Analisa Fundamental PT Sarana Menara Nusantara, Tbk (TOWR)

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan seluruh umat manusia menyesuaikan perilaku dengan menjaga jarak sosial (social distancing) untuk menghindari penyebaran virus corona, mengakselerasi penggunaan layanan-layanan Over The Top (OTT) di seluruh dunia. Mudahnya, kita jadi lebih dipaksa untuk terbiasa menggunakan internet.

Menyediakan internet di seluruh Indonesia, bukan perkara mudah. Perlu modal besar tidak hanya untuk menyiapkan teknologinya, namun juga perangkat pendukungnya. Salah satunya adalah menara telekomunikasi.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang didirikan pada tahun 2008, telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, di mana hari ini TOWR adalah salah satu perusahaan penyewaan menara dengan jumlah aset menara terbanyak di Indonesia.

Logo TOWR. Diupload ulang dari website perusahaan.
Logo TOWR. Diupload ulang dari website perusahaan.

Analisa Fundamental

Sama seperti pada analisa sebelumnya, penulis menggunakan data dari tahun 2009 – 2019 untuk melakukan analisa terutama ketika menganalisa laju pertumbuhan (CAGR). Data tahun 2020 tidak penulis pakai karena tahun 2020 adalah tahun pandemi. Walaupun secara relatif, fundemental TOWR tidak terlalu terpukul oleh pandemi, namun sedikit banyak usaha TOWR tetap terpengaruh.

Penulis juga menggunakan istilah jangka panjang untuk menyebut periode 10 tahun terakhir (2009 – 2019) dan jangka pendek untuk periode 5 tahun terakhir (2014 – 2019). Khususnya dalam membandingkan CAGR, CAGR jangka pendek yang lebih rendah dari jangka panjang menunjukkan perlambatan pertumbuhan sehingga kita tidak terjebak dengan data historis yang terlalu jauh di masa lalu.

Balance Sheet

Dalam jangka panjang, TOWR mampu meningkatkan nilai Total Aset dengan CAGR sebesar 14.94%. Angka CAGR ini cukup tinggi, di mana TOWR mampu meningkatkan nilai asetnya dari sebesar IDR 6.8 triliun tahun 2009, menjadi sebesar IDR 27.6 triliun di tahun 2019. Dalam jangka pendek, CAGR mengalami penurunan menjadi sebesar 9.93%. Di tahun 2020 sendiri, Total Aset TOWR sendiri berada di angka IDR 34 triliun.

Total Ekuitas tumbuh dengan CAGR yang lebih agresif daripada pertumbuhan aset. Dalam jangka panjang, TOWR berhasil menaikkan ekuitasnya dari sebesar IDR 1.1 triliun di tahun 2009, menjadi sebesar IDR 8.7 triliun di tahun 2019 (CAGR sebesar 22.89%). Dalam jangka pendek, CAGR pertumbuhan ekuitas cenderung menurun namun masih berada di angka yang cukup agresif 13.41%.

Yang menarik, ternyata pertumbuhan Total Liabilitas yang walaupun cenderung mengikuti CAGR pertumbuhan aset, memiliki angka yang relatif lebih rendah dari CAGR ekuitasnya. Artinya, walaupun kewajiban perusahaan bertumbuh, namun laju pertumbuhannya lebih rendah dari laju peningkatan kekayaan pemegang sahamnya (ekuitas perusahaan). Total Liabilitas TOWR dalam jangka panjang tumbuh dengan CAGR sebesar 12.62%, sedangkan dalam jangka pendek CAGR-nya adalah sebesar 8.51%.

Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas TOWR 2009 - 2019
Pertumbuhan Aset, Ekuitas, dan Liabilitas TOWR 2009 – 2019

Secara rata-rata jangka panjang, Debt to Equity Ratio (DER) berada di angka 274.02%, sedangkan Debt to Aset Ratio (DAR) berada di angka 70.69%. Angka DER dan DAR yang tinggi harus dimaklumi sebab TOWR bergerak di sektor infrastruktur yang tergolong capital intensive. Sebagai perbandingan, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) memiliki rata-rata DAR dan DER jangka panjang sebesar masing-masing 78.87% dan 584.45%.

