Belajar dari Pengalaman di Saham PT Telkom (TLKM)

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) — adalah emiten pertama yang berada di portfolio penulis ketika mulai berkecimpung di pasar modal. TLKM pertama kali dibeli pada tanggal 31 Juli 2019 di harga IDR 4,290. Jumlah lot-nya tentunya tidak penulis cantumkan karena untuk ukuran investor retail jumlahnya tidaklah terlalu besar 🙂

Logo PT Telkom

Mengapa Memilih TLKM (Ketika Itu)?

Sedari awal memutuskan untuk terjun ke pasar modal, penulis memang bertujuan untuk investasi. Untuk itu penulis melakukan analisa fundamental sebagai dasar pemilihan emiten ini.

Only Buy What You Understand

Menurut Peter Lynch, salah satu screening awal yang paling mudah dalam melakukan pemilihan portfolio adalah dengan memilih bisnis yang produk-produknya kita ketahui; only buy what you understand. Bahkan kalau perlu, kita adalah pemakainya.

Kebetulan penulis adalah salah satu pengguna produk Telkom, yaitu Telkomsel — sehingga secara intuitif, TLKM masuk ke dalam watchlist.

Sebelum menjadi pengguna Telkomsel, penulis pernah menggunakan produk-produk dari provider lain. Dan harus diakui, bahwa Telkomsel adalah penyedia jaringan mobile yang sangat mumpuni baik di dalam maupun di luar negeri.

Sinyal Telkomsel tersedia bahkan di wilayah-wilayah di Indonesia di mana provider-provider lain menyerah — alias sinyalnya tidak dapat diakses. Pun ketika menggunakannya di luar negeri.

Dari segi harga, Telkomsel bisa dikatakan premium alias mahal. Namun harga premium ini menurut penulis justru menjadi masuk akal, karena memang kualitas barangnya yang premium.

Ditambah dengan gencarnya Telkomsel melakukan instalasi fiber optic ke pelanggan untuk menggenjot jumlah pengguna IndiHome ketika itu, penulis semakin yakin bahwa dominasi Telkom di bisnis ICT di Indonesia akan sangat susah untuk ditandingi oleh provider-provider lainnya. Terdapat jutaan pelanggan telepon kabel di Indonesia, yang siap menjadi potential customer buat IndiHome.

Bisnis Masa Depan

Bisnis Telkom adalah bisnis yang masih akan sangat relevan di masa depan. Dengan semakin kuatnya penetrasi gaya hidup digital di masyarakat, maka kebutuhan infrastruktur ICT akan menjadi salah satu kebutuhan sekunder jika bukan primer di masa depan.

Semakin hari masyarakat semakin bergantung dengan akses digital. Hampir setiap aktivitas kehidupan masyarakat bergantung dengan teknologi digital, mulai dari berbelanja, transportasi, perbankan, membayar pajak, social media, dan lain sebagainya.

Semuanya hanya berarti bahwa kebutuhan akan infrastruktur ICT yang handal, dengan jangkauan yang luas, di masa depan akan semakin kuat.

So What Did I Do Wrong?

Membeli bisnis yang dipahami (setidaknya sebagai pemakai produknya)— check! Membeli bisnis masa depan — check!

Unfortunately, berhubung keinginan yang sangat kuat ketika itu agar segera masuk bursa, penulis menjadi kurang berhati-hati. Hanya berbekal pada keyakinan di atas, penulis akhirnya melakukan pembelian, tanpa melakukan analisa mendalam.

Tidak Menghitung Nilai Intrinsik

Jika dihitung dengan menggunakan nilai intrinsik berdasarkan data historis 10 tahun ke belakang, ternyata TLKM adalah salah satu emiten yang dihargai amat sangat premium alias mahal oleh pasar.

Dengan metode yang sama yang penulis gunakan untuk menghitung nilai intrinsik EKAD, didapati bahwa nilai intrinsik TLKM adalah sebesar IDR 1,983. Bakan dengan asumsi CAGR 10% sekalipun, nilai intrinsik yang didapat adalah sebesar IDR 3,633. Masih jauh dari harga beli penulis ketika bahkan tanpa margin-of-safety.

