industri otomotif saja.

Segmen Bisnis Lainnya

Selain segmen otomotif, segmen bisnis manakah yang paling berpengaruh terhadap ASII?

Berdasarkan laporan keuangan ASII selama 10 tahun terakhir, ternyata segmen kedua paling berpengaruh adalah segmen Pertambangan dan Penjualan Alat Berat. Segmen ini secara rata-rata berkontribusi hampir 30% dan menunjukkan trend yang meningkat. Pada tahun 2010 segmen ini berkontribusi sebesar 28.92% pada pendapatan ASII. Pada 2019, kontribusi segmen ini telah menjadi sebesar 35.60%.

Perbandingan kedua segmen ini dan kontribusinya terhadap total pendapatan dapat dilihat di bawah ini.

Perbanding Kontribusi Segmen Otomotif vs Pertambangan dan Penjualan Alat Berat

Dalam line chart, jelas terlihat bahwa tidak seperti segmen otomotif yang cenderung menurun, kontribusi pendapatan dari segmen Pertambangan dan Alat Berat menunjukkan peningkatan.

Bahkan, jika dilihat jauh ke belakang, menurut Laporan Tahunan ASII 2002, segmen ini hanya menyumbang sebesar 1% saja. Artinya, Segmen Pertambangan dan Penjualan Alat Berat menunjukkan growth yang sangat pesat dalam waktu hampir 20 tahun terakhir.

Apa artinya ini bagi bisnis ASII?

Secara positif, hal ini berarti ASII sukses melakukan diversifikasi bisnis. Diversifikasi jika dilakukan secara benar akan baik untuk kelangsungan hidup perusahaan, sebab perusahaan tidak hanya tergantung dari satu source of revenue saja.

Tidak banyak perusahaan yang mampu melakukan diversifikasi bisnis dengan sukses; apalagi seperti ASII yang melakukan sukses melakukan diversifikasi bisnis yang tidak berhubungan secara langsung (Otomotif vs Pertambangan). Bagi penulis ini semata menunjukkan kepiawaian management mengelola bisnis ASII.

A Cyclical Company?

Jelas ASII adalah cyclical company. Hanya saja kita harus berhati-hati dengan siklus mana perusahaan ini terasosiasi.

Melihat kontribusi pendapatan bisnis otomotif ASII yang semakin berkurang dari tahun ke tahun, mengasosiasikan ASII hanya dengan industri otomotif saja tentunya kurang tepat. Dengan semakin meningkatnya kontribusi bisnis pertambangan, maka siklus bisnis ini juga harus dipertimbangkan.

Kalau untuk siklus otomotif, mungkin bisa dihubungkan dengan perekonomian secara umum. Jika ekonomi lagi bagus – alias sedang growing (biasanya setelah krisis) – bisnis otomotif mulai menggeliat. Kondisi fasilitas transportasi umum di Indonesia yang masih relatif tertinggal dari negeri tetangga seperti Australia dan Singapore, mengakibatkan transportasi pribadi menjadi barang yang penting. Sekunder lah. Dalam kondisi economic boom, mengganti transportasi dengan model baru walaupun yang lama masih bisa dipakai sepertinya merupakan hal yang wajar di Indonesia.

Kalau untuk bisnis pertambangan, sepertinya terlalu kompleks untuk dijelaskan di sini. Mudahnya mungkin dengan memperhatikan harga-harga komoditas seperti batubara, CPO, dan lain-lain.

Slow Growth Company

Dilihat dari segi total pendapatannya, CAGR revenue ASII dari 2010 sampai dengan 2019 adalah sebesar 4.29%. Kalau dilihat dengan rata-rata pertumbuhannya (bukan CAGR) angka yang didapat lebih baik, yaitu sebesar 7.49%. Kalau dari CAGR EPS, maka didapat angka sebesar 5.72%.

Berdasarkan data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa ASII adalah perusahaan dengan tipe slow growth.

Komposisi Pemegang Saham

ASII adalah emiten kesukaan para smart money or big fund managers.

Menurut laporan keuangan ASII tahun 2019, terdapat 37,588 pemegang saham perusahaan. Jumlah ini melonjak 4.5 kali lipat dari sebanyak 8,221 pihak menurut laporan tahunan 2008.

Kompsisi Pemegang Saham ASII berdasarkan Laporan Tahunan 2019
Kompsisi Pemegang Saham ASII berdasarkan Laporan Tahunan 2008

Apa artinya?

Find a company that no analyst has ever visited, or that no analyst would admit to knowing about, and you’ve got a double winner.

Peter Lynch, One Up on Wall Street

Menurut Om Lynch, kalau kita mengharapkan multi bagger company, salah satu “sinyal” nya adalah belum terlalu banyak (atau bahkan tidak ada) big money yang mengetahuinya. ASII tentunya dengan size-nya yang sudah sebesar sekarang, sangat mustahil untuk tidak menarik minat para big money. As a result, apresiasi harganya mungkin hanya akan di situ-situ saja.

Dividen

Yield terakhir adalah sebesar 3.4% – jadi sepertinya tidak terlalu menarik.

Valuasi

Analisa valuasi sederhana dapat dilakukan seperti di bawah ini.

Intrinsik

Dengan cara yang sama untuk menghitung nilai intrinsik EKAD, penulis mendapati bahwa ASII pantas dihargai di rentang IDR 6,048 sampai dengan IDR 6,431.

Perhitungan dengan metode seperti ini tentunya seperti menggampangkan masalah. Karena sifatnya yang cyclical, asumsi pertumbuhan yang konstan mungkin tidak terlalu tepat dipakai. Tetapi menurut penulis ini masih lebih baik ketimbang tidak ada acuan sama sekali.

PBV

PBV ASII 10 tahun terakhir dapat dilihat pada screenshot di bawah ini.

PBV ASII 10 Tahun Terakhir

Dari chart PBV tersebut terlihat bahwa nilai PBV ASII dari tahun ke tahun semakin menurun. Katakanlah di bulan Maret 2011, investor berani membayar selembar saham ASII 6x dari harga bukunya; sedangkan di bulan Maret 2021, hanya sebesar 1.4x saja.

Apakah ini berarti bahwa saat ini harga ASII semakin murah? Tidak semudah itu, Ferguso! Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, kita padukan dulu chart PBV dan ROE-nya. Berikut gambarnya.

PBV dan ROE ASII 10 Tahun Terakhir

Dari grafik di atas, terlihat bahwa terdapat korelasi yang kuat antara trend PBV dan ROE ASII. Trend ROE ASII yang cenderung menurun, menyebabkan pasar “menghukum”. Ketimbang membayar 6x harga bukunya seperti tahun 2011 di mana ROE ASII di atas 30%, pasar merasa “cukup” untuk menghargai ASII hanya di 1.44x saja dengan ROE yang hanya sebesar 10.38% di bulan Maret 2021.

Jadi ini artinya murah atau mahal?

Tergantung.

Untuk jangka, (menurut penulis) jika Anda memiliki keyakinan bahwa ROE ASII di masa depan akan mampu menyamai kemampuannya di masa lalu, bolehlah mempertimbangkan memasukkan ASII ke portfolio. Otherwise, untuk jangka pendek, mungkin bisa melihat PER-nya.

PER

Chart di bawah ini menunjukkan PER dan Price ASII dalam satu chart.

Terlihat bahwa PER ASII lebih berkorelasi dengan harga sahamnya. Jadi kalau earning naik, harga ikut naik. Sebaliknya jika earning turun, ya harga juga ikut turun.

PER dan Price ASII 10 Tahun Terakhir

Jadi apakah saat ini ASII murah atau mahal?

Well, secara relatif untuk saat artikel ini di tulis, ASII bisa dibilang so-so. Tidak murah, tapi tidak mahal juga.

Kalau melihat trend, PER ASII saat ini masih di bawah mean standard deviasinya. Kalau pandemi Covid-19 sudah selesai, dan perekonomian membaik, besar kemungkinan pasar otomotif dan pertambangan akan kembali setidaknya ke masa sebelum pandemi – alias earning ASII pasti naik. Jadi untuk jangka pendek, menurut penulis ASII bisa dipertimbangkan setidaknya sampai setelah setahun atau dua tahun pandemi berakhir. Tentu dengan catatan harus tetap mengikuti dua bisnis utama ASII (otomotif dan pertambangan).

Kesimpulan

Terdapat beberapa point yang bisa disimpulkan dari analisa di atas:

  1. ASII adalah perusahaan yang baik. Hal ini tidak perlu diragukan lagi. Orang-orang yang pernah atau sedang terlibat di dalamnya, menjadi bukti bahwa ASII adalah perusahaan yang sangat dihormati di Indonesia.
  2. Dari segi fundamental keuangannya, ASII tidak perlu diragukan.
  3. Walaupun demikian, ROE ASII cenderung menurun. Trend ROE yang menurun ini menyebabkan ASII dihargai pasar dengan trend PBV yang semakin menurun pula.
  4. Saat ini ASII bisa dikategorikan sebagai Slow Growth company. CAGR growth ASII 10 tahun terakhir hanya sebesar 5.72%.
  5. Berdasarkan point 3 dan 4, menurut opini pribadi penulis, ASII tidak terlalu menarik untuk investasi jangka panjang. Dengan apa yang ditawarkan ASII saat ini, opportunity untuk menemukan multi-bagger di emiten lain terlihat lebih menjanjikan. Kecuali jika terdapat aksi korporasi yang menarik yang memungkinkan ASII kembali pada growth-nya di masa lalu. Mobil listrik mungkin?
  6. ASII bisa dipertimbangkan masuk ke portfolio dengan memperhatikan PER dan siklus industri. Untuk siklus industri, jangan lupa bahwa ada dua segmen bisnis ASII: otomotif dan pertambangan. Hanya melihat trend industri otomotif saja, tentunya kurang tepat.