Kabar baiknya, dalam jangka pendek, nilai rata-rata DER dan DAR cenderung menurun. Rata-rata DER jangka pendek turun menjadi 175.68%, sedangkan rata-rata DAR turun menjadi 63.37%. Artinya, lima tahun terakhir, liabilitas perusahaan lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun 2020 sendiri, DER TOWR berada di angka 236.3%, sedangkan DAR berada di angka 70.26%.

Income Statement

Total Pendapatan jangka panjang tercatat memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat baik di mana TOWR mampu mencatatkan nilai CAGR sebesar 19.55%, di mana TOWR mampu meningkatkan nilai pendapatannya dari sebesar IDR 1,1 triliun di tahun 2009 menjadi sebesar IDR 6.5 triliun di tahun 2019. Namun, dalam periode jangka pendek, laju pertumbuhan pendapatan tercatat menurun dengan CAGR sebesar 9.47%. Walaupun turun, namun laju pertumbuhan mendekati 10% dalam jangka pendek, tetap menjanjikan pertumbuhan yang cukup signifikan beberapa tahun ke depan.

Laba Bersih bahkan mencatatkan kinerja yang lebih baik. CAGR Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar 14.8% (jangka panjang), dan 17.97% (jangka pendek).

Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih TOWR 2009 - 2019
Pendapatan, Laba Kotor, Laba Usaha and Laba Bersih TOWR 2009 – 2019

Margin usaha juga menunjukkan kinerja yang baik. Dalam jangka pendek, Gross Profit Margin (GPM) rata-rata berada di angka 74.57%, Operating Profit Margin (OPM) berada di angka 62.42%, dan Net Profit Margin (NPM) berada di angka 31.15%. Sebuah bisnis dengan margin keuntungan di atas 30% tentunya adalah bisnis yang cukup menggiurkan.

Cashflow

TOWR selalu mencatatkan Operating Cashflow positif baik dalam jangka panjang maupun pendek. Namun dari segi Free Cashflow jangka pendek, TOWR mencatatkan angka negatif di tahun 2019 dan 2016. Hal ini bisa dipahami sebab sebagai perusahaan infrastruktur, TOWR memerlukan Capital Expenditure yang besar untuk pengembangan usahanya.

Analisa Kualitatif

Segmen Usaha

TOWR membagi usahanya ke dalam dua segmen yaitu Segmen Penyewaan Menara dan Segmen Jasa VSAT dan Wireline.

Bisa ditebak, Segmen Penyewaan Menara adalah penyumbang pendapatan terbesar perusahaan, di mana secara rata-rata jangka panjang, segmen ini menyumbang pendapatan sebesar 97.41% dari Total Pendapatan, namun dalam jangka pendek, porsinya menurun dengan rata-rata sebesar 95.11%. Hal ini lebih dikarenakan oleh meningkatnya Segmen VSAT dan Wireless, dan bukan karena menurunnya pendapatan sewa menara.

Dalam jangka panjang, Segmen Penyewaan Menara mencatatkan pertumbuhan yang baik, di mana segmen ini berhasil menumbuhkan pendapatan dengan CAGR sebesar 17.92%. Namun demikian, CAGR jangka pendek justru menurun signifikan menjadi sebesar 6.34% saja. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan pendapatan di segmen ini mulai berkurang dalam lima tahun terakhir.

Sebaliknya, Segmen Jasa VSAT dan Wireless masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang stabil. Dari angka CAGR, pertumbuhan tercatat tetap tinggi baik jangka panjang (CAGR=14.5%) dan jangka pendek (CAGR 15.58%). Selain itu, porsi pendapatan dari segmen ini konsisten meningkat. Mencatatkan pendapatan hanya sebesar IDR 8.3 miliar di tahun 2009, segmen ini mampu bertumbuh dengan pesat sehingga mencatatkan pendapatan sebesar IDR 637 miliar di tahun 2020. Artinya segmen ini mampu meningkatkan porsi terhadap total pendapatan dari hanya sebesar 0.77% di tahun 2009, menjadi sebesar 9.15% di tahun 2020.

