Analisa Saham Multi Bintang Indonesia (MLBI)

PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) awalnya didirikan di Medan pada tahun 1929 di Medan dengan nama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen. Perseroan mengalami perubahan nama lebih lanjut pada tahun 1972, menjadi P.T. Perusahaan Bir Indonesia, dan pada tahun 1973 membuka brewery baru di Tangerang.

Pada tahun 1981, perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan nama PT Multi Bintang Indonesia (MLBI). Bisa dibilang, MLBI adalah salah satu dari beberapa emiten-emiten awal yang listing di bursa saham Indonesia, setelah bursa saham diaktifkan kembali di tahun 1977.

Logo MLBI

Produk utama perusahaan adalah Bir Bintang yang merupakan pemimpin pasar bir putih di Indonesia. Selain itu, perusahaan juga merupakan produsen dan penjual Bir Heineken yang mereknya dimiliki oleh induk perusahaan.

Pandemi Covid-19 saat ini agaknya berkontribusi pada penurunan pendapatan perusahaan. Harga saham emiten ini pun ikut-ikutan drop.

Apakah saat ini MLBI layak dijadikan koleksi portfolio?

Analisa Fundamental

MLBI adalah perusahaan yang sudah cukup lama listing di BEI, sehingga cukup banyak data historis dari Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan (AR) yang bisa didapatkan. Dari website perusahaan, penulis berhasil mendapatkan AR dari tahun 2005.

Tahun 2020 tidak penulis ikutkan dalam semua perhitungan rata-rata ataupun pertumbuhan CAGR karena seperti yang kita ketahui bahwa COVID-19 sangat memukul industri pariwisata yang merupakan pasar utama penjualan MLBI di Indonesia.

Balance Sheet

Dilihat dari segi aset, MLBI berhasil mengembangkan aset nya dari angka IDR 535 miliar di tahun 2004 menjadi senilai hampir IDR 2.9 triliun di 2019. Angka ini menggambarkan CAGR sebesar 11.67% dalam waktu 15 tahun.

Namun apakah angka ini menggambarkan pertumbuhan yang konsisten. Hmm, rupanya tidak.

Jika kita menghitung angka CAGR dalam 2 periode timeframe yang lebih pendek, kita akan mendapati hasil yang sedikit berbeda. Dengan menggunakan timeframe 10 tahun terakhir, CAGR aset MLBI berada di angka 11.30% – hampir sama dengan periode 15 tahun terakhir. Sedangkan untuk periode yang lebih pendek yaitu 5 tahun terakhir, CAGR yang dihasilkan adalah sebesar 2.65%.

Apakah artinya? Benar! Pertumbuhan aset MLBI walaupun tetap bertumbuh, tetapi mengalami trend perlambatan.

Jika dituangkan ke dalam chart, bentuknya kira-kira seperti di bawah ini.

Pertumbuhan Aset MLBI 2004 – 2020

Bisa kita lihat, kenaikan dari sekitar tahun 2008 sampai dengan kira-kira tahun 2018 menunjukkan kenaikan yang cukup curam, sebelum akhirnya mulai mendatar.

Bagaimana dengan likuiditas perusahaan?

Well, MLBI sepertinya bukan tipe perusahaan yang suka menimbun kas dalam perusahaan. Bauran kas terhadap aset, menunjukkan angka yang konsisten dalam tiga timeframe tadi (5 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun), yaitu di angka mendekati 12% secara rata-rata. Bisa dimaklumi, karena MLBI termasuk perusahaan yang cukup generous dalam memberikan dividen.

Bagaimana dengan tingkat hutang? Well, tentunya tidak ada masalah. MLBI termasuk cash generator sehingga tidak perlu bantuan bank (setidaknya dalam jangka panjang) untuk melakukan ekspansi.

Short Term dan Long Term Debt MBLI – screenshot dari Stockbit

Bagaimana dengan short term? Kok sepertinya banyak hutangnya? Don’t worry! Hampir sebagian besar adalah dengan pihak berafiliasi.

Income Statement

Pendapatan MLBI ternyata menunjukkan trend yang serupa.

Dari tahun 2004, MLBI berhasil menumbuhkan pendapatannya dari semula sebesar IDR 711 miliar sehingga menjadi sebesar IDR 3.7 triliun di tahun 2019. Angka ini menunjukkan pertumbuhan secara CAGR sebesar 11.65% dalam periode 15 tahun.

