Belajar dari Market Crash 2020

Tahun 2020, mungkin menjadi tahun yang berkesan untuk banyak pelaku pasar modal khususnya investor retail. Pandemi Covid-19 menyebabkan perlambatan ekonomi global yang didahului dengan market crash di seluruh dunia termasuk IHSG.

Penulis bersyukur bisa merasakan market crash — yang kata banyak pelaku di bursa adalah kejadian yang layak ditunggu dan hanya terjadi mungkin sepuluh tahun sekali (kurang lebih).

Selain rasa takut dan panic selling, market crash juga menawarkan emiten-emiten di harga diskon. Jika kita melakukan pembelian di saat yang tepat, tentunya dapat menawarkan keuntungan maksimal di masa mendatang.

Dalam tulisan ini, penulis berusaha melakukan evaluasi pengalaman pribadi agar bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang penulis lakukan sebelum dan saat market crash ini terjadi.

Tentunya ini adalah opini pribadi 🙂

Sebelum mulai, numpang iklan dulu ya! 😀 Barangkali ada yang lagi expecting to have a baby in the near future (selamat ya Moms/Dads), mungkin mau cari-cari ide nama buat adek bayinya, barangkali bisa pake tools teman penulis di nama.bayiunyu.id. 

Posisi Akhir di 2019

Akhir tahun 2019, terdapat 8 emiten di dalam LynPF. Komposisi berdasarkan sektor kurang lebih diperlihatkan pada tabel di bawah ini. Paling besar alokasi aset berada di Industri Keuangan; dan paling kecil di sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi.

Alokasi LynPF berdasarkan sektor awal tahun 2020

Floating profit berdasarkan jumlah modal yang disetor ke RDN adalah sebesar 2.96%; sedangkan secara NAV tidak terlalu banyak berubah, yaitu sekitar 0.07% saja.

Dengan pengalaman seumur jagung di bursa, penulis merasa asal tidak rugi saja sudah merupakan awal yang bagus.

Rule Number One: Never Lose Money. Rule Number Two: Never Forget Rule Number One — Warren Buffet.

So, really… it’s not a bad start. But then, it happened…

Market Crash

Di awal Januari, seingat penulis, pasar masih disibukkan dengan isu perang dagang AS dan China. Memang Covid-19 sudah terjadi dan di Wuhan sana juga sudah melakukan lockdown.

Mungkin karena seperti kebanyakan orang ketika itu, penulis merasa bahwa Covid-19 hanya akan terjadi di China sana, jadi ya kita santai-santai saja. No need to panic.

Pun ketika di tanggal 2 Februari, pemerintah memulangkan WNI yang terjebak di Wuhan, penulis masih santai-santai saja. Nothing is going to happen.

Awal memasuki pasar modal, penulis memakai strategi mencicil setiap bulan. Emiten dengan fundamental bagus, ujung-ujungnya harganya pasti akan naik — begitu pikir penulis. Jadi penulis berusaha untuk tidak terlalu mengikuti hiruk pikuk di pasar modal. Kalau pun hari ini turun, nanti pasti akan naik lagi.

Bahkan jika melihat transaction history di RDN, penulis masih melakukan BUY di salah satu emiten pada tanggal 25 Februari 2020.

Tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama Covid-19 di Indonesia. Seketika, IHSG crash meluncur ke bawah sampai nyaris menyentuh harga IDR 3,900. Dari opening di harga IDR 6,300 di awal tahun, IHSG merosot tajam sebesar kurang lebih -38%.

Membaca Psikologi Market

Berikut ini adalah chart IHSG ketika market crash awal tahun 2020

IHSG awal tahun 2020

Kalau dilihat, ternyata market sudah mulai merespon negatif Covid-19 — walaupun mungkin bukan satu-satunya faktor ketika itu. Hanya saja bodohnya adalah penulis malah tidak bersiap-siap.

Memang tidak ada seorang pun yang tahu kapan pasar naik atau kapan akan turun. Hanya saja, sebagai seorang investor yang baik (tentu saja menurut penulis) — untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, kita harus tahu kapan saatnya pegang cash, dan kapan mulai membelanjakan cash tersebut di pasar modal.