TOWR mampu meningkatkan jumlah menara dari sebanyak 4,410 menara di tahun 2009 menjadi sebanyak 11,595 menara di tahun 2014, dan sebanyak 19,319 menara di tahun 2019. Angka ini menunjukkan CAGR jangka panjang sebesar 15.92%. Namun demikian, dalam jangka pendek, pertumbuhan jumlah menara menunjukkan penurunan dengan CAGR sebesar 10.75% saja.

Sejalan dengan itu, Jumlah Lokasi Sewa juga tumbuh dengan laju pertumbuhan yang hampir sama. Jumlah Lokasi Sewa tumbuh dari sebanyak 7,282 titik di tahun 2009, menjadi 20,138 titik di tahun 2014, dan sebanyak 33,346 titik di tahun 2019. Hal ini menunjukkan CAGR sebesar 16.43% jangka panjang (2009 – 2019), dan CAGR sebesar 10.61% jangka pendek (2014 – 2019).

Di tahun 2020 sendiri, TOWR tercatat memiliki jumlah menara sebanyak 21,381 menara dan jumlah sewa lokasi sebanyak 39,127 titik. Di tahun 2020, TOWR menyelesaikan pembelian sebanyak 1,642 menara dari PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Pertumbuhan Jumlah Menara dan Jumlah Sewa Lokasi TOWR 2009 - 2020
Pertumbuhan Jumlah Menara dan Jumlah Sewa Lokasi TOWR 2009 – 2020

Akuisisi

Sejak berdirinya, TOWR cenderung melakukan aksi-aksi pertumbuhan anorganik, baik berupa pembelian aset berupa menara, fiber optik, dan lain-lain secara langsung, atau dengan melakukan akuisisi perusahaan.

TOWR sendiri dibentuk untuk mengakuisisi PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) pada tahun 2008. Pada tahun 2010 Protelindo (melalui TOWR) resmi melantai di BEI.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMN atau Perseroan) didirikan pada tahun 2008 di Kudus, Jawa Tengah. Fokus utama bisnis SMN adalah berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam pengoperasian lokasi-lokasi menara telekomunikasi untuk disewakan kepada perusahaan komunikasi nirkabel. Sejak tahun 2008, investasi utama SMN adalah kepemilikan 99,99% saham di PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

TOWR, AR 2020

Pada tahun 2015, Protelindo mengakuisisi PT iForte Solusi Infotek (iForte), di mana dari hasil akusisi ini perusahaan memperoleh kendali tidak langsung terhadap anak usaha iForte yaitu iForte Global Internet. Melihat profil usahanya, agaknya sebagian besar usaha segmen bisnis selain sewa menara TOWR berasal dari iForte.

Di tahun 2016, Protelindo melakukan akusisi terhadap 2,500 unit menara dari PT XL Axiata Tbk (XCEL) dengan nilai akusisi kurang lebih sebesar IDR 3.5 triliun.

Di tahun 2018, Protelindo mengakusisi PT Komet Infra Nusantara (KIN). Dari akusisi KIN, Protelindo menambah koleksi unit menara sebesar 1,400 unit. Selain itu, Protelindo juga memperoleh kendali atas anak usaha KIN yaitu PT Quattro International yang kemudian direstrukturisasi menjadi anak usaha iForte.

KIN dan iForte menandatangani akta pembelian saham sehubungan dengan pengalihan atas 924.999 saham Quattro dari KIN ke iForte. Saham yang dialihkan tersebut mewakili 99,9999% modal ditempatkan dan disetor dalam Quattro. Baik Quattro maupun Iforte menjalankan kegiatan usaha yang terfokus pada bidang yang sama, yaitu bidang fiber optic.

TOWR, AR 2020

Di tahun 2019, Protelindo membeli 1,000 unit menara dari PT Indosat Tbk (ISAT) senilai 1.95 IDR triliun. Sedangkan di tahun 2020, Protelindo kembali mengakuisisi sebanyak 1,646 menara dari PT XL Axiata.