Jika dilihat dalam periode yang lebih pendek, terlihat bahwa terjadi perlambatan. Dengan timeframe 10 tahun terakhir angka CAGR-nya adalah sebesar 8.67%; sedangkan dalam 5 tahun terakhir adalah sebesar 2.19%.

Jika dilihat dari rata-rata pertumbuhan per tahun (beda lho dengan CAGR), dengan menggunakan timeframe yang sama akan didapatkan angka rata-rata sebesar 15.08% (15 tahun terakhir), 13.46% (10 tahun terakhir), dan 4.89% (5 tahun terakhir).

Jika disajikan dalam chart, trend ini terlihat. Sama seperti trend pertumbuhan asetnya, pertumbuhan pendapatan MLBI terlihat mulai melambat dari tahun 2018 – setelah ngegas dari sekitaran tahun 2008.

Anyway, jika dilihat terdapat patahan di tahun 2012 dan 2013. Ini karena ternyata MLBI menyajikannya dua tahun tersebut dengan periode yang berbeda yaitu 9 bulan untuk 2012, dan 15 bulan untuk 2013. Entah mengapa mereka melakukan itu.

Chart Pendapatan MLBI

Dari segi efektifitas management, MLBI menunjukkan kinerja yang sangat baik. Gross Margin dan Operating Margin menunjukkan trend peningkatan. Di tahun 2004, Gross Margin dan Operating Margin masing-masing berada di angka 43.32% dan 12.24%. Di akhir tahun 2019, efisiensi perusahaan meningkat di mana angka Gross Margin berada di angka 61.57%, sedangkan Operating Margin meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu di angka 32.50%.

Secara rata-rata selama 10 tahun terakhir, Gross Margin MLBI berada di angka 62.15%, dan Operating Margin berada di angka 29.41%.

Trend peningkatan efisiensi MLBI ditunjukkan pada chart berikut.

Gross Margin vs Operating Margin MLBI

Cash Flow

Trend perlambatan juga terjadi pada arus kas / cash flow MLBI.

MLBI berhasil meningkatkan Operating Cash Flow dari sekitar IDR 150 miliar di tahun 2004 menjadi sekitar IDR 1.3 triliun di tahun 2019, yang menunjukkan CAGR sebesar 11.69%. Dengan timeframe 10 tahun terakhir, CAGR menunjukkan angka yang lebih rendah yaitu di angka 9.74%. Sedangkan 5 tahun terakhir berada di angka 3.87%.

Analisa Kualitatif

MLBI adalah produsen Bir Bintang sang pemimpin pasar. Tapi apakah benar perusahaan hanya memproduksi Bir saja?

Produk

Bauran produk MLBI bisa dikategorikan dalam dua segmen utama yaitu produk alkohol dan non-alkohol.

Dalam segmen alkohol, produk utama tentunya adalah Bir Bintang. Kemudian Bir Heineken yang menargetkan segmen premium. Varian lainnya adalah Bintang Radler dengan kandungan alkohol 2%. Radler sendiri juga memiliki varian non-alkohol dengan merek Bintang Radler 0.0%.

Ada satu portfolio lagi dalam segmen alkohol yaitu produk bir hitam dengan merek Guinness. MLBI memiliki hak untuk memproduksi dan mengemas produk ini. Guinness sendiri bukan merupakan merek dari group Heineken.

Walaupun bukan merupakan merek sendiri, namun pendapatan dari segmen bir hitam ini tidak bisa dianggap enteng. Secara rata-rata, bir hitam menjadi penyumbang pendapatan sebesar 13.82% untuk tahun-tahun di mana angkanya muncul di LK MLBI (alias kontribusinya di atas 10%). Dari tahun 2011 – 2020, hanya tiga kali pendapatan dari segmen ini berada di bawah 10% yaitu tahun 2018, 2017, dan 2015.

Segmen non-alkohol memiliki beberapa portolio produk seperti Bintang Zero, Radler 0.0%, Green Sands, Strongbow, dan Fayrouz. Dua produk terakhir diluncurkan sekitar tahun 2016, jadi mungkin penetrasinya tidak sekuat merek-merek lainnya (baca: kurang terkenal).

Secara kinerja, tentunya segmen alkohol merupakan penyumbang pendapatan terbesar. Segmen ini menyumbang hampir 90% pendapatan perusahaan. Jika dilihat secara trend, komposisi 90:10 antara dua segmen ini terlihat cukup konsisten antara tahun 2011 sampai dengan 2019.

Pendapatan segmen alkohol vs non-alkohol MLBI

Pasar

MLBI mengasosiasikan produk mereka dua hal – musik dan olahraga. Setidaknya secara garis besarnya.