Untuk investor dengan modal besar, tentunya hal ini kurang relevan. Market crash, ya tinggal guyur lagi — masukkan fresh capital to the market to average down your buying. But unfortunately, I was not that person — am still not.

Jadi timing untuk go back to cash that was really important was missed. And also, you should be prepared before it happened. Question is… how?

Cut-Loss

Penulis melakukan cut-loss di 3 dari 8 emiten di LynPF.

Namun cut-loss nya pun tidak terlalu menggembirakan. Emiten A di -37.37%, emiten B di angka -38.64%, dan emiten C di angka -43.18%.

Ada 5 emiten yang tidak penulis cut-loss dan memilih untuk keep dengan berbagai pertimbangan.

Pertanyaannya, haruskah penulis cut-loss ketika itu? Kalau iya, kenapa tidak semua?

Belajar dari Kesalahan

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis berusaha melakukan analisa-analisa kesalahan sebagai berikut.

Kesalahan 1 — Memilih Emiten dengan Fundamental yang Tidak Terlalu Bagus

Dari 8 emiten, 3 akhirnya diputuskan untuk dikeluarkan dari LynPF.

Emiten A, dikeluarkan karena angka NPM yang kecil.

Emiten B, memiliki hutang yang lumayan besar. Kekurangannya lagi, emiten ini IPO kurang dari 5 tahun, jadi menurut penulis, pengalamannya belum teruji menghadapi situasi krisis.

Emiten C, adalah kombinasi A dan B. NPM kecil, hutangnya besar.

Kenapa dikeluarkan? Karena pada saat-saat krisis, perusahaan-perusahaan di atas kemungkinan besar akan merugi — banyak. Dan kalau meruginya berkepanjangan, bisa tutup alias bangkrut.

Kalau saja lebih berhati-hati, seharusnya tidak ada satupun emiten yang harus keluar dari LynPF. Atau jika pun memutuskan cut-loss agar pegang cash, maka semuanya harusnya dikeluarkan — ini tentunya soal lain.

Kesalahan 2 — Cut-Loss tanpa Perencanaan

Kesalahan 2 tidak terlepas dari kesalahan 1.

Emiten A penulis masukkan ke dalam LynPF karena PBV-nya yang rendah. Emiten ini adalah salah satu anak perusahaan group konglomerat di Indonesia. Jadi harapannya adalah nantinya si emiten bisa turn-around dan penulis bisa mendapatkan profit.

Hanya saja, in every good opportunity, there is risk. PBV yang rendah tentunya karena market menilai bahwa perusahaan ini fundamental nya tidak terlalu bagus — atau setidaknya biasa-biasa saja.

Dalam kondisi crash, yang biasa-biasa saja cenderung crash lebih dalam daripada yang luar biasa. Jadi akan lebih wise jika kita pasang GTC order untuk cut-loss di risk yang bisa kita toleransi (misalnya 30%) — untuk berjaga-jaga jikalau kita salah analisa.

Dalam kasus emiten A, B, dan C; penulis tidak memasang GTC. Tidak prepare. Di samping juga karena tidak tahu caranya.

Seandainya cut-loss sudah dipersiapkan di awal, maka loss di 3 emiten tadi harusnya lebih seragam (lihat di atas: 1 emiten ada di posisi -43.18%).

Akhirnya setelah itu, penulis belajar cara memasang GTC. Dan percayalah… GTC ini benar-benar sangat berguna.

Kesalahan 3— Melakukan BUY di Harga yang Tidak Tepat

Ketika melihat kembali history transaksi di semua emiten di LynPF, penulis berkesimpulan bahwa penulis tidak memiliki strategi pembelian yang baik.

Melakukan pembelian secara rutin setiap bulan — atau yang biasa disebut Dollar Cost Averaging — bisa menjadi salah satu strategi investasi yang baik. Terutama jika si investor tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti dinamika di pasar modal.

Namun, menurut penulis, jika kita tahu bahwa emiten yang kita pilih adalah emiten yang baik, dan jika kita masuk di awal dengan harga yang baik pula, maka langkah berikutnya adalah bagaimana kita melakukan buying atau menambah posisi di saat yang baik, sehingga dapat memperoleh keuntungan maksimal.

Dalam kasus penulis, ternyata penulis melakukan top-up di harga itu-itu saja. Bahkan beberapa pembelian dilakukan di harga yang lebih tinggi dari harga awalnya.