Tentunya menganalisa perusahaan sebesar ASII tidak cukup dilakukan dengan hanya sebuah tulisan di blog. ASII adalah perusahaan konglomerasi. Untuk mengetahui dengan baik kondisi perusahaan ini, tentu analisa yang lebih detail dan menyeluruh terhadap segmen-semen usahanya tentu diperlukan. Namun demikian, analisa sederhana ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran kepada para investor retail yang sedang mempertimbangkan untuk memasukkan ASII ke dalam portfolio.

Demikian, semoga bermanfaat!

Analisa Saham Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)

Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII) yang didirikan tahun 2007 ini adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang industri Medium Density Fibreboard (papan serat berkerapatan sedang — MDF) dan produk kayu olahan lainnya.

IFII melantai di BEI pada akhir tahun 2019 — fresh from the oven.

Sebagai perusahaan yang belum lama beroperasi (di bawah 20 tahun relatif masih belum lama lah ya) — IFII ternyata menyimpan sejumlah catatan-catatan yang menarik.

Logo IFII — screenshot diambil dari Annual Report IFII tahun 2019

Analisa Fundamental

Balance Sheet

Dilihat dari total aset nya, IFII mengalami penurunan nilai aset dari IDR 1,1091 miliar di akhir tahun 2019, menjadi sebesar IDR 1,082 miliar di Q3 2020. Tampaknya faktor yang berpengaruh paling besar dari penurunan nilai aset ini adalah biaya penyusutan yang mana pada tahun 2019 dan 2018 masing-masing adalah sebesar IDR 82,4 miliar dan IDR 79,3 miliar.

Utang jangka panjang sangat kecil yaitu hanya sebesar IDR 15 miliar. Dengan menggunakan kas perusahaan saja yang pada Q3 2020 sebesar 27 miliar, utang ini bisa langsung dilunasi. VERY GOOD.

Secara lebih lengkap, rasio-rasio balance sheet dapat dilihat di bawah ini. Screenshot ini penulis ambil dari stockbit.

Rasio-rasio balance sheet IFII

Jika dilihat angka Current Ratio yang berada di angka 3.04 dan Quick Ratio di angka 1.5 menunjukkan likuiditas yang dimiliki perusahaan cukup baik. Dalam jangka pendek, perusahaan akan mampu melunasi hutang-hutang jangka pendeknya. LT Debt juga tergolong sangat kecil yaitu hanya sebesar 0.02.

Bisa disimpulkan posisi keuangan IFII berada dalam posisi yang sangat sehat.

Income Statement

Di tahun 2019, IFII mencatatkan pertumbuhan penjualan yaitu dari angka IDR 609 miliar di tahun 2018, menjadi sebesar IDR 670 miliar (+10%).

Di tahun 2020, IFII sempat mencatatkan kenaikan penjualan di Q1 dan Q2 2020. Adanya pandemi Covid-19 tentunya berpengaruh pada pendapatan perusahaan di mana di Q3 2020 perusahaan hanya mencatatkan nilai penjualan sebesar IDR 182 miliar. Hasil ini lebih rendah dari angka penjualan Q2 2019 yang sebesar IDR 211 miliar.

Menurut LK 2019, bahan baku menjadi penyumbang terbesar Beban Pokok Penjualan yaitu sebesar 58.44%, disusul biaya penyusutan dan pemeliharaan sebesar 22.62%, dan upah langsung sebesar 17.21%.

Beban Pokok Penjualan — IFII

Rasio-rasio yang berhubungan dengan income statement, dapat dilihat di screenshot di bawah ini (diambil dari stockbit).

Rasio-rasio income statement IFII

Dari segi analisa ROA sebesar 5.38%, termasuk angka yang cukup baik (di atas 5%). 

Namun dari segi ROE yang hanya berada di angka 6.10%, nampaknya tidak terlalu baik karena di bawah 10%. Angka ini pun turun dari tahun sebelumnya yaitu dari angka 7.84%. Penurunan ini tampaknya disebabkan oleh meningkatnya ekuitas karena adanya tambahan modal dari IPO.

Rasio-rasio profitibilitas lainnya juga masih tergolong baik. Pada Q3 2020, Gross Profit Margin adalah sebesar 30.4%, dan Net Profit Margin sebesar 11.9%. Ini menunjukkan produk-produk IFII memiliki economic moat sehingga bisa dijual di harga dengan margin yang cukup tinggi.

Rasio-rasio profitabilitas IFII

Cash Flow

Pada akhir tahun 2019, IFII mencatatkan operating cashflow positif sebesar IDR 122 miliar. Di tahun 2020 juga IFII tidak pernah absen mencatatkan operating cashflow positif setiap quarter-nya, yaitu sebesar IDR 20 miliar, IDR 30 miliar, dan IDR 68 miliar; untuk masing-masing Q1, Q2, dan Q3 2020.

IFII mencatatkan operating cashflow positif sampai Q3 2020.

Kualitatif

Produk

Produk utama perusahaan adalah Medium Density Fiberboard (MDF). Berdasarkan LK Q3 2020, MDF berkontribusi terhadap penjualan sebesar hampir 90%.

Mengapa MDF? Menurut management, hal ini lantaran bahan baku MDF yang relatif lebih mudah didapat — yang mana untuk memproduksi MDF tidak diperlukan jenis kayu khusus. 

Selain itu perusahaan juga memproduksi produk-produk olahan kayu lainnya yaitu Plywood, High Moisture Resistant (HMR), Finger Joint dan Veneer. 

Ke depannya perusahaan berencana untuk lebih menggencarkan produksi dan penjualan produk Plywood. Kalau dilihat data penjualan sampai dengan Q3 2020, sepertinya Plywood belum berkontribusi signifikan pada pandapatan perusahaan yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri. Semakin banyak revenue sources baru, maka akan semakin cepat growth dari perusahaan.

Market

Berdasarkan LK Q3 2020, diketahui bahwa IFII lebih banyak bermain di pasar ekspor yang mana pasar ekspor berkontribusi sebesar hampir 80% dari total penjualan perusahaan.

Dilihat dari tujuan ekspor nya, penjualan produk MDF ke Jepang dan Timur Tengah menjadi pasar terbesar dengan nilai penjualan masing-masing sebesar IDR 171.905 miliar, dan IDR 167.301 miliar.

Dilihat dari laporan tahunan IFII tahun 2019, terlihat bahwa perusahaan memiliki perhatian khusus pada pasar Jepang. Dari tahun 2017, penjualan ke Jepang melonjak tajam dari IDR 78.349 miliar menjadi IDR 282.700 miliar pada akhir tahun 2019.

Penjualan Produk Utama IFII Berdasarkan Target Market

Menurut management, harga jual produk MDF ke Jepang memiliki margin laba yang lebih besar dibandingkan dengan harga jual produk MDF lainnya. Hal ini bahkan menyebabkan perusahaan mengalihkan sebagian sumber daya produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar Jepang yang mana produk pasar Jepang membutuhkan waktu pengolahan yang lebih lama.

Bahan Baku

Sebagai perusahaan manufaktur, ketersediaan dan harga bahan baku menjadi hal yang sangat krusial. 

Dalam kasus IFII, bahan baku berkontribusi sebesar 58.44% lebih terhadap Harga Pokok Penjualan, sehingga dalam jangka panjang sangat penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku untuk menjaga agar harga harga tetap stabil. Dalam jangka panjang hal ini akan menambah efisiensi perusahaan.

Dalam laporan tahunannya sendiri, management menjadikan ketersediaan bahan baku sebagai risiko pertama dalam analisis risiko usaha.

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, perusahaan mengandalkan sumber eksternal dan dari pihak ketiga. Melalui program CSR, perusahaan melakukan bekerja sama dengan masyarakat untuk mengembangkan hutan sosial ketimbang mengusahakan sendiri dengan membuat Hutan Tanaman Industri. 

Menurut management sendiri dalam wawancara di video di atas, management berkeyakinan bahwa pasokan kayu dari sekitar lokasi pabrik di Sumatera Selatan sana, masih cukup untuk menunjang ketersediaan bahan baku bahkan sampai 50 tahun ke depan.

Management

Ada beberapa hal yang menarik dari segi management.

Yang pertama, IFII adalah anak perusahaan group Adrindo. 

Adrindo adalah PSP emiten SMSM (PT Selamat Sempurna Tbk) — yang merupakan perusahaan manufaktur produsen komponen otomotif terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1976, dan sepanjang usianya telah melakukan ekspor produk ke lebih dari 120 negara di dunia. Jadi soal kualitas produk seharusnya tidak diragukan.

Keunggulan Adrindo adalah kelompok usaha ini cukup konservatif dalam menjaga rasio-rasio keuangannya. 

SMSM konsisten menjaga tingkat hutangnya pada level yang sangat rendah. Silakan simak screenshot berikut — almost 0 all the time.

Dari segi profitabilitas pun sangat baik. SMSM mampu meningkatkan ROE dari 10.67% di tahun 2007 menjadi 18.59% di tahun 2019. Well, naik turun tentunya, tapi trend-nya meningkat.

Yang kedua, target pasar Jepang.

Adrindo telah menjalin kerjasama dengan the Japanese since day one. Walaupun otomatif dan kayu tidak berhubungan, tetapi market nya tetap sama: Jepang. I believe they know how to deal with the Japanese, how to do business in the country, and understand how’s the market inside the country.

Pengalaman penulis di dunia profesional, untuk memahami sebuah pasar di negara orang, kita harus mengerti kultur budaya di negara itu. Dengan pengalaman Adrindo selama puluhan tahun berbisnis dengan orang Jepang, sangat masuk akal jika mereka menjadikan negara ini sebagai target market utama — sebelum tentunya merambah ke negara-negara lainnya.

Tidak heran jika terjadi perubahan hasil penjualan dari yang lebih banyak dari pasar Timur Tengah di tahun 2018, menjadi lebih dominan di pasar Jepang di tahun 2019. Menurut keyakinan penulis, hal ini tentunya didasari atas pengetahuan management perusahaan yang baik akan prospek dari pasar Jepang itu sendiri.