Yang cukup menarik, di akhir tahun 2019 Protelindo mengakusisi sebanyak 51% saham PT Istana Kohinoor (Kohinoor) setelah sebelumnya mendirikan PT Protelindo Menara Permata (PMP) di tahun yang sama. Kepemilikan saham PMP kemudian dialihkan sebesar 100% ke Kohinoor. Menurut perusahaan, Kohinoor telah mendapatkan hak menggunakan non-fuel retail (NFR Bisnis) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Jadi apa hubungan antara TOWR, Kohinoor, dan NFR business Pertamina? Menurut Laporan Tahunan TOWR 2019 dan 2020, tercantum nama Amir Hamzah selaku pemegang 49% saham Kohinoor.

Penulis berusaha mencari-cari profile yang bersangkutan di internet. Hasilnya, penulis menemukan nama yang sama tercatat sebagai chairman salah satu toko retail smartphone terbesar di Bali. Googling menggunakan keyword Kohinoor, penulis mendapati nama sebuah toko emas di Bali dengan nama yang sama yang sepertinya memiliki afiliasi dengan toko retail smartphone tersebutnya. PT Istana Kohinoor sendiri jika di-googling, tercatat memiliki kantor di Denpasar, Bali.

Kesimpulan awam penulis, Amir Hamzah yang terafiliasi dengan TOWR melalui PT Istana Kohinoor adalah orang yang sama dan terafiliasi dengan usaha-usaha yang penulis sebutkan.

Apakah TOWR akan melakukan usaha baru dengan memanfaatkan hak NFR bisnis SPBU? Ataukah sekedar memanfaatkan areal SPBU untuk melakukan pemasangan menara baru melalui PMP? Tidak disebutkan dengan jelas apakah NFR yang dimiliki hanya berada di Bali saja, atau juga di provinsi lain di Indonesia.

Mengingat proses ini baru berjalan selama dua tahun, kelanjutan dari aksi korporasi TOWR melalui Kohinoor cukup menarik untuk dinantikan.

Yang teranyar, di tahun 2021, TOWR mengakusisi saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Melalui SUPR, TOWR akan memperoleh kendali atas 6,422 menara SUPR sehingga mengukuhkan TOWR sebagai “Raja” korporasi menara di Indonesia.

Komposisi Pemegang Saham

TOWR adalah salah satu perusahaan yang berada di bawah kendali Grup Djarum. Mengutip AR TOWR tahun 2020, melalui PT Caturguwiratna Sumapala (CGS) dan PT Tricipta Mandhala Gumilang (TMG), grup Djarum menguasai sekitar 50.02% saham PT Sapta Adhikari Investama (PT SAI) yang merupakan pemilik dari 99.99% saham TOWR.

Kepemilikan di CGS dan TMG sendiri diisi oleh generasi ketiga (dan keempat?) dari keluarga Djarum. Di kedua perusahaan ini tercantum nama keluarga Hartono di masing-masing individu yang tercantum sebagai pemegang saham.

Melihat rekam jejak grup Djarum di dalam mengelola perusahaan, agaknya GCG nya tidak perlu diragukan lagi. Setidaknya bercermin dari BCA. Kalau GCG-nya buruk mungkin tidak akan menjadi bank swasta terbesar di Indonesia saat ini. Untuk di TOWR sendiri, tidak ada anggota keluarga Hartono yang duduk sebagai anggota dewan direksi maupun komisaris.

Dividen

TOWR adalah salah satu emiten yang rajin membagikan dividen, bahkan dua kali dalam setahun. Dari tahun 2017, TOWR tidak pernah absen membagikan dividen dengan Dividend Payout Ratio (DPR) dari tahun 2017 – 2020 secara rata-rata berada di angka 48.59%.

Buyback

Dari tahun 2018, perusahaan mulai melakukan pembelian kembali saham perusahaan (buyback). Pada bulan Agustus 2018, perusahaan memperoleh persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham perusahaan sebanyak maksimal 5% dalam jangka waktu 18 bulan sampai bulan Februari 2020. Dari program buyback ini, perusahaan membeli kembali saham perusahaan sebanyak 1.047% .