Apakah ini salah? Mungkin tidak.

Tetapi jika melihat kembali posisi cash in hands, ada baiknya ketimbang melakukan top-up di harga yang lebih tinggi, cash yang dimiliki disimpan saja, sambil menunggu harga turun — misalkan saja setiap turun 10% — barulah kemudian kita melakukan pembelian.

Dengan tidak melakukan ini, penulis melewatkan kesempatan market crash yang menawarkan harga beli yang lebih baik, karena sebelumnya telah melakukan pembelian di “harga normal”.

Seandainya penulis menunggu dan mengumpulkan cash, buying bisa dilakukan di harga yang lebih baik tanpa harus cut-loss.

Kesalahan 4 — Tidak Menyadari Fundamental Makro yang Berubah

Memang market crash, tidak selalu diikuti dengan perubahan kondisi makro perekonomian. Hanya saja, dalam kasus Covid-19, inilah realitanya.

Covid-19 menyebabkan perlambatan ekonomi karena pembatasan pergerakan manusia. Pembatasan ini menyebabkan penurunan baik dari segi permintaan maupun penawaran di semua sektor. Bagaimana mau berproduksi jika keluar rumah saja tidak boleh? Bagaimana mau belanja, jika ke mall saja tidak boleh?

Lalu di manakah letak salahnya? Ada dua hal.

Pertama, tidak bisa membaca apa yang terjadi. Dalam hal ini, perubahan ekonomi makro yang bisa menyebabkan krisis tadi. Kalau ini harus diakui adalah soal jam terbang. Dengan pengalaman seumur jagung, insting belum terasah.

Yang kedua, penulis adalah tidak berani melakukan cut-loss dan back to cash.

Market crash menyebabkan saham-saham blue-chip yang tidak masuk akal jika dibeli dalam kondisi normal (alias mahal) dan most likely you can hold forever (a wonderful company), menjadi sangat murah.

UNVR, back to where it was in 2013. BBRI bisa didapat dengan harga di bawah IDR 2,200 jika anda beruntung pasang BUY di hari yang tepat.

Dengan melakukan cash-out saat market crash, even dengan kondisi loss 30%, maka kita bisa mendapatkan membeli saham-saham tersebut dengan harga diskon — and if we like it, we just keep holding it, tight!

BBRI saat ini artikel ini ditulis, sudah +50% dari harga terendahnya di bulan Maret 2020. Dan mungkin anda harus menunggu market crash berikutnya jika ingin mendapatkannya di harga saat itu.

The Takeway

  1. Ingat selalu prinsip berikut ini: perusahaan dengan fundamental yang baik, dan membeli dengan harga yang baik. Ini penting dan harus selalu dilakukan.
  2. It is fine to just do nothing — alias mengumpulkan cash. Lebih baik tidak melakukan apa-apa (menabung cash), daripada membeli di harga yang biasa saja.
  3. Pay attention to market. Bukan berarti kita harus setiap saat melihat chart dan buka IPOT. Tapi mengikuti apa yang terjadi di pasar dan bagaimana pasar bereaksi dengan sesekali mengkonfirmasi ke chart, perlu dilakukan agar kita bisa menentukan strategi yang tepat.
  4. In relation to number 3: keep reading, keep learning, dan tambah jam terbang. Memprediksi pasar itu sulit if not impossible, dan secara intuitif berusaha memahami bagaimana pasar akan bereaksi adalah masalah pengalaman.
  5. Cut-loss is fine. Selain menghindari kerugian, ada saatnya anda keluar dan cash-out untuk kemudian digunakan membeli saham yang hanya ditawarkan sepuluh tahun sekali (baca: market crash).

Khusus yang terakhir, di tulisan sebelumnya penulis merangkum alasan-alasan kapan kita harus menjual saham yang kita miliki (ini penulis baca dari tulisan salah satu pelaku pasar modal senior).

  1. Fundamental nya berubah;
  2. Harganya mahal (alias value yang didapat berkurang di harga sekarang);
  3. Jika anda melakukan kesalahan analisa;
  4. Dan terakhir, jika dengan melakukan cut-loss anda bisa mendapatkan cash untuk melakukan pembelian di emiten lain yang menawarkan kesempatan yang lebih baik.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Lanyuk Investing Portfolio (LynPF) Performance 2020

Di tulisan ini, penulis mencoba untuk menampilkan performa portfolio penulis selama tahun 2020.