The Japs are also shareholders — significant one.

Terdapat setidaknya tiga perusahaan asal Jepang yang menjadi pemegang saham perusahaan: Noda Corporation, Ishinomaki Plywood Manufacturing Co.Ltd dan SMB Kenzai Co.,Ltd. Yang terakhir memiliki porsi saham yang cukup signifikan yaitu sebesar 25% yang mana porsi saham ini hanya diungguli oleh PSP yang memegang porsi kepemilikan sebesar 51%.

Ada beberapa jejak digital menarik yang bisa diketahui dari shareholders asal Jepang ini.

SMB Kenzai Co.Ltd merupakan perusahaan yang bergerak dalam perdagangan material bangunan. Menurut website perusahaan: Sumitomo, Mitsui, dan Marubeni adalah pemegang saham perusahaan. Penulis menyarankan anda googling saja nama-nama tadi untuk mengetahui sepak terjangnya 🙂

Noda Corporation, menurut situs resmi perusahaan, ternyata memiliki perusahaan di Indonesia yang juga bergerak di bisnis hasil olahan kayu yaitu di PT. Sura Indah Wood Industries. Perusahaan ini berdiri tahun 1990. Jadi bisa dibilang salah satu pemain lama industri kayu di Indonesia. 

Selain itu, Noda Corporation juga memiliki saham di perusahaan lain di Malaysia — Sanyan Wood Industries Sdn. Bhd. Masih menurut situs perusahaan, bisnis utama dari perusahaan ini adalah “Manufacturing of plywood”.

Ishinomaki sendiri adalah anak usaha dari Noda Corporation.

Jadi to summarize, IFII saat ini didukung oleh shareholders yang sangat berpengalaman di industri ini di Jepang sana. SMB Kenzai definitely bukan perusahaan kemarin sore. Sedangkan Noda Corporation sudah memiliki pengalaman mendirikan sendiri perusahaan produsen Plywood di Indonesia. 

Valuasi

Intrinsik

Karena IFII baru melantai di bursa tahun 2019, penulis agak kesulitan mendapatkan data historis perusahaan.

Namun demikian, dengan asumsi BVPS sebesar IDR 107, CAGR 15%, dan PER 15x, dalam jangka waktu 10 tahun, IFII saat ini pantas dihargai di harga IDR 120.45. Sedangkan dengan asumsi CAGR 15%, dan PER 15x; didapat harga IDR 165.20. Cara perhitungan nilai intrinsik dapat dilihat di contoh artikel perhitungan nilai intrinsik saham EKAD.

Di harga saat ini (IDR 145), secara sekilas IFII memang terlihat mahal di mana MOS yang ditawarkan adalah sebesar -13.97% dan 18%.

Kalau hanya menggunakan kriteria ini saja, tentu membeli IFII di harga sekarang tidak dianjurkan. Well, penulis memiliki keyakinan lain, tapi silakan lanjutkan membaca dulu.

PER dan PVB

Ketika artikel ini ditulis, nilai PER IFII berada di angka 19.65x (TTM), dan angka 18.52x (annualized). Sedangkan nilai PBV nya adalah sebesar 1.36x.

Secara sekilas di harga saat ini, IFII bisa dikatakan masih tergolong mahal.

Lain-lain

Saat ini IFII termasuk saham yang cukup sepi alias tidak banyak dilirik. Valuasi perdagangan di bursa mungkin sekitar kurang lebih IDR 100 juta per hari. Jadi saat ini IFII termasuk saham yang tidak likuid dan cukup rawan digoreng.

Namun justru ini hal yang membuat IFII menjadi cukup menarik. Seandainya IFII di masa depan sukses melakukan ekspansinya dan mulai dilirik bandar-bandar besar, maka porsi kepemilikan publik sebesar 18.02% seharusnya bisa menjadikan saham ini menjadi cukup likuid dan bukan tidak mungkin akan ikut mengerek harganya.

Find a company that no analyst has ever visited, or that no analyst would admit to knowing about, and you’ve got a double winner.

Peter Lynch, One Up On Wall Street

Khusus untuk masalah goreng-menggoreng, sepertinya penulis cukup yakin hal ini tidak terjadi kalau melihat rekam jejak PSP. Well, memang tidak menutup kemungkinan kalau pihak-pihak tertentu ingin melakukan aksi goreng-menggoreng mengingat volume perdagangan yang kecil.

Kesimpulan

  1. Berdiri sejak tahun 2007, dan memulai ekspor pertama di tahun 2012, sebagai sebuah perusahaan IFII is just getting started. Dengan track record management yang baik (Adrindo/SMSM), dan dukungan korporasi asing yang kuat, IFII memiliki potensi masa depan yang cukup menjanjikan.
  2. Masih soal management, dengan karakteristik Adrindo yang cukup konservatif menjaga rasio keuangan perusahaan, penulis yakin IFII tidak akan ceroboh atau tergoda untuk melakukan ekspansi secara berlebihan dengan aksi korporasi macam-macam. Produce efficiently, penetrate the market (with the help of home players), widen the profit margin, REPEAT!
  3. Komposisi shareholder yang didukung korporasi besar Jepang, menurut penulis akan sangat membantu IFII menaklukkan pasar tersebut. Dan jika sukses dengan pasar Jepang, hanya masalah waktu saja sebelum IFII merambah ke pasar-pasar lainnya.
  4. Again, they are just getting started. Saat ini produksi terbesar perusahaan adalah MDF. Namun dengan dukungan pemegang saham Jepang yang sepertinya cukup berpengalaman di industri Plywood, source of revenue IFII di masa depan nampaknya akan semakin bertambah.
  5. Jangan lupa, bahwa pasar Middle East juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi penjualan. Ini tentunya memberikan keyakinan bahwa IFII tidak hanya menargetkan satu pasar saja. Penulis yakin, setelah “selesai” dengan Jepang, perusahaan akan membidik pasar-pasar di belahan dunia lainnya.
  6. Kalau melihat hanya dari MOS, PER, dan PBV saja, maka IFII saat ini mungkin terlihat kurang menarik. Namun dengan semua penjelasan di point 1 – 5, bukan tidak mungkin IFII akan dapat meraih growth CAGR di atas 15% dengan semua kondisi di atas, sehingga valuasi PER dan PBV nya pun bisa jadi lebih tinggi.
  7. ROE sebesar 6.10% saat ini harus tetap menjadi catatan. Namun, catatan tambahannya adalah IFII baru berdiri tahun 2007 — still very young. Jika management mampu mereplikasi kesuksesan SMSM di IFII dalam hal menggenjot ROE, di masa yang akan datang nilai perusahaan ini akan sangat menjanjikan.
  8. Timeframe investasi IFII adalah jangka panjang. Setidaknya 10 tahun. Usia yang masih muda selain menyimpan potensi yang menjanjikan, harus tetap menjadi perhatian. Evaluasi secara berkala menjadi kunci untuk memastikan apakah IFII akan tetap on-the-track menjalankan ekspansinya.

Other Notes

Penulis kesulitan mendapatkan seberapa besar pasar MDF or Plywood di Jepang dan siapakah player-player utama di industri ini. Walaupun ada nama-nama korporasi raksasa Jepang di belakang IFII, tetap tidak menjadi fakta apakah mereka merupakan pemain utama atau tidak.

Selain itu, akan lebih meyakinkan lagi jika penulis mendapatkan informasi tentang seberapa besar potensi pasar MDF dan Plywood di Jepang — jadi bisa diketahui apakah nilai ekspor IFII saat ini termasuk besar atau kecil, sehingga bisa diketahui seberapa besar ruang untuk bertumbuh di pasar ini.

Demikian semoga bermanfaat.

Gagal Bagger di WIKA Karena Trailing Stop

WIKA adalah salah satu emiten yang penulis koleksi di LynPF ketika market crash kemarin. Penulis cukup beruntung. WIKA pertama kali dikoleksi di harga IDR 890. And since then, penulis terus melakukan pembelian sampai mendapatkan harga average di IDR 1,128, dan akhirnya dijual di harga IDR 1,960.

Logo PT Wijaya Karya Tbk.

Mengapa Memilih WIKA?

Seperti kebanyakan value investor, penulis melakukan pendekatan analisa fundamental. Status WIKA sebagai BUMN juga menjadi pertimbangan. 

Faktor kuat lainnya adalah gencarnya pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Presiden Jokowi. Dan yang tidak kalah sexy: rencana pembangunan Ibu Kota baru.

Fundamental

Ingat! Background pembelian adalah market crash serta ketakutan akan terjadinya krisis ekonomi setelah Covid-19 menyerang. Jadi yang pertama dilihat adalah tingkat hutang.

WIKA seperti kebanyakan BUMN karya lainnya, memiliki hutang yang cukup besar. Jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya seperti WSKT, ADHI, dan PTPP; WIKA secara relatif memiliki tingkat hutang yang lebih aman. 

Berikut ini screenshot perbandingan emiten-emiten BUMN karya dari stockbit. 

Perbandingan tingkat hutang WIKA dengan WSKT, PTPP, dan ADHI

Screenshot ini diambil di awal Februari 2021, jadi data yang tersaji sepertinya data tahun 2020. Tidak sama persis seperti data yang penulis pakai untuk menganalisa di sekitaran bulan Maret 2020. Walaupun demikian, data ini masih relevan menunjukkan tingkat hutang WIKA yang lebih baik dari saudara-saudaranya.

Dari segi profitabilitas, WIKA tergolong baik — walaupun tidak istimewa. Annual ROA dan ROE WIKA di 2019 adalah sebesar 3.68% dan 13.85% (still good). Dari segi cashflow, juga mencatatkan operating cashflow positif berturut-turut dari tahun 2017, 2018, dan 2019.

Overall, WIKA is fine.

Jika krisis ekonomi berkepanjangan, WIKA akan relatif lebih mampu bertahan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. If bad comes to worse.

BUMN

Mengapa BUMN?