Bir Bintang memiliki program-program marketing seperti “sounds of Bintang”, “Bersama Kita Bintang”, serta aktif mensponsori acara-acara musik seperti Java Jazz dan Soundrenaline. Sedangkan Heineken, aktif melakukan kampanye melalui program-program olahraga seperti Liga Champions dan Piala UEFA.

Bali, adalah salah satu pasar terpenting perusahaan. Seperti produk alkohol lainnya, daerah pariwisata seperti Bali tentu adalah pasar yang seksi. Menikmati minuman beralkohol seringkali menjadi salah satu cara bersantai dan bersenang-senang saat liburan, tentunya untuk mereka yang boleh melakukannya.

Distribusi produk-produk MLBI di Bali dilakukan oleh PT Bintang Bali Indah (BBI). Kontribusi penjualan ke BBI memberikan kontribusi rata-rata sebesar 18.47% dari tahun 2011 sampai dengan 2019. Trend-nya pun meningkat. Di tahun 2011, kontribusi penjualan ke BBI adalah sebesar 16.42%, sedangkan tahun 2019 angka ini tumbuh menjadi sebesar 25.51%.

Dengan kontribusi pasar yang sedemikian besarnya, turunnya aktivitas pariwisata di Bali sampai hampir mendekati nol akibat pandemi tentunya sangat memukul kinerja perusahaan. Pendapatan dari BBI turun dari angka IDR 947 miliar di tahun 2019, menjadi hanya sebesar IDR 345 miliar di tahun 2020 – turun sebesar hampir 64%.

Kinerja di quarter I 2021 juga tidak terlalu menggembirakan. Pendapatan dari penjualan ke BBI turun dari quarter yang sama tahun sebelumnya sebesar IDR 189 miliar, menjadi hanya sebesar hampir IDR 70 miliar saja. Angka ini setara dengan penurunan sebesar hampir 63%.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi, angka ini bahkan menjadi jauh lebih buruk. Q1 2019, penjualan ke BBI mencapai hampir IDR 321 miliar, sehingga angka di Q1 2019 menunjukkan penurunan sebesar 78%.

Namun demikian, dalam AR 2020, manajemen melaporkan bahwa pasar lainnya justru terjadi penguatan. Walaupun rata-rata mengalami penurunan di awal pandemi, pasar-pasar di luar Bali mengalami pemulihan yang jauh lebih cepat. Hal ini tentunya adalah hal positif.

Multi Bintang tetap memimpin di pasar bir. Kami melihat adanya pertumbuhan pangsa pasar di seluruh wilayah kecuali Bali, serta di segmen premium sebagai hasil dari kekuatan merek Heineken yang terus berlanjut dan kinerja yang kuat selama periode perayaan akhir tahun.

Jawa, kontributor utama bisnis kami lainnya, tidak terlalu terpengaruh. Volume penjualan menurun secara signifikan pada awal krisis, tetapi mulai menguat di akhir tahun. Pasar lainnya di Sumatera Utara, Batam, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mengalami pemulihan yang jauh lebih cepat, terutama pada kuartal terakhir. Hal ini sebagaimana dialami daerah tujuan yang disebut “Bali Baru”, termasuk Labuan Bajo dan Lombok.

AR MLBI, 2020

Management

Seperti umumnya PMA di Indonesia, posisi-posisi penting di MLBI diisi oleh para profesional dari group induk (Heineken NV). Dukungan dari group induk sepertinya memiliki faktor yang sangat penting dalam usaha perusahaan meningkatkan profit margin. MLBI rajin melakukan peningkatan-peningkatan proses dan fasilitas produksinya, dengan dukungan teknologi dan manajemen dari group induk.

Layaknya perusahaan mature lainnya, MLBI rajin membagikan deviden bahkan dua kali dalam setahun. Tahun ini, MLBI membagikan dividen sebesar IDR 475, yang mana dengan harga saat artikel ini ditulis (IDR 8,975) setara dengan deviden yield sebesar 5.3%.

MLBI rajin membagikan deviden dua kali dalam setahun

Valuasi

Seperti biasa, penulis melihat valuasi dilihat dari tiga hal sederhana: perhitungan nilai intrinsik, PER, dan PBV.

Nilai Intrinsik

Dengan menggunakan data-data sebelum pandemi yaitu CAGR EPS sebesar 8.69%, dengan menggunakan perhitungan yang sama ketika melakukan perhitungan nilai intrinsik saham EKAD, dengan menggunakan deviden payout ratio konservatif sebesar 30%, penulis mendapati nilai intrinsik MLBI berada di rentang IDR 6,995 – IDR 14,225. Jadi bisa dikatakan bahwa saat ini MLBI sedang berada di harga wajarnya.