Sekedar konteks, penulis mulai aktif di bursa pada pertengahan tahun 2019. Jadi bisa dibilang untuk ukuran investing, penulis baru seumur jagung berada di bursa — dan tentunya bukan investor “angkatan corona”. Meskipun demikian penulis cukup beruntung bisa merasakan market crash yang kata orang-orang di bursa, hanya datang probably like once in ten years or so.

Sebelum mulai, numpang iklan dulu ya! 😀 Barangkali ada yang lagi expecting to have a baby in the near future (selamat ya Moms/Dads), mungkin mau cari-cari ide nama buat adek bayinya, barangkali bisa pake tools teman penulis di nama.bayiunyu.id. 

Performance dengan NAV

Untuk yang belum tahu, Net Asset Value (NAV) atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) ini biasanya digunakan untuk menghitung harga unit penyertaan sebuah reksadana. Untuk mengetahui bagaimana teknik menghitung NAV, bisa melakukan searching di Google.

Untuk memudahkan perhitungan, NAV dihitung setiap akhir bulan, karena data pendukung nya lebih mudah didapatkan. Jadi angka NAV yang dihasilkan mungkin tidak terlalu presisi jika dibandingkan IHSG karena IHSG dihitung secara real time.

Monthly NAV LynPF

NAV LynPF dan perbandingannya dengan IHSG setiap bulannya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Perkembangan NAV/NAB Lanyuk Investing dari bulan ke bulan selama tahun 2020
Monthly NAV LynPF

NAV awal LynPF adalah sebesar IDR 1,000. Pada akhir 2019 lalu, nilai akhir NAV adalah sebesar IDR 1,001.05. Nilai akhir 2019 ini otomatis menjadi nilai awal 2020 di bulan Januari yang lalu.

Untuk lebih mudah membandingkan dalam visualisasi, tabel NAV di atas jika disajikan ulang dalam bentuk line chart seperti di bawah ini. Sebagai catatan, untuk lebih memudahkan melihat volatilitas nya, NAV sudah dikalibrasi sehingga nilai nya mendekati IHSG.

Line Chart — IHSG vs LynPF (NAV Calibrated)

Jika melihat chart di atas, at a glance dapat diketahui bahwa pergerakan LynPF hampir mirip dengan IHSG. Kita tidak dapat melihat apakah IHSG lebih baik dari LynPF hanya dengan melihat chart ini saja. Untuk itu, kita perlu melakukan analisa Year to Date dan Month to Month volatility.

Year to Date Performance

Pergerakan IHSG vs LynPF secara Year to Date dapat dilihat pada chart berikut.

Line Chart — IHSG vs LynPF (YTD Volatility)

Secara YTD, dapat diketahui bahwa performa LynPF sedikit di bawah IHSG dari awal tahun sampai dengan pertengahan tahun mendekati akhir Q3 — walaupun sempat sekali mengungguli IHSG di bulan Juni. LynPF mulai perform lebih baik dari IHSG dari sekitar awal September sampai akhir tahun.

Secara Year to Date, LynPF hanya mampu mengungguli IHSG selama 6 dari 12 bulan (50%). Namun demikian, secara average, LynPF relatif lebih unggul dari ISHG dengan pergerakan rata-rata pergerakan sebesar -16.52% dibandingkan dengan -17.2% (not bad, although not too good either).

Month to Month Performance

Pergerakan IHSG vs LynPF secara Month to Month dapat dilihat pada chart berikut.

Line Chart — IHSG vs LynPF (MTM Volatility)

Dari segi MTM volatility, pergerakan LynPF juga cendering mirip dengan IHSG. Dari 12 bulan, LynPF unggul 7 bulan dibandingkan dari IHSG, dan secara average juga lebih baik, di mana LynPF mencatatkan rata-rata pergerakan positif (0.55%) dibandingkan IHSG dengan rata-rata pergerakan negatif (-0.12%). Again, it’s not bad...