Jika diulas semua tentunya terlalu panjang. Jadi, penulis mencoba membatasi hanya pada komitmen Presiden Jokowi terhadap BUMN saja.

Menurut penulis, Presiden Jokowi cukup memberikan perhatian kepada BUMN. Dari analisa penulis alasannya ada dua: peningkatan pendapatan negara, dan sebagai motor penggerak ekonomi.

Dengan ditunjuknya Erick Thohir — seorang pengusaha yang reputasinya cukup baik — Presiden Jokowi seolah ingin membuktikan bahwa agenda penguatan BUMN bukanlah agenda main-main. Langkah-langkah yang dieksekusi juga termasuk berani.

Ada dua yang spesifik penulis sukai.

Pertama, restrukturisasi sub holding — dengan harapan lebih menyatukan strategi antar BUMN ketimbang saling berkompetisi di sektor yang sama. Kedua, pemangkasan jumlah anak cucu perusahaan — sebuah langkah jitu untuk membuat BUMN semakin fokus pada core-business nya.

Tentunya dua langkah ini saja tidak cukup digunakan sebagai tolok ukur kesuksesan seorang Erick Thohir. Namun cukup menjadi gambaran bahwa komitmen Presiden Jokowi pada BUMN tidak main-main. 

Dalam konteks menentukan keputusan investasi, ini saja sudah cukup — untuk saat ini.

Sentimen Masa Depan: Ibu Kota Baru

Sebelum negara api menyerang (baca: Covid-19), sentimen Ibu Kota baru menjadi salah satu sentimen yang cukup seksi.

Terkait dengan sentimen ini, penulis berpikir begini.

Presiden Jokowi di periode keduanya masih menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai agenda utamanya. Jadi, seandainya Covid-19 tidak ada, penulis yakin, beliau akan tetap punya nyali untuk mengeksekusi agenda ini.

Nah, karena Covid-19, penulis sempat ragu apakah tetap masuk ke sektor konstruksi atau tidak. Karena tentunya dalam masa krisis akibat pandemi, pembangunan infrastuktur yang membutuhkan biaya besar potentially akan terhenti.

Ternyata tidak.

Di tengah euforia lockdown di berbagai kota di dunia, Presiden memilih untuk tidak melakukannya. Agenda-agenda ekonomi dan pembangunan nasional termasuk infrastruktur tetap berjalan. Hanya saja, agenda Ibu Kota Baru jadi tidak lagi nyaring terdengar.

Dengan sikap Presiden seperti itu, kalau Covid-19 dan krisis ini selesai, penulis yakin Ibu Kota Baru akan kembali masuk agenda walaupun mungkin dengan target penyelesaian lebih rendah.

Kesimpulannya, selama Presiden Jokowi masih menjabat dan memungkinkan, agenda ini pasti jalan. Dan jika dieksekusi, perusahaan-perusahaan BUMN karya tentu akan mendapat porsi kue yang cukup signifikan.

Membeli di Harga Murah

WIKA is a cyclical company. 

Artinya performance dan harganya akan bergerak naik dan turun dari tahun ke tahun mengikuti siklus ekonomi — permintaan dan penawarannya. Kalau ekonomi bulish, dia akan naik; otherwise, it will slow down.

Jadi bagaimana cara kita mengetahui berapakah harga wajar yang harus dibayar untuk menebus WIKA ke dalam portfolio? 

Dalam kasus WIKA, penulis menganalisa beberapa indikator — dan tentunya yang simpel-simpel saja.

Nilai Intrinsik WIKA

Walaupun cyclical, penulis tetap menghitung nilai intrinsik saham WIKA. Harapannya, perhitungan ini dapat menjadi dasar sejauh mana harga saham WIKA bisa bertumbuh dengan asumsi pertumbuhan yang stabil. Cara melakukannya hampir hampir sama seperti perhitungan nilai intrinsik saham EKAD di artikel yang lalu. 

Menggunakan data dari stockbit dari tahun 2009 sampai dengan 2019, penulis mendapatkan nilai intrinsik di harga IDR 4,434 s/d IDR 4,776. Jika diambil nilai tengahnya menjadi IDR 4,604.

Di awal Januari 2020, WIKA bergerak di range harga IDR 1,900 sampai IDR 2,000. Taruhlah di harga IDR 2,000. Maka margin of safety yang didapat masih cukup besar yaitu lebih dari 58%. Masih sangat aman.

Dengan perhitungan yang lebih konservatif (CAGR EPS 10%), nilai intrinsik WIKA berada di rata-rata IDR 3,206. Angka ini masih menyisakan margin of safety yang cukup, yaitu sebesar 37%.

Jadi, secara intrinsik saham ini relatif tidak mahal.

PER dan PBV

Penulis cukup beruntung mendapatkan WIKA di harga cukup rendah ketika pertama kali membeli, yaitu di harga IDR 890 pada tanggal 4 Mei 2020.

Jika melihat chart PBV, ternyata keputusan membeli saat itu cukup tepat. PBV WIKA berada di bawah -1 PBV Standard Deviation dalam 3 tahun terakhir.

PBV WIKA 3 tahun terakhir

Pun jika menggunakan PER. PER WIKA berada di area yang cukup aman, yaitu di bawah -1 Standard Deviation nya. 

PER WIKA 3 tahun terakhir

Dengan nilai intrinsik yang masih di bawah, dan kurva PER dan PBV yang sangat di bawah, penulis memutuskan untuk mulai menginisiasi WIKA ke dalam LynPF.

Akumulasi dan Bullish

Setelah melakukan pembelian pertama di bulan Mei 2020, ternyata WIKA mulai naik perlahan-lahan di pertengahan Mei dan awal Juni 2020. 

Karena porsi saham WIKA di LynPF masih terlalu kecil, penulis memutuskan untuk tetap melakukan akumulasi di harga lebih tinggi — alias average up. Hal ini biasanya tidak penulis lakukan. Penulis lebih suka membeli di harga lebih rendah alias average down untuk memaksimalkan keuntungan.

Penulis berpikir saat itu Belanda masih jauh — vaksin belum ditemukan, lockdown tidak dilakukan, dan lain-lain. Artinya, Covid-19 tidak akan selesai dalam waktu dekat. Harga yang perlahan naik, pasti akan turun. Atau sejelek-jeleknya jalan di tempat.

Ternyata penulis beruntung. Keyakinan penulis menjadi kenyataan.

Harga WIKA perlahan-lahan turun dan sideways sampai dengan November 2020. Hal ini memberikan penulis kesempatan untuk melakukan akumulasi.

Periode akumulasi WIKA di LynPF

Sampai memasuki masa bullish nya di bulan November 2020, WIKA berada di LynPF dengan harga average sebesar IDR 1,128.

Gagal Bagger dan Trailing Stop

Ketika bullish dari bulan November 2020, melihat floating profit di depan mata, tentunya memunculkan pertanyaan:

Haruskah WIKA dijual atau dikeluarkan dari LynPF?

Kapan Saham Harus Dijual?

Di tulisan lain, penulis menyampaikan beberapa alasan mengapa saham yang dimiliki bisa dijual:

  1. Fundamental nya berubah;
  2. Harganya mahal (alias value yang didapat berkurang di harga sekarang);
  3. Jika anda melakukan kesalahan analisa;
  4. Mendapatkan cash untuk kesempatan yang lebih baik.

Dalam kasus WIKA, alasan penulis lebih ke alasan ke-4, walaupun niatnya tidak secara langsung. 

Technically, WIKA out dari LynPF karena kena hit di trailing stop.

Sentimen SWF

Terus terang penulis tidak terlalu mengikuti sentimen SWF ini. Hanya saja dari hebohnya perbincangan di stockbit soal ini, sepertinya sentimen ini cukup mengerek naik harga saham emiten-emiten konstruksi.

Apakah benar ada pengaruhnya? Maybe…

Biarkan Pasar yang Menentukan

Dalam konteks mengambil keputusan jual WIKA, penulis kira-kira berpikir begini:

  1. WIKA adalah emiten cyclical. Tahun 2020 (dan 2021) WIKA belum saatnya manggung. Pemerintah cukup sibuk menekan penyebaran Covid-19 lewat PPKM dan vaksinasi. Jadi urusan bikin gedung dan jembatan masih nomor sekian (bukan prioritas).
  2. WIKA saat ini bulish adalah hal yang wajar. Di awal-awal Covid-19, kepanikan pasar lah yang membuat harganya turun dalam. Penulis cukup beruntung bisa masuk di harga rendah.
  3. Apakah fundamental nya berubah? Iya. Tapi itu karena pengaruh Covid-19. Saudara-saudaranya juga kena hit Covid-19. Jadi bukan alasan untuk menjual.
  4. Apakah harganya mahal? Mungkin — dalam situasi Covid-19, bullish karena sentimen SWF mungkin menyebabkan harganya menjadi sedikit mahal (pendapatan turun, tapi harga malah naik).
  5. Salah analisa ketika membeli? Tentu tidak.
  6. Jadi penulis memutuskan, biarlah pasar yang memutuskan apakah WIKA tetap di LynPF atau tidak. Caranya? Dengan memasang trailing stop.

Jika trailing stop yang dipasang kena hit, kemungkinan besar IHSG sedang turun tajam, sehingga penulis bisa mengalihkan keuntungan yang sudah didapat ke saham lain (lihat alasan no 4 di atas).

Trailing Stop

Definisi trailing stop bisa dibaca di sini.

Singkatnya, dengan menggunakan trailing stop, kita bisa menentukan kapan akan BUY atau SELL dengan kondisi yang sudah kita tentukan sebelumnya.

Untuk WIKA, kondisi yang penulis pakai adalah “Sell on Reversal”. Artinya dijual ketika harga sudah berbalik arah dari harga tertingginya. Penulis menggunakan threshold 20% dari harga tertinggi.

Mengapa 20%? 

Alasan untuk menjual adalah untuk mendapatkan cash dan kesempatan yang lebih baik. 

Catat! Ada 2 alasan dan bersamaan.