Perusahaan kembali memperoleh persetujuan untuk melakukan buyback di tahun 2020 yang akan berakhir sampai bulan November 2021. Sampai dengan akhir tahun 2020, perusahaan telah melakukan buyback sebanyak 0.537%.

Menurut AR 2020, jumlah saham treasury TOWR tercatat sebanyak 1.076.490.000 atau sebanyak 2.1102%.

Buyback saham oleh perusahaan tentunya adalah sinyal positif dari keyakinan manajemen akan masa depan perusahaan. Meskipun demikian, penulis sedikit bertanya-tanya mengapa program buyback dilakukan dalam kondisi perusahaan masih terus melakukan ekspansi anorganik. Barangkali perusahaan ini memang banyak uang (cash rich)?

Valuasi

Nilai Intrinsik

Asumsi berikut digunakan untuk perhitungan nilai wajar:

  • Risk Premium = 6.33%
  • CAGR EPS 10 tahun = 14.80%
  • BVPS = IDR 199.04
  • EPS = IDR 55.59
  • DPR = 30%
  • PER = 49.38
  • PBV = 6.74

Dengan menggunakan asumsi di atas, didapatkan nilai intrinsik TOWR berada di rentang harga IDR 1.501 – IDR 4.431 (sudah dengan memperhitungkan Margin of Safety sebesar 25%). Jika dilihat sekilas dengan asumsi perhitungan di atas, memang TOWR sudah berada di area undervalue.

Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa nilai rata-rata PER yang digunakan sebesar 49x dan PBV sebesar 6.74x adalah nilai yang cukup tinggi untuk sebagian besar value investor. Untuk hasil yang lebih konservatif, sangat disarankan untuk menggunakan asumsi PER dan PBV yang lebih rendah.

PER

Saat ini nilai PER TOWR berada di angka di angka 16.87x. Jika dilihat dari nilai historis PER dalam jangka panjang, PER TOWR saat ini relatif sangat rendah (undervalue). Namun, hal ini disebabkan lebih karena di masa lalu, nilai PER TOWR berada di angka yang sangat tinggi.

Rata-rata PER TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PER TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Untuk jangka yang lebih pendek (5 tahun), nilai PER sebesar 16.87x berada di rentang standar deviasinya, sehingga bisa dikatakan saat ini dari segi PER, harga saham TOWR sedang berada di harga wajarnya – belum undervalue.

Rata-rata PER TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PER TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

PBV

Hampir sama seperti trend PER-nya, nilai PBV TOWR jika dilihat dalam jangka panjang, saat ini sedang berada di angka yang rendah (undervalue) yaitu berada di angka 5.77x.

Rata-rata PBV TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PBV TOWR 10 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Namun demikian, dalam jangka pendek, nilai PBV TOWR saat ini relatif lebih mahal sebab berada di area di atas standar deviasinya.

Rata-rata PBV TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.
Rata-rata PBV TOWR 5 tahun terakhir. Sumber: stockbit.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang bisa diambil setelah analisa di atas adalah sebagai berikut:

  1. TOWR adalah perusahaan yang cukup agresif dalam melakukan ekspansi. Ekspansi yang dilakukan cenderung anorganik yaitu dengan melakukan pembelian aset (berupa menara dan lain-lain) atau dengan melakukan akuisisi perusahaan.
  2. Tidak heran jika TOWR mampu mencatatkan CAGR pertumbuhan yang tinggi. Dalam jangka panjang CAGR pertumbuhan aset dan ekuitasnya masing-masing berada di angka 14.94% dan 22.89%. Walaupun melambat dalam 5 tahun terakhir, CAGR pertumbuhan aset dan ekuitas tercatat masih cukup tinggi yaitu masing-masing di angka 9.93% dan 13.41%.
  3. Pertumbuhan laba juga tumbuh agresif. Dalam jangka pendek, pendapatan masih tumbuh dengan CAGR sebesar 9.47%, sedangkan laba bersih tumbuh dengan CAGR sebesar 17.97%.
  4. Segmen Penyewaan Menara saat ini menyumbang pendapatan terbesar perusahaan. Namun demikian, segmen lainnya menyusul kontribusi raihan pendapatan dengan CAGR yang sangat agresif. Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan dari segmen ini tumbuh dengan CAGR sebesar 187.95% dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar 9.15% di tahun 2020.
  5. Rasio DAR dan DER TOWR cukup tinggi, namun bisa dibilang wajar melihat karakteristik perusahaan sebagai perusahaan infrastruktur yang perlu modal besar (capital intensive).
  6. Saat ini, TOWR adalah perusahaan menara dengan jumlah aset menara terbanyak di Indonesia.
  7. Perusahaan ini dimiliki oleh grup Djarum. Subyektivitas penulis, CGC grup ini tidak perlu diragukan, jika melihat keberhasilan grup Djarum mengendalikan BCA dan mentransformasi bank ini menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.
  8. Perusahaan rajin membagikan dividen (bahkan 2 kali dalam setahun). Dan dari tahun 2018, perusahaan rajin melakukan buyback.
  9. Nilai intrinsik, PER, dan PBV saat ini bisa dibilang murah berdasarkan nilai historis jangka panjang. Artinya, di masa lalu pasar menghargai TOWR di harga premium. Untuk jangka pendek (5 tahun), dari segi PER dan PBV, saham TOWR bisa dibilang agak mahal atau sedang berada di rentang harga wajarnya.

Jika Anda menyukai perusahaan dengan growth yang agresif, maka TOWR bisa menjadi salah satu saham pilihan Anda. Namun demikian, sebagai perusahaan capital intensive dengan strategi pertumbuhan anorganik, Anda harus nyaman dengan nilai DAR dan DER yang tinggi.

Keberadaan grup Djarum di belakang TOWR bisa menjadi jaminan kebutuhan modal TOWR, selain tentunya kita bisa berharap terjaganya kualitas GCG perusahaan.

Menurut penulis, grup Djarum ingin mengulangi kesuksesannya di BCA melalui TOWR. BCA besar salah satunya karena jumlah ATM dan nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia (OK, mungkin masih kalah dengan BRI kalau untuk di pedesaan). Dengan aset menara yang tersebar di seluruh Indonesia (bahkan sampai ke pelosok-pelosok kalau bisa), akan “memaksa” para operator industri ICT untuk menggunakan jasa mereka. Akan sangat mahal bagi operator jika harus mengeluarkan modal untuk investasi teknologi, sekaligus aset pendukungnya. Dengan jumlah menara yang banyak, daya tawar perusahaan untuk memberikan harga sewa yang lebih kompetitif, tentunya lebih tinggi (sewa 1 menara tentunya lebih mahal ketimbang sewa 100 sekaligus).

Dengan semakin tingginya penetrasi teknologi ICT dalam seluruh sektor kehidupan, bisnis sewa menara tampaknya masih memiliki prospek yang sangat cerah di masa depan. Selain itu, pandemi akibat virus Covid-19 menyebabkan tingginya kebutuhan akan internet dan aplikasi pendukungnya semakin menciptakan peluang bagi TOWR mendiversifikasi usahanya di masa depan. Tingginya pertumbuhan dari segmen selain penyewaan menara, menunjukkan perusahaan memiliki minat yang sangat tinggi untuk mendiversifikasi bisnisnya di masa depan. Bukan hal yang mustahil 10 tahun ke depan TOWR masuk ke bisnis data center misalnya. Mungkin saja…

Jadi apakah saat ini saat yang tepat untuk masuk ke TOWR?

Di harga saat artikel ini ditulis (IDR 1,160), TOWR mungkin sudah bisa dilirik. Atau jika gatal ingin mengeksekusi, mungkin bisa mulai masuk pelan-pelan dan memastikan kita punya modal untuk serok di harga lebih murah. Dengan prospeknya yang sangat cerah dan pertumbuhan yang agresif, penulis tidak akan ragu-ragu untuk secara disiplin serok di harga bawah ketika porto sedang floating lost.

Kira-kira begitu.