Kesimpulan Sementara…

Dari analisa di atas, didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Secara umum performa LynPF is slightly better than IHSG. Secara pergerakan per bulan, LynPF mampu sedikit mengungguli IHSG yaitu 6–7 bulan dalam setahun.
  2. Secara average, LynPF menawarkan hasil sedikit lebih baik dari IHSG. Jika anda berinvestasi di IHSG di awal tahun dan mendiamkan saja sampai akhir tahun, maka uang anda akan berkurang sebesar -5.10%; sedangkan jika anda berinvestasi dengan jumlah yang sama di LynPF, uang anda akan bertambah sedikit yaitu sebesar 1.75%.
  3. Walaupun secara umum lebih baik, tapi harus diakui performance LynPF selama tahun 2020 tidaklah terlalu spektakuler. It did beat the market, but it was not special. Ini tentunya akan menjadi pembelajaran buat penulis untuk melakukan management portfolio yang lebih baikdi 2021.

Performance by Floating P/L

Performance berdasarkan Floating P/L (Profit/Loss), maksudnya adalah mengukur berapakah floating profit/loss dari ekuitas yang dimiliki (nilai pasar saham yang dimiliki ditambah dengan sisa kas di RDN) saat akhir tahun dibandingkan dengan modal yang sudah digunakan di pasar.

Langkah Analisa

Untuk mengetahui apakah kinerja portofolio lebih baik dari IHSG, penulis melakukan simulasi sebagai perbandingan. Seandainya uang yang seharusnya penulis belikan saham untuk membentuk LynPF itu digunakan untuk membeli IHSG, apakah nilai untuk yang terakumulasi setiap bulannya itu lebih baik dari dari LynPF.

Untuk menghitung menggunakan IHSG, penulis menggunakan langkah-langkah seperti contoh di bawah ini:

  1. Misalkan penulis mempunyai uang IDR 500,000 di bulan Januari 2020, dan penulis hendrak membeli IHSG, maka penulis akan menggunakan nilai di akhir bulan Desember 2019 untuk menghitung berapa unitkah yang penulis dapatkan.
  2. Di bulan Desember 2019, IHSG ditutup di angka IDR 6,011. Maka unit yang didapatkan adalah sebanyak 83.18 unit.
  3. Kemudian untuk menghitung berapakah nilai unit tersebut di bulan yang bersangkutan, maka penulis menggunakan nilai IHSG di akhir bulan bersangkutan. Jadi, 83.18 unit di bulan Januari 2020 akan bernilai sebesar IDR 524,034. Nilai ini merefleksikan floating profit sebesar 4.8%.

Dengan langkah-langkah di atas, dapat diilustrasikan cara perhitungannya seperti tabel di bawah ini. Sekali lagi, tabel di bawah ini hanya ilustrasi saja.

Ilustrasi perhitungan keuntungan jika modal dibelikan IHSG

Hasil Perbandingan

Hasil perhitungan dengan metode di atas, dapat dilihat di tabel di bawah. Angka nominalnya tentunya tidak saya tampilkan — jadi para pembaca terpaksa harus percaya dengan angka yang penulis sampaikan. 🙂

Perbandingan Floating P/L IHSG vs LynPF berdasarkan Modal yang dibelanjakan di bursa selama 2020

Secara chart, bisa diliat di bawah ini.

Line Chart Perbandingan Floating P/L IHSG vs LynPF

Dari tabel di atas, diketahui bahwa LynPF has beaten the market 9 out of 12 months. Lumayan juga… Jadi sampai dengan akhir 2020, LynPF mengalami floating profit sebesar 22.62% dibandingan kalau saya beli IHSG yang memberikan saya floating profit hanya sebesar 12.51% — so we did beat the market with margin of 10.11%.

Kesimpulan

  1. Secara umum, LynPF has performed better than IHSG.
  2. Walaupun demikian the achievement was not significant. Secara NAV, LynPF lebih baik sebesar 6.85%; sedangkan secara floating P/L LynPF lebih baik sebesar 10.11%.

Dengan waktu kurang lebih 1.5 tahun berkecimpung di bursa, tentunya masih terlalu dini untuk menilai skill penulis dalam mengelola portofolio. Hasil ini tentunya akan menjadi masukan bagi penulis untuk mengelola portfolio dengan lebih baik lagi di tahun 2021.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.