Kalau terlalu kecil, maka bisa saja penurunan harganya hanya sementara karena mood market yang kurang bagus — dan akhirnya harga akan naik lagi. Sebaliknya jika terlalu besar, kita akan kehilangan terlalu banyak profit yang sudah terakumulasi.

Penulis merasa bahwa angka 20% adalah sebuah kompromi. 

Jika WIKA turun lebih dari 20% dari harga tertingginya, kemungkinan besar angkanya akan berlanjut turun — memasuki masa bearish. Dan, jika WIKA turun sedemikian dalam, kemungkinan besar IHSG juga ikut turun — sehingga mungkin akan menawarkan kesempatan untuk membeli emiten lain di harga diskon.

Angka 20% tentunya subjective. Untuk yang mahir tarik-menarik garis bisa jadi tidak setuju.

Anyway, akhirnya trailing stop yang dipasang kena hit di tanggal 22 Januari 2021 di harga IDR 1,960. Di harga ini, WIKA sudah turun -20% dari harga tertingginya di sekitaran IDR 2,450. 

Dan benar saja, ketika ini terjadi, IHSG sedang bearish. Kata orang-orang, ini disebabkan karena banyak trader/investor yang all-in pakai margin di beberapa saham nge-hits waktu itu. 

Apa pun itu, penulis akhirnya berkesempatan untuk membeli emiten-emiten lain yang diincar di harga yang lebih baik.

Dari WIKA, penulis mendapatkan profit sebesar 73%. Tidak terlalu buruk. Walaupun pernah floating profit di angka 117%, tapi akhirnya pasar memutuskan belum saatnya penulis merasakan bagger (alias profit di atas 100%). 

Angka 73% dalam waktu kurang lebih 8 bulan tentu bukan hasil yang jelek.

Pengalaman yang Didapat

Jika dirangkum, ada beberapa hal yang penulis bisa simpulkan sebagai bahan evaluasi pribadi:

  1. Analisa fundamental yang dilakukan sudah cukup tepat. Selain melihat angka-angka saja, analisa kualitatif juga perlu dilakukan sebagai tambahan justifikasi apakah sebuah emiten layak masuk LynPF atau tidak. Seringkali alasan kualitatif tidak tercermin di laporan keuangan.
  2. Average-Up boleh dilakukan. Asalkan ruang untuk harga bertumbuh masih ada (berdasarkan nilai intrinsik/PBV/PER), dan kondisi pasar memungkinkan. Analisa melakukan Average-Up adalah salah satu skill yang masih perlu penulis tingkatkan.
  3. Tidak menghiraukan pasar saat bullish karena sentimen SWF, adalah tindakan yang tepat. Kalau dihiraukan, bisa-bisa malah terbujuk membeli di harga tinggi.
  4. Tidak apa-apa kehilangan kesempatan bagger untuk mendapatkan bagger lain yang lebih baik. Profit 73% bisa jadi berkurang seandainya trailing stop tidak dipasang dan WIKA tidak dijual. Setelah dijual, WIKA sempat naik sebesar melebihi angka IDR 2,000, namun setelahnya kembali turun di bawah IDR 1,900. 
  5. Trailing stop sangat berguna untuk menghilangkan komponen emosi. Tetap perhatikan pasar, tapi jangan lupa pasang trailing stop.

Demikian, semoga bermanfaat!

Belajar dari Pengalaman di Saham PT Telkom (TLKM)

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) — adalah emiten pertama yang berada di portfolio penulis ketika mulai berkecimpung di pasar modal. TLKM pertama kali dibeli pada tanggal 31 Juli 2019 di harga IDR 4,290. Jumlah lot-nya tentunya tidak penulis cantumkan karena untuk ukuran investor retail jumlahnya tidaklah terlalu besar 🙂

Logo PT Telkom

Mengapa Memilih TLKM (Ketika Itu)?

Sedari awal memutuskan untuk terjun ke pasar modal, penulis memang bertujuan untuk investasi. Untuk itu penulis melakukan analisa fundamental sebagai dasar pemilihan emiten ini.

Only Buy What You Understand

Menurut Peter Lynch, salah satu screening awal yang paling mudah dalam melakukan pemilihan portfolio adalah dengan memilih bisnis yang produk-produknya kita ketahui; only buy what you understand. Bahkan kalau perlu, kita adalah pemakainya.

Kebetulan penulis adalah salah satu pengguna produk Telkom, yaitu Telkomsel — sehingga secara intuitif, TLKM masuk ke dalam watchlist.

Sebelum menjadi pengguna Telkomsel, penulis pernah menggunakan produk-produk dari provider lain. Dan harus diakui, bahwa Telkomsel adalah penyedia jaringan mobile yang sangat mumpuni baik di dalam maupun di luar negeri.

Sinyal Telkomsel tersedia bahkan di wilayah-wilayah di Indonesia di mana provider-provider lain menyerah — alias sinyalnya tidak dapat diakses. Pun ketika menggunakannya di luar negeri.

Dari segi harga, Telkomsel bisa dikatakan premium alias mahal. Namun harga premium ini menurut penulis justru menjadi masuk akal, karena memang kualitas barangnya yang premium.

Ditambah dengan gencarnya Telkomsel melakukan instalasi fiber optic ke pelanggan untuk menggenjot jumlah pengguna IndiHome ketika itu, penulis semakin yakin bahwa dominasi Telkom di bisnis ICT di Indonesia akan sangat susah untuk ditandingi oleh provider-provider lainnya. Terdapat jutaan pelanggan telepon kabel di Indonesia, yang siap menjadi potential customer buat IndiHome.

Bisnis Masa Depan

Bisnis Telkom adalah bisnis yang masih akan sangat relevan di masa depan. Dengan semakin kuatnya penetrasi gaya hidup digital di masyarakat, maka kebutuhan infrastruktur ICT akan menjadi salah satu kebutuhan sekunder jika bukan primer di masa depan.

Semakin hari masyarakat semakin bergantung dengan akses digital. Hampir setiap aktivitas kehidupan masyarakat bergantung dengan teknologi digital, mulai dari berbelanja, transportasi, perbankan, membayar pajak, social media, dan lain sebagainya.

Semuanya hanya berarti bahwa kebutuhan akan infrastruktur ICT yang handal, dengan jangkauan yang luas, di masa depan akan semakin kuat.

So What Did I Do Wrong?

Membeli bisnis yang dipahami (setidaknya sebagai pemakai produknya)— check! Membeli bisnis masa depan — check!

Unfortunately, berhubung keinginan yang sangat kuat ketika itu agar segera masuk bursa, penulis menjadi kurang berhati-hati. Hanya berbekal pada keyakinan di atas, penulis akhirnya melakukan pembelian, tanpa melakukan analisa mendalam.

Tidak Menghitung Nilai Intrinsik

Jika dihitung dengan menggunakan nilai intrinsik berdasarkan data historis 10 tahun ke belakang, ternyata TLKM adalah salah satu emiten yang dihargai amat sangat premium alias mahal oleh pasar.

Dengan metode yang sama yang penulis gunakan untuk menghitung nilai intrinsik EKAD, didapati bahwa nilai intrinsik TLKM adalah sebesar IDR 1,983. Bakan dengan asumsi CAGR 10% sekalipun, nilai intrinsik yang didapat adalah sebesar IDR 3,633. Masih jauh dari harga beli penulis ketika bahkan tanpa margin-of-safety.

Tidak Memperhitungkan Valuasi

Setelah melakukan pembelian di bulan July 2019, secara berturut-turut, penulis kembali melakukan pembelian di bulan Agustus, September, Oktober, November, dan Desember 2019. Ketika itu niatnya adalah menabung. Jadi setiap bulan dicicil sedikit demi sedikit.

Sayangnya, niat yang baik, tidak didasari dengan analisa yang baik pula.

Setelah melakukan perbandingan PBV dari waktu ke waktu, ternyata timing pembelian yang penulis lakukan tidak tepat.

Dengan menggunakan tool Fundachart di stockbit, terlihat bahwa PBV TLKM ketika itu sedang berada di atas rata-rata standar deviasi nya. Artinya, pembelian yang penulis lakukan adalah pembelian yang mahal — di atas rata-rata.

Bisa dilihat dari gambar di bawah ini, di mana timing pembelian penulis berada di area yang ditandai.

PBV TLKM with Standard Deviation

Menggunakan analisa PER juga kurang lebih sama, di mana area pembelian ternyata berada di atas rata-rata standar deviasi nya — sekali lagi, mahal!

PER TLKM with Standard Deviation

Mengapa Akhirnya Dijual?

Salah satu investor senior yang penulis ikuti tulisan-tulisannya berpendapat bahwa ada beberapa kondisi di mana kita bisa menjual saham yang kita miliki.

Yang pertama adalah ketika terjadi perubahan fundamental bisnis. Entah hutang yang terus bertambah, revenue yang konsisten berkurang, atau mismanagement yang mengakibatkan efisiensi berkurang. Jika ini terjadi, maka kita wajib menjual saham yang kita miliki.

Yang kedua adalah harga saham yang kita miliki sudah kelewat mahal. Entah secara intrinsik, PBV yang terlalu tinggi, atau PER yang terlalu tinggi. Ketika kondisi ini terpenuhi, dengan asumsi kita telah membeli saham tersebut di harga yang baik (nilai intrinsi/PER/PBV yang rendah), maka saham tersebut wajib kita jual.

Yang terakhir, dan yang menjadi alasan penulis untuk menjual saham ini adalah ketika kita melakukan kesalahan. Setelah semakin menyelami dunia analisis fundamental, penulis akhirnya menyadari bahwa penulis telah melakukan pembelian di harga yang tidak murah; serta timing yang tidak tepat. Begitu menyadari hal tersebut, penulis akhirnya menjual rugi saham TLKM yang penulis miliki ketika itu. Untungnya rugi nya tidak terlalu besar secara rupiah.