Tidak Memperhitungkan Valuasi

Setelah melakukan pembelian di bulan July 2019, secara berturut-turut, penulis kembali melakukan pembelian di bulan Agustus, September, Oktober, November, dan Desember 2019. Ketika itu niatnya adalah menabung. Jadi setiap bulan dicicil sedikit demi sedikit.

Sayangnya, niat yang baik, tidak didasari dengan analisa yang baik pula.

Setelah melakukan perbandingan PBV dari waktu ke waktu, ternyata timing pembelian yang penulis lakukan tidak tepat.

Dengan menggunakan tool Fundachart di stockbit, terlihat bahwa PBV TLKM ketika itu sedang berada di atas rata-rata standar deviasi nya. Artinya, pembelian yang penulis lakukan adalah pembelian yang mahal — di atas rata-rata.

Bisa dilihat dari gambar di bawah ini, di mana timing pembelian penulis berada di area yang ditandai.

PBV TLKM with Standard Deviation

Menggunakan analisa PER juga kurang lebih sama, di mana area pembelian ternyata berada di atas rata-rata standar deviasi nya — sekali lagi, mahal!

PER TLKM with Standard Deviation

Mengapa Akhirnya Dijual?

Salah satu investor senior yang penulis ikuti tulisan-tulisannya berpendapat bahwa ada beberapa kondisi di mana kita bisa menjual saham yang kita miliki.

Yang pertama adalah ketika terjadi perubahan fundamental bisnis. Entah hutang yang terus bertambah, revenue yang konsisten berkurang, atau mismanagement yang mengakibatkan efisiensi berkurang. Jika ini terjadi, maka kita wajib menjual saham yang kita miliki.

Yang kedua adalah harga saham yang kita miliki sudah kelewat mahal. Entah secara intrinsik, PBV yang terlalu tinggi, atau PER yang terlalu tinggi. Ketika kondisi ini terpenuhi, dengan asumsi kita telah membeli saham tersebut di harga yang baik (nilai intrinsi/PER/PBV yang rendah), maka saham tersebut wajib kita jual.

Yang terakhir, dan yang menjadi alasan penulis untuk menjual saham ini adalah ketika kita melakukan kesalahan. Setelah semakin menyelami dunia analisis fundamental, penulis akhirnya menyadari bahwa penulis telah melakukan pembelian di harga yang tidak murah; serta timing yang tidak tepat. Begitu menyadari hal tersebut, penulis akhirnya menjual rugi saham TLKM yang penulis miliki ketika itu. Untungnya rugi nya tidak terlalu besar secara rupiah.

Lesson Learned

Memilih barang yang baik (atau emiten yang baik) adalah salah satu syarat utama ketika memasukkan sebuah perusahaan ke dalam portfolio kita. Bisnis yang baik, memiliki pasar yang baik di masa depan, dan didukung dengan fundamental yang baik, adalah sebuah keniscayaan.

Hanya saja, saham dari perusahaan yang baik tersebut, tidak akan dapat memberikan keuntungan yang maksimal, jika kita tidak membelinya di harga yang baik pula.

Saham perusahaan yang kita beli dengan valuasi yang mahal, pada akhirnya menimbulkan kerugian. Karena dalam jangka waktu yang memadai, saham itu akan kembali ke harga intrinsiknya — alias harga sahamnya turun.

Pasar akan menghukum kita dengan mengembalikan saham tersebut ke harga intrinsiknya. Cepat atau lambat.

Jika dilihat hari ini, TLKM sudah mendekati harga sebelum market crash di bulan Maret 2020. Ketika artikel ini ditulis, TLKM berada di harga IDR 3,370; sedangkan di akhir bulan Februari 2020, TLKM berada kurang lebih di angka IDR 3,450.

Apakah TLKM akan naik lebih tinggi dari harganya sekarang? Well, tidak ada yang tahu. Hanya saja yang kita tahu bahwa harga TLKM saat ini perlahan-lahan mulai mendekati rata-rata standar deviasinya.

Saat ini penulis belum tertarik untuk kembali memiliki TLKM. Walaupun masih berada di bawah rata-ratanya, penulis merasa bahwa ada emiten lain yang dapat memberikan keuntungan yang lebih optimal.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s