Perhitungan (Sederhana) Nilai Wajar Saham EKAD

Note: tulisan ini telah diperbaharui karena terjadi kesalahan perhitungan di sana sini. Terima kasih kepada Yusuf Habibi Harahap yang telah memberikan pertanyaan di kolom komentar sehingga penulis meninjau ulang tulisan ini. Untuk perhitungan yang lebih baik, penulis sarankan untuk melihat di artikel Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham (ala LynPF).

Berikut ini penulis mencoba untuk melakukan perhitungan nilai wajar saham EKAD. Metode yang penulis gunakan adalah dengan perhitungan berdasarkan historical EPS.

Sebelum mulai, numpang iklan dulu ya! 😀 Barangkali ada yang lagi expecting to have a baby in the near future (selamat ya Moms/Dads), mungkin mau cari-cari ide nama buat adek bayinya, barangkali bisa pake tools teman penulis di nama.bayiunyu.id. 

EPS Saat Ini dan CAGR EPS

Informasi historical EPS bisa anda dapatkan di laporan keuangan emiten. Namun di artikel ini penulis menggunakan Stockbit agar lebih praktis.

Laporan keuangan yang penulis pakai adalah LK tahun 2019, karena ini adalah laporan keuangan yang sudah diaudit.

Berdasarkan Income Statement EKAD yang tersedia di stockbit, EPS EKAD tahun 2019 adalah sebesar Rp 105.56.

Mencari informasi EPS di stockbit

Untuk menghitung CAGR EPS, penulis mempergunakan data tahun 2009 dan 2019. Tahun 2009, nilai EPS EKAD adalah sebesar Rp 28.63; sedangkan tahun 2019, nilai EPS EKAD adalah sebesar Rp 105.56. Dari data tersebut, CAGR EPS EKAD dapat dihitung yaitu sebesar 13,94%.

Mencari Nilai Book Value Per Share alias BVPS

Informasi ini juga di stockbit di Balance Sheet tahun 2019. Penulis menggunakan LK 2019, karena ini adalah laporan keuangan yang sudah diaudit. Berdasarkan informasi yang tersedia di stockbit, BVPS dari EKAD per LK 2019 adalah sebesar Rp 1.181,63.

Mencari nilai BVPS di Stockbit

Informasi ini juga tersedia di bagian Key Stats. Namun sepertinya nilai yang terdapat di Key Stats adalah nilai berdasarkan laporan keuangan kuartal terakhir, sehingga untuk tahun berjalan hasilnya masih bisa berubah di kuartal berikutnya. Untuk hasil yang lebih stabil, penulis tidak menggunakan data di Key Stats.

Menghitung Risk Premium

Sejujurnya penulis masih bingung bagaimana cara menentukan Risk Premium yang tepat. Bagi pembaca yang bisa memberikan pencerahan, dengan senang hati penulis akan melakukan revisi.

Untuk saat ini, Risk Premium yang penulis gunakan adalah Suku Bunga Bank Indonesia dan nilai yield dari obligasi pemerintah 10 tahun.

Suku bunga Bank Indonesia dapat dilihat di situs resmi Bank Indonesia (silakan di-googling), atau bisa dilihat dalam bentuk chart di tradingeconomics.com. Screenshot nya adalah seperti di bawah ini.

Chart suku bunga BI di tradingeconomics.com

Suku bunga BI pada saat artikel ini ditulis adalah sebesar 4%. Namun karena suku bunga ini ditetapkan dalam suasana Covid-19, maka penulis mengambil angka 6% saja.

Jujur, angka 6% ini juga lebih berdasarkan feeling saja. Jika menggunakan 4% sepertinya kurang tepat karena perekonomian akan bangkit kembali setelah pandemi. Namun jika lebih tinggi dari itu juga tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Komponen berikutnya adalah yield obligasi pemerintah 10 tahun. Data nya kembali penulis ambil dari tradingeconomics.com (lihat screenshot di bawah ini).

Mencari data yield obligasi pemerintah 10 tahun di tradingeconomics.com

Angka yield yang dipergunakan adalah 6.72%.

Dividen Payout Ratio

Informasi Dividen Payout Ratio (DPR) penulis peroleh dari stockbit. DPR EKAD ketika artikel ini dibuat menurut stockbit adalah sebesar 29%.

Mencari Dividen Payout Ratio di stockbit.