Lesson Learned

Memilih barang yang baik (atau emiten yang baik) adalah salah satu syarat utama ketika memasukkan sebuah perusahaan ke dalam portfolio kita. Bisnis yang baik, memiliki pasar yang baik di masa depan, dan didukung dengan fundamental yang baik, adalah sebuah keniscayaan.

Hanya saja, saham dari perusahaan yang baik tersebut, tidak akan dapat memberikan keuntungan yang maksimal, jika kita tidak membelinya di harga yang baik pula.

Saham perusahaan yang kita beli dengan valuasi yang mahal, pada akhirnya menimbulkan kerugian. Karena dalam jangka waktu yang memadai, saham itu akan kembali ke harga intrinsiknya — alias harga sahamnya turun.

Pasar akan menghukum kita dengan mengembalikan saham tersebut ke harga intrinsiknya. Cepat atau lambat.

Jika dilihat hari ini, TLKM sudah mendekati harga sebelum market crash di bulan Maret 2020. Ketika artikel ini ditulis, TLKM berada di harga IDR 3,370; sedangkan di akhir bulan Februari 2020, TLKM berada kurang lebih di angka IDR 3,450.

Apakah TLKM akan naik lebih tinggi dari harganya sekarang? Well, tidak ada yang tahu. Hanya saja yang kita tahu bahwa harga TLKM saat ini perlahan-lahan mulai mendekati rata-rata standar deviasinya.

Saat ini penulis belum tertarik untuk kembali memiliki TLKM. Walaupun masih berada di bawah rata-ratanya, penulis merasa bahwa ada emiten lain yang dapat memberikan keuntungan yang lebih optimal.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Belajar dari Market Crash 2020

Tahun 2020, mungkin menjadi tahun yang berkesan untuk banyak pelaku pasar modal khususnya investor retail. Pandemi Covid-19 menyebabkan perlambatan ekonomi global yang didahului dengan market crash di seluruh dunia termasuk IHSG.

Penulis bersyukur bisa merasakan market crash — yang kata banyak pelaku di bursa adalah kejadian yang layak ditunggu dan hanya terjadi mungkin sepuluh tahun sekali (kurang lebih).

Selain rasa takut dan panic selling, market crash juga menawarkan emiten-emiten di harga diskon. Jika kita melakukan pembelian di saat yang tepat, tentunya dapat menawarkan keuntungan maksimal di masa mendatang.

Dalam tulisan ini, penulis berusaha melakukan evaluasi pengalaman pribadi agar bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang penulis lakukan sebelum dan saat market crash ini terjadi.

Tentunya ini adalah opini pribadi 🙂

Posisi Akhir di 2019

Akhir tahun 2019, terdapat 8 emiten di dalam LynPF. Komposisi berdasarkan sektor kurang lebih diperlihatkan pada tabel di bawah ini. Paling besar alokasi aset berada di Industri Keuangan; dan paling kecil di sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi.

Alokasi LynPF berdasarkan sektor awal tahun 2020

Floating profit berdasarkan jumlah modal yang disetor ke RDN adalah sebesar 2.96%; sedangkan secara NAV tidak terlalu banyak berubah, yaitu sekitar 0.07% saja.

Dengan pengalaman seumur jagung di bursa, penulis merasa asal tidak rugi saja sudah merupakan awal yang bagus.

Rule Number One: Never Lose Money. Rule Number Two: Never Forget Rule Number One — Warren Buffet.

So, really… it’s not a bad start. But then, it happened…

Market Crash

Di awal Januari, seingat penulis, pasar masih disibukkan dengan isu perang dagang AS dan China. Memang Covid-19 sudah terjadi dan di Wuhan sana juga sudah melakukan lockdown.

Mungkin karena seperti kebanyakan orang ketika itu, penulis merasa bahwa Covid-19 hanya akan terjadi di China sana, jadi ya kita santai-santai saja. No need to panic.

Pun ketika di tanggal 2 Februari, pemerintah memulangkan WNI yang terjebak di Wuhan, penulis masih santai-santai saja. Nothing is going to happen.

Awal memasuki pasar modal, penulis memakai strategi mencicil setiap bulan. Emiten dengan fundamental bagus, ujung-ujungnya harganya pasti akan naik — begitu pikir penulis. Jadi penulis berusaha untuk tidak terlalu mengikuti hiruk pikuk di pasar modal. Kalau pun hari ini turun, nanti pasti akan naik lagi.

Bahkan jika melihat transaction history di RDN, penulis masih melakukan BUY di salah satu emiten pada tanggal 25 Februari 2020.

Tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama Covid-19 di Indonesia. Seketika, IHSG crash meluncur ke bawah sampai nyaris menyentuh harga IDR 3,900. Dari opening di harga IDR 6,300 di awal tahun, IHSG merosot tajam sebesar kurang lebih -38%.

Membaca Psikologi Market

Berikut ini adalah chart IHSG ketika market crash awal tahun 2020

IHSG awal tahun 2020

Kalau dilihat, ternyata market sudah mulai merespon negatif Covid-19 — walaupun mungkin bukan satu-satunya faktor ketika itu. Hanya saja bodohnya adalah penulis malah tidak bersiap-siap.

Memang tidak ada seorang pun yang tahu kapan pasar naik atau kapan akan turun. Hanya saja, sebagai seorang investor yang baik (tentu saja menurut penulis) — untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, kita harus tahu kapan saatnya pegang cash, dan kapan mulai membelanjakan cash tersebut di pasar modal.

Untuk investor dengan modal besar, tentunya hal ini kurang relevan. Market crash, ya tinggal guyur lagi — masukkan fresh capital to the market to average down your buying. But unfortunately, I was not that person — am still not.

Jadi timing untuk go back to cash that was really important was missed. And also, you should be prepared before it happened. Question is… how?

Cut-Loss

Penulis melakukan cut-loss di 3 dari 8 emiten di LynPF.

Namun cut-loss nya pun tidak terlalu menggembirakan. Emiten A di -37.37%, emiten B di angka -38.64%, dan emiten C di angka -43.18%.

Ada 5 emiten yang tidak penulis cut-loss dan memilih untuk keep dengan berbagai pertimbangan.

Pertanyaannya, haruskah penulis cut-loss ketika itu? Kalau iya, kenapa tidak semua?

Belajar dari Kesalahan

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis berusaha melakukan analisa-analisa kesalahan sebagai berikut.

Kesalahan 1 — Memilih Emiten dengan Fundamental yang Tidak Terlalu Bagus

Dari 8 emiten, 3 akhirnya diputuskan untuk dikeluarkan dari LynPF.

Emiten A, dikeluarkan karena angka NPM yang kecil.

Emiten B, memiliki hutang yang lumayan besar. Kekurangannya lagi, emiten ini IPO kurang dari 5 tahun, jadi menurut penulis, pengalamannya belum teruji menghadapi situasi krisis.

Emiten C, adalah kombinasi A dan B. NPM kecil, hutangnya besar.

Kenapa dikeluarkan? Karena pada saat-saat krisis, perusahaan-perusahaan di atas kemungkinan besar akan merugi — banyak. Dan kalau meruginya berkepanjangan, bisa tutup alias bangkrut.

Kalau saja lebih berhati-hati, seharusnya tidak ada satupun emiten yang harus keluar dari LynPF. Atau jika pun memutuskan cut-loss agar pegang cash, maka semuanya harusnya dikeluarkan — ini tentunya soal lain.

Kesalahan 2 — Cut-Loss tanpa Perencanaan

Kesalahan 2 tidak terlepas dari kesalahan 1.

Emiten A penulis masukkan ke dalam LynPF karena PBV-nya yang rendah. Emiten ini adalah salah satu anak perusahaan group konglomerat di Indonesia. Jadi harapannya adalah nantinya si emiten bisa turn-around dan penulis bisa mendapatkan profit.

Hanya saja, in every good opportunity, there is risk. PBV yang rendah tentunya karena market menilai bahwa perusahaan ini fundamental nya tidak terlalu bagus — atau setidaknya biasa-biasa saja.

Dalam kondisi crash, yang biasa-biasa saja cenderung crash lebih dalam daripada yang luar biasa. Jadi akan lebih wise jika kita pasang GTC order untuk cut-loss di risk yang bisa kita toleransi (misalnya 30%) — untuk berjaga-jaga jikalau kita salah analisa.

Dalam kasus emiten A, B, dan C; penulis tidak memasang GTC. Tidak prepare. Di samping juga karena tidak tahu caranya.

Seandainya cut-loss sudah dipersiapkan di awal, maka loss di 3 emiten tadi harusnya lebih seragam (lihat di atas: 1 emiten ada di posisi -43.18%).

Akhirnya setelah itu, penulis belajar cara memasang GTC. Dan percayalah… GTC ini benar-benar sangat berguna.

Kesalahan 3— Melakukan BUY di Harga yang Tidak Tepat

Ketika melihat kembali history transaksi di semua emiten di LynPF, penulis berkesimpulan bahwa penulis tidak memiliki strategi pembelian yang baik.

Melakukan pembelian secara rutin setiap bulan — atau yang biasa disebut Dollar Cost Averaging — bisa menjadi salah satu strategi investasi yang baik. Terutama jika si investor tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti dinamika di pasar modal.

Namun, menurut penulis, jika kita tahu bahwa emiten yang kita pilih adalah emiten yang baik, dan jika kita masuk di awal dengan harga yang baik pula, maka langkah berikutnya adalah bagaimana kita melakukan buying atau menambah posisi di saat yang baik, sehingga dapat memperoleh keuntungan maksimal.

Dalam kasus penulis, ternyata penulis melakukan top-up di harga itu-itu saja. Bahkan beberapa pembelian dilakukan di harga yang lebih tinggi dari harga awalnya.

Apakah ini salah? Mungkin tidak.

Tetapi jika melihat kembali posisi cash in hands, ada baiknya ketimbang melakukan top-up di harga yang lebih tinggi, cash yang dimiliki disimpan saja, sambil menunggu harga turun — misalkan saja setiap turun 10% — barulah kemudian kita melakukan pembelian.