Sebagai produsen produk konsumsi (consumer products) dan dengan merek sekuat Bintang, bisa dikatakan saat ini MLBI sedang dihargai murah oleh pasar.

PER

Dengan penurunan pendapatan yang sangat signifikan akibat pandemi saat ini, PER MLBI berada pada angka 64.20x. Jika melihat angka PER saja untuk menilai murah atau tidaknya saham MLBI saat ini tentunya sangat tidak tepat sebab angka PER 64.20 adalah valuasi yang sangat tinggi.

PER MLBI 10 Tahun Terakhir

PBV

PBV MLBI saat ini berada di angka 11.96x. Angka ini berada di bawah rentang -1 Standar Deviasinya. PBV MLBI saat ini bahkan merupakan yang terendah dalam 10 tahun terakhir. Jadi bisa dikatakan secara PBV, saat ini valuasi MLBI bisa dikatakan murah.

PBV MLBI 10 Tahun Terakhir

Kesimpulan

Terdapat beberapa kesimpulan setelah paparan sederhana di atas sebagai berikut:

  1. Dalam jangka pendek – setidaknya tiga tahun terakhir, pertumbuhan MLBI bisa dibilang melambat. Hal ini tercermin pada angka pertumbuhan CAGR yang lebih kecil jika dihitung dengan menggunakan periode waktu yang lebih kecil (misal 5 tahun), dibandingkan jika dihitung menggunakan periode yang lebih panjang (misal 10 atau 15 tahun). Perlambatan ini tercermin terutama pada pendapatan, pertumbuhan aset, dan operating cashflow.
  2. Dari segi efisiensi, MLBI menunjukkan kinerja yang sangat baik. Terbukti dari peningkatan Gross Margin dan Operating Margin dari tahun ke tahun.
  3. Pendapatan terbesar MLBI adalah dari produk alkohol dengan merek Bintang sebagai merek utama, didukung oleh Heineken yang bermain di kelas premium.
  4. Bali adalah pasar yang sangat strategis. Bali menyumbang pendapatan sebesar lebih dari 25% dari total pendapatan perusahaan. Kondisi pandemi saat ini yang memukul pariwisata di Bali agaknya memiliki imbas yang cukup signifikan pada perusahaan, walaupun pasar-pasar di luar Bali pulih lebih cepat.
  5. Sebagai perusahaan yang mature, perusahaan rajin memberikan deviden, bahkan dua kali dalam setahun. Di harganya yang sekarang, dividen yield yang ditawarkan cukup menarik (di atas 5%) – lebih tinggi dari bunga deposito.
  6. Dari segi nilai intrinsik, MLBI berada di rentang harga wajarnya. Sedangkan dari valuasi PBV, valuasi saat ini bisa dibilang murah.

Dari semua item-item di atas, MLBI bisa dikatakan sebagai emiten turn-around – entah sedang turning, atau akan turning. Dengan pertumbuhannya yang cenderung melambat, ekspekstasi bagger di emiten ini tentunya lebih kecil dibandingkan emiten lain yang memiliki trend pertumbuhan yang lebih tinggi.

Kondisi pandemi saat ini tentunya berimbas pada perusahaan. Jika pandemi berkepanjangan, maka kegiatan-kegiatan pariwisasta serta event-event baik musik maupun olahraga tidak dapat dilakukan. Kondisi ini ikut memukul harga saham perusahaan.

Hanya saja, harga saham yang turun saat ini justru memberikan kesempatan bagi mereka yang hobi mengoleksi emiten dengan dividen yield yang tinggi. Jika mulai dikoleksi dari sekarang, ketika pandemi sudah selesai dan orang-orang mulai berwisata kembali, maka pendapatan perusahaan tentu akan meningkat, sehingga dividen yield yang ditawarkan di masa depan akan jauh lebih menarik.

Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir. Tidak ada yang tahu pula apakah harga saham MLBI akan semakin turun, atau justru berbalik naik.

Menurut penulis, mulai mengoleksi MLBI saat ini secara perlahan-lahan mungkin bisa dipertimbangkan. Tentunya dengan money management yang baik. Jadi kalau harganya tambah turun, kita masih punya amunisi untuk serok.

Demikian, semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Analisa Saham Multi Bintang Indonesia (MLBI)

Leave a Reply to yusuf habibi harahap Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s