NOTE: menurut penulis akan lebih baik jika kita menggunakan angka rata-rata lima atau sepuluh tahun terakhir untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Mencari Rata-rata Price Earning Ratio (PER) 10 Tahun Terakhir

Penulis menggunakan data PER EKAD 10 tahun terakhir dari stockbit. Data ini bisa didapatkan di bagian Financials > Income Statement seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Berdasarkan data yang penulis kumpulkan, rata-rata PER EKAD selama sepuluh tahun terakhir adalah sebesar 6,68 X.

Menghitung Akumulasi EPS 10 Tahun ke Depan

Selanjutnya penulis melakukan perhitungan akumulasi EPS selama 10 tahun ke depan.

EPS tahun 2019 EKAD adalah sebesar Rp 105,56. Dengan menggunakan asumsi bahwa pertumbuhan tahun depan adalah sebesar CAGR 13,94%, maka EPS EKAD 2020 adalah sebesar:

Rp 105,56 x (1 + 13,94%) = Rp 120,27

Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka EPS tahun 2021 akan menjadi sebesar Rp 137,04; dan tahun 2022 akan menjadi sebesar Rp 156,14. Demikian seterusnya dihitung sampai 10 tahun.

Hasil perhitungan ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Berdasarkan perhitungan, total EPS EKAD di tahun ke-10 menjadi Rp 2.318,72.

Menghitung total EPS selama 10 tahun

Menghitung Dividen 10 Tahun ke Depan

Berikutnya, dilakukan perhitungan besarnya dividen yang didapatkan selama 10 tahun ke depan. Dengan menggunakan asumsi DPR akan selalu sama yaitu sebesar 29%, maka total dividen yang didapat adalah sebesar Rp 672,43.

Harga Saham EKAD 10 Tahun ke Depan

Harga saham EKAD di tahun ke-10 dapat dihitung sebagai berikut:

BVPS + Total Akumulasi EPS 10 Tahun x Average PER) + Total Dividen

= Rp 1.181,63 + (Rp 2.318,67 x 6,68) + Rp 672,43

= Rp 4.085,93

Harga saham EKAD di tahun ke-10 dapat dihitung sebagai berikut:

BVPS + Total Akumulasi EPS 10 Tahun

= Rp 1.181,63 + Rp 2.318,67

= Rp 3.500,3

Mencari Nilai Masa Kini Harga Saham EKAD

Untuk mengetahui berapakah harga wajar saham EKAD saat ini, maka kita harus menghitung nilai sekarang dari harga EKAD 10 tahun ke depan.

Jika di tahun ke-10 harga EKAD adalah Rp 3.500,3 maka di tahun ke-9 dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Harga Tahun ke-10 / (1 + Risk Premium)

= Rp 3.500,3 / (1 + 12,72%)

= Rp 3.105,31

Dengan cara yang sama, tahun ke-8 harga nya adalah Rp 2,754.88; dan tahun ke-7 adalah sebesar Rp 2.444.01. Seterusnya sampai tahun ke-0 (sekarang), maka akan didapat harga wajar nya adalah senilai Rp 1,057.05.

Perhitungan nya dapat dilihat di gambar berikut.

Menghitung nilai sekarang dari harga tahun ke-10
Menghitung nilai sekarang dari harga tahun ke-10

Margin of Safety

Harga EKAD ketika artikel ini ditulis adalah sebesar Rp 1.295. Harga ini masih lebih rendah dari harga wajar sebesar Rp 1.057,05.

Margin of safety yang tersedia adalah sebesar:

(Harga Wajar – Harga Saat Ini) / Harga Wajar x 100%

= (Rp 1.057,05 – Rp 1.295) / Rp 1.057,05 x 100%

= -22.51%

Investor disarankan untuk menggunakan margin of safety sebesar minimal 25% ketika melakukan pembelian. Jika mengikuti saran ini, maka dapat disimpulkan bahwa saham EKAD tidak memenuhi kriteria saham murah untuk harganya saat ini. Kita dapat menunggu untuk membeli saham EKAD ketika harganya telah memenuhi MOS 25% yaitu di harga Rp 792 atau di bawah nya.

Demikian, semoga bermanfaat.

PS – this post was initially posted in Medium. I decided to move it here, because medium has put my blog under investigation without notice.