Dengan tidak melakukan ini, penulis melewatkan kesempatan market crash yang menawarkan harga beli yang lebih baik, karena sebelumnya telah melakukan pembelian di “harga normal”.

Seandainya penulis menunggu dan mengumpulkan cash, buying bisa dilakukan di harga yang lebih baik tanpa harus cut-loss.

Kesalahan 4 — Tidak Menyadari Fundamental Makro yang Berubah

Memang market crash, tidak selalu diikuti dengan perubahan kondisi makro perekonomian. Hanya saja, dalam kasus Covid-19, inilah realitanya.

Covid-19 menyebabkan perlambatan ekonomi karena pembatasan pergerakan manusia. Pembatasan ini menyebabkan penurunan baik dari segi permintaan maupun penawaran di semua sektor. Bagaimana mau berproduksi jika keluar rumah saja tidak boleh? Bagaimana mau belanja, jika ke mall saja tidak boleh?

Lalu di manakah letak salahnya? Ada dua hal.

Pertama, tidak bisa membaca apa yang terjadi. Dalam hal ini, perubahan ekonomi makro yang bisa menyebabkan krisis tadi. Kalau ini harus diakui adalah soal jam terbang. Dengan pengalaman seumur jagung, insting belum terasah.

Yang kedua, penulis adalah tidak berani melakukan cut-loss dan back to cash.

Market crash menyebabkan saham-saham blue-chip yang tidak masuk akal jika dibeli dalam kondisi normal (alias mahal) dan most likely you can hold forever (a wonderful company), menjadi sangat murah.

UNVR, back to where it was in 2013. BBRI bisa didapat dengan harga di bawah IDR 2,200 jika anda beruntung pasang BUY di hari yang tepat.

Dengan melakukan cash-out saat market crash, even dengan kondisi loss 30%, maka kita bisa mendapatkan membeli saham-saham tersebut dengan harga diskon — and if we like it, we just keep holding it, tight!

BBRI saat ini artikel ini ditulis, sudah +50% dari harga terendahnya di bulan Maret 2020. Dan mungkin anda harus menunggu market crash berikutnya jika ingin mendapatkannya di harga saat itu.

The Takeway

  1. Ingat selalu prinsip berikut ini: perusahaan dengan fundamental yang baik, dan membeli dengan harga yang baik. Ini penting dan harus selalu dilakukan.
  2. It is fine to just do nothing — alias mengumpulkan cash. Lebih baik tidak melakukan apa-apa (menabung cash), daripada membeli di harga yang biasa saja.
  3. Pay attention to market. Bukan berarti kita harus setiap saat melihat chart dan buka IPOT. Tapi mengikuti apa yang terjadi di pasar dan bagaimana pasar bereaksi dengan sesekali mengkonfirmasi ke chart, perlu dilakukan agar kita bisa menentukan strategi yang tepat.
  4. In relation to number 3: keep reading, keep learning, dan tambah jam terbang. Memprediksi pasar itu sulit if not impossible, dan secara intuitif berusaha memahami bagaimana pasar akan bereaksi adalah masalah pengalaman.
  5. Cut-loss is fine. Selain menghindari kerugian, ada saatnya anda keluar dan cash-out untuk kemudian digunakan membeli saham yang hanya ditawarkan sepuluh tahun sekali (baca: market crash).

Khusus yang terakhir, di tulisan sebelumnya penulis merangkum alasan-alasan kapan kita harus menjual saham yang kita miliki (ini penulis baca dari tulisan salah satu pelaku pasar modal senior).

  1. Fundamental nya berubah;
  2. Harganya mahal (alias value yang didapat berkurang di harga sekarang);
  3. Jika anda melakukan kesalahan analisa;
  4. Dan terakhir, jika dengan melakukan cut-loss anda bisa mendapatkan cash untuk melakukan pembelian di emiten lain yang menawarkan kesempatan yang lebih baik.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Lanyuk Investing Portfolio (LynPF) Performance 2020

Di tulisan ini, penulis mencoba untuk menampilkan performa portfolio penulis selama tahun 2020.

Sekedar konteks, penulis mulai aktif di bursa pada pertengahan tahun 2019. Jadi bisa dibilang untuk ukuran investing, penulis baru seumur jagung berada di bursa — dan tentunya bukan investor “angkatan corona”. Meskipun demikian penulis cukup beruntung bisa merasakan market crash yang kata orang-orang di bursa, hanya datang probably like once in ten years or so.

Performance dengan NAV

Untuk yang belum tahu, Net Asset Value (NAV) atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) ini biasanya digunakan untuk menghitung harga unit penyertaan sebuah reksadana. Untuk mengetahui bagaimana teknik menghitung NAV, bisa melakukan searching di Google.

Untuk memudahkan perhitungan, NAV dihitung setiap akhir bulan, karena data pendukung nya lebih mudah didapatkan. Jadi angka NAV yang dihasilkan mungkin tidak terlalu presisi jika dibandingkan IHSG karena IHSG dihitung secara real time.

Monthly NAV LynPF

NAV LynPF dan perbandingannya dengan IHSG setiap bulannya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Perkembangan NAV/NAB Lanyuk Investing dari bulan ke bulan selama tahun 2020
Monthly NAV LynPF

NAV awal LynPF adalah sebesar IDR 1,000. Pada akhir 2019 lalu, nilai akhir NAV adalah sebesar IDR 1,001.05. Nilai akhir 2019 ini otomatis menjadi nilai awal 2020 di bulan Januari yang lalu.

Untuk lebih mudah membandingkan dalam visualisasi, tabel NAV di atas jika disajikan ulang dalam bentuk line chart seperti di bawah ini. Sebagai catatan, untuk lebih memudahkan melihat volatilitas nya, NAV sudah dikalibrasi sehingga nilai nya mendekati IHSG.

Line Chart — IHSG vs LynPF (NAV Calibrated)

Jika melihat chart di atas, at a glance dapat diketahui bahwa pergerakan LynPF hampir mirip dengan IHSG. Kita tidak dapat melihat apakah IHSG lebih baik dari LynPF hanya dengan melihat chart ini saja. Untuk itu, kita perlu melakukan analisa Year to Date dan Month to Month volatility.

Year to Date Performance

Pergerakan IHSG vs LynPF secara Year to Date dapat dilihat pada chart berikut.

Line Chart — IHSG vs LynPF (YTD Volatility)

Secara YTD, dapat diketahui bahwa performa LynPF sedikit di bawah IHSG dari awal tahun sampai dengan pertengahan tahun mendekati akhir Q3 — walaupun sempat sekali mengungguli IHSG di bulan Juni. LynPF mulai perform lebih baik dari IHSG dari sekitar awal September sampai akhir tahun.

Secara Year to Date, LynPF hanya mampu mengungguli IHSG selama 6 dari 12 bulan (50%). Namun demikian, secara average, LynPF relatif lebih unggul dari ISHG dengan pergerakan rata-rata pergerakan sebesar -16.52% dibandingkan dengan -17.2% (not bad, although not too good either).

Month to Month Performance

Pergerakan IHSG vs LynPF secara Month to Month dapat dilihat pada chart berikut.

Line Chart — IHSG vs LynPF (MTM Volatility)

Dari segi MTM volatility, pergerakan LynPF juga cendering mirip dengan IHSG. Dari 12 bulan, LynPF unggul 7 bulan dibandingkan dari IHSG, dan secara average juga lebih baik, di mana LynPF mencatatkan rata-rata pergerakan positif (0.55%) dibandingkan IHSG dengan rata-rata pergerakan negatif (-0.12%). Again, it’s not bad...

Kesimpulan Sementara…

Dari analisa di atas, didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Secara umum performa LynPF is slightly better than IHSG. Secara pergerakan per bulan, LynPF mampu sedikit mengungguli IHSG yaitu 6–7 bulan dalam setahun.
  2. Secara average, LynPF menawarkan hasil sedikit lebih baik dari IHSG. Jika anda berinvestasi di IHSG di awal tahun dan mendiamkan saja sampai akhir tahun, maka uang anda akan berkurang sebesar -5.10%; sedangkan jika anda berinvestasi dengan jumlah yang sama di LynPF, uang anda akan bertambah sedikit yaitu sebesar 1.75%.
  3. Walaupun secara umum lebih baik, tapi harus diakui performance LynPF selama tahun 2020 tidaklah terlalu spektakuler. It did beat the market, but it was not special. Ini tentunya akan menjadi pembelajaran buat penulis untuk melakukan management portfolio yang lebih baikdi 2021.

Performance by Floating P/L

Performance berdasarkan Floating P/L (Profit/Loss), maksudnya adalah mengukur berapakah floating profit/loss dari ekuitas yang dimiliki (nilai pasar saham yang dimiliki ditambah dengan sisa kas di RDN) saat akhir tahun dibandingkan dengan modal yang sudah digunakan di pasar.

Langkah Analisa

Untuk mengetahui apakah kinerja portofolio lebih baik dari IHSG, penulis melakukan simulasi sebagai perbandingan. Seandainya uang yang seharusnya penulis belikan saham untuk membentuk LynPF itu digunakan untuk membeli IHSG, apakah nilai untuk yang terakumulasi setiap bulannya itu lebih baik dari dari LynPF.

Untuk menghitung menggunakan IHSG, penulis menggunakan langkah-langkah seperti contoh di bawah ini:

  1. Misalkan penulis mempunyai uang IDR 500,000 di bulan Januari 2020, dan penulis hendrak membeli IHSG, maka penulis akan menggunakan nilai di akhir bulan Desember 2019 untuk menghitung berapa unitkah yang penulis dapatkan.
  2. Di bulan Desember 2019, IHSG ditutup di angka IDR 6,011. Maka unit yang didapatkan adalah sebanyak 83.18 unit.
  3. Kemudian untuk menghitung berapakah nilai unit tersebut di bulan yang bersangkutan, maka penulis menggunakan nilai IHSG di akhir bulan bersangkutan. Jadi, 83.18 unit di bulan Januari 2020 akan bernilai sebesar IDR 524,034. Nilai ini merefleksikan floating profit sebesar 4.8%.

Dengan langkah-langkah di atas, dapat diilustrasikan cara perhitungannya seperti tabel di bawah ini. Sekali lagi, tabel di bawah ini hanya ilustrasi saja.

Ilustrasi perhitungan keuntungan jika modal dibelikan IHSG

Hasil Perbandingan

Hasil perhitungan dengan metode di atas, dapat dilihat di tabel di bawah. Angka nominalnya tentunya tidak saya tampilkan — jadi para pembaca terpaksa harus percaya dengan angka yang penulis sampaikan. 🙂

Perbandingan Floating P/L IHSG vs LynPF berdasarkan Modal yang dibelanjakan di bursa selama 2020

Secara chart, bisa diliat di bawah ini.

Line Chart Perbandingan Floating P/L IHSG vs LynPF

Dari tabel di atas, diketahui bahwa LynPF has beaten the market 9 out of 12 months. Lumayan juga… Jadi sampai dengan akhir 2020, LynPF mengalami floating profit sebesar 22.62% dibandingan kalau saya beli IHSG yang memberikan saya floating profit hanya sebesar 12.51% — so we did beat the market with margin of 10.11%.

Kesimpulan

  1. Secara umum, LynPF has performed better than IHSG.
  2. Walaupun demikian the achievement was not significant. Secara NAV, LynPF lebih baik sebesar 6.85%; sedangkan secara floating P/L LynPF lebih baik sebesar 10.11%.

Dengan waktu kurang lebih 1.5 tahun berkecimpung di bursa, tentunya masih terlalu dini untuk menilai skill penulis dalam mengelola portofolio. Hasil ini tentunya akan menjadi masukan bagi penulis untuk mengelola portfolio dengan lebih baik lagi di tahun 2021.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Perhitungan (Sederhana) Nilai Wajar Saham EKAD

Note: tulisan ini telah diperbaharui karena terjadi kesalahan perhitungan di sana sini. Terima kasih kepada Yusuf Habibi Harahap yang telah memberikan pertanyaan di kolom komentar sehingga penulis meninjau ulang tulisan ini. Untuk perhitungan yang lebih baik, penulis sarankan untuk melihat di artikel Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham (ala LynPF).

Berikut ini penulis mencoba untuk melakukan perhitungan nilai wajar saham EKAD. Metode yang penulis gunakan adalah dengan perhitungan berdasarkan historical EPS.

EPS Saat Ini dan CAGR EPS

Informasi historical EPS bisa anda dapatkan di laporan keuangan emiten. Namun di artikel ini penulis menggunakan Stockbit agar lebih praktis.

Laporan keuangan yang penulis pakai adalah LK tahun 2019, karena ini adalah laporan keuangan yang sudah diaudit.

Berdasarkan Income Statement EKAD yang tersedia di stockbit, EPS EKAD tahun 2019 adalah sebesar Rp 105.56.

Mencari informasi EPS di stockbit

Untuk menghitung CAGR EPS, penulis mempergunakan data tahun 2009 dan 2019. Tahun 2009, nilai EPS EKAD adalah sebesar Rp 28.63; sedangkan tahun 2019, nilai EPS EKAD adalah sebesar Rp 105.56. Dari data tersebut, CAGR EPS EKAD dapat dihitung yaitu sebesar 13,94%.

Mencari Nilai Book Value Per Share alias BVPS

Informasi ini juga di stockbit di Balance Sheet tahun 2019. Penulis menggunakan LK 2019, karena ini adalah laporan keuangan yang sudah diaudit. Berdasarkan informasi yang tersedia di stockbit, BVPS dari EKAD per LK 2019 adalah sebesar Rp 1.181,63.

Mencari nilai BVPS di Stockbit

Informasi ini juga tersedia di bagian Key Stats. Namun sepertinya nilai yang terdapat di Key Stats adalah nilai berdasarkan laporan keuangan kuartal terakhir, sehingga untuk tahun berjalan hasilnya masih bisa berubah di kuartal berikutnya. Untuk hasil yang lebih stabil, penulis tidak menggunakan data di Key Stats.

Menghitung Risk Premium

Sejujurnya penulis masih bingung bagaimana cara menentukan Risk Premium yang tepat. Bagi pembaca yang bisa memberikan pencerahan, dengan senang hati penulis akan melakukan revisi.

Untuk saat ini, Risk Premium yang penulis gunakan adalah Suku Bunga Bank Indonesia dan nilai yield dari obligasi pemerintah 10 tahun.

Suku bunga Bank Indonesia dapat dilihat di situs resmi Bank Indonesia (silakan di-googling), atau bisa dilihat dalam bentuk chart di tradingeconomics.com. Screenshot nya adalah seperti di bawah ini.

Chart suku bunga BI di tradingeconomics.com

Suku bunga BI pada saat artikel ini ditulis adalah sebesar 4%. Namun karena suku bunga ini ditetapkan dalam suasana Covid-19, maka penulis mengambil angka 6% saja.

Jujur, angka 6% ini juga lebih berdasarkan feeling saja. Jika menggunakan 4% sepertinya kurang tepat karena perekonomian akan bangkit kembali setelah pandemi. Namun jika lebih tinggi dari itu juga tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Komponen berikutnya adalah yield obligasi pemerintah 10 tahun. Data nya kembali penulis ambil dari tradingeconomics.com (lihat screenshot di bawah ini).

Mencari data yield obligasi pemerintah 10 tahun di tradingeconomics.com

Angka yield yang dipergunakan adalah 6.72%.

Dividen Payout Ratio

Informasi Dividen Payout Ratio (DPR) penulis peroleh dari stockbit. DPR EKAD ketika artikel ini dibuat menurut stockbit adalah sebesar 29%.

Mencari Dividen Payout Ratio di stockbit.

NOTE: menurut penulis akan lebih baik jika kita menggunakan angka rata-rata lima atau sepuluh tahun terakhir untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Mencari Rata-rata Price Earning Ratio (PER) 10 Tahun Terakhir

Penulis menggunakan data PER EKAD 10 tahun terakhir dari stockbit. Data ini bisa didapatkan di bagian Financials > Income Statement seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Berdasarkan data yang penulis kumpulkan, rata-rata PER EKAD selama sepuluh tahun terakhir adalah sebesar 6,68 X.

Menghitung Akumulasi EPS 10 Tahun ke Depan

Selanjutnya penulis melakukan perhitungan akumulasi EPS selama 10 tahun ke depan.

EPS tahun 2019 EKAD adalah sebesar Rp 105,56. Dengan menggunakan asumsi bahwa pertumbuhan tahun depan adalah sebesar CAGR 13,94%, maka EPS EKAD 2020 adalah sebesar:

Rp 105,56 x (1 + 13,94%) = Rp 120,27

Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka EPS tahun 2021 akan menjadi sebesar Rp 137,04; dan tahun 2022 akan menjadi sebesar Rp 156,14. Demikian seterusnya dihitung sampai 10 tahun.

Hasil perhitungan ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Berdasarkan perhitungan, total EPS EKAD di tahun ke-10 menjadi Rp 2.318,72.

Menghitung total EPS selama 10 tahun

Menghitung Dividen 10 Tahun ke Depan

Berikutnya, dilakukan perhitungan besarnya dividen yang didapatkan selama 10 tahun ke depan. Dengan menggunakan asumsi DPR akan selalu sama yaitu sebesar 29%, maka total dividen yang didapat adalah sebesar Rp 672,43.

Harga Saham EKAD 10 Tahun ke Depan

Harga saham EKAD di tahun ke-10 dapat dihitung sebagai berikut:

BVPS + Total Akumulasi EPS 10 Tahun x Average PER) + Total Dividen

= Rp 1.181,63 + (Rp 2.318,67 x 6,68) + Rp 672,43

= Rp 4.085,93

Harga saham EKAD di tahun ke-10 dapat dihitung sebagai berikut:

BVPS + Total Akumulasi EPS 10 Tahun

= Rp 1.181,63 + Rp 2.318,67

= Rp 3.500,3

Mencari Nilai Masa Kini Harga Saham EKAD

Untuk mengetahui berapakah harga wajar saham EKAD saat ini, maka kita harus menghitung nilai sekarang dari harga EKAD 10 tahun ke depan.

Jika di tahun ke-10 harga EKAD adalah Rp 3.500,3 maka di tahun ke-9 dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Harga Tahun ke-10 / (1 + Risk Premium)

= Rp 3.500,3 / (1 + 12,72%)

= Rp 3.105,31

Dengan cara yang sama, tahun ke-8 harga nya adalah Rp 2,754.88; dan tahun ke-7 adalah sebesar Rp 2.444.01. Seterusnya sampai tahun ke-0 (sekarang), maka akan didapat harga wajar nya adalah senilai Rp 1,057.05.

Perhitungan nya dapat dilihat di gambar berikut.

Menghitung nilai sekarang dari harga tahun ke-10
Menghitung nilai sekarang dari harga tahun ke-10

Margin of Safety

Harga EKAD ketika artikel ini ditulis adalah sebesar Rp 1.295. Harga ini masih lebih rendah dari harga wajar sebesar Rp 1.057,05.

Margin of safety yang tersedia adalah sebesar:

(Harga Wajar – Harga Saat Ini) / Harga Wajar x 100%

= (Rp 1.057,05 – Rp 1.295) / Rp 1.057,05 x 100%

= -22.51%

Investor disarankan untuk menggunakan margin of safety sebesar minimal 25% ketika melakukan pembelian. Jika mengikuti saran ini, maka dapat disimpulkan bahwa saham EKAD tidak memenuhi kriteria saham murah untuk harganya saat ini. Kita dapat menunggu untuk membeli saham EKAD ketika harganya telah memenuhi MOS 25% yaitu di harga Rp 792 atau di bawah nya.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.